
Di gedung Aula yang terletak di lokasi perumahan khusus untuk pengawal Haiden dan Kakeknya, Haiden menugaskan Delapan orang pengawalnya untuk khusus mengawal Melani setiap hari siang dan malam. Mereka yang ditugaskan Haiden juga wajib siaga di sekitaran rumah Melani kala Melani berada di rumah.
Haiden semakin berhati-hati setelah mengetahui orang yang tengah dihadapi nya saat ini bukan orang sembarangan. Johan adalah tokoh Nasional di Dunia hitam.
Ketua Gangster yang paling ditakuti di Indonesia saat ini tidak bisa dianggap remeh pikir Haiden. Itu sebabnya Haiden memperketat pengawalan dan pengawasan terhadap kekasihnya Melani.
Setelah mengarahkan tugas kepada seluruh pengawalnya yang ada di Aula itu, Haiden langsung meninggal perumahan khusus untuk para pengawalnya dan kakeknya menuju rumah Melani.
Di perjalanan Hiaiden menghubungi Melani melalui Handphone nya. Terdengar suara Melani mengatakan Hallo, terdengar dari Handphone Haiden yang diletakkan di telinga nya.
"Iya Hallo yank. Aku sudah di jalan menuju rumahmu ya" Kata Haiden kepada Melani melalui Handphone nya.
"Oh ya uda. Hati-hati loh nyetirnya" balas Melani yang sedang duduk di kursi teras rumahnya.
"Iya. Ya sudah ya" Kata Haiden membalas ucapan Melani kemudian menutup telepon nya setelah Melani menjawab "Iya yank".
Di sepanjang jalan ke rumah Melani di kawal oleh enam belas pengawal didalam empat mobil. Sebab delapan orang pengawalnya akan mengawal Melani nantinya.
Belum sampai di rumah Melani tiba-tiba Handphone Haiden berdering tanda adanya panggilan masuk. Ternyata panggilan masuk itu dari Jenderal Sulistyo yang terlihat dari layar Handphone Haiden.
"Ya Hallo Om" Jawab Haiden setelah mendengar kata Hallo dari Jenderal Sulistyo yang terdengar dari Handphone Haiden.
Jenderal Sulistyo menjelaskan bahwa dia sudah berada di Medan, dan baru saja meninggalkan Bandara menuju Hotel Admadja Residance bersama temannya yang menjemput nya. Jenderal Sulistyo meminta Haiden untuk menemuinya setelah dia tiba di Hotel Admadja Residance.
"Siap Om. Nanti malam Haiden ke Hotel" Kata Haiden menyanggupi permintaan Om angkatnya itu.
Tiba di rumah Melani, Haiden disambut dengan hangat oleh Papi dan Mami Melani. Melani terlihat sangat bahagia melihat kekasihnya itu disambut dengan hangat oleh kedua orang tuanya.
Haiden duduk langsung duduk Sofa ruang tamu didampingi Melani disebelahnya. Papi dan Mami juga duduk di Sofa berdampingan menghadap Haiden dan Melani di seberang meja.
"Bagaimana kabarmu hari ini Haiden" Tanya Mami Melani.
"Baik tante. Tante dan Om bagaimana kabarnya?" Jawab Haiden sembari bertanya balik kepada Mami dan Papi Melani.
"Syukurlah. Kami sekeluarga baik-baik saja kok" Jawab Mami Melani.
__ADS_1
"Oh iya Haiden. Tuan besar sudah ada di Medan?" Tanya Papi Melani ke pada Haiden".
"Belum Om. Haiden juga belum tahu ini, kakek masih di Hongkong atau sudah di Negara lain. Masih banyak yang diurus katanya. Emangnya kenapa Om?" Jawab Haiden kemudian balik bertanya.
Papi Melani diam sejenak lalu berkata "Om ada Proyek baru. Proyeknya cukup besar, sehingga Om butuh sokongan dari tuan besar".
Haiden tersenyum lalu berkata "Om bisa jelaskan sama Haiden apa proyeknya, dan apa yang bisa Haiden bantu. Ga perlu lewat kakek lagi. Kalau Om cerita sama kakek pun nanti juga dilempar ke Haiden".
Papi Melani tersenyum lalu bertanya" Oh ya uda kalau bisa seperti itu. Kapan Om bisa persentase kan ke kamu?"
"Sekitar dua atau tiga hari lagi Om ke kantor Andmadja Grup aja ya" Kata Haiden.
"Siap" Balas Papi Melani sembari tersenyum bahagia.
"Oh iya tante. Soal pembangunan Sekolah Gratis buat anak-anak tidak mampu itu sudah di buat proposal nya?" Tanya Haiden kepada Mami Melani.
Papi Melani tampak terkejut mendengar ucapan Haiden dan bertanya pada Mami Melani "Mau bangun sekolah? Kok ga ada cerita sama Papi sih Mi".
"Idih Papi. Mami sudah pernah bilang sama Papi, tapi Papi ga ada nanggapin omongan Mami" Jawab Mami Melani dengan nada sewot.
"Ingat-ingat deh sekitar enam bulan yang lalu" Jawab Mami Melani.
Haiden dan Melani hanya tersenyum melihat Mami dan Papi Melani Berdebat. Sementara itu Papi Melani tampak sedang mengingat-ingat ucapan istrinya.
"Astaga, baru Papi ingat. Jadi itu Mami cerita serius mau buat sekolah gratis?" Tanya Papi Melani kepada istrinya setelah mengingat bahwa benar Mami Melani pernah mengatakan ia mau bangun sekolah gratis.
"Ya benar lah Pi" Jawab Mami Melani menegaskan.
"Ya sudah, yang terpenting sekarang tante sudah buat Proposal nya belum?" Tanya Haiden kepada Mami Melani.
"Sudah, tapi belum sama tante. Tante minta buatkan teman tante Proposal nya" Kata Mami Melani menjawab pertanyaan Haiden.
Haiden tersenyum kemudian berkata "Oke. Kalau sudah sama tante nanti, kabarin aja Haiden, biar Haiden jemput ya?".
"Oke" Jawab Mami Melani sembari tersenyum bahagia.
__ADS_1
Haiden melihat jam tangannya sudah tepat pukul sembilan belas (jam tujuh malam). Dia menoleh untuk menatap Melani yang ada disampingnya lalu berkata " Oh iya yank. Jam delapan nanti aku harus ke Hotel Admadja Residance ketemu Om Sulistyo. Kamu mau ikut?".
Melani tersenyum lalu menjawab "Mau dong".
Mendengar Haiden akan pergi bersama Melani, Mami Melani berkata "Ya sudah, sebelum pergi kita makan dulu yok. Tante sudah masak yang spesial khusus untuk Haiden".
"Dengan senang hati tante" jawab Haiden sembari tersenyum.
Di kamar pasien blok mawar nomor kosong satu rumah sakit Amir Hamzah, Suherman, Marwan dan Wanti sedang mengobrol di Sofa. Sedang Mardan tampak sedang tertidur lelap di tempat tidurnya.
"Jujur aku masih ga ngerti masalah yang kita hadapi saat ini. Apa hubungan masalah Mardan dengan Melani sehingga Gang yang bermasalah dengan Mardan bisa mengincar Melani juga" Kata Suherman kepada Wanti dan Marwan.
"Kita sama-sama ga ngerti bro. Masalah ini memang masih sangat membingungkan" Sahut Marwan.
"Ngomong-ngomong Melani dan Haiden kok ga ada kabarnya ya seharian ini. Ada menghubungi kalian ga mereka?" Tanya Wanti kepada Marwan dan Suherman.
"Ga ada" Jawab Suherman dan Marwan secara bersamaan.
Wanti terdiam sejenak kemudian berkata "Cobalah kalian hubungi. Tanya kok ga kesini".
Marwan Mengambil Handphone nya yang berada di atas meja untuk menghubungi Haiden setelah mendengar ucapan Wanti.
"Hallo. Di mana bro?" Tanya Marwan kepada Haiden setelah mendengar kata Hallo dari Haiden yang terdengar di Handphone nya.
"Di rumah Melani bro" Jawab Haiden yang sedang makan bersama Melani dan kedua orang tua Melani.
"Oh.., Ga ke rumah sakit kalian?" Tanya Marwan, terdengar di Handphone Haiden yang diletakkan di telinganya.
"Enggak kayanya bro. ini kami lagi makan. Setelah makan aku dan Melani mau ke Hotel Admadja. Mau ketemu Om ku, baru datang dari Jakarta" Jawab Haiden.
"Oh, ya sudah kalau begitu" Kata Marwan membalas jawaban Haiden.
"Mardan gimana bro?" Tanya Haiden yang terdengar di Handphone Marwan.
"Aman. Lagi tidur tu, habis minum obat tadi" Jawab Marwan.
__ADS_1
"Okelah kalau gitu ya" Kata Haiden kemudian menutup telepon nya setelah mendengar kata "Oke" dari Marwan.