SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
NINE DRAGONS WANT TO RULE THE WORLD 2


__ADS_3

Dua hari kemudian Haiden kembali ke Indonesia. Tiba di Indonesia, Haiden tidak mau membuang-buang waktu lagi.


Mobil anti peluru yang seharusnya di gunakan oleh anak dan istrinya, akhirnya digunakan oleh pasukan khusus yang akan menghadapi Oligarki. Dan yang satunya lagi tetap menjadi kendaraan nya.


Saat Haiden bertemu dengan seratus orang pasukan khususnya, dia memberikan arahan kepada mereka. Haiden sudah melihat kekuatan pasukan khusus Oligarki dengan kemampuan Telepati nya, sehingga dia benar-benar membekali pasukan khusus nya dengan persenjataan yang lengkap.


"Tiga hari lagi kalian sudah menjadi pemburu. Target kalian akan saya beritahukan lewat pesan email kalian masing-masing nanti. Apakah kalian semua sudah siap?" Kata Haiden kepada seluruh pasukan khususnya yang saat ini berada dalam Aula perumahan khusus pengawalnya itu.


"Siap Ketua" Kata seluruh pasukan khususnya itu bersamaan dengan suara lantang.


Keesokan harinya Haiden mendapat berita bahwa orang-orang yang pernah menyerangnya dan kemudian dia perintahkannya untuk menangkap sosok Nona Win telah ditemukan dalam tewas semua. Mayat mereka semua ditemukan terapung di Sungai Ular.


Tubuh mereka masing-masing di ikat dengan tali yang terkait sebongkah batu. Batu-batu tersebut di tenggelam ke dasar sungai, sehingga tubuh mereka tidak hanyut terbawa arus.


"Sadis tuan besar. Saya saja tidak tega melihat mayat mereka semua" Kata salah seorang pengawal Haiden yang melaporkan bahwa orang-orang yang diperintahkan untuk mencari Nona Win itu telah terbunuh semua.


"Ya sudah. Kamu kembali bekerja. Terima kasih informasinya" Kata Haiden kepada salah seorang pengawalnya itu.


"Siap tuan besar" Balas pengawal tersebut sebelum beranjak keluar dari dalam rumah Haiden.


"Siapa Nona Win itu sebenarnya?" Tanya Haiden dalam hatinya, sembari menyandarkan tubuhnya ke sofa.


Setelah beberapa saat terdiam memikirkan sesuatu, Haiden mengambil Handphone nya yang terletak di atas meja. Dia hendak menghubungi Danu yang kini menjadi Kepala dalam pasukan Khusus nya.


"Hallo Danu" Kata Haiden saat terhubung dengan Danu.


"Siap perintah ketua" Balas Danu, terdengar di Handphone Haiden.


"Kamu ke rumah saya sekarang juga ya" Kata Haiden kepada Danu.


"Siap. Saya sendiri saja ketua?" Tanya Danu yang sedang berada di rumah nya, dalam perumahan khusus pengawal Haiden.


"Iya kamu sendiri saja" Jawab Haiden, terdengar di Handphone Danu.

__ADS_1


Usai menutup pembicaraan dengan Haiden, Danu langsung bergegas keluar dari dalam rumahnya untuk menemui Haiden. Sedangkan Haiden langsung menghubungi Mardan, Suherman, dan Marwan melalui pesan WA.


Haiden meminta ketiga sahabatnya itu segera datang kerumahnya juga. Begitu membaca pesan WA dari Haiden, Marwan, Mardan dan Suherman pun segera bergegas meninggalkan lokasi masing-masing menuju rumah Haiden.


Mardan tiba duluan di rumah Haiden karena kebetulan Mardan berada di sebuah Cafe yang tidak jauh dari rumah Haiden. Mardan langsung menemui Haiden yang memang sedang menanti kedatangannya, juga kedatangan Marwan, Suherman dan Danu di taman belakang rumahnya.


"Semua orang-orang yang ku suruh mencari dan membawa Nona Win kehadapan ku mati bro" Kata Haiden kepada Mardan yang sudah duduk di hadapan nya.


"Bah..! Gimana dan dimana kejadiannya bro?" Tanya Mardan sembari mengernyit kan dahinya.


"Si Imbo yang kasih kabar. Dia bilang, mayat mereka terapung dalam keadaan terikat di sungai ular" Jawab Haiden.


"Terikat gimana maksudnya bro?" Tanya Mardan belum memahami maksud dari penjelasan Haiden.


"Masing-masing mayat mereka di ikat dengan tali yang terkait dengan sebongkah batu yang cukup besar. Masing-masing satu batu" Jawab Haiden lagi.


Belum sempat Mardan merespon jawaban Haiden, Danu tiba dan berkata "Selamat sore ketua Haiden. Ketua Mardan".


Sembari menatap wajah Mardan yang sudah berdiri di hadapannya, Haiden berkata" Duduk Nu".


"Siap perintah ketua" Kata Danu sembari menatap Haiden saat sudah duduk di kursinya.


"Coba kau cari tahu sosok yang disebut-sebut dengan sebutan Nona Win. Kau boleh kordinasi dengan Irjen Aryo" Kata Haiden kepada Danu.


"Ada petunjuk Foto atau ciri-cirinya ketua?" Tanya Danu setelah mendengar perintah Haiden.


"Tidak ada. Tapi kau bisa mulai dari kejadian yang baru saja terjadi di sungai ular" Jawab Haiden.


Danu terlihat mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Haiden sebelum kembali bertanya" Kejadian apa ketua?"


"Pihak kepolisian baru saja menemukan mayat orang-orang yang ku perintahkan untuk mencari wanita yang di sebut sebut Nona Win itu di sungai ular. Jadi kau bisa memulai penyelidikan mu dari kejadian di sana" Kata Haiden menjawab pertanyaan Danu.


"Siap ketua" Kata Danu kepada Haiden.

__ADS_1


"Ya sudah. Kau bisa langsung bergerak" Perintah Haiden kepada Danu.


"Siap ketua. Kalau begitu saya pamit" Kata Danu kepada Haiden.


Haiden menggunakan kepalanya tanda memberi izin kepada Danu. Setelah berpamitan kepada Mardan juga, Danu langsung bergegas meninggalkan rumah Haiden.


Tak lama setelah Danu meninggalkan rumah Haiden, Suherman pun tiba di Rumah Haiden. Haiden tidak langsung menjelaskan kejadian yang baru saja terjadi di sungai ular kepada Suherma.


Setelah Marwan tiba di rumahnya juga barulah Haiden menjelaskan kejadian tersebut kepada Suherman dan Marwan. Tapi ternyata Suherman telah mengetahui kejadian tersebut di internet.


"Aku sudah membaca kejadian itu di berita online. Tapi aku baru tahu kalau mayat-mayat itu orang-orang suruhanmu bro" Kata Suherman setelah mendengar cerita Haiden.


"Jadi apa rencanamu manggil kami bro?" Tanya Marwan kepada Haiden.


"Jujur aku khawatir akan keselamatan kalian bertiga. Aku mau kalian bertiga tinggal di sini sampai masalah kita selesai" Kata Haiden kepada ketiga sahabatnya itu.


"Aku sepakat" Kata Mardan merespon ucapan Haiden.


"Aku ga ada masalah. Toh istri dan anak-anak kita sekarang di Jepang" Kata Suherman sembari tersenyum.


"Aku ya senang bisa kumpul dengan kalian setiap hari" Kata Marwan juga sembari tersenyum.


Mendengar jawaban ketiga sahabatnya itu Haiden tersenyum lalu berkata "Ya sudah, mulai besok kalian sudah tinggal di sini".


"Selain itu, apa tugas kami selanjutnya bro?" Tanta Mardan kepada Haiden.


"Malam ini kalian temani aku ke rumah Pak Narso. Kita jemput beliau untuk tinggal di sini juga"Jawab Haiden.


"Apakah pak Narso dalam bahaya juga bro?" Tanya Marwan kepada Haiden.


Mengar pertanyaan Marwan Haiden tersenyum lalu menjawab "Tidak ada kata bahaya bagi pak Narso bro".


Mendengar jawaban Haiden, Marah, Suherman dan Marwan mengernyit kan dahi mereka dan saling pandang satu sama lain.

__ADS_1


"Kalau menurut mu seperti itu, lantas kok mau kau minta juga dia tinggal di sini bro?" Tanya Suherman kepada Haiden.


"Aku mau meminta beliau memberikan bekal untuk kalian. Kita yang dalam bahaya, dan kita membutuhkan bantuan beliau" Kata Haiden menjawab pertanyaan Suherman.


__ADS_2