SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
ADU STRATEGI


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, sore hari Haiden menjemput Irjen Aryo dengan tiga orang bawahannya di bandara Kualanamu. Haiden tak menyangka ternyata Wanda dan anak-anak Aryo ikut juga ke Medan.


"Kok ga bilang-bilang kalau kak Wanda juga ikut ke Medan" Kata Haiden usai bersalaman dengan Irjen Aryo, Wanda dan ketiga orang bawahannya Irjen Aryo.


"Surprise Den" Kata Wanda sembari tersenyum, menanggapi ucapan Haiden.


"Melani pasti senang banget ni saat melihat kak Wanda nanti di rumah" Kata Haiden kepada Wanda, sembari berjalan menuju keparkiran mobil.


Melani sengaja tidak di beri tahu kalau Haiden tengah membawa Aryo dan Wanda ke rumah mereka, untuk memberi kejutan pada Melani. Melani tahunya Haiden hanya menjemput Irjen Aryo dengan beberapa orang bawahannya saja tanpa Wanda dan anak-anaknya.


Benar saja, Melani terkejut melihat Wanda saat Haiden pulang bersama tiga orang Polisi bawahan Irjen Aryo beserta Wanda dan anak-anaknya.


"Ya ampun, ternyata kak Wanda dan anak-anak ikut juga. Kok ga bilang-bilang sih" Kata Melani sembari memeluk kakak sepupu nya itu.


Usai berpelukan dengan Wanda, Melani menyalami Irjen Aryo dan ketiga bawahannya. Setelah itu mereka semua duduk di ruang tamu.


Di ruang tamu, Melani memanggil semua asisten rumah tangganya dan meminta mereka untuk menyiapkan kamar buat Irjen Aryo dan bawahannya. Empat orang asisten rumah tangga Haiden dan Melani itu langsung bergerak melaksanakan perintah nyonya besarnya.


Disaat mereka sedang berbincang bincang santai di ruang tamu Haiden, tiba-tiba Handphone Haiden berdering tanda panggilan masuk. Dan panggilan tersebut dari Kapolri Sulistyo.


"Hallo Om" Kata Haiden saat terhubung dengan Kapolri Sulistyo.


"Iya Hallo Den. Aryo sudah bersama kamu?" Tanya Kapolri Sulistyo, terdengar di Handphone Haiden.


"Sudah. Ini kami sedang ngobrol-ngobrol diruang tamu rumah Haiden Om" Jawab Haiden.


"Baguslah. Kasih Handphone kamu sebentar ke Aryo bisa Den?" Kata Kapolri Sulistyo yang berada di salah satu Resto ternama di ibu kota Negara.

__ADS_1


"Boleh Om. Sebentar ya" Balas Haiden, terdengar di Handphone Kapolri Sulistyo.


"Hallo Om" Kata Irjen Aryo kepada Kapolri Sulistyo, terdengar di Handphone Kapolri Sulistyo.


"Iya Hallo Yo. Upayakan latih pasukan khusus kita itu dengan cepat secepat mungkin. Masalah sudah semakin memanas" Kata Kapolri Sulistyo kepada Aryo.


"Siap Om" Balas Aryo dengan tegas.


"Ramdan, Saiful, Ismail dan Dony jadi ikut bersama kamu?" Tanya Kapolri Sulistyo, terdengar di Handphone Haiden yang digunakan Irjen Aryo.


"Ramdan, Ismail dan Dony saja yang ikut Om. Saiful tetap di Sumatera Barat. Dia yang mewakili Aryo di sana selama Aryo di sini" Jawab Aryo.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Om yakin, kamu dan yang lainnya mampu melatih calon pasukan khusus kita itu dengan cepat" Kata Kapolri Sulistyo.


"Siap Om. Aryo usahakan sebaik dan secepat mungkin" Balas Irjen Aryo sebelum menutup pembicaraan melalui Handphone Haiden.


Sebelumnya, seratus orang pilihan Haiden itu telah menerima ilmu bela diri dan ilmu menjaga diri dari pak Narso. Kini seratus orang itu memiliki ilmu kebal tubuh yang kapanpun pak Narso mau, bisa diambilnya kembali.


"Selamat pagi semuanya" Kata Irjen Aryo kepada seratus orang yang berdiri tegak dihadapannya.


"Selamat pagi Jenderal" Sahut keseratus orang yang akan dilatih untuk menjadi pasukan khusus.


Alwi, Danu, Raden dan Feri terlihat berdiri tegak dengan wajah serius diantara seratus orang yang akan dilatih oleh Irjen Aryo dengan Ramdan, Ismail dan Dony. Alwi, Danu, Raden dan Feri merasa bangga di pilih Haiden untuk menjadi pasukan khusus yang akan menghadapi penghianat sekaligus penjajah bangsa sendiri.


"Kalian adalah orang-orang pilihan yang berjuang menumpas penjajah bangsa sendiri. Kalian akan tercatat dalam sejarah kelak" Kata Irjen Aryo menanamkan semangat patriot kepada seratus orang yang akan menjadi pasukan khusus itu.


"Sebelum kalian terjun ke Medan juang, saya dan tiga orang bawahan saya akan melatih kalian. Kalian siap?" Lanjut kata Irjen Aryo lagi sembari bertanya.

__ADS_1


"Siap Jenderal" Sahut seratus orang sudah siap untuk di latih oleh Irjen Aryo dan ketiga bawahannya.


Lapangan bolo yang ada di perumahan khusus Haiden itu kini lengkap dengan alat latihan panjat tebing, latihan menembak, dan alat-alat olah raga. Pagi ini seratus orang yang akan dijadikan pasukan khusus itu menjalani latihan fisik sebagai dasar latihan.


Di liar dugaan Aryo, ternyata latihan fisik dapat dengan mudah dilalui oleh seratus orang itu. Aryo belum tahu kalau seratus orang itu telah dilatih oleh pak Narso sebelumnya.


Dalam sehari saja, Irjen Aryo sudah menyatakan seratus orang itu lulus dalam latihan fisik. Dalam benaknya "Gua kok seperti mengajari ikan berenang ya".


Sore harinya seratus orang itu kembali berdiri tegak berbaris dihadapan Irjen Aryo dan ketiga bawahannya. Aryo menyampaikan langsung kepada mereka bahwa mereka telah lulus dalam latihan fisik, dan akan memulai latihan menggunakan senjata besok pagi.


"Saya sangat kagum melihat keterampilan kalian. Semangat kalian juga luar biasa" Kata Irjen Aryo kepada seratus orang yang masih berdiri tegak di hadapan nya.


"Kalian lulus dalam latihan fisik hari ini. Besok pagi kalian akan memulai latihan menggunakan beberapa macam senja api. Malam ini kalian istirahat yang cukup agar besok pagi kalian bisa latihan dengan kondisi yang bugar kembali" Lanjut kata Irjen Aryo lagi.


"Siap Jenderal" Sahut Alwi, Danu, Raden dan Feri beserta seluruh calon pasukan khusus lainnya.


Usai melatih seratus calon pasukan khusus untuk menghabisi Oligarki itu, Irjen Aryo beserta Ramdan, Ismail dan Dony langsung meninggalkan perumahan khusus pengawal Haiden kembali ke rumah Haiden.


Saat Irjen Aryp beserta Ramdan, Ismail dan Dony tiba di rumah Haiden, Haiden masih berada di luar rumah. Saat ini Haiden sedang bertemu dengan Gubernur A Cin dan Mardan di rumah dinas Gubernur Sumatera Utara. Gubernur A Cin mengatakan bahwa dirinya mulai mendapat ancaman juga dari Oligarki.


Di periode pertama, Gubernur A Cun memang di dukung oleh Oligarki. Begitu Gubernur A Cun memutuskan hubungan dengan Oligarki, pihak Oligarki pun geram kepada Gubernur A Cun.


"Yang harus pak Gubernur lakukan saat ini adalah, berpura-pura tetap berada dalam lingkaran Oligarki" Kata Haiden kepada Gubernur Cin.


"Tapi saya sudah terlanjur menyatakan sikap saya kepada mereka ketua. Bahkan saya sudah keluar dari Partai saya" Kata Gubernur Cin menanggapi ucapan Haiden.


"Ga ada masalah. Katakan saja pada mereka pak Gubernur bersedia kembali dan akan membatalkan Mardan sebagai calon wakil Gubernur mendampingi pak Gubernur" Kata Haiden membalas ucapan Gubernur A Cin.

__ADS_1


__ADS_2