
Sembari mengernyitkan dahinya, Haiden berkata "Sahabat buyut Linggasana?".
"'Lalu, aku ada di mana dan mengapa putri bapak menyerang saya?" Tanya Haiden kepada pria paruh baya bernama Toga itu.
"Kamu berada di kampung Holom anak muda" Jawab Toga.
Haiden kembali mengernyitkan dahinya lalu kembali bertanya kepada Toga "Apakah ini kampung Bunian?".
Mendengar pertanyaan Haiden, Toga tersenyum sebelum menjawab "Iya. Kau ada di kampung Bunian".
"Artinya kalian berdua orang Bunian?" Tanya Haiden semakin penasaran.
"Iya. Kami sama seperti buyutmu Linggasana" Jawab Toga.
"Bapak kenal juga dengan pak Narso?" Tanya Haiden lagi kepada Toga.
"Aku, Narso dan buyutmu sudah berteman sejak lama. dan sudah cukup lama pula aku dan buyutmu tidak bertemu dengan Narso. Kau dikirim kesini oleh Narso atas permintaan buyutmu Linggasana" Kata Toga menjawab pertanyaan Haiden.
Mendengar jawaban Toga, Haiden terlihat semakin bingung. Dia ingin tidak mempercayai apa yang dialaminya saat ini, tapi ini benar-benar terjadi pikirnya.
"Kalau bapak kenal dengan pak Narso sekaligus sahabat buyutku, mengapa putri bapak menyerang ku?" Tanya Haiden lagi kepala Toga.
Toga tertawa sebelum menjawab "Aku hanya ingin melihat kemampuan bertarung mu. Ternyata kau masih sangat lemah".
Haiden mengakui dibandingkan kekuatan dan kemampuan bertarung putri Toga, kekuatan dan kemampuan bertarung dirinya tidak ada apa-apanya. Haiden juga tidak menyangka ada seorang gadis yang dengan mudah mengalahkannya.
"Linggasana memintaku untuk menyalurkan kekuatanku. Kekuatan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa di dimensi mu anak muda" Kata Toga lagi kepada Haiden.
"Lantas, apakah bapak bersedia menyalurkan kekuatan bapak kepada ku?" Balas Haiden sembari bertanya pada Toga.
"Semua kekuatan ku sudah berpindah kepada putri ku. Jadi putriku yang akan menyalurkan kekuatan nya kepadamu, dengan satu syarat" Jawab Toga.
Mendengar jawaban gantung Toga, Haiden mengernyitkan dahinya sebelum bertanya "Apa syaratnya?".
"Syaratnya kau harus menikah dengan putriku" Jawab Toga.
__ADS_1
Haiden sangat terkejut mendengar jawaban toga, hingga dia spontan berkata "Apa?".
"Aku tidak mungkin menikahi istri bapak. Selain kami berbeda dimensi, aku juga sudah memiliki anak dan istri" Kata Haiden menanggapi syarat yang diutarakan Toga.
Mendengar ucapan Haiden, Toga tersenyum lalu berkata "Tidak ada yang tidak mungkin. Setelah kau berhubungan intim layaknya suami istri dengan putri ku nanti, kau bisa hidup di dua dimensi sekaligus".
"Soal kau sudah memiliki istri di dimensi mu itu tidak jadi masalah. Istri di dimensi mu tidak perlu tahu kau memiliki istri di sini" Lanjut kata Toga kepada Haiden.
"Kalau aku menolak?" Tanya Haiden menanggapi ucapan Toga.
"Kalau kau menolak maka kau akan kehilangan ingatanmu saat kembali ke dimensi mu" Jawab Toga.
"Apa? Mengapa bisa begitu?" Tanya Haiden spontan setelah mendengar jawaban Toga.
"Itu hukum yang berlaku di dimensi Bunian. Ketika kau masuk ke dimensi ini, dan bertemu dengan orang bunian, maka kau harus menikahi salah seorang orang Bunian. Bila kau menolak maka kau bisa kembali ke dimensi mu tanpa ingatan lagi, atau kau kehilangan wujudmu, hidup seperti kami di dimensi ini" Jawab Toga.
Haiden merasa terjebak dalam pilihan yang sangat sulit. Pilihan terbaiknya saat ini adalah menikahi putri Toga, meskipun batinnya merasa berat untuk menduakan Melani.
"Kalau tahu seperti ini, aku tidak akan mau menerima ilmu dari pak Narso" Kata Haiden dalam hatinya.
Meskipun Haiden berbicara dalam hatinya, sebenarnya Linggasana, Toga dan gadis cantik itu mendengar kata hati Haiden. Melihat Linggasana tiba-tiba muncul dihadapannya, Haidenpun langsung berkata "Mengapa kalian menjebakku?".
"Tidak ada yang menjebakmu cicitku Haiden. Kau akan tahu, bahwa kau harus menerima ini semua setelah kau menikahi Morlan putri Toga ini" Kata Linggasana menanggapi tuduhan Haiden.
"Apa maksud Buyut?" Tanya Haiden kepada Buyutnya itu.
"Kelak kau akan menghadapi musuh yang sangat kuat. Setelah kau menjadi suami Morlan, kekuatan mu akan sempurna. Kau pun bisa melihat sendiri seperti apa musuh yang akan kau hadapi di masa yang akan datang. Percaya percaya pada buyutmu ini" Jawab Linggasana.
"Baiklah kalau begitu. Kapan akan dilangsungkan pernikahan kami? Tanya Haiden kepada Linggasana dan Toga.
"Sekarang" Jawab Toga.
"Sekarang?" Tanya Haiden terkejut.
"Iya. Ikuti kami" Kata Toga sembari berjalan kearah rumah Toga dan putrinya Morlan.
__ADS_1
Haiden mengikuti langkah Toga dan putrinya dari belakang bersama Linggasana. Di dalam rumah Toga dan putrinya, Haiden di persilahkan duduk dilantai ruang tamu bersama Linggasana, sebab memang tidak ada kursi atau bangku yang terlihat di sana.
Toga duduk bersila berhadapan dengan Haiden dan Linggasana yang duduk di sebelah kanan Haiden. Sedangkan Morlan langsung masuk kekamarnya untuk mengganti pakaiannya serta berhias layaknya pengantin.
"Apakah yang tinggal di kampung ini hanya bapak dengan Morlan saja" Tanya Haiden kepada Toga dengan menggunakan bahasa batak.
"Tidak. Semua rumah yang kau lihat disekitar sini ada penghuni nya. Siang hari seperti ini, mereka ada di kebun masing-masing" Jawab Toga.
"Oh iya. Apakah di dimensi ini tidak ada malam pak?" Tanya Haiden kepada Toga.
Haiden bertanya hal itu karena setiap dia akan memasuki dimensi Bunian pada malam hari. Dalam sekejab mata saja, Haiden tiba di dimensi bunian pada siang hari.
"Tentu saja ada. Siang disini malam di dinensimu. Sore disini maka subuh di dimensimu" Kata toga menjawab pertanyaan Haiden.
Beberapa saat kemudian, Morlan terlihat keluar dari dalam kamarnya. Morlan terlihat begitu cantik dan anggun mengenakan pakaian pengantin khas batak.
Haiden terlihat terpesona melihat Morlan yang berjalan mendekatinya dan langsung duduk di sebelahnya. Saat putrinya sudah duduk dihadapannya, berdampingan dengan Haiden, Toga berkata pada Haiden "Kau sudah siap untuk ikrar nikah?".
"Apakah aku tidak perlu mengenakan pakaian pernikahan?" Tanya Haiden kepada Toga selaku calon mertuanya.
"Kau sudah mengenakan pakaian pernikahan khas batak" Jawab Toga.
Tanpa di sadari Haiden, ternyata dia telah berganti pakaian. Haiden tampak gagah mengenakan pakaian pengantin pria khas batak. Dilihatnya sekujur tubuhnya sendiri yang sudah mengenakan pakaian pengantin pria khas batak.
Dalam hatinya Haiden berkata "Seperti sulap saja dimensi bunian ini bah".
"Sekarang kau sudah siap Haiden?" Tanya Toga lagi kepada Haiden.
"Siap kata" Jawab Haiden.
Toga menjabat tangan kanan Haiden lalu berkata "Atas izin sang maha pencipta, aku serahkan putri ku Morlan kepadamu untuk menjadi istri sepanjang hidup kalian. Apakah kau menerima nya Haiden?".
"Aku menerimanya" Kata Haiden menbalas ucapan ikrar penyerahan putri toga kepadanya.
"Sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri, dan sekarang kalian berdua boleh masuk kedalam kamar kalian" Kata Toga kepada Haiden dan Morlan.
__ADS_1
Haiden sedikit merasa canggung dengan pernikahan yang berbeda dengan pernikahan yang sebelum nya dia lakukan dengan Melani. Tapi apa mau dikata, saat ini dia berada di dimensi yang berbeda dengan adat istiadat yang berbeda pula dengan di dimensi kasat mata.