
"Bawa kembali dia ke dalam rumah" Kata Bimo kepada seorang pengawal Haiden yang bernama Ringgo, sembari menunjuk Alwi.
"Apa-apaan ini bang. Aku belum kalah dalam pertarungan ini" Kata Alwi kepada Bimo.
Bimo tersenyum lalu membalas ucapan Alwi "Waktumu bertarung sudah selesai".
"Aku tidak rela di buang kelaut. Aku belum kalah bang" Kata Alwi dengan perasaan mulai cemas kepada Bimo.
Mendengar ucapan dan gelagat ketakutan Alwi itu Bimo tertawa lebar sebelum berkata "Waktumu sudah habis. Soal hasil pertarungan mu nanti aku umumkan".
"Sudah. Kau bawa dia kedalam rumah dan bawa keluar temannya satu lagi" Kata Bimo lagi kepada Ringgo.
"Siap" Jawab Ringgo sembari membawa Alwi kedalam rumah tempat dia dan ketiga temannya di tahan.
Di dalam rumah, Alwi kembali di ikat oleh anggota Panca Karya di kursinya. Ringgo membuka ikatan Raden dan kemudian membawa Raden keluar dari dalam rumah untuk bertarung dengan salah seorang pengawal Haiden yang bernama Didi.
Didi terlihat tersenyum melihat Raden yang bertubuh gembul itu. Melihat senyuman Didi itu, Raden berkata "Apa yang kau senyum kan?".
Mendengar pertanyaan Raden kepada nya, Didi tertawa sebelum menjawab dengan bertanya balik kepada Raden "Dengan badanmu yang gaboleh itu, apa ga sulit bergerak kau?".
"Banyak bacot kau. Kemampuan kau cuma menilai dari fisik orang?" Balas Raden dengan nada sinis.
"Kalian berhadapan bukan untuk saling ejek, tapi untuk bertarung" Kata Bimo di sela pembicaraan antara Raden dengan Didi.
"Mulai" Kata Bimo lagi kepada Didi dan Raden.
Mendengar kata mulai dari Bimo, Didi secepat kilat menyerang Raden. Kecepatan Didi memang cukup luar biasa, sehingga tinjunya langsung mendarat ke perut Raden yang terlihat buncit itu.
Raden tidak bergerak sedikit pun menerima tinju Didi. Bukannya berkata "Aduh..!", Raden malah tertawa saat tinju Didi melekat di perut Raden.
__ADS_1
Baru saja didi menatap wajah Raden dengan tinjunya yang masih melekat di perut Raden itu, Raden sudah melayangkan sikunya ke punggung Didi. Seketika Didi berkata "Aduh..!" saat sikut Raden mendarat mulus di punggungnya.
Didi jatuh tersungkur di tanah dan tak sadarkan diri. Melihat Raden mampu melumpuhkan Didi dengan mudah dan cukup cepat, Bimo tersenyum senang.
Bimo kembali meminta Ringgo membawa Raden kedalam rumah. Seperti hal nya Alwi dan Danu, Raden juga kembali di ikat di kursi nya oleh anggota Panca Karya yang bertugas menjaga mereka di dalam rumah.
Kini Ringgo melepas ikatan Feri, dan membawa Feri keluar dari dalam rumah untuk bertarung dengan pengawal Haiden yang bernama Rizali. Melihat sosok Feri yang bertubuh cukup atletis Rizali tidak memandang remeh Feri sama sekali.
Feri dan Rizali sama-sama diam dan tidak berkata apa-apa saat saling berhadapan. Bimo tersenyum sebelum berkata "Mulai".
Tak di sangka, di balik diamnya Feri ternyata Feri cukup agresif. Dengan cepat Feri melompat tinggi untuk melayang kan kakinya ke arah tubuh Rizali.
Rizali salah seorang pengawal Haiden yang cukup di unggulkan dari yang lainnya. Ilmu bela diri Rizali nyaris setara dengan Bimo.
Hanya saja, Bimo jauh lebih senior dibandingkan Rizali sebagai pengawal Haiden. Itu sebabnya Bimo kini menjadi kepala Pengawal Haiden untuk Sumatera Utara.
Terjangan kaki Feri bisa dengan mudah di hindari oleh Rizali. Begitu menapakkan kakinya ke tanah, Feri kembali menyerang Rizali dengan sangat cepat.
Pertarungan sengat antara Rizali dengan Feri terlihat sangat seimbang. Keduanya sama-sama memiliki kemampuan yang setara.
Belasan pengawal Haiden termasuk Bimo terlihat puas melihat pertarungan sengit Feri dengan Rizali. Bimo tersenyum sebelum berkata "Stop" untuk menghentikan pertarungan karena waktu yang di tentukan sudah habis.
Feri menatap Bimo lalu bertanya "Siapa yang unggul di antara kami bang?" pada Bimo.
Bimo tersenyum lalu menjawab "Kalian seimbang".
"Sekarang kau keluarkan ketiga temannya" Perintah Bimo kepada Ringgo.
"Siap" Balas Ringgo sembari melangkah masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Didalam rumah, Ringgo meminta anggota Panca Karya membuka ikatan Alwi dan Danu. Dia sendiri membuka ikatan Raden.
Setelah itu empat orang anggota Panca Karya mengikuti Ringgo keluar rumah membawa Alwi, Danu dan Raden. Diluar rumah Alwi, Danu, Raden dan Feri berdiri sejajar berhadapan dengan Bimo.
Bimo tersenyum sebelum bertanya "Kalian tahu apa maksud kalian di adu dengan empat pengawal tuan besar Haiden yang sebenarnya?" kepada Alwi, Danu, Raden dan Feri.
"Bagaimana kami bisa tahu kalau tidak ada yang memberi tahu kami" Jawab Danu dengan nada datar.
Mendengar jawaban Danu barusan, Bimo tertawa lalu kembali bertanya "Kalian mau tahu alasannya?".
"Kami hanya tahu, kami harus mampu mengalahkan orang-orang abang agar kami tidak dibuang kelaut. Lantas apa yang akan kami dapatkan bila kami mampu mengalahkan orang-orang abang?" Tanya Raden.
"Sebenarnya kalian telah melalui tes apakah kalian layak untuk menjadi pengawal tuan besar Haiden seperti kami atau tidak" Jawab Bimo sembari tersenyum.
Mendengar keterangan Bimo barusan, Alwi, Danu, Raden dan Feri saling bertatap wajah. Mereka tidak menyangka bahwa mereka baru saja melalui tes untuk menjadi pengawal Haiden.
"Lantas apakah kami berempat lulus dalam tes tadi?" Tanya Feri kepada Bimo.
Bimo tersenyum sebelum menjawab "Aku sudah memberi tahukan hasil pertarungan kalian kepada tuan besar Haiden lengkap dengan Video yang telah merekam kalian tadi. Soal lulus atau tidaknya kalian, tuan besar Haiden yang akan memutuskan, dan akan memberi tahukan kepada kalian langsung nanti.
"Kapan kami di temui tuan besar Haiden bang?" Tanya Alwi setelah mendengar penjelasan Bimo kepada mereka barusan.
"Saat ini kita tengah menunggu tuan besar Haiden. Aku ga tahu apakah tuan besar sudah di jalan atau belum. Kalian terapi berdiri disini menunggu kedatangan tuan besar Haiden" Jawab Bimo.
Usai pertarungan Feri dengan Rizali tadi, Bimo memang langsung melaporkan hasil pertarungan Alwi, Danu, Raden dan Feri dengan empat pengawal terbaik Haiden melalui pesan WA. Danu juga mengirim rekaman Video pertarungan mereka.
Setelah menerima laporan dari Bimo, dan menonton pertarungan Alwi, Danu, Raden dan Feri dengan empat pengawal terbaik nya, Haiden langsung bergerak dari kantor Admadja Grup Sumatera Utara ke perusahaan khusus pengawalnya.
Haiden cukup puas melihat kemampuan bela diri keempat calon pengawal pengawalnya itu. Sebelum keluar dari gedung Admadja Grup, Haiden sempat menghubungi Mardan dan meminta Mardan segera ke perumahan khusus pengawalnya juga.
__ADS_1
Mardan yang baru saja berbicara mengenai kasus ABK Naga Terbang Berjaya dengan Jimmy dan dan Kurnia langsung bergerak dari kantor Partai Panca Karya Sumatera Utara menuju perumahan khusus pengawal Haiden.