
"Saran aku, segera kalian periksa ke dokter spesialis biar ketahuan apa kendala kalian berdua untuk memiliki seorang anak dari rahim Della. Jadi dokter bisa kasi solusi menanganinya" Kata Haiden lagi kepada Arif.
"Siap. Besok kami akan periksa. Terima kasih sudah menyadarkan ku bro" Kata Arif menanggapi saran teman lama SMP nya itu.
"Sama-sama bro" Balas Haiden sembari tersenyum.
Pukul delapan malam Haiden pulang bersama Melani dan kedua anak kembar mereka. Sedangkan Arif masih ingin belanja beberapa jenis barang dengan istrinya Della.
Di perjalanan pulang, tiba-tiba mobil pengawal Haiden mendadak berhenti. Dengan sigap Haiden menghentikan mobilnya.
Haiden langsung menghubungi Bimo yang berada dalam mobil pengawal di depan mobilnya itu.
"Ada apa Bim, kok berhenti mendadak kalian?" Tanya Haiden kepada Bimo lewat Handphone nya.
"Maaf tuan besar. Tiba-tiba ada nenek-nenek yang menghadang mobil kita ini tuan muda" Jawab Bimo sembari keluar dari dalam mobilnya.
"Jumpai nenek itu dan tanya apa maksudnya menghadang mobil kita baik-baik. Jangan kasar" Kata Haiden setelah mendengar penjelasan Bimo.
"Siap tuan besar" Kata Bimo sebelum menutup Handphone nya.
Saat Bimo mendekati nenek yang menghadang mobil mereka bersama dua pengawal lainnya tiba-tiba muncul tujuh orang pria berwajah bengis dihadapan tiga orang pengawal Haiden itu. Nenek-nenek penghadang itu tertawa sembari melepas rambut putih palsu nya.
Ternyata nenek tersebut adalah seorang pria yang menyamar menjadi seorang nenek-nenek. Wajah Bimo dan kedua temannya tampak memerah karena marah.
"Siapa kalian?" Tanya Bimo.
Melihat ketiga temannya tengah berhadapan dengan tujuh pria yang tidak dikenalnya, pengawal Haiden yang menyetir mobil turun dari dalam mobil.
"Kalian tidak perlu tahu siapa kami. Yang perlu kalian lakukan, tinggal kan mobil kalian disini. Pergi kalian sekarang" Jawab salah seorang dari delapan pria berwajah bengis itu.
Mendengar ucapan salah seorang dari delapan orang pria berwajah bengis itu, empat pengawal Haiden tertawa terpingkal-pingkal yang membuat delapan pria berwajah bengis itu terlihat murka.
__ADS_1
Delapan pria berwajah bengis itu langsung menyerang empat orang pengawal Haiden itu dengan brutal. Pertarungan empat lawan delapan orang itu benar tidak berimbang.
Bimo dan ketiga temannya tampak kewalahan. Mendengar suara ribut yang berasal dari depan, empat orang pengawal Haiden yang mengawal dibelakang mobil Haiden turun dari mobilnya untuk melihat apa yang tengah terjadi.
Saat melihat teman mereka sedang bertarung dengan delapan orang, mereka langsung bergegas untuk membantu teman-teman mereka. Saat akan melewati mobilnya, Haiden memanggil empat orang pengawal nya itu.
Di meminta empat pengawal nya itu untuk menjaga Melani dan dua anak kembarnya di dalam Mobil. Setelah keluar dari dalam mobil nya Haiden berkata pada empat pengawalnya itu "Kalian berjaga di sini saja. Biar saya yang ke depan".
"Siap tuan besar" Kata empat pengawal itu serentak.
"Kamu dan anak-anak tenang didalam mobil ya yank" Kata Haiden kepada Melani sebelum dia melangkah ke depan.
"Iya yank" Jawab Melani. dari dalam mobil.
Setelah beberapa langkah kedepan, Haiden berteriak "Berhenti".
Mendengar teriakan Haiden yang cukup besar itu, delapan pria berwajah bengis itu mendadak berhenti bertarung dengan empat pengawal Haiden. Mereka mengenali sosok pria bertubuh atletis penuh dengan tarto itu.
Dengan wajah masam Haiden bertanya "Apa maksud kalian menghadang kami?".
"Ma.. ma.. maafkan kami ketua. Kami ga tahu mobil ini rombongan ketua ternyata" Jawab salah seorang dari delapan pria berwajah bengis itu.
Haiden tidak mengenali satupun dari kedelapan pria berwajah bengis itu, tapi mereka mengenali Haiden. Sebab tidak ada orang yang tidak mengenal Haiden saat ini, selain balita dan orang-orang gila.
"Yang aku tanya apa tujuan kalian menghadang kami?" Kata Haiden mengulangi pertanyaannya.
"Mereka mau merampas mobil kita tuan besar. Tadi mereka katakan kita harus meninggalkan mobil kita" Kata Bimo memberi penjelasan pada Haiden.
Mendengar penjelasan Bimo, Wajah Haiden semakin masam lalu berkata "Jadi kalian ingin merampok".
"Maju kalian semua, hadapi aku. Kalau kalian semua mampu melumpuhkan aku, maka silahkan kalian ambil semua mobil ku yang ada di sini" Kata Haiden lagi kepada delapan pria berwajah bengis itu yang kini terlihat pucat.
__ADS_1
Delapan pria berwajah bengis itu tahu seperti apa kekuatan ilmu bela diri Haiden. Melawan Haiden sama saja bunuh diri pikir mereka.
"Tidak ketua. Maaf kan kami karena lancang menghadang ketua. Kami pergi sekarang" Kata pria berwajah bengis yang menyamar jadi nenek-nenek itu.
Usai mendengar ucapan pria bengis yang menyamar jadi nenek-nenek tadi, Haiden tertawa lalu berkata "Enak saja mau pergi begitu saja. Kalau kalian kubiarkan pergi, maka kalian akan melakukan aksi kalian kepada orang lain lagi".
"Ampun ketua. Jadi kami harus apa ketua" Tanya salah seorang teman pria berwajah bengis yang menyamar jadi nenek-nenek tadi, dengan memelas.
Haiden tersenyum dingin sebelum menjawab "Ada tiga piliha untuk kalian. Yang pertama kalian bertarung dengan ku sampai aku mati atau kalian semua yang mati".
Mendengar ucapan Haiden itu, wajah delapan pria berwajah bengis itu terlihat bertambah pucat. Bahkan beberapa orang dari mereka terlihat gemetaran karena takut.
"Yang kedua, kalian ku antar ke kantor Polisi untuk di proses hukum. Dan yang ketiga, kalian berhenti melakukan tindak kriminal dan bergabung menjadi anggota Partai Panca Karya" Kata Haiden lagi kepada delapan pria berwajah bengis itu.
"Kami siap bergabung dengan Partai Panca Karya ketua" Jawab semua pria berwajah bengis itu dengan serentak.
Saat mendengar pilihan terakhir, delapan pria berwajah bengis itu merasa lega. Beberapa orang dari mereka yang sempat gemetaran karena takut mendadak berhenti gemetar.
"Oke. Kalau begitu, besok kalian semua datangi kantor Partai Panca Karya Kota Medan. Temui ketua Marwan, bilang aku yang suruh kalian jumpai dia" Kata Haiden kepada delapan pria berwajah bengis itu.
"Siap ketua" Kata delapan pria berwajah bengis itu membalas ucapan Haiden barusan.
Setelah memberikan nomor kontak Marwan kepada salah seorang pria berwajah bengis itu, Haiden dan semua pengawalnya langsung bergegas meninggalkan para pria berwajah bengis di jalan yang cukup sepi itu. Delapan pria berwajah bengis itu terlihat senang bisa bergabung dalam Partai Panca Karya.
Mereka tahu, seluruh anggota Partai Panca Karya diberi kegiatan yang menghasilkan uang. Minimal mereka bisa menjaga parkir.
Lahan parkir sebagian besar di kuasai oleh Panca Karya sejak Panca Karya masih menjadi organisasi kepemudaan, belum menjadi Partai. Keamanan tempat-tempat hiburan malam juga banyak di isi oleh anggota Panca Karya.
Sejak menjadi Parai, anggota dan pengurus Partai Panca Karya tidak diwajibkan untuk bertatto. Dan Haiden sedang merencanakan membentuk organisasi kepemudaan untuk sayap Partainya.
Rencananya, nama organisasi sayap Partai Panca Karya tersebut adalah Pemuda Panca Karya. anggota dan pengurus Pemuda Panca Karya ini wajib bertatto, seperti Panca Karya sebelum nya.
__ADS_1