
Sesampainya dikamar mawar kosong satu, Hoden mengambil Handphone nya dari saku celana depannya untuk menghubungi Wanti. Wanti yang berada didalam kamar mendengar Handphonenya yang berada di dalam tas kecilnya berdering tanda telepon masuk.
Wanti pun membuka tasnya untuk mengambil Handphonenya. Saat Handphone sudah dalam genggamannya, Wanti melihat dilayar Handphonenya, dan ternyata yang menghubunginya adalah Haiden.
"Hallo Den" Kata Wanti kepada Haiden yang berada diluar kamar.
"Iya Hallo ti. Aku sama Melani sudah di depan kamar ni" Balas Haiden.
"Oh iya, masuk aja Den. Ga dikunci kok pintunya" Kata melani.
"Oh Oke" Jawab Haiden sambil memegang Handle untuk membuka pintu kamar itu.
Setelah pintu terbuka, Haiden dan Melani masuk dan langsung menyalami kedua orang tua Mardan. Setelah menyalami kedua orang tua Mardan, Haiden duduk disebelah tempat tidur Mardan.
Melani bergabung bersama Wanti, Suherman, Marwan dan kedua orang tua Mardan duduk di Sofa yang berada dikamar pasien VIP itu. Mardan tersenyum melihat kehadiran Haiden.
Haiden juga tersenyum dan bertanya "Gimana keadaanmu bro?".
"Masih belum nyaman lah bro. Tidur pun masih harus tengkurep gini" Jawab mardan
"Sabar dulu ya. Nanti aku minta obat terbaik sama dokter. obat yang bisa lebih cepat kering. Yang terpenting kau sudah siuman sekarang. lega aku" Kata Haiden lagi.
"Siap tuan muda" Kata Mardan bercanda.
Mendengar candaan Mardan Haiden pun tertawa lalu berkata "Hebat juga obat yang di kasih Dokter ini samamu ya. Obat apa yang dikasih dokter kok uda bisa ngelawak kau sekarang?".
Mendengar ucapan Haiden, Mardan pun tertawa tapi langsung tertawa henti tawanya dan berganti dengan kata "Aduh".
Saat tertawa tadi Mardan merasakan sakit pada luka-lukanya yang belum lama di jahit itu. Melihat Mardan kesakitan, Haiden tampak sedikit panik dan berkata "Tu kan. Makanya jangan ketawa dulu. Sakit kali bro?".
"Lumayan" Jawab Mardan singkat.
Wanti bangkit dari duduknya lalu mendekati Mardan. Posisi berdiri Wanti mengusap usap rambut Mardan berkata "Kamu jangan bercanda canda dulu yank. Kata dokter kamu tidak bisa banyak bergerak dulu. Nanti jahitannya lepas terpaksa di jahit lagi"
__ADS_1
"Iya loh" Jawab Mardan setelah mendengar ucapan Wanti.
Haiden bangkit dari kursinya dan berkata "Kau duduk sini ti. Aku biar duduk di sofa" kepada Wanti sambil menyodorkan kursi yang didudukinya tadi.
Wanti pun menuruti kata Haiden untuk duduk di samping Mardan bergantian dengan Haiden. Haiden berjalan menuju Sofa dan langsung duduk di samping Melani berhadapan dengan Papa dan Mama Mardan.
"Om dan Tante jam berapa sampai tadi?" tanya Haiden kepada Papa dan Mama Mardan.
"Sekitar jam lima sore lewat kalau ga salah Den" Jawab Papa Mardan.
"Oh iya om. Ada yang ingin Haiden tanyakan kalau boleh" Kata Haiden kepada Papa Mardan.
"Apa itu Den?" Tanya Papa Mardan.
Haiden diam sejenak, dia menoleh melihat Mardan yang sedang ditemani Wanti, lalu kembali menatap Papa Mardan dan mulai bertanya "Benar Mardan punya adik yang sudah meninggal karena narkoba om".
Papa Mardan terdiam mendengar pertanyaan Haiden. Kepalanya tertunda, matanya meneteskan air mata.
Setelah menyeka air matanya, Papa Mardan mengangkat kepalanya untuk menatap Haiden dan berkata "Iya Haiden. Mardin namanya"
Haiden mengangguk anggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan Papa Mardan. Dia mulai memahami mengapa Mardan sangat membenci pengedar narkoba.
"Mengapa kok tiba-tiba menanyakan soal almarhum Mardin Den?" Tanya Papa Mardan dengan nada sedikit penasaran.
"Begini om. Soalnya menurut cerita para saksi mata termasuk Wanti, sebelum terjadi penikaman itu, terjadi perang mulut antar Mardan dengan ketiga pelaku om. Mardan mengatakan "cukup adikku saja yang mati karena narkoba". Dan Haiden baru tahu kalau Mardan punya adik yang meninggal karena narkoba" Kata Haiden menjawab pertanyaan Papa Mardan.
Papa Mardan menganggukkan kepalanya beberapa kali tanda mengerti maksud dari ucapan Haiden. Mardan yang mendengarkan obrolan Haiden dengan papanya meneteskan air mata.
Dia teringat masa indah saat kembaran nya Mardin masih hidup. Mereka hidup akur sebagai saudara kembar.
Selalu bermain bersama. Sekolah pun di sekolah yang sama, meski berbeda kelas.
Mardan dan Mardin saling membela satu sama lain bila ada masalah dengan orang lain. Karakter Mardin lebih lembut dibandingkan Mardan.
__ADS_1
Meski memiliki karakter lebih lembut dari Mardan, tapi Mardin memiliki jiwa yang ingin selalu mencoba sesuatu. Ketika ia mencoba narkoba ia pun kecanduan.
Disaat sudah kecanduan hubungan dengan Mardan pun mulau tidak membaik. Mardin lebih sering bersama teman-temannya sesama pecandu narkoba.
Emosinya mulai tak terkendali. Aturan yang dibuat oleh orang tuanya untuk anak-anaknya pun kerap kali di tentangnya.
Mardan dan Mardin juga sering berselisih paham yang menyebabkan perkelahian pun terjadi. Dan akhirnya Mardin mengalami Overdosis.
Mardin sempat dilarikan ke Rumah Sakit. Tapi sayangnya nyawanya tidak tertolong lagi dan akhirnya meninggal dunia.
Sejak saat itu Mardan menjadi anak tinggal. Dia selalu ribut hingga harus berkelahi bila melihat orang yang mengedarkan narkoba.
Mardan dendam terhadap pengedar narkoba. Karena baginya pengedar narkoba itulah penyebab dari kematian kembaran Mardin.
Apa yang dialami oleh Mardan dan keluarganya itu, tidak pernah diceritakan kepada siapapun oleh Mardan, termasuk kepada sahabat-sahabatnya.
"Yank, kamu kenapa nangis" Tanya Wanti kepada Mardan ketika dia melihat air mata mardan yang menetes di pipinya hingga membasahi seprai di kasurnya.
Mardan tersenyum dan berkata "ga apa-apa yank" menjawab pertanyaan Wanti.
Haiden yang mendengar pertanyaan Wanti kepada Mardan menoleh menatap Mardan dan Wanti dari tempat duduknya dan berkata "Maafkan aku kalau pertanyaan ku membuat kau bersedih ya bro" Kata Haiden kepada Mardan.
"Ga apa-apa bro.Kau sahabat aku. Kau juga layak tahu kok" Jawab mardan yang masih dalam posisi tengkurep di tempat tidurnya.
"Mulai sekarang kau ga sendiri lagi menghadapi masalah kau ini. Aku ga akan biarkan sesuatu yang buruk seperti ini terjadi lagi padamu" Kata Haiden lagi dengan sangat yakin.
Mardan yakin dengan ucapan Haiden saat ini. Kalau seandainya yang berkata saat ini adalah Haiden si Culun tentu dia akan tertawa mendengar ucapan Haiden.
"Terima kasih banyak bro" kata Mardan membalas ucapan Haiden tadi.
"Kau ga perlu mengucap terima kasih padaku bro. Karena aku tahu, kalau aku yang ada di posisi mu, kau pasti akan melakukan hal yang sama" Kata Haiden.
Haiden mengatakan hal itu bukan asal ucap saja. Dia benar-benar tahu seperti apa sifat sahabat nya itu.
__ADS_1
Kesetiakawanan Mardan terhadap sahabat-sahabatnya tidak perlu diragukan lagi. Terbukti disaat Haiden masih menjadi mahasiswa culun yang selalu diselimuti masalah, Mardan selalu membantu nya.