SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
MEMBURU MISTERI 3


__ADS_3

Hari ini Haiden sudah siap untuk berangkat ke Jakarta. Semalam Haiden sudah mempersiapkan segalanya.


Haiden juga sempat bertemu dengan istri Jenderal Sulistyo. Haiden juga diperkenalkan dengan putri dan putra Jenderal Sulistyo.


Putri Jenderal Sulistyo bernama Erika Sulistyo. Erika kini menjadi mahasiswi di salah satu Universitas Negeri di Jakarta.


Sedangkan putra Jenderal Sulistyo bernama Rano Sulistyo. Rano kini duduk dikelas tiga di salah satu Sekolah Menengah Umum Negeri di Jakarta.


Haiden tampak sangat senang ketika diperkenalkan dengan istri beserta putra dan putri Jenderal Sulistyo. Haiden langsung menganggap istri Jenderal Sulistyo sebagai tantenya.


Haiden juga menganggap Erika dan Rano sebagai sepupunya. Tapi Haiden tidak menyadari bahwa diam-diam Erika tengah jatuh hati pada Haiden pada pandangan pertama.


Haiden akan berangkat bersama seratus orang pengawal pilihannya dengan menumpangi pesawat pribadi kakeknya. Kakeknya memiliki tiga unit pesawat pribadi dan tiga unit kapal pribadi yang kapan saja bisa dipergunakan Haiden, sebab apa yang dimiliki kakeknya saat ini, juga menjadi milik Haiden.


Sebelum berangkat Haiden sempat ke rumah Melani untuk berpamitan pada Melani, dan menunda pertemuan dengan Papi Melani. Haiden mengatakan pada Papi Melani untuk menunda pembahasan Proyek baru yang akan diajukan Papi Melani kepadanya hingga dia pulang dari Jakarta.


Haiden juga sempat menghubungi tuan besar untuk memberitahukan bahwa dia akan ke Jakarta. Dia juga menceritakan apa tujuannya ke Jakarta pada kakeknya itu.


"Seharusnya kamu tidak perlu bawa pengawal dari Medan. Sempat di Jakarta kita juga memiliki banyak pengawal. Jumlah mereka juga sebanyak pengawal di Medan loh Haiden" Kata tuan besar setelah mendengar penjelasan Haiden.


"Haiden belum kenal seperti apa pengawal-pengawal kita yang ada di Jakarta kek. Tapi mereka bisa membantu Haiden kalau Haiden kekurangan orang nantinya" Jawab Haiden yang terdengar di handphone tuan besar.


Saat ini tuan besar berada di Taiwan. Di Taiwan perusahaan Admadja Grup juga memiliki banyak anak perusahaan.

__ADS_1


"Saat di Jakarta, kamu jangan lupa ke Admadja Grup pusat juga. Lihat situasi dan kondisi Admadja Grup pusat seperti apa saat ini" Kata tuan besar kepada Haiden yang terdengar dari Handphone Haiden.


"Siap kek" Jawab Haiden sebelum menutup pembicaraan dengan tuan besar melalui Handphone nya itu.


Saat Haiden sudah berada dalam pesawat dengan seluruh pengawal pilihannya, pilot pesawat langsung menerbangkan pesawat pribadi nya itu. Karena tidak ada kendala, dua jam lebih dua puluh dua menit kemudian pesawat pribadi Haiden pun mendarat di landasannya.


Hauden tiba tepat pada pukul delapan belas nol nol Waktu Indonesia Bagian Barat atau jam enam sore di Jakarta. Ini kali pertama Haiden menginjakkan kakinya di Jakarta selama hidupnya.


Dari bandara Haiden langsung diantar oleh pengawal yang diutus oleh tuan besar untuk menjemput Haiden, dan mengantarkan nya ke salah satu rumah tuan besar yang berada di salah satu perumahan elite di Jakarta. Sekitar satu jaman lama perjalanan dari bandara ke perumahan elite itu.


"Salam tuan muda. Saya di utus tuan besar untuk menjemput dan mengantar tuan muda kerumah tuan muda" Kata pengawal yang di utus tuan besar itu saat berhadapan dengan Haiden.


"Oke. Ayo kita berangkat" Balas Haiden.


Haiden dan seluruh pengawal nya yang dibawanya dari Medan mengikuti langkah pengawal yang diutus oleh kakeknya itu. Di parkiran, sudah tersedia puluhan mobil lengkap dengan Drivernya untuk ditumpangi Haiden bersama pengawal yang dia bawa dari Medan.


Sebelum masuk kedalam Mobil, Haiden menginstruksikan seluruh pengawal yang dibawanya dari Medan untuk diantar ke perusahaan khusus pengawal yang ada di Jakarta. Hanya dia yang dibawa ke salah satu rumah kakeknya yang akan ditempatinya itu.


Rumah tuan besar yang akan di tempati Haiden itu terbilang rumah paling besar daro sekian banyaknya rumah di salah satu perumahan elite yang ada di Jakarta itu. Saat Haiden masuk ke rumah super megah itu, Haiden di sambut oleh empat orang asisten rumah tangga.


Keempatnya sedikit membungkukkan badan lalu berkata "Selamat datang tuan muda Haiden" saat berhadapan dengan Haiden.


Haiden tersenyum lalu membalas "Iya terima kasih.

__ADS_1


"Kamar saya di mana?" Tanya Haiden kepada ke empat asisten rumah tangga itu.


"Maaf tuan muda. Tadi tuan besar menghubungi kami. Beliau bilang tuan muda bisa pilih kamar tuan muda sendiri" Jawab salah satu asisten rumah tangga yang tampak lebih tua dari ketiga asisten rumah tangga lainnya.


"Oh gitu. Kalau begitu tolong tunjukan dimana kamar-kamarnya" Kata Haiden kepada ke empat asisten rumah tangga itu.


"Baik tuan muda" Jawab asisten rumah tangga itu lagi.


Sebelum mengantar Haiden untuk memilih kamarnya, asisten rumah tangga yang tampak lebih tua dari ketiga temannya itu menginstruksikan ketiga temannya menyiapkan makanan untuk Haiden. Ketiga temannya langsung bergerak mematuhi instruksi asisten rumah tangga yang tampak lebih tua dari mereka itu.


Rumah super megah yang akan ditempati Haiden itu terdiri dari empat lantai, dan memiliki delapan kamar di dalam nya. Di lantai dasar ada dua kamar, lantai dua ada tiga kamar, lantai tiga ada tiga kamar, dan lantai empat ada empat kamar.


Haiden hanya melihat-lihat kamar yang ada di lantai dasar saja untuk dipilihnya.


Setelah melihat-lihat kedua kamar yang ada di dilantai dasar dalam rumah super megah ditemani asisten rumah tangga itu akhirnya Haiden memilih kamar yang terletak di depan. Dari jendela kamar yang dipilihnya itu, Haiden bisa langsung melihat keluar rumah, tidak seperti kamar satunya lagi.


Kamar yang satunya lagi tidak memiliki akses jendela yang bisa langsung melihat luar rumah., sebab letak kamar tersebut agak di tengah gedung rumah tersebut. Tapi jendela kamar yang tidak di pilih oleh Haiden itu dapat melihat langsung kolam renang yang ada di tengah-tengah gedung rumah yang akan ditempati Haiden selama di Jakarta itu.


Setelah Haiden memilih kamarnya itu, Haiden meminta asisten rumah tangga yang menemaninya itu untuk meminta pengawal membawakan tas pakaiannya ke kamarnya itu. Asisten rumah tangga itu pun langsung melaksanakan permintaan Haiden, berlalu meninggalkan Haiden untuk meminta pengawal membawa tas Haiden kekamarnya.


Beberapa saat kemudian, seorang pengawal berbadan kekar tampak memasuki kamar Haiden membawa tas yang penuh dengan pakaian Haiden. Pengawal tersebut kembali ke mau dari kamar Haiden setelah meletakkan tas dan pamit kepada Haiden.


Tanpa di perintah, asisten yang menemani Haiden mililih kamarnya tadi langsung mengeluarkan pakaian Haiden dari tas untuk dipindahkan kedalam lemari pakaian yang ada dikamar pilihan Haiden itu. Haiden tersenyum senang melihat inisiatif asisten rumah tangganya itu.

__ADS_1


__ADS_2