SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
MENGHADAPI PASUKAN KHUSUS OLIGARKI 2


__ADS_3

Haiden terlihat sedang memasang kuda-kuda. Mata Mardan, Suherman, Marwan dan para pengawal Haiden kini terbelalak menyaksikan Tatto Harimau di punggung Haiden memancarkan cahaya.


Cahaya yang keluar dari setiap garis gambar Harimau di punggung Haiden itu semakin besar hingga akhirnya seluruh tubuh Haiden terlihat bercahaya. Dari mulut Haiden keluar suara Harimau yang cukup menggelar.


Haiden melompat tinggi ke udara, di ikuti oleh pria setengah bertopeng itu juga melompat tinggi untuk menyerang Haiden. Tubuh pria setengah bertopeng itu masih terlihat diselimuti api, demikian pula dengan tubuh Haiden yang masih diselimuti cahaya putih kebiru biruan.


Pertarungan sengit di udara antara Haiden dengan pria setengah bertopeng itu membuat Suherman, Marwan dan para pengawal Haiden enggan menutup mata. Mata mereka tetap terbelalak menyakitkan pertarungan yang belum pernah mereka saksikan di Dunia nyata sebelum nya.


Mardan menatap Pak Narso yang kini dalam posisi setengah berjongkok sembari menyaksikan pertarungan Haiden dengan pria setelah bertopeng itu. Perlahan Mardan berjalan mendekati pak Narso.


"Bapak tidak apa-apa?" Tanya Mardan kepada pak Narso sembari merangkul pundak pak Narso.


"Saya tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah saja" Jawab pak Narso.


"Mari kita ke Mobil pak" Kata Mardan sembari membantu pak Narso bangkit, kemudian berjalan bersama menuju Mobil Haiden.


Ternyata pria yang tengah di hadapi Haiden saat ini memang bukan orang sembarangan. Dia memiliki kemampuan beberapa tingkat lebih tinggi dari kesembilan temannya.


Meski demikian, kekuatan Haiden masih di atas nya. Pria setengah bertopeng itu mulai menyadari bahwa Haiden bukanlah lawan sepadannya.


Dengan kekuatan yang tidak terduga oleh pria bertopeng itu, satu pukulan telak Haiden yang di daratkan tepat di dada Pria itu mampu melepas kostum pria tersebut dari tubuhnya. Api yang menyala nyala di tubuh pria itu seketika padam.


Pria setengah bertopeng itu jatuh ketanah dan langsung memuntahkan darah segar dari mulutnya, sebelum tergeletak tak bernyawa lagi. Perlahan tubuh Haiden turun hingga menepak ketanah, dan cahaya di tubuhnya pun menghilang.


Kini kesepuluh orang setengah bertopeng itu terlihat tergeletak tak bergerak lagi. Haiden menoleh menatap Mardan lalu bertanya "Di mana pak Narso?"


"Ada di mobil" Jawab Mardan.

__ADS_1


Haiden langsung melangkah menuju mobilnya untuk menemui pak Narso. Mardan membukakan pintu Mobil saat Haiden mendekati mobilnya.


"Bapak tidak apa-apa?" Tanya Haiden saat bertatapan dengan pak Narso yang berada di dalam mobilnya.


Pak Narso tersenyum lalu menjawab "Bapak baik-baik saja nak. Linggasana baru saja membantu bapak mengembalikan kekuatan bapak".


"Syukurlah" Kata Haiden menanggapi jawaban pak Narso.


"Sekarang bapak ikut saya ke rumah saya ya. Saya mau bapak tinggal di rumah saya mulai saat ini" Pinta Haiden kepada pak Narso.


"Baiklah. Moyang mu Linggasana juga sudah menjelaskan maksud kedatanganmu ke sini" Balas pak Narso.


"Kalian tunggu sebentar di sini, bapak benahi dulu rumah bapak sebentar" Kata pak Narso lagi kepada Haiden.


"Baik, silahkan pak" kata Haiden menanggapi ucapan pak Narso.


Pak Narso keluar dari dalam mobil Haiden, langsung beranjak menuju rumahnya. Setelah beberapa saat masuk kedalam rumahnya, pak Narso terlihat keluar dari dalam rumahnya membawa tas berukuran sedang menuju mobil Haiden.


Mobil pengawal Haiden yang mengawal di depan terlihat melaju perlahan dan di ikuti mobil Haiden serta mobil pengawal Haiden yang mengawal di belakang.


"Orang-orang yang kau hadapi tadi itu Manusia bro?" Tanya Suherman kepada Haiden yang terlihat fokus menyetir mobilnya.


"Ya mereka Manusia, tapi bukan Manusia biasa. Selain memiliki kemampuan belajar diri dan kekuatan supernatural, mereka juga dilengkapi teknologi tinggi" Jawab Haiden.


"Teknologi tinggi?" Respon Suherman atas jawaban Haiden.


"Iya. Kostum yang mereka pakai itu membuat mereka kebal terhadap pukulan, serta kebal terhadap senjata api dan senjata tajam". Kata Haiden lagi.

__ADS_1


"Pantas kau begitu cemas" Kata Mardan yang kini duduk di belakang Haiden.


"Ada beberapa orang lagi yang memiliki kekuatan jauh lebih tinggi dari mereka yang akan kita hadapi bro" Kata Haiden menanggapi ucapan Mardan.


"Waduh. Sepuluh orang tadi saja sudah sangat mengerikan kekuatan nya. Seperti apa lagi kekuatan orang-orang yang akan kita hadapi nanti bro?" Tanya Marwan spontan saat mendengar ucapan Haiden.


"Sangat mengerikan. Itu sebabnya aku minta pak Narso untuk membekali kalian kekuatan, agar kalian mampu menjaga diri kalian nantinya" Kata Haiden.


Mendengar ucapan Haiden, Marwan mengernyit kan dahinya lalu bertanya pada Haiden "Kekuatan kau begitu besar yang aku lihat. Kenapa ga kau saja yang mengajari ilmu yang kau miliki?".


Sembari tetap fokus menyetir, Haiden tersenyum lalu menjawab "Aku belum cukup memiliki kemampuan untuk mengajari kalian".


"Karakter masing-masing orang akan menghasilkan kekuatan yang berbeda. Benarkan pak?" Tanya Haiden sembari sekilas menoleh ke pak Narso.


Pak Narso tersenyum lalu berkata "Ya, Karakter Nak Haiden menghasilkan kekuatan Harimau. Karakter Nak Marwan bisa saja menghasilkan kekuatan Singa, Buaya, Naga, atau mungkin bisa saja sama seperti Nak Haiden.


"Oh gitu. Jadi g sabar saya ingin cepat-cepat memiliki kekuatan seperti Haiden pak" Kata Marwan menanggapi penjelasan pak Narso.


Mendengar ucapan Marwan yang berada di belakang nya, pak Narso kembali tersenyum lalu berkata "Tapi ingat. Meskipun memiliki kekuatan yang sama, namun besarnya kekuatan kalian belum tentu sama. Bisa sama, bisa lebih kecil, namun bisa juga lebih besar. Semua tergantung dari kemampuan jiwa dan raga kalian menerima kekuatan tersebut".


"Yang pasti kami akan bersungguh sungguh menerima didikan dari bapak" Kata Suherman disela pembicaraan antara Marwan dengan pak Narso.


Sebelum tiba dirumahnya, Haiden menghubungi salah seorang asisten rumah tangganya. Dia perintahkan asisten rumah tangganya untuk menyiapkan hidangan untuk mereka santap saat tiba dirumahnya.


Tiba di rumahnya, Haiden langsung membawa pak Narso dan ketiga sahabatnya ke ruang makan. Dia mempersilahkan pak Narso, Marwan, Mardan dan Suherman makan terlebih dahulu sebelum beranjak ke kamar pribadinya.


Di dalam kamarnya, Haiden menghubungi Melani dan anak-anaknya melalui VC WA. Situasi dan kondisi saat ini membuat perasaan Haiden sangat rindu pada istri dan anak-anaknya itu.

__ADS_1


Meskipun dia memiliki istri bunian yang kapan saja bisa ia temuai, tapi tidak dapat menghalangi rasa rindu terhadap Melani dan kedua anak kembarnya. VC melalui WA hanya bisa menghilangkan sedikit rasa rindunya terhadap Melani dan kedua anaknya.


Selama VC dengan Melani dan kedua anaknya, Haiden tidak pernah membahas masalah apapun. Dia tidak mau ada pikiran cemas dalam benak Melani dan anak-anaknya.


__ADS_2