
Tiba di parkiran mobil Bandar Udara Haneda, Haiden langsung masuk ke dalam mobil yang sama dengan Arif dan Akemi Honda. Suherman, Marwan dan Mardan masuk kedalam satu Mobil.
Irjen Aryo bersama anak dan istrinya juga terlihat masuk kedalam mobil lainnya. Dua mobil yang berisikan anggota Yakuza terlihat melaju terlebih dahulu keluar dari lokasi parkiran, sebelum diikuti oleh mobil yang ditumpangi Haiden bersama Arif dan Akemi Honda, Mardan bersama Marwan dan Suherman, serta Irjen Aryo bersama anak dan istrinya.
Di rumah pengungsian yang disediakan oleh Akemi Honda, Melani terlihat sudah tidak sabar menanti kedatangan Haiden. Demikian pula dengan istri-istri Mardan, Suherman, dan Marwan.
Saat rombongan Haiden tiba, Melani terlihat sangat gembira. Dia langsung berjalan cepat untuk menghampiri Haiden yang terlihat sedang berjalan masuk ke dalam rumah yang cukup megah itu.
"Kok lama sampainya pi?" Tanya Melani sembari memeluk Haiden.
"Ah, perasaan mami aja itu. Kangen ya?" Kata Haiden menggoda Melani.
Melani melepas pelukannya lalu menatap wajah Haiden dan berkata "Emang papi ga suka kalau mami kangen sama papi?".
Mendengar ucapan Melani, Haiden tersenyum lalu berkata "Idihhh...! Gitu aja ngambek", sembari memeluk Melani dengan lembut.
Marwan, Suherman dan Mardan juga terlihat sedang bercengkrama dengan istri mereka masing-masing. Wajah mereka tampak gembira bertemu dengan keluarga masing-masing.
Saat Haiden masih memeluk Melani, Anak kembar mereka terlihat berlari menghampiri sembari berteriak "Papi" bersamaan.
Haiden segera melepas pelukannya pada Melani, lalu berjongkok menyambut keda Anak kembarnya yang ingin memeluknya. Dengan lembut Haiden memeluk kedua Anak kembarnya itu lalu bertanya "Apa kabar anak-anak papi?".
"Baik Pi" Jawab si kembar bersamaan.
Akemi Honda terlihat senang melihat Haiden melepas rindu dengan Melani dan anak-anaknya.
"Bisa kita bicara sebentar sebelum kamu istirahat saudaraku Haiden?" Tanya Akemi Honda kepada Haiden, menggunakan bahasa Jepang.
Haiden melepas pelukan kedua anak kembarnya, lalu berdiri berhadapan dengan Akemi Honda.
"Tentu saja bisa saudaraku Akemi" Jawab Haiden menggunakan bahasa Jepang.
"Sebentar ya sayang. Papi bicara dengan Om Akemi dulu ya" Kata Haiden kepada si kembar.
Kedua anak kembar Haiden menjawab dengan anggukan kepala mereka. Setelah pamit pada Melani, Haiden dan Akemi Honda berjalan meninggalkan mereka menuju taman rumah tersebut.
__ADS_1
"Ada hal penting yang ingin kamu bicarakan saudaraku Akemi?" Tanya Haiden kepada Akemi Honda saat mereka sudah duduk di Sofa yang terletak di taman rumah tersebut.
Akemi Honda tersenyum sebelum menjawab "Begini saudaraku Haiden. Aku dengar Oligarki Indonesia membayar banyak petarung dari berbagai Negara dengan harga yang cukup fantastis".
"Apa yang kamu dengar itu benar saudaraku Akemi" Kata Haiden menanggapi ucapan Akemi Honda.
"Dan aku dengar Klan Ninja kami juga sudah menandatangani kontrak kerja dengan mereka untuk menghadapi mu saudaraku Haiden" Kata Akemi Honda kepada Haiden.
Haiden menatap Akemi Honda sembari bertanya "Benarkah?".
"Itu yang disampaikan anggotaku saudaraku Haiden. Bahkan mereka juga sempat menawari aku untuk bekerja sama. Aku diminta untuk mengirim Yakuza ke Indonesia" Jawab Akemi Honda.
Mendengar ucapan Akemi Honda, Haiden langsung memejamkan matanya sebentar untuk melihat apakah yang dikatakan Akemi Honda benar atau tidak dengan kekuatan batinnya. Dia melihat melihat Pimpinan Ninja Jepang saat menandatangani kontrak kerja dengan utusan Oligarki Indonesia.
Haiden juga melihat saat Akemi Honda ditawari oleh utusan Oligarki Indonesia. Tapi dalam penerawangannya, Haiden melihat dan mendengar Akemi Honda menolak tawaran tersebut dengan tegas.
Setelah membuka matanya, Haiden bertanya pada Akemi Honda "Kenapa kamu menolak tawaran itu saudaraku Akemi Honda?".
"Bagaimana kamu bisa sangat yakin kalau aku menolak tawaran itu saudaraku Haiden?" Tanya Akemi Honda setelah mendengar pertanyaan Haiden kepadanya.
"Serius dengan apa yang kamu katakan barusan saudaraku Haiden?" Tanya Akemi Honda kepada Haiden.
"Aku serius dengan apa yang kukatakan saudaraku Akemi" Jawab Haiden.
"Darimana kamu bisa memiliki kemampuan seperti itu saudaraku Haiden?" Tanya Akemi Honda penasaran.
"Panjang ceritanya saudaraku Akemi. Juga sulit diterima akal sehat" Kata Haiden menjawab pertanyaan Akemi Honda.
Mendengar jawaban Haiden, Akemi tertawa lalu berkata "Aku sudah mendengar soal kekuatan seperti yang kamu miliki saudaraku Haiden. Hanya saja tidak pernah kutemukan di Jepang selama hidupku ini".
"Moyang kami pernah menjajah moyang kalian saudaraku Akemi. Cerita kesaktian bangsa kalian itu juga di ceritakan moyang kami yang sempat ikut berperang melawan moyang kalian dulu" Kata Akemi lagi kepada Haiden.
Haiden tersenyum sebelum berkata "Baguslah kalau begitu. Jadi aku tidak perlu meyakinkanmu lagi soal kekuatan yang kumiliki saat ini".
"Lantas hal apa lagi yang ingin kamu sampaikan kepadaku saudaraku Akemi?" Tanya Haiden.
__ADS_1
"Aku ingin memberikan hadiah kepadamu saudaraku Haiden. Hadiah untuk menghadapi pasukan Oligarki Indonesia" Jawab Akemi sembari tersenyum.
Haiden mengernyitkan dahinya lalu bertanya "Hadiah apa yang ingin kau berikan kepadaku saudaraku Akemi?"
"Taksido" Jawab Akemi.
Mendengar jawaban Akemi Honda, Haiden tertawa lalu berkata "Aku akan bertempur saudaraku Akemi, bukan akan pergi undangan ke pesta pernikahan atau perayaan lainnya".
Akemi Honda tersenyum sebelum berkata "Taksido yang ingin kuhadiahkan kepadamu adalah Taksido anti peluru dan senjata tajam lainnya".
"Wow. Tapi aku tidak membutuhkannya saudaraku Akemi Honda. Sebab tubuhku ini kebal terhadap senjata tajam dan senjata api" Kata Haiden.
"Oh ya?" Kata Akemi dengan wajah terkejut.
"Iya saudaraku Akemi. Dan masih banyak lagi kekuatanku yang belum kamu ketahui".
Akemi Honda mengangguk anggukkan kepalanya sebelum bertanya "Apakah semua pasukanmu kebal senjata api dan senjata tajam?".
"Tidak" Kata Haiden menjawab pertanyaan Akemi Honda.
"Maka pakaikan Taksido yang kuhadiahkan itu nantinya kepada pasukanmu saudaraku Haiden" Kata Akemi Honda menanggapi jawaban Haiden.
"Memangnya berapa banyak Taksido yang ingin kamu hadiahkan kepadaku saudaraku Akemi?" Tanya Haiden kepada Akemi Honda.
Akemi Honda tersenyum lalu menjawab "Berapapun yang kau butuhkan akan aku sediakan untukmu saudaraku Haiden".
"Wow. Kamu serius saudaraku Akemi?" Tanya Haiden untuk memastikan ucapan Akemi Honda.
"Tentu saja aku serius saudaraku Haiden. Bukan waktunya kita bercanda bukan?" Jawab Akemi Honda meyakinkan.
Haiden terlihat mengernyitkan dahi dan memejamkan matanya sejenak, lalu berkata "Kenapa kau ingin aku membunuh Ketua Ninja Jepang itu saudaraku Akemi Honda?".
Mendengar pertanyaan Haiden itu, Akemi Honda tertawa lalu berkata "Kamu layak di sebut Ahli Nujum saudaraku Haiden".
"Hirata adalah musuh bebuyutanku. Dia yang telah membunuh Ayahku Saudaraku Haiden" Kata Akemi Honda menjawab pertanyaan Haiden.
__ADS_1