SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
LEDAKAN MAUT 2


__ADS_3

Sebelum turun dari mobil, Haiden meminta Melani, Wanda, keempat babysitter yang menjaga anak-anak mereka untuk tetap di dalam mobil. Tapi Melani menolak dan ingin keluar dari dalam mobil.


Dengan wajah duka Haiden berkata "Mi. Di luar sangat berbahaya. Papi tahu mami sedih dan khawatir".


"Papi juga sedih dan khawatir dengan kondisi papi dan mami di dalam rumah. Tapi kita jangan bodoh dengan membahayakan nyawa mami dan anak-anak" Lanjut kata Haiden mencoba untuk menenangkan Melani.


"Benar kata Haiden Mel. Biar Mas dengan Haiden saja yang keluar ya. Kamu dengan kakakmu dan anak-anak tetap di dalam mobil saja ya" Kata Irjen Aryo kepada Melani membantu Haiden menenangkan Melani.


Melani menganggukkan kepalanya sebagai tanda dia setuju dengan saran suaminya dan Irjen Aryo. Melihat istrinya menganggukkan kepalanya, Haiden pun langsung keluar dari dalam mobil di ikuti Irjen Aryo, keluar dari dalam mobil.


Haiden dan Irjen Aryo berjalan menerobos kerumunan hingga ke depan pintu gerbang rumah papi dan mami Melani. Tanpa sadar air mata Haiden mengeluarkan air matanya melihat bangunan rumah mertuanya tidak terlihat mewah lagi dengan api yang masih menyala dihadapan nya.


"Kalau Om dan Tante ada di dalam saat ledakan tadi terjadi, seperti nya tidak ada harapan Om dan Tante selamat Den" Kata Irjen Aryo kepada Haiden.


"Iya Mas" Kata Haiden menanggapi ucapan Irjen Aryo.


Beberapa menit kemudian terlihat mobil pemadam kebakaran mendekati rumah papi dan mami Melani, dan langsung menyemprotkan air ke arah api yang membakar rumah papi dan mami Melani.


Beberapa orang petugas pemadam kebakaran masuk dengan memanjat gerbang rumah papi dan mami melani untuk mengeksekusi tubuh delapan pengawal Haiden yang bertugas untuk mengawal papi dan mami Melani, juga dua tubuh satpam rumah tersebut.


Tak lama dari kedatangan tim pemadam kebakaran, beberapa mobil polisi dan ambulans pun tiba di lokasi kejadian. Wartawan dari berbagai media berita juga terlihat sibuk meliput.


Salah seorang Polisi yang melihat Irjen Aryo langsung mendekatinya. Sembari memberi hormat Polisi tersebut berkata "Selamat malam Jendral".


"Malam" Balas Irjen Aryo.


"Ini rumah Om dan Tante istri saya. Segera usut tuntas, apa penyebab ledakan yang terjadi barusan" Kata Irjen Aryo kepada Polisi tersebut.

__ADS_1


Polisi itu terlihat mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Irjen Aryo lalu bertanya "Ledakan?".


"Iya, rencananya kami mau makan malam bersama. Saat kami sudah akan sampai kesini tiba-tiba rumah ini meledak dengan suara yang cukup besar" Jawab Irjen Aryo.


"Tadinya saya kira hanya kebakaran biasa, sesuai dengan laporan warga Jenderal. Ternyata Jenderal menyaksikan sendiri kejadiannya" Kata Polisi tersebut kepada Irjen Aryo.


Di sela pembicaraan antara Irjen Aryo dengan salah seorang Polisi yang bertugas untuk menyelidiki kasus kebakaran yang diduga karena ada sesuatu yang meledak, Mardan bersama Wanti terlihat keluar dari dalam mobilnya.


Begitu melihat berita di Sosial Media,Mardan langsung menghubungi Haiden melalui Handphone nya, namun tidak ada jawaban. Kemudian dia mencoba untuk menghubungi Melani.


Mardan ingin memastikan apakah benar rumah yang meledak itu adalah rumah papi dan mami Melani. Begitu Melani mengatakan benar yang meledak itu adalah rumah papi dan mami nya, Mardan langsung bergegas keluar rumah menuju lokasi kejadian.


Tiba di mobil Haiden terparkir, Melani langsung masuk kedalam mobil Haiden untuk menghibur Melani. Sedangkan Mardan langsung mencari Haiden di kerumunan warga yang ingin melihat langsung para petugas pendam kebakaran berusaha memadamkan api serta mengeksekusi orang-orang yang berada di dalam rumah.


"Bagaimana keadaan Om dan Tante bro?" Tanya Mardan saat bertemu dengan Haiden dan Irjen Aryo.


"Pengawal dan Satpam selamat semua bro?" Tanya Mardan lagi kepada Haiden.


"Dua orang Pengawal dan satu Satpam meninggal meninggal bro. Yang lain dalam keadaan kritis, dan sudah di larikan ke rumah sakit" Jawab Haiden.


Saat api sudah terlihat tidak terlalu besar lagi, terlihat para petugas pemadam kebakaran keluar dari dalam rumah papi dan mami Melani menggotong empat kantong Jenazah. Irjen Aryo meminta salah seorang Polisi untuk membiarkan Haiden melihat isi kantong Jenazah yang baru saja di bawa keluar dari dalam rumah papi dan mami Melani.


Saat membuka kantong Jenazah pertama, Haiden tidak dapat menahan tangisnya. Meskipun tubuhnya terbakar tapi Jenazah papi Melani masih bisa dikenali.


Di bantu petugas pemadam kebakaran, semua kantong Jenazah sudah terbuka. Haiden melihat Jenazah mami Melani juga masih bisa di kenali, sementara dua jenazah lagi tidak dapat dikenali karena gosong terbakar.


Dugaan sementara, kedua Jenazah yang tidak dapat dikenalli lagi itu adalah Jenazah asisten rumah tangga papi dan mami melani. Keduanya di temukan di dapur.

__ADS_1


Melihat Haiden jongkok sembari menatapi papi Melani, Irjen Aryo mendekati Haiden lalu membungkuk dan menepuk bahu Haiden sembari berkata "Sabar Den. Berdirilah, ada yang mau saya sampaikan ke kamu".


"Ada apa Mas?" Tanya Haiden saat sudah berdiri berhadapan dengan Irjen Aryo.


"Polisi yang bicara dengan saya tadi menyampaikan bahwa ledakan yang terjadi itu Bom waktu yang berada di dapur" Kata Irjen Aryo kepada Haiden.


Mendengar ucapan Irjen Aryo, mata Haiden terbelalak lalu sembari berkata "Apa?"


"Bagaimana mungkin bisa ada Bom di dalam rumah papi dan mami?" Tanya Haiden.


"Polisi belum bisa memastikan bagaimana Bom itu bisa ada di dalam rumah. Mereka masih menyelidiki" Jawab Irjen Aryo.


Mardan terlihat tidak sabar ingin segera mendatangi Haiden. Tapi apa boleh buat, pihak kepolisian tidak memperoleh kan nya masuk, karena lokasi masih dalam penyelidikan.


Mardan hanya bisa memperhatikan Haiden dari luar bersama kerumunan warga. Padahal dia ingin sekali menghibur sahabat nya itu.


Polisi yang memberi kabar bahwa ledakan itu berasal dari Bom waktu terlihat kembali mendekati Irjen Aryo dan Haiden. Polisi tersebut berkata pada Irjen Aryo "Anggota saya yang berada di rumah sakit melaporkan bahwa "Sebelum kejadian salah seorang asisten rumah tangga korban keluar rumah sebelum kejadian Jenderal".


"Dari mana anggota mu tahu?" Tanya Irjen Aryo kepada Polisi tersebut.


"Salah seorang korban selamat, sudah siuman. Dia yang menyampaikan kepada anggota saya Jenderal" Jawab Polisi tersebut.


"Apakah korban selamat itu mengatakan juga, apa tujuan asisten rumah tangga itu keluar rumah?" Tanya Haiden kepada Polisi tersebut.


"Korban selamat mengatakan, Satpam yang meninggal dunia sempat bertanya mau kemana, asisten rumah tangga itu katanya menjawab disuruh nyonya membeli sesuatu, lalu pergi dengan terburu-buru. Beberapa menit asisten itu pergi Bom pun meledak" Jawab Polisi tersebut sesuai dengan laporan anggotanya.


"Kalau begitu, segera kalian cari asisten rumah tangga itu. Bisa jadi, dia yang telah memasukkan Bom waktu itu ke dalam rumah" Perintah Irjen Aryo kepada Polisi tersebut.

__ADS_1


"Siap Jenderal" Kata Polisi tersebut menanggapi perintah Irjen Aryo.


__ADS_2