SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
SESUATU ITU TIDAK AKAN MENJADI SESUATU BILA TIDAK DI JADIKAN SESUATU 2


__ADS_3

Pukul tujuh pagi Mardan sudah tiba di rumah Haiden. Saat Mardan tiba di rumahnya, Haiden sedang sarapan dengan Melani dan kedua anak kembarnya.


Mardan ikut duduk di meja makan bersama Mardan dan keluarga kecilnya itu meskipun tidak ikut sarapan. Marah sudah sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke rumah Haiden.


"Ngomong-ngomong berapa hari kita di ibu Kota Bor?" Tanya Mardan ke pada Haiden.


"Aku juga belum tahu. Lihat situasi dan kondisi nanti di sana lah bro" Jawab Haiden sambil menyantap sarapan paginya.


"Oh iya, semalam aku di ajak ketemu dengan Gubernur A Cin dan A Cun bro" Kata Mardan memberitahukan kepada Haiden.


"Terus, apa cerita?" Tanya Haiden kepada Mardan.


"Gubernur A Cin nawarin aku duet di Pilkada nanti. Aku jadi calon wakilnya. Gimana menurut kau?" Jawab Mardan sembari meminta pendapat sahabatnya itu.


Haiden terlihat menyingkirkan piring bekas sarapannya sebelum membalas "Kau sendiri punya kemauan ga?".


"Aku mau. Tapi aku tidak mau diatur oleh partai pengusung. Aku mau berbuat demi kepentingan bangsa dan negara, bukan demi kepentingan partai-partai pengusung" Jawab Mardan dengan tegas.


Mendengar ucapan Mardan tadi, Haiden mengacungkan dua jari jempol nya kehadapan Mardan sebelum berkata "Paten. Idealnya yang jadi pejabat itu harus independen. Dia bekerja demi kepentingan bangsa dan Negara, bukan demi kepentingan Partai, walaupun dia diusung oleh Partai".


"Partai itu harusnya bisa menjadi pengawas kinerja bagi pejabat-pejabat yang diusungnya agar mampu menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat dan demi kepentingan rakyat. Bukan menuntut para pejabat itu untuk bekerja demi kepentingan partainya" Kata Haiden lagi.


"Iya, tapi masalahnya sampai detik ini tidak ada Partai yang bersikap seperti yang kau katakan barusan bro" Kata Mardan menanggapi ucapan Haiden.

__ADS_1


Haiden tersenyum lalu membalas "Ada. Partai Panca Karya akan menjadi contoh seperti apa layaknya Partai itu bermanfaat bagi bangsa dan Negara".


"Partai Panca Karya benar-benar akan menjadi partai pengawas bagi semua pejabat, baik itu yang di usung maupun yang tidak di usung oleh Partai Panca Karya. Partai Panca Karya akan mendukung pejabat yang bekerja demi kepentingan bangsa dan negara, juga akan mengkritik pejabat yang bukan bekerja demi kepentingan bangsa dan Negara. Bila perlu Partai Panca Karya memerangi mereka" Kata Haiden lagi dengan penuh keyakinan.


"Tapi untuk periode ini Partai Panca Karya kan belum bisa mengusung bro" Kata Mardan menanggapi ucapan Haiden.


Haiden tersenyum sebelum membalas "Ya saat ini Partai Panca Karya belum bisa mengusung, hanya bisa jadi Partai Pendukung. Tapi kalau kau serius mau berpasangan dengan Gubernur A Cin nanti, saran aku coba dulu lobby semua Partai".


"Sampaikan Visi Misi kalian berdua yang ingin benar-benar bekerja demi kepentingan bangsa dan negara tanpa harus mengikuti kepentingan Partai. Kalau cukup dukungan maka kalian maju diusung Partai. Kalau tidak cukup dukungan Partai, maka kalian maju jalur independen saja" Kata Haiden lagi.


Mendengar ucapan Haiden barusan, Mardan tersenyum lalu berkata "Aku juga sempat katakan pakai jalur independen saja pada Gubernur A Cin, karena menurut dia ga bakal ada Partai yang mau mengusung kalau ga ada Bargaining nya".


Haiden kembali tersenyum sebelum membalas "Kalian coba saja dulu tawarkan Visi Misi kalian yang ingin benar-benar bekerja demi kepentingan bangsa dan negara, bukan demi kepentingan pribadi atau pun demi kepentingan Partai. Kalau ga ada yang mau, maka kalian ambil jalur independen".


Mendengar ucapan Haiden yang penuh dengan keyakinan diri itu, Mardan tersenyum lalu berkata "Aku juga yakin. Salam juga ku sampaikan pada Gubernur A Cin bahwa pakai jalur independen kita bisa menang dibantu oleh Partai Panca Karya yang saat ini semakin hari semakin besar".


Belum sempat Haiden membalas ucapan Mardan barusan, tiba-tiba Handphone Haiden yang terletak di atas meja berdering. Ternyata Kapolri Sulistyo yang menghubungi nya.


"Hallo Om" Kata Haiden saat tersambung dengan Kapolri Sulistyo.


"Iya Hallo Den. Kata Presiden kamu mau ke istana hari ini ya?" Balas Kapolri Sulistyo sembari bertanya balik, terdengar di Handphone Haiden.


"Iya Om. Ini sudah mu berangkat dari rumah" Jawab Haiden.

__ADS_1


"Oh ya sudah. Tadi Presiden perintah kan Om untuk jemput kamu kalau kamu jadi kesini. Nanti Biar Aryo saja yang jemput kamu ya" Balas Kapolri Sulistyo yang saat ini sedang berada di istana Negara bersama Irjen Aryo.


"Siap Om. Nanti sebelum Haiden nik ke pesawat Haiden kabarin lagi, biar mas Aryo bisa atur waktunya" Kata Haiden membalas ucapan putera angkat kakeknya itu.


"Oke" Balas Kapolri Sulistyo sebelum menutup Handphone nya.


Setelah menutup pembicaraan dengan Kapolri Sulistyo melalui Handphone nya tadi, Haiden dan Mardan bergegas keluar dari rumah. Sebelum nya Haiden pamit kepada Melani dan kedua anak kembarnya.


Dua jam kemudian Haiden dan Medan sudah tiba di Bandara. Sebelum naik ke pesawat pribadi nya, Haiden menghubungi Jenderal Sulistyo kembali untuk memberi kabar bahwa dia akan masuk kedalam pesawat dan segera terbang ke ibu kota Negara.


Dilain tempat, di kantor Partai Panca Karya Kota Medan, Marwan menerima kedatangan delapan pria berwajah bengis yang sempat berusaha merampok Haiden semalam. Sebelum dihubungi salah seorang dari delapan pria berwajah bengis itu, Marwan sudah dihubungi Haiden terlebih dahulu mengenai mereka.


"Kalau untuk jadi pengurus Partai Panca Karya kalian belum bisa. Sebab selain kalian baru saja akan bergabung, kepengurusan Partai Panca Karya saat ini sudah lengkap hingga tingkat anak ranting" Kata Marwan kepada Delapan pria berwajah bengis itu.


"Jadi bagaimana kami ketua. Mohon petunjuk nya lah ketua" Kata pria berwajah bengis yang sempat menyamar jadi nenek-nenek semalam.


Marwan diam sejenak sebelum membalas "Untuk sementara kalian bisa menjaga posko pengaduan masyarakat Panca Karya di masing-masing kecamatan, sesuai domisili kalian masing".


"Kami di terima jadi anggota Partai Panca Karya ketua?" Tanya salah seorang dari delapan orang pria berwajah bengis itu pada Marwan.


Marwan terlihat tersenyum mendengar pertanyaan dari salah seorang pria berwajah bengis itu sebelum menjawab "Yang menjaga posko pengaduan masyarakat Panca Karya itu wajib anggota Partai Panca Karya. Jadi otomatis kalian di terima menjadi anggota Partai Panca Karya".


"Nanti kalian isi formulir pendaftaran jadi anggota Partai Panca Karya, biar kalian segera terdaftar dan memiliki Kartu Tanda Anggota Partai Panca Karya" Kata Marwan lagi kepada delapan orang pria berwajah sadis calon anggota Partai Panca Karya itu.

__ADS_1


"Siap ketua" Kata delapan pria berwajah bengis itu serentak membalas ucapan Marwan.


__ADS_2