SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
SELAMAT DATANG KESATRIA NUSANTARA


__ADS_3

Usai berbicara dengan Melani dan kedua anaknya, Haiden kembali ke ruang makan. Saat Haiden keluar dari kamar nya menuju ruang makan, Pak Narso, Marwan, Suherman dan Mardan terlihat sudah selesai makan.


Sembari menanti kedatangan Haiden, mereka berempat terlihat asyik mengobrol. Pak Narso seperti seorang narasumber yang menjawab banyak pertanyaan dari Mardan, Suherman dan Marwan.


"Sorry, aku hubungi istri dan anak-anak ku dulu tadi" Kata Haiden sembari duduk di kursinya.


Marwan terlihat tersenyum sebelum berkata "Kamilah yang minta maaf. Kami makan duluan".


"Itu bukan masalah, ngapain kalian minta maaf" Kata Haiden menanggapi ucapan Marwan.


"Ya samalah kalau gitu. Kau hubungi anak istri kau itu bukan masalah. Jadi ga perlu kau bilang Sorry ke kami" Kata Mardan menyela ucapan Haide sebelum tertawa.


Mendengar ucapan Mardan, tanpa di komando mereka berlima tertawa lepas.


"Ya uda sambil makan lah aku ya" Kata Haiden usai menghentikan tawanya sembari mengambil nasi dan lauk pauk yang akan ia santap.


"Jadi kapan mereka bertiga ini bisa mulai bapak latih?" Tanya Haiden kepada pak Narso usai menelan nasi suapan pertamanya.


"Bapak pikir besok malam nak Mardan, nak Suherman dan nak Marwan sudah bisa mulai latihannya" Jawab pak Narso.


Haiden mengernyit kan dahinya sebelum membalas ucapan pak Narso "Mengapa tidak di mulai besok pagi saja pak?".


"Tadi kata nak Marwan pagi sampai sore mereka bertiga ga bisa. karena kerja" Jawab pak Narso.


"Iya Den. Kami kan harus ke kantor" Kata Marwan menyela pembicaraan.


"Kalian tidak perlu ke kantor sampai kalian cukup menerima ilmu dari pak Narso.Kalian kan bisa komunikasi dengan bawahan kalian secara Online" Kata Haiden menanggapi ucapan Marwan.


Mendengar ucapan Haiden kepada mereka, Mardan, Suherman dan Marwan tidak mengatakan apa-apa lagi. Mereka tidak bisa membantah ucapan Haiden.

__ADS_1


Pukul lima pagi Mardan, Suherman dan Marwan sudah mulai di latih oleh pak Narso. Pak Narso terlihat senang mengetahui ternyata nyali dan raga ketiga sahabat Haiden itu tidak ada yang lemah.


Ketiganya juga cukup cerdas sehingga tidak terlalu sulit menerima ajaran dari pak Narso. Sesekali para satpam dan pengawal yang mengawal keamanan di rumah Haiden mendengar suara-suara keras dari taman belakang Haiden, namun mereka tidak berani untuk melihat apa yang tengah terjadi.


Haiden sudah mengingatkan mereka untuk tidak coba-coba melihat aktivitas pak Narso dengan ketiga sahabatnya di taman belakang. Pukul delapan pagi Haiden pamit pada pak Narso dan ketiga temannya untuk keluar rumah.


Di saat Haiden keluar rumah, Mardan, Marwan dan Suherman tetap melanjutkan latihannya. Waktu istirahat yang di berikan kepada Marwan, Suherman dan Mardan oleh pak Narso pun tidak banyak.


Pagi ini, Mardan, Marwan dan Suherman hanya bisa istirahat selama lima belas menit usai Sarapan pagi saja. Lima belas menit usai sarapan pagi, pak Narso langsung mulai melatih mereka bertiga lagi.


"Sekarang kalian bertiga duduk bersila, dan satukan telapak tangan kalian masing-masing di atas kepala kalian" Kata pak Narso kepada Suherman, Marwan dan Mardan.


Suherman, Marwan dan Mardan pun langsung melakukan apa yang di perintahkan pak Narso kepada mereka.


"Kosongkan pikiran kalian" Kata Pak Narso setelah melihat Marwan, Suherman dan Mardan melakukan apa yang di perintahkan nya.


Marwan, Suherman dan Mardan terlihat tenang, fokus untuk mengosongkan pikiran mereka masing-masing. Pak Narso tersenyum karena mengetahui mereka bertiga mampu dengan mudah mengosongkan pikiran mereka masing-masing.


Perlahan Mardan membuka matanya dan dia seketika terkejut karena dia bukan berada di taman belakang rumah Haiden. Di sekeliling nya hanya ada pohon pohon besar dan semak belukar.


Apa yang di alami oleh Mardan juga di alami oleh Suherman dan Marwan. Mereka bertiga ada di tengah Hutan yang berbeda beda.


"Dimana aku?" Tanya Mardan pada dirinya sendiri.


"Pak Narso.....! Saya ada di mana ini pak?" Teriak Mardan.


Bukannya pak Narso yang muncul atau menjawab, malah seekor beruang yang kini keluar dari balik semak belukar. Beruang berwarna coklat keemasan yang cukup besar meraung keras di hadapan Mardan.


Seketika mata Mardan terbelalak, mulutnya menganga tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Tangan beruang besar itu tiba-tiba mencoba untuk menampar tubuh Mardan.

__ADS_1


Untungnya Mardan tidak lengah, sehingga dia sempat menghindari tamparan tangan beruang raksasa itu. Dalam hatinya Mardan berkata "Mimpi atau nyata ini".


Di tempat lain Suherman juga sedang menghadapi Simpanse berukuran tidak lazim. Tubuh nya jauh lebih besar dari jenis kera manapun.


Tubuh Simpanse tersebut lebih besar rata-rata besar tubuh Gorila. Gigi taring atasnya panjang menjulang kebawa.


"Ini Simpanse jadi-jadian atau aku hanya sedang bermimpi sebenarnya" Pikir Suherman dalam hati sembari tetap menatap Simpanse raksasa itu.


Belum sempat Suherman berkata apa-apa lagi dalam benaknya, tiba-tiba Simpanse itu melompat tinggi untuk menyerangnya. Suherman tidak sempat menghindari serangan Simpanse tersebut, sehingga dia hanya berusaha untuk menangkis serangan Simpanse dengan kedua tangan nya.


Tenaga Simpanse itu sangat kuat, sehingga tubuh Suherman terpental beberapa meter saat tangannya mendarat diperut Suherman.


Di tempat berbeda dengan Mardan dan Suherman, Marwan juga sedang menghadapi Hewan yang tidak lazim. Hewan tersebut bertubuh Kuda berkepala Singa.


Marwan tampaknya mampu mendominasi Kuda berkepala Singa itu. Saat Kuda berkepala Singa itu mencoba untuk menyerang Marwan sembari mengaum dengan suara menggelegar, Marwan dengan gesit menghindar lalu melompat menaiki tubuh Kuda berkepala Singa tersebut.


Awalnya Kuda berkepala Singa itu meronta ronta agar Marwan terlepas dari tubuhnya, Namun dengan usaha kerasnya, Marwan mampu memendam Kuda berkepala Singa tersebut.


Kuda berkepala Singa tersebut akhirnya jinak, dan mau di tunggangi oleh Marwan. Marwaan menelusuri Hutan tersebut dengan menunggangi Kuda berkepala Singa itu.


Meski berhasil menaklukkan Kuda berkepala Singa yang kini di tunggangi nya itu, namun perasaan Marwan dalam keadaan cemas. Dia masih bingung berada di mana, dan masih berpikir bagaimana cara keluar dari hutan tersebut.


Kuda berkepala Singa itu seperti paham dengan ucapkan Marwan. Hal tersebut terlihat ketika Marwan mengatakan "Sekarang kamu berhenti. Aku mau turun".


Mendengar ucapan Marwan, Kuda berkepala Singa itu langsung berhenti. Marwan pun turun dari punggung Kuda berkepala Singa itu.


Ketika Marwan menapakkan kakinya ke tanah, saat itu pula mendadak tubuh Kuda Berkepala Singa itu perlahan menghilang dan berubah menjadi gumpalan cahaya berwarna Hitam bercampur warna emas.


Gumpalan cahaya itu terbang tak tentu arah sebelum tiba-tiba menyerang tubuh Marwan. Menerima serangan cahaya itu, tubuh marwan terpental beberapa meter namun tidak jatuh ke tanah.

__ADS_1


Marwan melayang di udara dengan tubuh yang bercahaya. Gumpalan cahaya yang berasal dari tubuh Kuda berkepala Singa itu menyelimuti sekujur tubuh nya.


__ADS_2