SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
TEKNIK MENGENDALIKAN TANGAN BESI


__ADS_3

Pukul sebelas malam Haiden berpamitan kepada Papi dan Mami Melani. Seperti biasa dia menyalami dan mencium tangan kedua orang tua Melani bergantian.


Melani menemani Haiden keluar dari dalam rumahnya hingga ke mobil Haiden. Sebelum masuk kedalam mobil, Haiden mencium dahi Melani dengan lembut.


Setelah mobil Haiden keluar dari pekarangan rumahnya, dan tidak terlihat lagi oleh Melani, barulah Melani masuk kembali kedalam rumahnya. Hari ini menjadi hari terindah dalam hidupnya, itu yang ada di dalam perasaan Melani saat ini.


Haiden juga merasakan hal yang sama seperti apa yang Melani rasakan saat ini. Dia juga merasa, hari ini adalah hari terindah sepanjang hidup nya hingga saat ini.


Di perjalan Haiden masih terbayang wajah cantik Melani kekasihnya itu. Cintanya semakin bersemi setelah mereka melakukan hubungan intim layaknya suami istri sore tadi.


Melani juga masih terbayang dengan apa yang mereka lakukan sore tadi di kamar Haiden. Di depan kaca meja rias, di dalam kamar nya, Melani tampak senyum-senyum sendiri mengenang kejadian sore tadi.


Dia tidak menyesal telah melakukan hubungan intim dengan Haiden, sebab dia melakukannya bukan atas dasar nafsu semata. Tapi atas dasar cinta nya kepada Haiden.


Melani juga yakin, Haiden mau melakukan hubungan intim dengannya itu juga karena rasa cinta Haiden pada dirinya. Bukan karena hanya nafsu semata.


Tiba di rumah, dalam kamarnya Haiden menghubungi Melani yang kini sudah sudah berbaring ditempat tidur nya, namun belum tertidur. Melani sengaja menanti telepon dari Haiden.


"Iya Hallo sayank" Kata Melani saat mendengar kata Hallo dari Haiden yang terdengar dari Handphone nya.


"Belum tidur kamu yank" Tanya Haiden, dari kamarnya.


"Kalau sudah tidur, yang ngomong sama kamu siapa coba" Jawab Melani melani membalas pertanyaan Haiden dengan candaan.


Haiden tertawa mendengar jawaban Melani barusan, lalu berkata "Iya juga ya yank"


"Ya iyalah" Balas Melani sembari tersenyum.

__ADS_1


"O iya yank. Itu pengawal kamu kok masih ada di luar rumah ku sih. Kan masalah uda selesai yank" Kata Melani.


"Kamu itu nona muda nya Haiden. Jadi kamu tetap dapet hak istimewa. Aku ga mau terjadi hal-hal yang tidak baik pada nona mudaku" Balas Haiden, terdengar dari Handphone Melani yang terletak di telinganya.


Melani tersenyum bahagia mendengar ucapan Haiden lalu berkata "Kamu ini pinter banget buat aku melayang-layang ya yank. Ga nyangka aku, si Cupu ini jadi pinter banget buat perempuan kelepek-kelepek tak berdaya".


Spontan Haiden tertawa mendengar ucapan kekasih hatinya itu sebelum berkata "Ucapan ku ini tulus hanya untukmu sayank. Belum tentu aku bisa mengatakan ini kepada perempuan lain".


Melani kembali tersenyum dengan perasaan bahagia mendengar ucapan Haiden lalu berkata "Janji kamu tidak akan pernah gombalin perempuan lain selain aku ya".


Haiden yang sedang duduk di Sofa dalam kamar tersenyum dan membalas ucapan Melani "Aku janji. Dan apa yang ku ucapkan bukanlah sekedar gombal. Tapi kenyataan".


"Iya aku percaya sayank" Kata Melani membalas ucapan dari lubuk hatinya itu, yang terdengar dari Handphone Haiden.


"Ya sudah, sekarang kita bobo yok. Besok pagi aku harus jemput kamu lagi" Kata Haiden, kemudian menutup telepon nya setelah melani sepakat menutup pembicaraan juga.


Usai mengganti pakaiannya, Haiden langsung ke halaman belakang rumahnya untuk memulai olah raga. Haiden memulai olah raga nya dengan barbel untuk memperkuat otot-otot lengannya sebelum memulai latihan ilmu belajar dirinya, agar semakin tajam.


Setelah sekitar setengah jam bermain barbel, barulah Haiden memulai melatih kembali ilmu belajar diri yang telah dipelajarinya dari adik angkat kakeknya. Haiden juga mencoba untuk mengontrol kekuatan tangan besi nya.


Haiden takut suatu saat ia membunuh orang yang tak sepatutnya terbunuh oleh tangan besi nya, karena ia tidak mampu mengontrol kekuatan besar yang dia miliki itu. Saat dia sedang mengeluarkan beberapa gerakan tiba-tiba sosok pria tua renta yang memberi nya tangan besi itu kembali muncul.


Haiden menghentikan latihannya saat melihat sosok pria tua renta itu muncul di hadapannya. Kali ini pria tua itu tidak langsung menyerang Haiden saat muncul, tidak seperti saat kemunculan pertamanya dulu.


"Kau harus mampu mensinergikan antara kerja otakmu dengan kerja hatimu agar kau mampu mengontrol tangan besi mu cicit ku Haiden" Kata pria tua renta itu pada Haiden.


Belum sempat Haiden membalas apapun, pria tua renta itu sudah menghilang kembali. Tapi Haiden ingat semua apa yang dikatakan pria tua renta itu padanya tadi.

__ADS_1


Dalam hati Haiden berkata "Baik lah yut. Haiden akan coba.


Haiden duduk bersila di atas rumput sembari menutup kedua matanya. Dia mencoba untuk mensinergikan pikiran dalam otaknya dengan perasaan dalam hatinya.


Perlahan Haiden merasakan ketenangan dalam jiwanya. Suasana menjadi terasa sangat hening bagi Haiden saat ini.


"Kekuatan tangan besi mu hanya bisa kau kentrol dengan Akal cicit ku" Kata suara pria tua renta itu yang terdengar jelas di telinga Haiden.


"Kau harus mampu menciptakan akal dalam jiwamu dengan cara mensinergikan kerja otakmu dengan kerja hatimu saat berpikir" Kata suara pria tua renta itu lagi.


"Pemimpin ragamu adalah jiwamu. Penunjuk jalan hidupmu adalah Akal mu. Bila kau tidak mampu menciptakan Akal di di dalam jiwamu, maka jiwamu tidak akan mampu memimpin ragu mu dengan benar. Artinya kau juga tidak akan pernah mampu mengontrol tangan besi mu dengan benar" Kata suara pria tua renta itu lagi, mengakhiri petunjuknya untuk Haiden.


Kecerdasan Haiden membuat dirinya mampu memahami ucapan orang yang mengaku sebagai buyutnya itu. Haiden bangkit dari duduknya dan mulai mencoba hasil yang dipelajari nya tadi.


Gerakan demi gerakan dia lakukan. Mulai dari gerakan seakan bertahan, hingga gerakan menyerang.


Kini Haiden mulai merasakan dampaknya. Dia mulai merasa mampu mengontrol pukulan tangan besinya.


Haiden mencoba memukul Pohan mangga yang ada di taman itu. Dia menginginkan pohon tersebut hanya terluka saja, dan terjadi seperti apa yang di inginkannya.


Kemudian Haiden kembali memukul pohon mangga itu dengan tujuan untuk mematahkan batangnya. Dengan sekali pukulan saja, Pohon mangga itu tumbang karena patah batangnya.


Haiden tampak senang dan puas karena dia kini mampu mengendalikan kekuatan tangan besi nya. Haiden tidak menyadari kalau seorang pengawal sedang mengintip dia sedang latihan.


Mata pengawal itu terbelalak ketika melihat Haiden menumbangkan pohon mangga tersebut dengan tangan Haiden. Setelah melihat tuan mudanya menumbangkan pohon mangga itu, pengawal tersebut pergi dari tempatnya mengintip ke pos satpam.


"Kalian pasti ga akan percaya dengan apa yang ku lihat tadi" Kata pengawal itu kepada seorang pengawal lainnya dan kepada dua orang satpam yang ada di pos satpam rumah Haiden itu.

__ADS_1


__ADS_2