SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
KEMAMPUAN TANGAN BESI 2


__ADS_3

"Iya tante. Mungkin pukulan yang diterima Marwan semalam cukup keras, makanya pintar ngarang dia" Kata Haiden disela percakapan antara Marwan dan Mamanya.


Mama marwan tertawa kecil, lalu sembari duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Marwan, dia berkata "Iya ni si Marwan, bercanda nya kelewatan. Masa' nyamain sahabatnya sendiri dengan Dukun".


Mendengar ucapan Mama Marwan, semua orang yang ada di kamar itu tertawa selain Marwan. Saat Marwan menatap dirinya, Haiden memberi kode untuk tidak melanjutkan penjelasannya tadi ke Mamanya.


Marwan menganggukkan kepalanya menuruti permintaan Haiden lewat kodenya itu barusan. Saat Papa Marwan dan Haiden sudah duduk di sofa, perawat yang tadi kembali masuk ke kamar Marwan membawa kursi roda.


"Permisi, saya sudah konfirmasi sama Dokter. Jadi sekarang saya akan antar pak Marwan ke ruang CT scan" Kata Perawat itu.


"Loh, kok di bawa ke ruang CT scan lagi Sus?" Tanya Mama Marwan kepada perawat itu.


"Iya bu. atas permintaan bapak itu" Jawab perawat itu sembari menunjuk Haiden.


Saat Mama Marwan menoleh menatapnya, Haiden tersenyum lalu berkata "Iya, ga apa-apa tante. Biar tambah jelas, mana tahu masih ada luka dalam lainnya yang tidak terdeteksi".


"Oh, ya sudah kalau begitu" Kata Mama Marwan menanggapi ucapan Haiden.


Setelah mendengar tanggapan Mama Marwan, suster itu berkata pada Marwan "Mari duduk di kursi roda ini pak Marwan, biar saya antar bapak ke ruang CT scan".


"Ga usah sus. Biar saya jalan sendiri saja. Tolong lepaskan infus saya ini" Kata Marwan kepada suster itu.


"Sudah naik saja kau ke kursi roda itu. Ga usah ngeyel" Kata Haiden menyela ucapan Marwan.


Marwan menuruti kata-kata Haiden. Dia turun dari tempat tidur memegangi botol infusnya kemudian duduk di kursi roda yang dibawa perawat itu.


Baru saja perawat itu memutar kursi roda yang kini diduduki Marwan untuk keluar dari kamar, Haiden bertanya pada suster itu "Marwan boleh di temani sus?"


Perawat itu menoleh untuk menatap Haiden lalu menjawab "Boleh. Tapi hanya boleh satu orang saja".


Mendengar jawaban perawat itu, Haiden bangkit dari duduknya di sofa kemudian berkata pada kedua orang tua Marwan "Biar Haiden yang temani Marwan ya Om, Tan".


"Silahkan Den" Jawab Papa Marwan.

__ADS_1


Haiden keluar dari kamarnya mengikuti Marwan yang didorong Perawat di kursi rodanya. Di ruang CT scan Perban yang membalut luka di kepala dan di tangan Marwan di buka terlebih dahulu sebelum menjalani pemeriksaan dengan alat CT scan.


Dokter dan perawat terkejut melihat luka yang ada di kepala dan ditangan marwan tidak ada lagi saat perban yang membalut kepala dan tangan Marwan di buka. Dalam hati Haiden "Ternyata tangan besi ini benar-benar mampu menyembuhkan penyakit".


"Kok bisa begini?" Reaksi Dokter saat Perban yang membalut kepala dan tangan sudah terbuka.


"Obat yang Dokter beri ke Marwan ternyata kerjanya cept sekali ya Dok". Kata Haiden.


"Memang obat yang saya berikan pada pak Marwan itu yang terbagus pak. Tapi saya tidak menyangka bisa menyembuhkan secepat ini" Balas Dokter itu.


"Tapi syukurlah luka pak Marwan bisa sembuh dengan cepat. Sekarang langsung saja pak Marwan di scan ya" Kata Dokter itu lagi.


Setelah melakukan scaning pada sekujur tubuh Marwan, Dokter itu kembali terlihat terkejut, bahkan terlihat lebih terkejut melihat hasil scan tersebut dibandingkan saat melihat luka marwan yang hilang. Tidak ada lagi retakan di batok kepala dan di tulang tangan Marwan yang terlihat di foto hasil scan nya.


Melihat reaksi Wajah Dokter itu saat melihat gambar, Haiden bertanya "Ada apa Dok?".


"Aneh pak" Jawab Dokter yang duduk di hadapan Haiden di balik meja kerjanya.


"Retakan di tulang tangan dan batok kepala pak Marwan sudah hilang, seperti tidak pernah retak. Tidak mungkin bisa secepat ini retakan di tulang dan batok kepala bisa sembuh, bahkan hilang tanpa bekas" Jawab Dokter itu sedikit histeris.


"Serius Dok?" Tanya Haiden.


"Serius pak" Kata Dokter itu membalas pertanyaan Haiden.


"Walaupun saya masih bingung, saya ucapkan selamat ya pak Marwan. Bapak sudah sembuh dan Boleh pulang hari ini" Kata Dokter itu kepada Marwan yang duduk dihadapannya, disebelah Haiden.


"Serius Dok?" Tanya Marwan.


"Iya pak" Jawab Dokter itu sebelum meminta perawat untuk membuka jarum infus yang masih menusuk di tangan kanan Marwan.


Setelah itu Haiden dan Marwan meninggalkan ruang Ct scan menuju kamar Marwan. Marwan tidak lagi menggunakan kursi roda.


Saat masuk ke dalam kamar Marwan, semua orang yang ada dikamar itu terkejut melihat Marwan masuk tanpa kursi roda, infus dan balutan perban di kepala, juga ditangannya lagi bersama Haiden.

__ADS_1


Kedua orang tua Marwan bangkit dari duduknya di sofa untuk menghampiri putranya. Mereka berdua ingin melihat luka yang ada di kepala dan dan di tangan Marwan.


"Kamu benar-benar menyembuhkan Marwan Dengan?" Tanya Papa Marwan kepada Haiden setelah melihat dengan jelas luka di kepala dan di tangan Marwan tidak ada lagi.


Haiden tersenyum lalu menjawab "Sudah ga usah di bahas Om. Yang penting Marwan sudah sembuh sekarang dan sudah bisa pulang".


"Yang benar Den? Tanya Mama Marwan.


"Iya tante" Jawab Haiden.


"Ya sudah tante dan om siap-siap lah" Kata Haiden kepada Mama dan Papa Marwan.


Setelah itu Mama Marwan langsung beberes barang-barang nya untuk dibawa kembali pulang ke rumah di bantu Fani. Suherman duduk di sofa bersama Papa dan sahabat-sabarnya.


Haiden langsung menghubungi A Cun saat sudah duduk di samping Melani. A Cun yang berada di Bengkelnya langsung mengangkat panggilan dari Haiden.


"Ya Hallo Ketua" Kata A Cun kepada Haiden lewat Handphone nya.


"Kau ke rumah sakit sekarang ya. Bereskan semua biaya rumah sakit. Marwan mau pulang sekarang" Kata Haiden yang terdengar di Handphone A Cun.


A Cun terlihat sangat terkejut mendengar Marwan mau pulang. Marwan.terluka parah kenapa dibawa pulang secepat ini pikirnya.


"Kok cepat kali bang Marwan di bawa pulang ketua. Ga nunggu sembuh total ketua?" Tanya A Cun.


"Marwan sudah sembuh, makanya pulang. Sudah kau kesini saja sekarang ya" Kata Haiden kepada Acun lewan Handphone nya, sembari merangkul bahu Melani.


"Serius bang Marwan sudah sembuh ketua?" Tanya A Cun tak percaya.


"Sudah datang saja kau sekarang. Kau lihat saja sendiri" Jawab Haiden yang terdengar di Handphone A Cun.


"Siap ketua. Saya gerak sekarang" Balas A Cun sebelum menutup percakapan dengan Haiden lewat Handphone nya.


A Cun langsung bergegas keluar dari ruang kerjanya untuk pergi ke rumah sakit. Setelah masuk kedalam mobilnya, Acun langsung tancap gas keluar dari area Bengkel motor nya yang cukup mewah itu.

__ADS_1


__ADS_2