SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
PENYESALAN MARWAN


__ADS_3

Pukul 11:45 Wib Haiden baru terbangun dari tidurnya. Sebelum ke kamar mandi untuk mandi, Haiden membuka Handphone nya.


Ada beberapa panggilan tak terjawab dan ada beberapa pesan WA yang masuk. Haiden melihat pesan WA dari Melani terlebih dahulu.


"Bangun tidur langsung telepon aku ya" Kata Meli dalam pesan WA yang di baca Haiden.


Usai membaca pesan WA dari Melani, Haiden langsung menghubungi Melani. Melani yang berada di kantin bersama Suherman dan Wanti langsung mengangkat Handphone nya saat melihat Haiden yang menghubungi nya.


"Hallo yank" Kata Melani.


"Ya yank. Maaf baru bangun aku yank" Balas Haiden.


"Iya ga apa-apa yank. Kamu jam berapa kesini?" Tanya Melani kepada Haiden yang terdengar di Handphone Haiden.


"Selesai mandi dan makan aku langsung gerak ke kampus yank. jam dua aku dan Mardan ada kelas" Jawab Haiden.


"Kalau gitu aku dengan Wanti dan Suherman duluan ke rumah sakit Amir Hamzah ya. Biar bisa gantian sama Papa Mama Marwan nemani Marwan di kamarnya" Balas Melani sembari mengambil kentang goreng yang ada di meja.


"Loh Marwan sudah di pindah ke kamar pasien rupanya?" Tanya Haiden setelah mendengar ucapan Melani.


"Sudah loh yank. Sekitar jam sembilan pagi tadi Fani WA kita semua, ngabarin si Marwan sudah siuman. Emang kamu ga di WA Fani?" Jawab Melani.


"Syukurlah kalau Marwan sudah siuman. Aku belum buka pesan WA masuk dari orang lain. baru WA kamu saja yang ku lihat yank" Kata Haiden menanggapi jawaban Melani.


"Oh gitu. Trus gimana jadinya yank. Aku dengan Wanti dan Suherman duluan ke rumah sakit atau aku nunggu kamu disini saja yank?" Tanya Melani yang terdengar di Handphone Haiden.


"Ya sudah ga apa-apa kalian ke sana duluan yank. Entar ketemu di rumah sakit saja kita" Jawab Haiden.


"Ya sudah, aku mandi dulu lah ya yank" Kata Haiden yang terdengar di Handphone Melani.


"Oke Yank" Balas Melani sebelum menutup Handphone nya.

__ADS_1


Setelah menutup pembicaraan dengan Haiden lewat Handphone nya, Melani memanggil salah seorang pelayan kantin. Pelayan yang di panggil Melani itu langsung bergerak menghampiri Melani.


Saat pelayan itu tiba di hadapan nya, Melani bertanya "Berapa semua kak?".


"Oh, bentar ya kak, saya tanya dulu sama kasir" Jawab pelayan itu sebelum berbalik badan kemudian berjalan menuju kasir kantin.


Beberapa saat kemudian, pelayan tadi sudah kembali lagi ke hadapan Melani lalu berkata "Semuanya seratus dua puluh ribu kak".per


Melani memberikan uang sebesar seratus lima puluh ribu. Saat menerima uang dari Melani, pelayan itu berkata "Sebentar saya balik lagi antar kembalian nya ya kak".


"Sisanya ambil saja buat kakak ya" Kata melani membalas ucapan pelayan itu.


"Serius ini kak?" Tanya pelayan itu kepada Melani.


"Iya" Jawab Melani sembari tersenyum lalu melangkah keluar dari kantin bersama Wanti dan Suherman menuju mobil Suherman di parkiran mobil.


Tiba di parkiran, Suherman, Wanti dan Melani langsung masuk ke dalam mobil Suherman. Tak lama kemudian terlihat mobil Suherman melaju perlahan keluar dari area kampus.


Di tempat lain, A Cun yang berada di rumahnya kini merasa lega setelah mendengar Marwan sudah siuman dari temannya yang bekerja sebagai Dokter di rumah sakit Amir Hamzah. Nyawanya kini tidak terancam lagi pikir nya.


A Cun tahu kekuatan dan kekuasaan Haiden sangat besar saat ini, baik di dunia hitam maupun di dunia putih. Jangankan dirinya, bahkan abang kandungnya yang seorang gubernur itupun tidak ada apa-apa nya di bandingkan Haiden.


Pertimbangan itu yang membuat A Cun tidak berani melawan Haiden. Saat ini A Cun berpikir untuk mencari jalan agar bisa bekerja sama dengan Haiden.


Sore ini Acun berencana pergi ke rumah sakit Amir Hamzah untuk menjenguk Marwan, sekaligus meminta maaf kepada Marwan. Selain ingin menyelesaikan masalah hingga benar-benar tuntas, Acun benar-benar bertekad bisa bekerja sama dengan Haiden.


Pukul 16:00 Wib, Haiden dan Mardan terlihat keluar dari dalam kelasnya. Di sepanjang jalan menuju parkiran mobil, Haiden dan Mardan membahas rencana pelantikan Mardan.


Mardan juga sempat bertanya tentang apa yang terjadi saat Haiden bertemu dengan A Acun, dalang pengeroyokan terhadap sahabat mereka Marwan. Haiden menceritakan semua yang terjadi pada Mardan.


"Jadi ga ada perlawanan sama sekali dari A Cun Den?" Tanya Mardan usai Haiden berhenti berbicara.

__ADS_1


"Sampai detik ini ga ada sih. Tapi ga tahu juga nanti. Mana tahu dia punya nyali untuk nemblas dendam padaku" Jawab Haiden serius.


"Berarti dia benar-benar takut sama kau bro" Kata Mardan menanggapi ucapan Haiden.


Haiden tertawa sebelum membalas ucapan Mardan "Berarti dia masih kepengen hidup bro".


Mardan juga tertawa lalu berkata "Dia cuma preman kecil yang salah sasaran".


Haiden hanya tersenyum mendengar ucapan Mardan sembari tetap berjalan. Tiba di mobil masing-masing, Mardan dan Haiden langsung pergi meninggalkan kampus menuju rumah sakit Amir Hamzah untuk menjenguk Marwan yang kini sudah berada di kamar pasien.


Tiba di rumah sakit Amir Hamzah, saat masih didalam mobil Haiden menghubungi Melani. Dia bertanya "Di kamar apa, nomor berapa kalian yank?" pada Melani lewat Handphone nya.


"Kamar mawar nomor kosong dua yank. Sebelah kamar Mardan kemarin yank" Jawab Melani yang berada di kamar Marwan bersama Suherman, Wanti dan Marwan yang sedang tertidur.


Fani pulang dulu ke kos nya untuk beristirahat. Kedua orang tua Marwan juga pulang ke rumah mereka untuk mengambil apa yang perlu di bawa ke rumah sakit, selain beristirahat sejenak.


Haiden dan Mardan langsung beranjak dari parkiran mobil masuk kedalam gedung rumah sakit Amir Hamzah. Didepan kamar pasien block mawar nomor kosong dua, Mardan mengetuk pintu sebelum membuka pintu kamar itu.


"Permisi saudara saudari" Kata Mardan bercanda sembari masuk kedalam kamar, di susul oleh Haiden masuk kedalam kamar juga.


"Eeehh.. Ada ayank awak. Sini ayank awak" Kata Wanti membalas candaan Mardan, sembari melambaikan tangannya meminta Mardan datang menghampiri dirinya yang sedang duduk di Sofa bersama Suherman dan Wanti.


Melihat Marwan yang masih tertidur, Mardan langsung menghampiri Wanti dan duduk disebelahnya. Haiden tidak langsung bergabung dengan Melani, Suherman dan Wanti.


Haiden menghampiri Marwan yang masih tampak tertidur. Saat melihat balutan perban di kepala dan tangan kiri Marwan, Haiden bertanya pada Melani "Kepala Marwan dan tangannya kenapa ini yank?"


"Kata Mama Marwan tadi, ada keretakan di Batok kepala Marwan. Tangannya juga retak itu yang. Tapi untung nya ga sampai gegar otak parah yank" Jawab Melani.


"Kalian sudah sempat bicara dengan dia?" Tanya Haiden kepada Suherman, Melani dan Wanti.


"Sudah. Dia belum lama tertidur kok. Usai diberi obat ga lama dia tertidur" Jawab Suherman.

__ADS_1


__ADS_2