SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
MISTERI YANG BELUM TERUNGKAP


__ADS_3

"Aku masih belum kalah" Kata Boy sambil berlari mendekati Haiden yang masih berdiri tegak ditengah-tengah arena. Saat sudah dekat dengan Haiden, Boy menekuk kan lutut kakinya sehingga betis kakinya memangku paha belakangnya dilantai.


Tinju sekuat tenaga Boy diarahkan ke perut Haiden. Haiden tidak bergerak sama sekali, membiarkan tinju Boy mendarat di berutnya.


Wajah Boy mendongak keatas untuk menatap Wajah Haiden. Tinjunya masih lengket diperut Haiden.


"Tidak mungkin. Tidak mungkin pukulan ku tidak dirasakan bocah ini" Kata Boy dalam hatinya setelah menatap wajah Haiden yang tidak terlihat kesakitan sama sekali.


Haiden tersenyum melihat reaksi wajah Boy yang tampak keheranan dan bertanya "Masih belum mau menyerah?" pada Boy.


Karena tidak ada jawaban dari Boy, tiba-tiba Haiden mengangkat sedikit kaki kanannya dan seketika itu pula lutut Haiden mendarat di dagu Boy dari bawah.


Tubuh Boy terangkat kemudian terjatuh kelantai gudang itu, langsung tak sadarkan diri. Dan artinya Boy kalah dalam pertarungan ini.


Semua pengawal Haiden bersorak dan berteriak secara serentak "Hidup tuan muda Haiden". Sedangkan seluruh anggota Panca Karya hanya bisa diam menyaksikan ketua mereka tergeletak tak sadarkan diri.


"Ambilkan aku seember air untuk membangunkan ketua Boy" Katanya Hiden yang masih berdiri di samping tubuh Boy di tengah arena.


Beberapa saat kemudian tampak seorang pengawal Haiden berjalan mendekati Haiden dengan seember air di tentengannya.


"Ini airnya tuan muda" Kata pengawal itu kepada Haiden sembari meletakkan air dalam ember itu di dekat Haiden.


Setelah meletakkan seember air itu, pengawal Haiden itu langsung kembali ketempat nya. Haiden mengangkat seember air yang dibawa oleh pengawalnya tadi lalu menuangkan seluruh isi air dalam ember itu ke wajah Boy.


Detik itu juga Boy langsung tersadar dari pingsannya. Boy duduk dilantai dengan tubuh basah kuyup.


Baju dan celana Boy pun ikut basah terkena seember air yang dicurahkan Haiden ke wajah nya tadi. Tangan boy menopang tubuhnya dari belakang karena tubuhnya masih terasa lemas.


Haiden menatap Boy yang sedang duduk dilantai kemudian berkata "Sekarang kau sebut, siapa yang menugaskan mu untuk membuat melani mau menjauhi aku. Dan kenapa dia mau Melani harus menjauhi aku?"


"Ketua Johan. Dia yang telah menugaskan aku untuk membuat Melani menjauhi mu. Tapi aku tidak tahu mengapa dia ingin Melani Menjauhi mu" Jawab Boy dengan jujur.

__ADS_1


Haiden mengernyitkan dahinya dan kembali bertanya pada Boy "Johan. Siapa dia?".


"Dia ketua Panca Karya pusat yang ada di Jakarta. Dia tinggal di Jakarta" Kata Johan menjelaskan yang sebenarnya.


Haiden kembali mengernyitkan dahinya. Dia semakin bingung setelah Boy menyebut bahwa Johan adalah ketua pusat Gangster Panca Karya yang berada di Jakarta.


Bagaimana bisa orang yang tidak pernah dikenal olehnya dan Melani bisa berniat untuk menjauhkan Melani dengan dirinya. Ada Misteri apa ini sebenarnya, pikir Haiden dibenaknya.


"Baiklah. Terima kasih atas informasinya" Kata Haiden sembari mengulurkan tangannya menawarkan diri untuk membantu Boy bangkit dari duduknya. Boy pun menyambut uluran tangan Haiden untuk bangkit dibantu Haiden.


Setelah sama-sama berdiri berhadapan barulah Boy berkata "sama-sama" membalas ucapan terima kasih Haiden tadi.


"Siapa kau sebenarnya Haiden?" Tanya Boy kepada Haiden.


Haiden tersenyum mendengar pertanyaan Boy dan menjawab "Nanti kau akan tahu".


Kemudian Haiden melangkah meninggalkan Boy ditengah arena untuk keluar dari gedung. Langkah Haiden di ikuti oleh seluruh pengawalnya untuk keluar dari dalam gudang.


Di luar gudang, tampak mobil Haiden beriringan dengan seluruh mobil pengawalnya melaju perlahan meninggalkan gudang. Di dalam mobil Haiden tampak sedang memikirkan sesuatu.


Setelah berpikir beberapa saat Haiden teringat dengan Jendral Sulistyo yang saat ini masih bertugas di Jakarta. Diambilnya Handphone dari dalam saku celana depannya untuk menghubungi Om angkatnya itu.


Tapi ketika Haiden menghubungi Handphone Jendral Sulistyo ternyata Handphone nya tidak aktif. Haiden langsung teringat kemarin Jendral Sulistyo menghubunginya untuk memberitahukan bahwa Jendral Sulistyo berangkat ke Medan hari ini.


"Mungkin Om Sulistyo masih dalam pesawat saat ini, makanya Handphone Om Sulistyo ga aktif" pikir Haiden dalam benaknya.


Haiden berencana untuk menggali informasi mengenai Johan sang ketua pusat gangster Panca Karya. Haiden pikir besar kemungkinan Jendral Sulistyo mengenal atau minimal mengetahui sepak terjang ketua pusat Panca Karya itu.


Saat Haiden masih berpikir tiba-tiba Handphone nya berdering tanda telepon masuk. Haiden segera mengeluarkan Handphone nya dari dalam saku depan celananya.


Setelah melihat siapa yang menelpon di layar Handphone nya, Haiden segera memencet tombol yes yang ada di layar Handphone kemudian menempelkan Handphone nya itu ke telinganya.

__ADS_1


"Iya, Hallo yank" Kata Haiden setelah mendengar kata Hallo dari Melani yang terdengar dari Handphone nya.


"Kamu di mana yank?" Tanya Melani yang berada di teras rumahnya.


"Di jalan, mau ke perumahan pengawal" Jawab Haiden yang terdengar dari Handphone Melani.


"Lama ga kamu di sana yank?" Tanya melani lagi.


"Ga, kenapa yank. Emang napa yank?" Jawab Haiden.


"Ini kan hari minggu. Kebetulan Papi di rumah ga ke mana-mana. Tadi Papi dan Mami nyuruh aku minta kamu ke rumah. Bisa yank?" Tanya Melani lagi dengan nada berharap.


"Bisa. Ya udah, entar dari perumahan pengawal aku langsung ke sana ya" Jawab Haiden memastikan.


Melani tersenyum lalu berkata "Oke sayank. I love you".


"I Love you to" Jawab Haiden yang terdengar dari Handphone Melani.


Melani menutup teleponnya kemudian bangkit dari duduknya. Dia berjalan masuk ke dalam rumahnya untuk menyampaikan kepada Papi dan Mami nya bahwa Haiden bisa datang ke rumah mereka.


Papi dan Mami ada diruang keluarga sedang menonton TV saat Melani menghampiri mereka. Papi dan Mami Melani tampak begitu mesra bagaikan sepasang muda mudi yang masih pacaran.


Melani sudah terbiasa melihat pemandangan itu. Kedua orang tuanya memang selalu terlihat mesara dimanapun mereka bersama.


Melani langsung duduk disebelah Mami nya dan berkata" Pi, Mi. Haiden bilang nanti setelah urusannya selesai dia ke sini".


Papi melepas rangkulan tangannya dari bahu Mami Melani kemudian bertanya "Jam berapa Haiden ke sini Mel?".


"Belum tahu sih Pi. tapi katanya ga lama kok" Jawab Melani.


"Ya sudah. Mami ke dapur dulu kalau gitu, biar mami masak dulu dibantu babi" Kata Mami Melani.

__ADS_1


"Beneran Mami mu masak?" Tanya Melani kepada Mami nya.


Mami melani tersenyum lalu menjawab "Iya dong. Mami mau masak yang spesial buat calon menantu kesayangan mami".


__ADS_2