SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
MEMBURU MISTERI 6


__ADS_3

Pagi Hari Aryo sudah tiba di rumah Haiden dengan mengendarai mobilnya sendiri. Dia datang membawa koper yang tidak terlalu besar berisi pakaiannya sebagai bekal selama dia tinggal di rumah Haiden.


Haiden meminta asisten rumah tangganya mengantar Aryo kelantai dua untuk memilih kamarnya sendiri. Arya tidak banyak memilih, sehingga kamar pertama yang ditunjukkan oleh asisten rumah tangga Haiden kepadanya, itu yang dia pilih untuk menjadi kamarnya selama Haiden ada di Jakarta nantinya.


Setelah memindahkan pakaian Aryo dari koper ke lemari, asisten rumah tangga langsung pamit kembali ke dapur bersama asisten rumah tangga yang lainnya. Aryo keluar dari kamarnya berjalan turun kelantai dua untuk bertemu dengan Haiden.


Haiden yang baru saja selesai berolah raga, tubuhnya masih tampak basah dengan keringat duduk kursi santai yang terletak di tepian kolam renang. Aryo menghampiri Haiden di sana, dan langsung duduk berhadapan dengan Haiden.


"Selamat pagi tuan muda" Sapa Aryo setelah duduk.


"Pagi pak Aryo" Balas Haiden sembari tersenyum.


"Begini tuan muda. Saya baru dapat informasi dari petugas kita yang sedang menyamar jadi anggota Gangster Panca Karya, katanya Johan itu tidak pernah mau terima tantangan. Kalau yang nantang dulu pernah ada. Dan yang nantang itu akhirnya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa" Kata Aryo memberi kabar baru.


Mendengar penjelasan Aryo, Haiden diam sejenak sebelum mengatakan "Oh gitu. Jadi kalau kita menantang dia, maka kita akan di burunya. Begitu?".


"Begitulah kira-kira tuan muda. Tapi belum tentu si Johan sendiri yang akan turun tangan langsung. Bisa jadi dia hanya menyuruh anggotanya untuk memburu kita" Jawab Aryo.


Haiden mengangguk anggukkan kepalanya sebelum berkata "Kita tidak akan pernah tahu jawaban yang sebenarnya kalau tidak kita coba. Maka kita akan tetap utus seseorang ke kantor Panca Karya pusat".


"Artinya tuan muda siap di buru Gangster Panca Karya tuan muda?" Tanya Aryo.


Aryo tidak menyangka pemuda tampan kaya raya yang berada di hadapannya ini memiliki nyali yang sangat besar. Selama ini, mendengar nama Johan saja orang sudah gemetaran, apa lagi kalau sampai berurusan dengan nya.


Aryo memang tidak pernah melihat langsung Johan membunuh seseorang dengan kekuatan nya sendiri. Tapi dia sering menyaksikan orang mati karena kekejaman Gangster Panca Karya.


Haiden menghubungi kepala pengawalnya yang bertugas di Jakarta melalui Handphone nya. Dia meminta kepala pengawalnya itu untuk segera datang kerumahnya.

__ADS_1


Aryo hanya memperhatikan Haiden yang sedang menghubungi pengawalnya itu. Dalam hatinya Aryo sungguh mengagumi sosok Haiden.


"Kita tunggu dulu si Aswin ya pak.Biar dia yang atur siapa orang yang menyampaikan pesan kita ke kantor Panca Karya pusat" Kata Haiden kepada Aryo usai berbicara dengan kepala pengawalnya di telepon.


"Siap tuan muda" Jawab Aryo dengan sopan.


"Pak Aryo santai dulu di dini, saya mandi dulu ya ya" Kata Haiden ke pada Aryo.


Aryo mengangguk lalu membalas" Siap tuan muda".


Haiden tersenyum sembari bangkit dari duduknya, melangkah meninggal kan Aryo kemudian masuk ke kamarnya. Didalam kamarnya Haden langsung membuka pakaiannya untuk mandi.


Di Medan, Mardan tampak baru saja masuk kedalam mobilnya. Hari ini dia akan berangkat ke kampus.


Sebelum melajukan mobilnya, Mardan mengambil Handphone dari dalam saku depan celananya untuk menghubungi kekasihnya Wanti.


"Hallo sayank" Kata Mardan setelah tersambung dengan Wanti.


"Kamu ada kuliah hari ini?" Tanya Mardan.


"Ada Yank. tapi jam satu siang nanti" Jawab Wanti yang berada di rumahnya.


"Ohh..! Ya uda deh. Aku duluan ke kampus kalau gitu" Kata Mardan membalas Jawaban Wanti.


"Kamu masuk jam berapa, dan keluar jam berapa yank?" Tanya Wanti, terdengar di Handphone Mardan.


"Masuk jam sembilan, keluar jam sebelas yank" Jawab Mardan didalam mobilnya yang di panasinya.

__ADS_1


"Oh ya uda. Entar jam sebelas aku ke kampus" Jawab Wanti, terdengar di Handphone Mardan lagi.


Mardan tampak tersenyum senang lalu bertanya "Bener?".


"Iya loh sayank" Jawab Wanti sembari tersenyum di kamarnya.


Mardan juga tersenyum lalu menutup panggilannya setelah mengatakan "Ya sudah aku gerak ke kampus dulu ya yank".


Mardan terlihat bahagia setelah menghubungi kekasihnya itu. Merasa cukup memanaskan mobilnya, kaki kanan Mardan menginjak gas mobil, dan mobilnya pun melaju perlahan keluar dari area rumahnya.


Saat mobil Mardan keluar dari area rumahnya, tanpa di sadari Mardan ada dua mobil mini bus berwarna hitam ikut bergerak dari depan rumahnya. Satu mobil melaju mendahului Mobil Mardan dan yang satunya lagi tetap berada di belakang.


Jarak kedua mobil mini bus itu tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh dari mobil Mardan, sehingga Mardan tidak mencurigai bahwa Mobil tersebut sedang mengikutinya. Masing-masing dari kedua Mobil itu berisi empat orang penumpang termasuk pengemudinya.


Mereka adalah para pengawal Haiden yang di tugaskan Haiden untuk mengawal Mardan. Mardan tidak mengetahui kalau dia juga di kawal oleh empat orang pria berbadan tegap sama seperti Melani yang kini di kawal oleh para pengawal Haiden.


Haiden masih khawatir dengan keselamatan Mardan. Di takut Mardan masih menjadi incaran anggota Gangster Panca Karya setelah Mardan keluar dari rumah sakit.


Itu sebabnya Haiden juga berinisiatif memerintahkan delapan orang pengawalnya untuk mengawasi dan menjaga keselamatan Mardan tanpa diketahui Mardan. Selama perjalanan dari rumahnya hingga sampai di lampunya, Mardan tidak mengira kalau dia sedang di kawal, diawasi dan di jaga dengan ketat oleh pengawal Haiden.


Saat Mardan memasuki area kampus, para pengawal Haiden yang di tugaskan untuk menjaga Mardan itu tidak ikut masuk kedalam area kampus. Mereka berjaga-jaga tidak jauh dari depan kampus Mardan.


Setelah memarkir kan mobilnya di parkiran mobil, Mardan keluar dari dalam mobilnya, kemudian berjalan langsung menuju kelasnya. Hari ini hari pertama Mardan kembali masuk kampus setelah beberapa minggu menjalani pengobatannya.


Dikelasnya, Mardan tidak merasa heran atas ketidak hadiran Haiden. Sebab dia sudah diberi tahu Haiden bahwa Haiden ada di Jakarta saat ini.


Mardan di sambut hangat oleh teman-teman sekelasnya saat memasuki kelas. Beberapa orang temannya ada yang meminta maaf karena tidak sempat menjenguknya di rumah sakit.

__ADS_1


Teman-temannya yang sempat menjenguk Mardan di rumah sakit mengucapkan selamat atas kesembuhannya. Mardan tampak kompak dengan seluruh teman selokalnya, tapi tidak se kompak dengan Haiden, Marwan, Suherman, Melani dan Wanti yang kini tengah menjadi kekasih sekaligus sahabatnya.


Beberapa saat kemudian Dosen yang akan mengajar Mardan beserta seluruh teman sekelasnya pun masuk ke dalam kelas. Kuliah pun di mulai.


__ADS_2