
Beberapa hari kemudian, Haiden berangkat ke ibu kota Negara untuk memberitahukan kepada Presiden Purwanto dan Kapolri Sulistyo bahwa dia telah memilih orang-orang pilihannya untuk di jadikan pasukan khusus.
Mereka tidak bertemu di istana untuk menghindari kemungkinan adanya penyadapan yang dilakukan oleh pihak Oligarki. Haiden meminta Presiden Purwanto dan Kapolri Sulistyo menemui nya di Hotel Admadja Residance yang ada di ibu kota Negara.
Atas perintah Haiden, pihak Manajemen Hotel Admadja Residance sudah menyediakan kamar khusus untuk pertemuan antara Haiden dengan Presiden Purwanto dan Kapolri Sulistyo.
Pertemuan mereka bertiga secara rahasia, sehingga Presiden Purwanto datang ke Hotel Admadja Residance yang ada di ibu kota Negara itu hanya dengan Kapolri Sulistyo saja, tanpa pengawalan dari Paspampres.
Saat bertemu dengan Presiden Purwanto dan Kapolri Sulistyo di kamar Khusus itu, Haiden menyampaikan "Seratus orang pilihan saya sudah saya kumpulkan. Lima puluh orang saya ambil dari pengawal saya, dan lima puluh orang lagi dari anggota Panca Karya" kepada Presiden Purwanto.
"Mereka semua sudah siap untuk dilatih Om, pak Presiden" Kata Haiden lagi kepada Presiden Purwanto dan Kapolri Sulistyo yang duduk dihadapan nya.
"Rencana kamu mereka akan di latih dimana?" Tanya Kapolri Sulistyo kepada Haiden.
"Rencana Haiden di perumahan khusus pengawal Haiden saja Om. Tinggal Om lah yang atur siapa saja yang akan melatih mereka" Jawab Haiden.
"Seperti yang kita bicarakan kemarin saja. Kirim Aryo ke Medan untuk melatih mereka" Kata Presiden Purwanto menanggapi pembicaraan antara Haiden dengan Kapolri Sulistyo.
"Sepakat saya pak Presiden" Kata Haiden menanggapi ucapan Presiden Purwanto.
"Ya sudah, setelah pembicaraan kita ini Om akan perintahkan Aryo dengan beberapa orang kepercayaan om yang lainnya ke Medan. dengan jumlah seratus orang, ga mungkin Aryo melatih sendirian" Kata Kapolri Sulistyo kepada Haiden.
"Sepakat Om" Kata Haiden menanggapi ucapan Kapolri Sulistyo kepadanya.
"Aryo berada di mana saat ini Tyo?" Tanya Presiden Purwanto pada Kapolri Sulistyo.
__ADS_1
"Dia sedang berada di Sumatera Barat pak Presiden" Jawab Kapolri Sulistyo.
"Sudah berapa lama?" Tanya Presiden Purwanto lagi kepada Kapolri Sulistyo.
"Hampir sebulan pak Presiden" Jawab Kapolri Sulistyo.
Sejak tahun 2027 Sumatera Barat bergejolak. Ada sekelompok masyarakat yang membuat gerakan Sumatera Barat Merdeka. Mereka memiliki tujuan untuk membentuk Negara berideolikan Agama.
Untuk itu Irjen Aryo di tugaskan Kapolri Sulistyo ke Sumatera Barat. Sudah beberapa orang Jenderal yang memimpin pasukan Polisi untuk menumpas sekelompok orang tersebut, namun semuanya gagal.
Bahkan sudah cukup banyak anggota Polri dan anggota TNI yang gugur menghadapi sekelompok orang yang mencoba untuk memerdekakan Sumatera Barat.
Meski belum genap sebulan Irjen Aryo ditugaskan Kapolri Sulistyo memimpin Pasukan Polisi untuk menumpas mereka, namun keahlian Irjen Aryo dalam menciptakan strategi berperang membuat sekelompok orang tersebut cukup kewalahan.
"Ada beberapa Jenderal yang membantu Aryo disana. Jadi Aryo bisa kembali ke Sumatera Barat bila dalam keadaan genting saja" Jawab Kapolri Sulistyo.
Usai pertemuan rahasia dengan Presiden Purwanto dan Kapolri Sulistyo, Haiden langsung kembali ke Medan dengan pesawat Pribadinya. Malam hari nanti Haiden ada pertemuan dengan Papi Melani dan Arif untuk membicarakan urusan Lokalisasi.
Antisipasi serangan Oligarki ke seluruh Lokalisasi di setiap Provinsi sangat perlu di lakukan. Ekonomi masyarakat setempat kini bergantung pada Lokalisasi yang kini berjalan dengan sangat bagus.
Pukul empat sore, Haiden sudah tiba kembali di Medan. Dari bandara, Haiden dengan para pengawal yang menjemput nya langsung menuju perumahan khusus pengawalnya untuk bertemu dengan seratus orang pilihannya yang akan menjadi pasukan khusus untuk menghabisi para pembesar Oligarki.
Sebelum berangkat dari ibu kota Negara ke Medan, Haiden sudah menghubungi Mardan untuk meminta Mardan menjemput pak Narso dan membawanya ke perumahan khusus pengawalnya. Pak Narso akan membekali pasukan khusus tersebut dengan kekuatan untuk menjaga diri mereka selama berperang dengan Oligarki.
Saat Haiden tiba di perumahan khusus pengawalnya, Mardan dan pak Narso belum terlihat di perumahan khusus pengawalnya itu. Di Aula yang berada di area perumahan khusus pengawal Haiden, seratus orang yang akan di jadikan pasukan khusus tengah menanti kedatangan Haiden.
__ADS_1
Saat Haiden terlihat masuk kedalam Aula itu, seluruh calon pasukan khusus tersebut berdiri untuk memberi hormat kepada Haiden, sembari menyebut namanya. Sebagian menyebutnya "Tuan besar Haiden" dan sebagian lagi menyebutnya "Ketua Umum Haiden".
Setelah balas menyapa dengan mengangkat tangan kanannya, Haiden duduk di kursi yang berhadapan dengan lima puluh orang pengawalnya dan lima puluh orang anggota Panca Karya. Diatas mejanya Haiden melihat daftar kehadiran dari seratus orang yang akan menjadi pasukan khusus itu.
Dalam daftar kehadiran tersebut terlihat sudah di tanda tangani oleh seratus nama yang tertera. Usai melihat daftar hadir tersebut Haiden berkata "Selamat sore semua nya".
"Sore ketua" sahut lima puluh orang anggota Panca Karya dan "Sore tuan besar "sahut lima puluh orang pengawal Haiden secara serentak.
Baru saja Haiden akan memulai ucapannya, Mardan dan pak Narso memasuki Aula tersebut. Seratus orang yang akan dijadikan pasukan khusus itu kembali berdiri untuk memberi hormat kepada Mardan.
Mardan mengangkat tangan kanannya sembari tersenyum membalas sambutan seratus orang yang duduk di hadapan nya. Seratus orang tersebut sama sekali belum pernah melihat sosok pak Narso.
Mereka semua bertanya-tanya dalam hati "Siapa pria tua itu" ketika melihat Haiden berdiri untuk menyambut kedatangan pak Narso. Haiden terlihat begitu menghormati pak Narso di mata keseratus orang pilihan Haiden itu.
Setelah itu, Mardan didukung disebelah kiri Haiden, sedangkan pak Narso duduk di sebelah kanan Haiden. Haiden mulai berbicara dengan mengatakan "Saya perkenalkan kalian, orang di sebelah kanan saya ini adalah guru saya. Pak Narso namanya".
Pak Narso terlihat hanya tersenyum ketika namanya di sebut Haiden, di perkenalkan kepada seluruh orang yang akan di jadikan pasukan khusus. Sedangkan Haiden tetap melanjutkan ucapannya kepada seratus orang yang ada dihadapan nya.
"Pak Narso akan membekali kalian ilmu yang akan berguna untuk menjaga dan membela diri kalian saat menjalankan tugas nanti. Besok beliau akan mulai melatih kalian" Lanjut kata Haiden.
Mendengar ucapan Haiden, seratus orang yang akan di latih untuk menjadi pasukan khusus itu menyahut "Siap...!".
"Dan beberapa hari kedepan, seorang Jenderal Polisi dengan beberapa orang bawahannya akan melatih kalian juga" Kata Haiden lagi kepada lima puluh orang anggota Panca Karya dan lima puluh orang pengawalnya itu.
"Siap...!" Sahut seluruh anggota Panca Karya dan seluruh pengawalnya yang akan segera menjadi pasukan khusus untuk menghadapi Oligarki.
__ADS_1