
Tiba di kampusnya, Turun dari mobil Haiden langsung berjalan menuju kelasnya. Saat di dalam kelas Haiden seperti merasa ada yang janggal dari sikap teman-teman sekelasnya yang sudah berada dalam kelasnya lebih dahulu dari pada dirinya.
Mardan juga belum tiba di kelas mereka. Dia masih dalam perjalanan menuju kampus.
Teman-teman sekelas Haiden dan Mardan tampak sangat sungkan kepada Haiden. Melihat perubahan sikap teman-teman nya itu, Haiden merasa risih.
Yang membuat Haiden tambah risih lagi, Dosen mereka juga bersikap seperti teman-teman Haiden saat masuk ke dalam kelas. Saat melihat Haiden di hadapannya sejajar dengan mahasiswa lainnya, Dosen itu menunduk kan kepala seakan memberi hormat ke pada Haiden.
Tak lama setelah Dosen mereka masuk kedalam kelas, Mardan pun tiba di kelas. Dia langsung duduk di kursi yang berada disebelah kursi Haiden.
Saat sudah duduk, Mardan berbisik pada Haiden "Ada apa bro, kok hening kali kurasa".
"Aku juga ga tahu. Pas aku masuk tadi, orang ini semua bersikap aneh sama aku. Kayak orang ketakutan. Pak Misjan juga bersikap aneh sama aku pas dia baru masuk kesini" Balas Haiden juga berbisik ke pada Mardan.
Saat Haiden saling berbisik dengan Mardan tiba-tiba Dosen mereka yang bernama Misjan itu berkata "Bagi mana, sudah bisa kita mulai kuliah kita hari ini Ketua Haiden?".
Mendengar ucapan pak Miskin kepadanya, spontan Haiden bangkit dari duduknya lalu berkata "Apa-apaan ini Pak Misjan".
Melihat reaksi Haiden, wajah pak Misjan seketika tampak pucat. Tubuhnya gemetaran sembari berkata "Ampun ketua, maafkan saya kalau saya salah".
Haiden mulai mengira, perubahan sikap teman-teman sekelas dan Dosennya itu besar kemungkinan karena mereka mengetahui bahwa dirinya kini menjadi Ketua Umum Gangster Panca Karya yang terkenal kejam dan sadis itu. Kalau soal dirinya seorang tuan muda, seluruh warga kampus di salah satu Universitas Negeri di Kota Medan itu sudah padan tahu, dan tidak merubah sikap merek seperti ini Kepadanya.
Haiden berjalan ke depan lalu membalikkan tubuhnya agar menghadapi seluruh teman-teman sekelas nya. Saat Haiden berjalan ke depan Haiden tampak mengernyitkan dahi, dalam hatinya bertanya "Apa yang ingin dilakukan Haiden".
"Kalian dengarkan semua. Aku tetap Haiden teman kalian di kampus ini. Urusanku di luar kampung jangan membuat kalian merubah sikap kepadaku. Karena aku juga tidak akan merubah sikap ku kepada kalian semua. Paham?" Kata Haiden saat sudah berdiri tegak di hadapan seluruh teman-teman nya termasuk di hadapan sahabatnya Mardan.
"Paham...!" Sahut seluruh teman-teman Haiden.
Setelah itu Haiden mendekati Dosen nya lalu berkata "Bisa kita bicara di luar sebentar pak?"
__ADS_1
"Tapi saya jangan di apa-apakan ya ketua" Jawab pak Misjan yang tampak ketakutan.
Pak Misjan tidak berani menatap wajah Haiden. Matanya melihat tatto yang terlihat memenuhi lengan Haiden saat menjawab pertanyaan Haiden tadi.
"Bapak orang tua saya di kampus ini. Jadi tidak mungkin saya mau mencelakai bapak" Kata Haiden membalas ucapan Dosen nya itu.
Pak Misjan mulai memberanikan diri untuk menatap wajah Haiden. Saat dia menatap Haiden, pak Misjan bertanya "mau bicara di mana kita?"
Haiden tersenyum sebelum menjawab "Kedepan kelas ini aja kita pak. Duduk di bangku panjang depan kelas kita ini".
"Baiklah kata" Balas pak Misjan yang mulai kelihatan tenang.
Pak Misjan bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar kelas. Sebelum berjalan keluar kelas Haiden berkata pada teman-temannya "Kalian tetap duduk tenang di kelas, dan jangan coba-coba jangan ada yang menguping ya".
"Bro, tolong jaga mereka agar ga ada yang coba-coba nguping ya" Pesan Haiden kepada Mardan.
"Siap..!" Balas Mardan sembari mengacungkan jempol tangan kanannya kepada Haiden.
"Maaf pak, saya mau tahu kenapa bapak bersikap seperti ini kepada saya sekarang?" Tanya Haiden.
"Maafkan saya ketua, kalau sikap saya membuat marah ketua" Kata pak Misjan membalas pertanyaan Haiden.
"Bapak tidak perlu menyebut saya ketua. Biasa saja pak. Sebut nama saya, seperti biasanya" Kata Haiden dengan ramah.
"Mana mungkin saya berani tidak hormat kepada ketua Haiden. Saya bisa di hajar anggota ketua lagi nanti" Balas pak Misjan.
Haiden tampak mengernyitkan dahinya setelah mendengar ucapan Dosennya itu sebelum berkata "Apa?".
"Anggota Panca Karya menghajar bapak?" Tanya Haiden dengan nada terkejut.
__ADS_1
"Apa bapak punya masalah dengan Panca Karya?" Tanya Haiden lagi kepada pak Misjan.
Tanpa menatap Wajah Haiden, Dosennya Haden itu menjawab "Maaf ketua. Beberapa bulan yang lalu tak sengaja saya menyenggol mobil ketua Panca Karya Sumatera Utara. Habis saya di hajar anggota Panca Karya ketua".
"Setelah saya babak belur, saya harus memperbaiki mobilnya dan juga wajib memberikan uang sebesar satu juta rupiah setiap bulan. Setiap bulan ada yang datang kerumah saya untuk mengambil uang satu juta itu ketua" Kata pak Misjan lagi menjelaskan masalah yang tengah di hadapinya dengan Panca Karya.
Haiden baru memahami kenapa Dosennya itu sangat ketakutan melihat dirinya. Ternyata Dosennya itu sempat bermasalah dengan almarhum Boy Ketua Panca Karya Sumatera Utara.
"Sekarang Boy sudah meninggal pak. Kalau pun dia belum meninggal, tidak akan ada yang berani mengusik bapak lagi. Saya Jamin" Kata Haiden menanggapi cerita Dosennya itu.
"Benar Ketua?" Tanya pak Misjan setelah mendengar ucapan Haiden barusan.
Haiden tersenyum lalu menjawab "Benar pak. Tapi ada Syaratnya".
"Apa syaratnya ketua" Tanya pak Misjan saat menatap wajah Haiden.
Haiden tersenyum lalu menjawab "Bapak jangan lagi sebut saya ketua. Sebut nama saya saja, seperti biasa".
"Bapak harus menjaga kehormatan bapak sebagai Dosen. Sebagai orang tua seluruh mahasiswa di Universitas kita ini pak" Kata Haiden lagi.
Pak Misjan tampak terharu usai mendengarkan ucapan mahasiswa nya itu. Sangking harinya, tak terasa air matanya keluar membasahi pipinya.
"Terima kasih ya Haiden. Ga tahu lagi apa yang bisa saya katakan selain ucapan terima kasih kepada, kalau memang saya benar-benar terbebas dari tekanan Panca Karya" Kata pak Misjan kepada Haiden.
Haiden kembali tersenyum sebelum berkata "Sama-sama pak. Kalau ada yang mengganggu bapak lagi, segera hubungi saya langsung".
"Bapak hubungi kemana, lah wong bapak ga punya nomor kontak kamu" Balas pak Misjan.
Haiden langsung memberikan nomor kontaknya ke pada Dosennya itu. Dengan perasaan lega Dosen Haiden itu mencatat nomor kontak Haiden dalam Daftar kontak di Handphone nya.
__ADS_1
Setelah itu, Haiden dan pak Misjan kembali masuk kedalam kelas. Haiden kembali duduk di bangkunya, demikian pula dengan pak Misjan yang langsung duduk di bangku pengajar, sebelum dia memulai mengajar.