
Malam hari setelah mengantar Melani dari rumah sakit, Haiden mengumpulkan semua pengawalnya dan pengawal kakek nya yang berjumlah ratusan didalam Aula yang dibangun dengan perusahaan khusus para pengawal. Haiden menjelaskan sebuah rencana untuk bertemu dengan Ketua Gangster Panca Karya yang bernama Boy.
"Saya sudah membuat janji bertemu dengan Ketua Panca Karya itu di salah satu gudangnya yang ada di Belawan. Bimo, Indra dan Imam akan mendampingi saya masuk kedalam gudang.
Kalian semua akan di bagi dalam delapan grup untuk mengawal saya dari luar. Jangan ada yang lengah dan bertindak gegabah.
"Siaaapppp...! Tuan muda" Sahut seluruh pengawal Haiden setelah mendengar penjelasan dari Haiden.
Keesokan harinya, mobil Haiden yang dikendarai Indra tampak berada ditengah-tengah diantara puluhan mobil pengawal Haiden melaju beriringan di jalan tol menuju Belawan. Haiden akan menemui ketua Panca Karya ditempat yang sudah disepakati.
Sesampainya di Belawan, Haiden meminta ketua Panca Karya yang bernama Boy itu untuk share lokasinya. Dengan berbekal Share lokasi yang telah dikirim oleh Boy, Haiden dan rombongannya bisa dengan mudah menemukan lokasi yang disepakati itu.
Mobil Haiden tampak memasuki lokasi sesui titik sharelok yang dikirim oleh Boy. Sementara itu puluhan mobil pengawal Haiden berpencar diluar lokasi tersebut.
Didalam mobil Haiden hanya ada Bimo, Imam, Indra bersama Haiden sendiri. Dari dalam mobil Haiden terlihat bangunan gudang yang cukup besar.
Didalam Gudang tersebut Haiden janji bertemu dengan Boy. Haiden bersamaan dengan Bimo, Imam dan Indra keluar dari dalam mobil kemudian berjalan menuju pintu gudang yang sudah dalam keadaan terbuka itu.
Setelah masuk kedalam gudang terlihat seorang Pemuda bertubuh penuh tatto mengenakan kaus kutang, berkepala botak. Tubuhnya tidak kurus, tidak kekar juga tidak gemuk.
Pemuda duduk di kursi ditemani enam orang pemuda bertatto berdiri disebelah kiri dan kanannya. Sorot matanya tajam menatap Haiden yang sedang berjalan menghampirinya bersama tiga orang pengawalnya.
Didepan pemuda bertatto itu terdapat meja dan ada satu kursi kosong yang memang disediakan untuk. Haiden. Haiden langsung duduk di kursi tersebut, sedangkan Bimo, Indra dan Imam berdiri dibelakang Haiden.
Suasana terlihat hening sejenak kemudian pria bertatto berkepala botak itu berkata "Ada apa kau mencari aku?"
__ADS_1
"Anda yang disebut ketua Boy?" Kata Haiden balik bertanya.
Mendengar pertanyaan Haiden, pemuda bertatto berkepala botak itu tersenyum lalu menjawab "Iya".
"Ada urusan apa anda Melani sehingga anda mengincarnya untuk memintanya menjauhi saya?" Tanya Haiden kepada pemuda bertatto berkepala botok itu setelah memastikan bahwa dia adalah si Boy.
Mendengar pertanyaan Haiden, Boy tertawa kemudian menjawab "Itu sudah menjadi tugasku".
Haiden mengernyitkan dahinya setelah mendengar jawaban Boy kemudian kembali bertanya "Siapa yang menugaskan anda?"
"Kau tidak perlu tahu siapa yang menugaskan aku Haiden. Kau cukup perlu tahu bahwa pacarmu itu harus menjauh dari mu" Kata Boy menjawab pertanyaan Haiden.
Mendengar jawaban Boy yang malah membuat Haiden penasaran, mata Haiden memerah karena amarah mulai menyelimuti jiwanya. Matanya melotot menatap mata Boy dan berkata "Katakan siapa yang menugaskan mu atau kau harus merasakan akibatnya Boy"
Mendengar ucapan Haiden, bukannya takut Boy malah tertawa seakan meremehkan ucapan Haiden. Setelah berhenti tertawa Boy berkata "Apa yang bisa kau lakukan padaku Haiden?"
Setelah Bimo mengatakan hal itu saat itu pula terdengar ratusan langkah orang berlari dari luar gudang menuju kedalam gudang. Wajah Boy tampak terkejut ketika melihat ratusan pria kekar memasuki gudangnya lengkap dengan senjata tajam ditangan mereka masing-masing.
Melihat ratusan pria kekar di hadapan mereka, ratusan pemuda bertatto bawahan Boy pun spontan mengeluarkan senjata tajam mereka masing-masing yang tersembunyi dibalik pakaian mereka tanpa dikomandoi Boy.
Haiden bangkit dari duduknya lalu berkata "Ku dengar ilmu bela dirimu tinggi. Bagaimana kalau aku dan kau berduel satu lawan satu saja tanpa melibatkan mereka. Kalau kau kalah, kau katakan siapa yang menugaskan mu".
Boy tertawa mendengar ucapan Haiden lalu berkata "Sepakat. Tapi kalau kau yang kalah maka jangan kau tanya lagi siapa yang menugaskan aku dan kau putuskan hubungan kau dengan pacar kau itu".
Haiden tersenyum lalu menjawab "Sepakat" dengan tegas.
__ADS_1
Setelah adanya kesempatan antara Haiden dengan Boy, Seluruh anggota Gangster Panca Karya dan seluruh pengawal Haiden menepi menyediakan arena pertarungan antara Haiden dengan Boy.
Haiden saling berhadapan, bertatap muka ditengah arena pertarungan satu lawan satu itu. Tidak ada wasit dan tidak ada aturan dalam pertarungan ini.
Pertarungan ini akan berakhir bila salah satu dari Haiden dengan Boy tidak sadarkan diri atau ada yang menyerah. Yang tidak sadarkan diri atau menyerah dia lah yang kalah.
Boy tampak memasang kuda-kuda, sedangkan Haiden hanya berdiri tegak dihadapan Boy. Tatap mata Haiden dingin.
Boy melangkah sebanyak tiga langkah lalu melompat menerjang Haiden yang masih berdiri dengan tegak dengan kakinya. Haiden hanya bergeser sedikit dari tempat berdiri, kemudian dengan cepat tangan Haiden mencengkram kaki Boy sebelum dia menginjak lantai.
Mata semua anggota Panca Karya dan semua pengawal Haiden terbelalak menyaksikan Haiden mampu memutarkan tubuhnya bagai gasing dengan Boy yang masih dalam cengkeramannya. Haiden seperti sedang berputar membawa boneka ditangannya, bukan seperti sedang berputar sambil memegang manusia.
Boy berteriak sembarangan kanta kontrol saat tubuhnya diputar-putar oleh Haiden. Setelah beberapa putaran Haiden melepas kaki Boy dari cengkeramannya.
Boy terpelanting mengenai beberapa orang anggota Panca Karya. Untung saja Boy terhalang anggotanya, kalau tidak tubuh nya pasti akan terbentur dengan tembok gudang sehingga dia tidak terluka.
Setelah terhalang anggotanya, Boy langsung jatuh kelantai. Dia mencoba untuk berdiri meski sempoyong akibat tubuhnya diputar-putar oleh Haiden tadi.
Saat belum berdiri dengan stabil tiba-tiba Boy kembali ter campak beberapa meter dan akhirnya jatuh terlentang akibat tunjangan keras kaki Haiden. Boy ter batuk-batuk beberapa kali kemudian duduk dan mencoba kembali berdiri.
Boy berhasil kembali berdiri namun pandangan matanya nanar. Dia tidak menyangka Haiden jauh lebih kuat lebih darinya.
Saat pandangan mata Boy mulai stabil, dia dapat melihat Haiden yang berdiri beberapa meter darinya. Haiden tampak berdiri dengan tegak.
Haiden tersenyum dingin sembari tetap menatap Boy dan berkata "Masih sanggup bertarung Boy?"
__ADS_1
Sebenarnya Boy sudah tidak sanggup melanjutkan pertarungan dengan Haiden, sebab dia sudah mengukur kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan tempur Haiden. Akan tetapi, mengatakan menyerah itu sama saja menjatuhkan harga dirinya dihadapan seluruh anggotanya.