
Haiden tersenyum melihat reaksi wajah Johan usai Johan menerjang dadanya lalu berkata "Itu tadi jurus andalan anda ketua?".
Mendengar ucapan Haiden Johan tersenyum sinis lalu membalas ucapan Haiden tadi "Lumayan juga kekuatan anda ya tuan muda. Tapi ini baru pemanasan anak muda".
"Kalau begitu terima ini" Kata Haiden sebelum tiba-tiba melompat tinggi kemudian menjatuhkan tubuhnya ke arah Johan dengan posisi kaki di atas, kepala di bawah serta tinju yang siap untuk mendarat di wajah Johan.
Tapi Johan bukan bukan orang sembarangan. Dia juga termasuk ahli bela diri. Dengan cepat Johan mampu menahan tinju Haiden dengan cengkraman tangannya.
Saat tangan Johan mencengkram tinju Haiden yang masih dalam posisi seperti terbang, Johan merasakan sakit yang sangat luar biasa. Tulang tangannya remuk akibat tinju Haiden tadi.
"Bangsat....!" Teriak Johan karena rasa sakit yang sangat luar biasa itu.
Lutut Johan tiba-tiba terasa lemas, hingga dia jatuh tergeletak di lantai. Johan merintih kesakitan, dan tangan kirinya memegangi tangan kanannya berharap rasa sakit nya bisa berkurang.
Haiden yang sudah berdiri tegak di samping Johan yang tergeletak di lantai memperhatikan kedua tangannya. Dalam hatinya berkata "Ternyata kekuatan tangan besi ini sangat luar biasa".
Johan mencoba menahan rasa sakit lalu bertanya pada Haiden "Siapa yang memberi lo kekuatan tangan besi itu?".
Haiden menatap Johan yang masih tergeletak di lantai. Haiden tidak menjawab pertanyaan Johan, tapi balik bertanya kepada Johan.
"Bagaimana mana anda tahu saya menggunakan kekuatan tangan besi tadi?". Tanya Haiden sembari mengernyitkan dahinya.
"Gue pernah dengar dengar cerita si legenda tangan besi. Gue pikir itu hanya mitos. Ternyata memang ada". Kata Johan sambil menahan rasa sakitnya.
"Ciri-ciri kekuatan lo itu persis dengan dengan yang pernah di ceritakan guru gue dulu" Kata Johan lagi menyelesaikan cerita nya.
"Oh...!" Balas Haiden kemudian tersenyum.
"Sekarang, anda mau melanjutkan pertarungan kita atau anda menyerah dan katakan semuanya sekarang?" Tanya Haiden kepada Johan.
Mendengar pertanyaan Haiden itu Johan tertawa lebar lalu berusaha untuk bangkit. Lututnya sudah tidak terasa lemas lagi.
"Tangan kanan gua memang remuk. Tapi tangan kiri dan kedua kaki gue masih kuat untuk menghadapi elo" Kata Johan dengan nada emosi.
__ADS_1
Mendengar ucapan Johan, Haiden tersenyum lalu berkata "Yakin?".
"Banyak bacot lo bangsat" Kata Johan membalas ucapan Haiden.
"Serang...!" Teriak Johan tiba-tiba.
Spontan seluruh anggota gangster Panca Karya bergerak hendak menyerang Haiden. Tapi dengan sigap seluruh pengawal yang ada dalam Aula itu bergerak menghadang sehingga tawuran antar gangster Panca Karya dengan pengawal Haiden pun terjadi.
Masing-masing pihak mengeluarkan senjata tajamnya saat bertarung. Suara senjata tajam yang saling beradu terdengar nyaring hingga terdengar sampai keluar gedung.
Seluruh pengawal Haiden yang berada di luar gedung kantor Panca Karya juga mendengar suara ribut tawuran yang tengah terjadi di Aula Panca Karya itu. Spontan mereka berlari masuk ke are kantor Panca Karya itu, tapi tiba-tiba ratusan anggota Panca Karya keluar dari dalam gedung kantor Panca Karya.
Entah bersembunyi di mana mereka tadi, tapi yang pasti sejak awal Johan sudah mempersiapkan mereka. Tawuran diluar gedung kantor Panca Karya pun terjadi juga.
Di dalam ruangan, mau tidak mau Aryo juga ikut bertarung jalanan seperti seorang Gangster. Dia bertarung menggunakan senjata tajam, bukan dengan senjata api milik seorang Polisi.
Haiden melanjutkan pertarungannya dengan Johan. Meskipun tangan kanan Jkhan sudah tidak bisa di gerakkan lagi, tapi dia masih terlihat gesit saat menyerang Haiden dan saat menghindari serangan Haiden.
Johan lebih berhati-hati saat ini dari pada saat bertarung di awal tadi. Dia berusaha lebih teliti melihat gerakan Haiden.
Karena memang Haiden hanya di ajarkan satu jurus saja oleh gurunya. Tapi satu jurus itu benar-benar dikuasai oleh Haiden.
Saat Johan berhasil memukul telak wajah Haiden, saat itu pula Haiden berhasil mendaratkan tinjunya ke perut Johan, yang membuat Johan muntah darah, kemudian jatuh tengkurep dan tak sadarkan diri.
Haiden belum mampu mengontrol kekuatan tangan besinya, sehingga pukulan Haiden tadi menghancurkan isi perut Johan, sehingga Johan harus kehilangan nyawanya saat itu juga.
Tiba-tiba terdengar teriakan suara perempuan "Papi.....!".
Entah keluar dari mana tiba-tiba sosok perempuan muncul menghampiri tubuh Johan yang sudah tidak bernyawa lagi. Perempuan itu menangis di samping Jenazah Johan sambil mengatakan "Bangun Papi".
Seluruh anggota gangster Panca Karya dan seluruh pengawal Haiden seketika berhenti bertarung mengetahui Johan telah ambruk tak berdaya. Perempuan yang berada di samping Johan tetap menangis dan berkata "Bangun Papi. Bangun...!".
Haiden memperhatikan wajah perempuan itu dengan seksama lalu berkata "Winda..?".
__ADS_1
Perempuan itu menoleh keatas untuk menatap wajah Haiden, lalu berdiri berhadapan dengan Haiden.
"Iya aku Winda" Kata Winda, mendadak berhenti menangis.
"Jadi kau putri Johan. Dan kau juga dalang dari rencana memisahkan aku dengan Melani?".
"Iya. Kenapa? Kau mau membunuh aku juga?" Kata Winda dengan nada penuh emosi.
Haiden tersenyum lalu berkata "Aku bukan B*nci yang mau memukul perempuan".
"Kau harus bertanggung jawab atas kematian Papi ku" Kata Winda dengan mata mendelik.
Haiden kembali tersenyum mendengar ucapan Winda lalu membalas "Kejadian ini terjadi karena ulah mu dan Papi mu. Jadi, Papi mu mati itu karena ulah dan ulah nya sendiri".
"Pak Aryo" Panggil Haiden.
"Siap tuan muda" Sahut Aryo mendengar namanya di sebut Haiden.
"Apakah perbuatan Johan dan putri nya ini termasuk pelanggaran Hukum dan bisa di adili di persidangan?" Tanya Haiden kepada Aryo.
"Bisa tuan Muda" Jawab Aryo.
"Kalau begitu tangkap dia" Kata Haiden meminta Aryo untuk menangkap Winda.
"Siap" Kata Aryo kemudian mengambil borgol yang disembunyikan Aryo di balik pakai nya.
Winda sempat meronta ketika tangannya akan di borgol oleh Aryo. Tapi setelah tangannya sudah diborgol dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Mulai sekarang aku adalah Ketua Umum Panca Karya yang baru. Kalau ada yang keberatan katakan sekarang" Kata Haiden tiba-tiba dengan suara keras dan lantang.
Suasana hening menjadi hening usai Haiden mengumumkan bahwa dia kini yang menjadi Ketua Umum Panca Karya menggantikan Johan. Tidak ada satu orang pun yang bersuara untuk mengatakan keberatan atau tidak setuju.
Entah siapa yang memulai tapi sedikit demi sedikit akhirnya seluruh anggota gangster Panca Karya mengatakan "Hidup Ketua Haiden" berulang ulang kali dengan suara keras.
__ADS_1
Setelah seluruh anggota gangster Panca Karya berhenti menyebut nama Haiden sebagai tanda menyepakati Haiden sebagai ketua mereka yang baru, Aryo menghubungi pihak kepolisian dan ambulance untuk datang ke kantor Panca Karya.