
Beberapa saat usai makan, Haiden, Melani, Aryo dan Wanda beranjak keluar dari ruang VIP Resto Ayam Pepes Medan. Baru saja keluar dari ruang VIP tersebut tiba-tiba Haiden di hampiri lima orang gadis remaja dan satu orang pemuda gemulai.
"Bang Haiden kan" Tanya salah seorang gadis remaja itu sembari menunjuk Haiden dengan jari telunjuknya.
Belum sempat Haiden menjawab, salah seorang lagi dari lima gadis remaja itu langsung berdiri di sebelah kanan Haiden lalu berkata "Cepat fotoin aku sama bang Haiden Bel".
Pemuda gemulai yang bersama lima gadis remaja itu langsung mengambil foto Haiden bersama gadis remaja yang berada disebelah Haiden itu dengan Handphone yang ada ditangannya. Ada beberapa kali pemuda gemulai itu mengambil foto temannya bersama Haiden.
Akhirnya kelima gadis remaja itu bergantian berfoto dengan Haiden. Haiden sengaja membiarkan mereka untuk berfoto dengannya.
Pemuda gemulai itu juga tidak mau ketinggalan. Dia juga terlihat antusias ingin berfoto dengan Haiden yang kini menjadi idola mereka.
Melani, Wanda dan Aryo terlihat senyam senyum melihat Haiden diperlakukan layaknya seorang selebriti papan atas oleh keenam remaja itu.
Para pengawal Haiden juga hanya memperhatikan tuan muda mereka dari tempat duduk mereka masing-masing. Mereka tetap awas mengamati situasi dan kondisi demi keamanan Haiden, Melani, Wanda dan Aryo.
Tak disangka, aksi keenam remaja itu mengundang mata pengunjung resto lainnya untuk melihat Haiden. Karena merasa mengenali Haiden, beberapa orang pengunjung resto Ayam Pepes Medan itu ikut menghampiri Haiden.
Melihat banyak orang yang akan menghampiri Haiden, para pengawal Haiden bangkit dari duduknya untuk mengamankan kondisi. Tapi Haiden memberi kode agar mereka tetap duduk di tempat mereka masing-masing.
"Tenang semua ya. Saya tidak melarang kalian berfoto dengan saya. Tapi saya harap kalian mau antri dengan tertip. Bagaimana?" Kata Haiden kepada semua orang yang ingin berfoto dengannya.
"Setuju...!" Jawab semua orang yang ingin berfoto dengan Haiden secara bersama.
Setelah itu Haiden membiarkan mereka semua berfoto dengannya. Sekitar satu jam barulah Hiden dan rombongan nya bisa bergerak keluar dan pergi meninggalkan resto Ayam Pepes Medan.
Dari resto Ayam Pepes Medan, Haiden dan Aryo langsung mengantar Melani dan Wanda pulang ke rumah Melani. Karena sudah larut malam, Haiden dan Aryo tidak masuk kedalam rumah Melani.
Setelah Melani dan Wanda masuk kedalam rumah, Haiden dan Aryo langsung meninggalkan rumah Melani. Di perjalanan pulang ke rumah tiba-tiba Handphone Haiden berdering tanda telepon masuk.
Nama Marwan tampil di layar Handphone Haiden. Haiden pun langsung menerima panggilan dari Marwan.
"Hallo" Kata Haiden setelah tersambung dengan Marwan".
Tapi yang terdengar menjawab Haiden bukan suara Suherman. Suara yang terdengar adalah suara perempuan.
"Hallo, siapa ini?" Tanya Haiden.
__ADS_1
"Ini aku Fani Den" Jawab Fani yang terdengar di Handphone Haiden.
"Ada Fan. Mana Marwan?" Tanya Haiden lagi.
"Marwan koma di ruang UGD Den" Kata Fani sembari menangis.
"Apa...?" Respon Haiden mendengar ucapan Fani yang terdengar di Handphone nya.
Haiden langsung menepikan mobilnya lalu berhenti sebelum kembali bertanya "Apa yang terjadi. Kenapa dia bisa sampai koma?"
"Tadi dia balapan. Dia menang, pihak lawannya ga terima. Marwan di keroyok sampai babak belur dan tidak sadarkan diri" Kata Fani menjelaskan.
"Dasar bengal. Sudah kubilang jangan balapan liar lagi" Omel Haiden.
"Sekarang kalian di rumah sakit mana?" Tanya Haiden kepada Fani lewat Handphone nya.
"Di rumah sakit Amir Hamzah Den" Jawab Fani.
"Orang tua Marwan sudah kau kabari?" Tanya Haiden lagi.
"Ya sudah. Nanti aku saja yang ngabarin. Aku gerak ke sana sekarang, kau kabarin aku kalau ada apa-apa" Kata Haiden sebelum menutup telepon nya.
"Ada apa Den?" Tanya Aryo.setelah melihat Haiden menutup pembicaraan lewat Handphone nya.
"Marwan koma Mas, di keroyok orang" Jawab Haiden.
"Loh kok bisa?" Tanya Aryo menanggapi jawaban Haiden.
"Dia menang balapan liar. Lawannya ga terima, makanya si Marwan di pukuli, kata si Fani" Kata Haiden menjawab pertanyaan Aryo.
"Padahal sudah saya bilang jangan balapan lagi kemarin saat dia minta saya jadi Sponsor nya untuk taruhan" Kata Haiden menutup penjelasannya ke pada Aryo.
Setelah itu Haiden kembali melakukan mobil nya langsung ke rumah sakit Amir Hamzah. Haiden tampak emosi sehingga Aryo mengingatkannya untuk tenang.
"Jangan emosi saat menyetir Den. Tenangkan perasaan mu, dan pelan kan laju mobilmu. Kata Aryo.
Ucapan Aryo menyadarkan Haiden. Dia langsung melambatkan mobil yang di setirnya itu, juga menenangkan perasaannya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah ingatkan saya Mas" Kata Haiden kepada Aryo.
Aryo tersenyum lalu berkata "Sama-sama. Terima kasih juga kamu mau dengar. Karena ini demi keselamatan kita berdua juga selama di perjalanan".
"Iya Mas. Mas benar" Kata Haiden sembari kembali fokus menyetir mobilnya.
Tiba di rumah sakit Amir Hamzah, di parkiran rumah sakit, Haiden baru teringat dia belum menghubungi sahabat-sahabat nya yang lain. Masih di dalam mobil Haiden menghubungi Mardan.
"Kau di mana bro?" Tanya Haiden kepada Mardan lewat telepon saat sudah tersambung.
"Di rumah. kenapa bro?" Kata Mardan sembari bertanya balik kepada Haiden yang terdengar di Handphone Haiden.
"Marwan koma di rumah sakit Amir Hamzah" Jawab Haiden.
"Apa?" Respon Mardan mendengar kabar dari Haiden yang saat ini berada di kamarnya.
"Kok bisa. Kenapa dia?" Tanya Mardan kepada Haiden lewat telepon.
"Nanti saja ku jelaskan. Kesini aja kau sekarang. Hubungi Wanti dan Suherman ya" Kata Haiden menjawab pertanyaan mardan.
"Oke bro" Balas Mardan sebelum menutup telepon nya.
Setelah menutup pembicaraan dengan Haiden lewat telepon, Mardan langsung menghubungi Wanti dan Suherman. Tapi Mardan tidak meminta Wanti untuk ke rumah sakit karena sudah larut malam.
Setelah menghubungi Wanti dan Suherman lewat telepon, Mardan langsung bergegas meninggalkan rumahnya menuju rumah sakit Amir Hamzah setelah pamit pada kedua orang tuanya. Mobil Mardan terlihat melaju dengan cukup kencang.
Perasaannya cemas setelah mendengar Marwan koma di rumah sakit. Selain cemas, perasaannya juga diliputi penasaran penyebab Marwan bisa sampai koma.
Perasaan Suherman juga sama dengan perasaan Mardan. Dia juga merasa cemas sekaligus penasaran.
"Apa yang menyebabkan Marwan koma sebenarnya?" Tanya Suherman dalam benaknya diperjalanan menuju rumah sakit Amir Hamzah.
Fani tidak berhenti menangis saat Haiden bertemu dengannya di ruang tunggu rumah sakit. Haiden coba menenangkan Fani agar tidak terus menangis.
Saat Fani mulai berhenti menangis, Haiden bertanya padanya "Kau ada di lokasi kejadian saat balapan dan saat Marwan di pukuli?".
"Iya. Sebelum balapan dia jemput aku di Kost. Dia minta aku menemaninya" Jawab Fani.
__ADS_1