SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
ARTI CINTA


__ADS_3

Usai makan dan setelah mentransfer sejumlah uang kepada asisten rumah tangganya yang akan menikahkan anaknya itu, Haiden langsung mengantar Melani pulang ke rumahnya. Tiba di rumah Melani, Haiden tidak langsung pulang.


Haiden ikut masuk kedalam rumah Melani untuk menemui Papi dan Mami Melani. Kepulangan Melani dan kedatangan Haiden di sambut hangat oleh Papi dan Mami Melani di ruang keluarga.


Saat sudah duduk di Sofa yang ada diruang keluarga itu Haiden meminta maaf kepada Papi Melani, karena terpaksa menunda pertemuannya dengan Papi soal pembahasan Proyek baru yang akan dibuat oleh Papi Melani.


"Tidak apa-apa Haiden. Masalah yang harus kamu selesaikan itu memang jauh lebih penting untuk di selesaikan terlebih dahulu. Apa lagi itu juga menyangkut keselamatan putri Om juga" Kata Papi Melani sembari tersenyum.


Haiden tersenyum lalu berkata "Kalau ada waktu, besok sekitar jam sepuluh pagi kita bisa ketemu di kantor Haiden Om. Setelah Haiden antar Melani ke kampus, Haiden langsung ke kantor.


Papi Melani tampak senang mendengar ucapan Haiden barusan lalu membalas "Boleh. Kebetulan besok jam sepuluh pagi, om belum ada agenda".


Melani yang duduk di samping Haiden berhadapan dengan Papi dan Mami nya juga tampak bahagia melihat reaksi senang Papinya itu. Dia juga bahagia melihat kekasihnya bisa nyambung dengan Papinya.


Hubungan Melani dan Haiden tidak ada hambatan dari masing-masing pihak keluarga. Masing-masing keluarga saling mendukung, itu yang membuat Melani semakin nyaman menjalani hubungan cintanya dengan Haiden.


"Oh iya Den. Proposal tante juga sudah siap loh" Kata Mami Melani kepada Haiden disela pembicaraan Haiden dengan Papi Melani.


"Oh ya. Mana tante?" Balas Haiden sembari mengulurkan tangannya sedikit, meminta Proposal Mami Melani yang katanya sudah siap itu dibuat itu.


Mami Melani tersenyum, lalu bangkit dari duduknya sembari berkata "Sebentar ya, tante ambil dulu".


Mami Melani beranjak pergi menuju kamarnya untuk mengambil Proposal yang dimaksud nya tadi. Setelah beberapa menit Mami Melani kembali duduk di sebelah Papi Melani, dan langsung menyerahkan Proposal pembangunan Sekolah gratis untuk anak-anak yang tidak mampu sekolah karena keterbatasan ekonomi.


Melihat Haiden langsung meletakkan Proposal yang baru saja diserahkannya itu di letakkan di meja tanpa di baca oleh Haiden, Mami Melani bertanya "Ga di baca dulu Den?"


Haiden tersenyum lalu menjawab "Nanti Haiden baca tante. Haiden mana bisa Fokus mempelajari Proposal nya di sini tan".


Mendengar jawaban Haiden barusan, barulah Mami Melani tersenyum. Dia sempat salah sangka atas sikap calon menantunya itu.

__ADS_1


Mami Melani mengira, Haiden tidak menghargai atau menganggap remeh Proposal yang telah dibuat oleh nya bersama temannya itu. Jawaban Haiden cukup masuk akal untuk membuat dia menyadari bahwa pikiran nya tadi salah.


"Nanti setelah Haiden baca untuk mempelajari Proposal tante ini, barulah bisa kita bahas langkah selanjutnya. Haiden harus bersikap Profesional dalam urusan seperti ini tante" Kata Hiden lagi.


Mami Haiden tersenyum lalu membalas ucapan Haiden barusan "Iya tante paham. Tante tunggu kabar dari kamu ya".


"Siap tante. Lusa kalau ga ada halangan, Haiden rasa sudah bisa kita bahas langkah selanjutnya" Kata Haiden membalas ucapan calon mertuanya itu.


"Oke" Tanggap Mami Melani.


Papi Melani mulai memperhatikan putri nya, dia baru menyadari putri nya mengenakan kalung mewah yang terbuat dari bahan emas dengan liontin berlian sebagai mainan kalung nya. Papi Melani harga kalung tersebut mencapai Miliaran Rupiah.


"Kalung baru kamu Mel?" Tanya Papi Melani kepada putri nya.


Mendengar pertanyaan Papinya, Melani melirik Haiden sebelum menatap wajah ayahnya lalu menjawab "Iya. Cantik ga pinter?".


Mami Melani baru menyadari putri nya memakai kalung baru, sesuai yang pernah di lihatnya di pameran, yang di gelar di salah satu Mall di kota Medan beberapa bulan yang lalu dengan suaminya.


"Iya benar mami ingat. Banyak uangmu Mel, beli kalung mahal itu" Kata Mami Melani.


Melani kembali melirik Haiden lalu berkata "Haiden yang belikan Mi. Tadi baru dipakaikan Haiden".


Papi Melani tampak sangat bahagia mendengar ucapan Melani barusan, lalu berkata pada Haiden "Terima kasih ya Den".


"Terima kasih untuk apa Om?" Tanya Haiden menanggapi ucapan Papi Melani.


"Terima kasih karena kamu benar-benar mencintai putri Om. Kamu bersedia melakukan apapun untuk membuat putri Om bahagia, padahal dia belum menjadi istri kamu" Jawab Papi Melani.


Haiden tersenyum sebelum membalas ucapan Papi Melani "Om. Sahabat-sahabat Haiden semua baik pada Haiden. Maka sudah selayaknya sahabat-sahabat Haiden, Haiden perlakukan dengan baik".

__ADS_1


"Apa lagi Melani. Melani bukan cuma sekedar pacar Haiden saja. Dia ini pacar sekaligus sahabat Haiden tercinta Om" Jawab Hiden sembari menyempatkan tangannya mencubit hidung Melani dengan mesra.


Mami Melani tersenyum, hatinya tersentuh mendengar ucapan Haiden dan melihat kemesraan mereka berdua. Tanpa sadar Mami Melani memeluk suaminya.


Menanggapi kelakuan Mami Melani, Papi Melani spontan berkata "Mulai lebay Mami mu Mel".


Ucapan Papi Melani mengundang tawa Haiden dan Melani. Mami Melani pura-pura cemberut dikatain lebay oleh suaminya.


"Alah.. Alah...! Gitu aja cemberut" Kata Papi Melani sembari meletakkan kedua telapak tangannya ke pipi kanan dan kiri Mami Melani, lalu Papi Melani mengecup dahi istrinya itu dengan lembut.


Melihat Papi Melani mencium dahi Mami Melani, tak terasa air mata Haiden keluar dari matanya dan membasahi pipinya.


Melani yang melihat Haiden meneteskan air mata bertanya "Kenapa kamu yank?".


Mendengar Melani bertanya seperti itu pada Haiden, Papi dan Mami Melani spontan menatap Haiden bersamaan.


"Iya, kenapa kamu nangis Den?" Tanya Mami Melani penasaran.


Haiden tersenyum, lalu menjawab "Ga apa-apa. Haiden cuma teringat ayah dan ibu saat melihat Om cium tante tadi".


Mendengar jawaban Haiden, hati Melani ikut merasakan kesedihan Haiden. Dia langsung memeluk Haiden dengan lembut.


"Sabar ya yank. Ayah dan Ibu kamu pasti senang di sana melihat kamu seperti saat ini. Jadi kamu ga boleh sedih. Nanti mereka jadi sedih di sana" Kata Melani, mencoba untuk menghibur Haiden.


"Benar kata Melani Den. Kamu boleh anggap Om dan Tante seperti orang tua kandung kamu sendiri kok. Jadi kamu ga boleh bersedih lagi" Kata Papi Melani, mencoba untuk menghibur Haiden juga.


Haiden menyeka air matanya sebelum mengatakan "Terima kasih yank. Terima kasih Om".


"Gitu dong. Jangan nangis lagi. Haiden yang tante kenal itu kuat. Lagian malu dong sama seluruh tatto kamu itu" Canda Mami Melani yang membuat Mereka semua tertawa bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2