
Setelah melepas pelukan dengan Haiden, Marwan berkata pada A Cun "Aku memaafkan mu Cun".
Mendengar ucapan Marwan, A Cun langsung menjabat tangan Marwan lalu berkata "Terima kasih bang Marwan".
"Untuk menebus kesalahan saya dan rasa terima kasih saya karena karena bang Marwan bersedia memaafkan saya, saya akan berikan satu unit MOGE sport terbaru buat bang Marwan" Kata A Cun lagi setelah melepas jabatan tangannya dengan Marwan.
Mendengar ucapan A Cun barusan, wajah Marwan tampak gembira lalu bertanya untuk memastikan "Serius kau Cun?".
A Cun tersenyum lalu menjawab "Serius lah bang. Mana berani saya main-main".
"Begitu abang keluar dari rumah sakit, motornya langsung saya antar ke rumah abang" Kata A Cun lagi.
Haiden tersenyum melihat Marwan tampak gembira setelah mendengar A Cun memberikan satu unit MOGE Sport. Haiden tahu, A Cun memberikan MOGE Sport terbaru itu kepada Marwan secara gratis sebagai bentuk usahanya untuk meraih simpatik darinya.
Untuk menghargai usaha A Cun itu, Haiden berkata "Besok jam sepuluh pagi kau ke kantor Admadja Grup".
"Siap ketua" Kata A Cun membalas ucapan Haiden dengan gembira.
"Kalau begitu, saya izin pamit dulu lah ya ketua Haiden, Ketua Mardan, Bang Suherman, Kak Melani, Kak Wanti, dan Bang Marwan" Kata A Cun lagi berpamitan sebelum dia meninggal kan kamar pasien blok mawar nomor kosong dua itu.
Beberapa menit setelah A Cun keluar dari kamar pasien yang ditempati Marwan itu, Fani tiba di rumah sakit dan langsung ke kamar Marwan. Wanti membawa roti tawar lengkap dengan selain ya untuk Marwan.
Setelah meletakkan roti di atas meja yang ada disebelah tempat tidur Marwan, Fani langsung duduk di tepi tempat tidur Marwan. Sembari menggenggam tangan Marwan, Fani bertanya pada Marwan "Gimana keadaan kamu yank?".
"Agak mendingan yank" Jawab Marwan.
Baru saja Marwan menjawab pertanyaan Fani, tiba-tiba kepala Marwan terasa sangat sakit. Sakit tersebut berasal dari batok kepalanya yang retak.
"Adu, kok tiba-tiba sakit sekali begini kepala ku" Kata Marwan sambil memegang kepalanya yang masih dibalut perban itu.
Mendengar Marwan merintih dan melihat dia memegangi kepalanya serentak Haiden dan yang lainnya bangkit dari duduknya untuk menghampiri Marwan. Fani dan Kelima sahabat Marwan itu terlihat panik melihat Marwan memegangi kepalanya sambil merintih kesakitan.
__ADS_1
Fani memencet bel yang terhubung ke ruang perawat. Dalam keadaan panik, tiba-tiba Haiden mendengar suara bisikan.
"Gunakan tanganmu untuk menyembuhkan sahabat mu itu" Kata suara bisikan yang hanya bisa didengar oleh Haiden saja.
"Suara siapa ini sebenarnya?" Tanya Haiden dalam hati.
"Aku buyut mu Haiden" Jawab suara bisikan itu.
Haiden tidak menyangka, pertanyaan dalam hatinya itu bisa di jawab oleh suara bisikan yang mengaku sebagai buyutnya itu. Sekali lagi dia mencoba bertanya dalam hati "Apa yang harus ku lakukan?".
"Dimana cedera sahabatmu itu, disitu kau tempelkan telapak tanganmu. Biarkan tangan besi mu yang bekerja untuk menyembuhkan cedera sahabat mu itu, saat kau tempelkan telapak tanganmu nanti" Jawab suara bisikan itu lagi.
"Tahan sebentar sakit mu, dan singkirkan tanganmu dari kepalamu" Kata Haiden kepada Marwan, sembari menyingkirkan tangan Marwan dari kepalanya.
Perlahan rasa sakit di kepala Marwan menghilang saat telapak tangan kanan Haiden menempel di kepala Marwan yang dibalut dengan perban itu. Dalam hatinya Marwan berkata "Aneh, kok tiba-tiba hilang sakitnya".
"Kalau sudah terasa tidak sakit lagi kau bilang Wan" Kata Haiden kepada Marwan.
"Ini sudah ga sakit lagi Den" Balas Marwan.
Tanpa mereka sadari, retak di batok kepala Marwan sudah hilang, sehingga Marwan tidak merasakan sakit lagi. Perlahan retak di tulang tangan Marwan juga menghilang saat telapak tangan Haiden menempel disitu.
Sebelum Haiden berkata apa-apa lagi, Suherman berkata "Tangan ku pun sudah tidak terasa sakit sama sekali Den".
"Sekarang, Kau tempelkan kedua telapak tanganmu dipunggung Marwan untuk memperbaiki semua saraf nya, agar peredaran darahnya lancar" Kata suara bisikan itu lagi ke pada Haiden.
Karena memang ada perubahan seperti apa yang dikatakan Marwan sendiri, Haiden pun langsung mau mengikuti kata bisikan itu. Haiden meminta Marwan duduk membelakangi dirinya sebelum menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Marwan.
Beberapa detik kemudian, Marwan merasakan suhu tubuhnya menghangat. Dimulai dari punggung nya hingga ke sekujur tubuhnya.
Mardan, Wanti, Suherman, dan Fani tampak heran menyaksikan aksi Haiden itu, tapi tidak dengan Melani. Melani sudah menyaksikan Haiden menyembuhkan Mami nya beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
"Apa yang kau rasakan sekarang Wan?" Tanya Haiden kepada Marwan.
"Pegal-pegal dan.nyeri di tubuhku semua hilang Den. Seperti nya aku sudah sembuh total ni. Badan ku bugar sekali rasanya" Jawab Marwan.
"Serius kau Wan?" Tanya Haiden juga belum bisa percaya kalau yang dilakukan nya benar-benar bisa menyembuhkan Marwan.
"Serius loh" Jawab Marwan dengan yakin.
"Panggil saja Dokter. Biar di cek Dokter saja lagi untuk membuktikan, apakah Marwan benar-benar sembuh atau perasaan si Marwan saja" Kata Haiden.
Fani langsung memencet saklar Bel yang terhubung dengan ruang perawat. Beberapa saat kemudian seorang perawat tiba di kamar Marwan.
"Ada apa ya pak?" Tanya perawat yang ada dihadapan Haiden saat ini.
"Sus, tolong cek ulang si Marwan ini. Kami ingin mengetahui keadaan retak tulangnya sekali lagi" Jawab Haiden.
"Baik pak. Saya akan sampaikan dulu ke Dokter yang menangani pak Marwan ya pak" Kata perawat itu merespon jawaban Haiden.
"Oke. Saya tunggu secepatnya ya sus" Balas Haiden.
"Baik pak" Jawab perawat itu sebelum meninggal kan kamar Marwan.
Beberapa menit kemudian, Pukul 19:15 Wib, Kedua orang tua Marwan tiba di rumah sakit. Kedua orang tua Marwan kelihatan senang melihat Marwan tampak bugar, tidak seperti sedang sakit.
Saat Papa dan Mama Marwan masuk ke dalam kamar mawar kosong dua itu, mereka berdua melihat Marwan sedang menggerak-gerakkan tangan kirinya tanpa terlihat kaku dan kesakitan. Selain merasa senang, kedua orang tua Marwan juga merasa heran dengan perubahan Marwan yang begitu instan.
"Tanganmu sudah tidak terasa sakit lagi nak?" Tanya Mamanya ke pada Marwan.
"Enggak ma. Sama sekali tidak ada lagi rasa sakit. Kepala Marwan juga tidak terasa sakit lagi ma" Jawab Marwan.
"Paten kali obat di rumah sakit ini berarti ya" Kata Mamanya Merespon jawaban Marwan.
__ADS_1
"Haiden yang nyembuhkan ga pakai obat ma" Kata Marwan merespon ucapan mamanya.
"Ah, bercanda kamu" Balas Mama Marwan tak percaya.