SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
BELAJARLAH DARI MANAPUN, APAPUN & DARI SIAPAPUN SAMPAI KAPANPUN


__ADS_3

Hari ini diruang kerjanya dalam kantor Admadja Grup Sumatera Utara, Haiden di datangi lima orang mahasiswa dari Universitas nya dulu sewaktu kuliah. Dua orang mahasiswa diantara lima orang mahasiswa itu yang kemarin datang ke kantor Admadja Grup pusat, bertemu dengan Suherman.


Hari ini Tonny dan Ridho membawa Irma, Siti dan Elman dengan se_izin Haiden. Sebelum ke kantor Admadja Grup, Tonny dan Ridho sudah meminta izin kepada Haiden membawa tiga orang teman mereka lagi lewat telepon.


"Mana Proposal proyek kalian itu?" Tanya Haiden kepada kelima Juniornya itu.


Ridho langsung menyerahkan Proposal yang memang sudah disiapkan untuk di serahkan kepada Haiden. Sembari berkata "ini bang", Ridho menyerahkan Proposal tersebut.


"Proposal ini akan abang pelajari dulu. Dua tiga hari lagi abang kabarin kalian" Kata Haiden setelah menerima Proposal Proyek pembuatan mobil tanpa roda atau mobil melayang.


"Siap bang" Balas kelima Junior Haiden itu nyaris serentak.


"Kalian berlima anak teknik semua?" Tanya Haiden kepada Ridho, Tonny, Elman, Irma dan Siti.


"Enggak bang. Cuma saya dan Ridho aja yang anak teknik bang" Jawab Tonny.


"Oh. Jadi kalian bertiga fakultas apa dek?" Tanya Haiden kepada Elman, Irma dan Siti.


"Saya fakultas kedokteran bang" Jawab Elman.


"Saya fakultas Hukum bang" Jawab Irma.


"Saya fakultas pertanian bang" Jawab Siti.


"Kami memang berbeda fakultas, tapi kami selalu bersama bang. Dalam proyek saya dengan Tonny ini, Irma, Siti dan Elman juga turut membantu" Kata Ridho sebelum Haiden, usai ketiga temannya itu menjawab pertanyaan Haiden.


Mendengar penjelasan Ridho barusan, Haiden langsung teringat masa kuliahnya dulu dengan Melani, Mardan, Wanti, Suherman dan Marwan. Dia menduga kelima Juniornya yang kini duduk dihadapan nya pasti bersahabat seperti dirinya dengan Melani yang kini menjadi istri nya, dan keempat sahabatnya yang lain.


"Oh iya bang. Kami dengar abang mau mencalonkan diri menjadi Wakil Presiden. Apa yang bisa kami bantu kira-kira bang?" Tanya Tonny kepada Haiden disaat dia sedang mengenang masa lalunya di kampus.

__ADS_1


Haiden tersenyum lalu menjawab "Ga ada".


Mendengar jawaban Haiden, Kelima junior Haiden itu saling pandang. Mereka tidak menduga Haiden bakal menjawab seperti itu.


"Setiap Pemilu biasanya calon-calon pejabat sibuk mencari kami para mahasiswa bang. Abang ga perlu bantuan kami bang?" Kata Elman menanggapi jawaban Haiden sembari bertanya kepada Haiden.


Mendengar tanggapan dan pertanyaan Elman barusan, Haiden kembali tersenyum menjawab "Tidak. Karena kalian adalah Agent of Change And Social Control".


"Kalian tahu apa itu Agent of Change And Social Control?" Tanya Haiden kepada kelima junior nya itu.


Ridho, Tonny, Irma, Elman, dan Siti hanya diam tak mampu menjawab. Mereka pernah mendengar kata Agent of Change And Social Control, namun mereka tidak tahu apa makna dai kata Agent of Change And Social Control tersebut.


"Apa itu Agent of Change And Social Control itu bang?" Tanya Irma ke pada Hiden.


Haiden kembali tersenyum sebelum menjawab "Agent of Change adalah suatu penggerak perubahan untuk menuju ke dalam tatanan kehidupan yang lebih adil. Mahasiswa sebagai Agent of Change diharapkan mampu untuk membuat perubahan nyata bagi Bangsa Indonesia menuju ke dalam kehidupan yang lebih tentram.


"Social Control adalah pengawasan yang dilakukan untuk mempertahankan budaya atau nilai-nilai yang telah dijadikan pedoman bagi bangsa , mahasiswa sebagai social control harus bisa berpikir kritis dalam memberikan suatu kritikan , saran dan solusi ketika hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai norma bangsa terjadi , mahasiswa harus bisa menjadi pedoman masyarakat untuk bisa mempertahankan nilai-nilai , norma dan budaya Bangsa Indonesia" Kata Haiden lagi menjelaskan makna dari kata Social Control.


"Jadi, selaku mahasiswa kalian tidak layak untuk mendukung calon pejabat. Kalian hanya boleh mendukung atau mengkritisi orang-orang yang sudah menjadi pejabat. Kalian dukung kinerjanya kalau itu layak didukung, dan kalian kritik kinerjanya kalau tidak sesuai kepentingan rakyat" Kata Haiden lagi di akhir penjelasan nya.


"Terima kasih penjelasannya bang. Paham saya sekarang" Kata Irma setelah mendengar penjelasan Haiden.


"Iya bang. Saya juga berterima kasih sama abang. Maklum lah bang, kami bukan aktivis kampus, jadi kurang memahami bahasa-bahasa Politik ini" Kata Ridho kepada Haiden.


Mendengar ucapan Ridho barusan, Haiden tersenyum lalu berkata "Abang waktu kuliah dulu juga ga pernah jadi aktivis. Tapi abang mau belajar dari manapun, dari apapun dan dari siapapun".


"Belajar itu bukan dari mana dan dari siapa. Belajarlah dari manapun, dari apapun, dan dari siapapun hingga akhir hayat agar kita mampu memiliki banyak pengetahuan" Kata Haiden lagi ke pada junior-juniornya itu.


"Saya juga mengucapkan banyak terima kasih ke pada abangda. Bertambah pengetahuan saya bertemu dengan abang" Kata Tonny setelah mendengar penjelasan Haiden.

__ADS_1


"Boleh kami kami sering-sering bertemu bang, untuk terus belajar dengan abang?" Tanya Delman kepada Haiden.


Haiden tersenyum sebelum menjawab "Kenapa ga boleh. Kapanpun kalian ingin bertemu abang kalian tinggal telepon, nanti kita atur waktunya. Abang sesuai kan jugalah dengan waktu abang".


"Senang bisa bertemu langsung dengan bang Haiden. Abang benar-benar senior terbaik, persis seperti cerita yang beredar di kampus" Kata Siti usai mendengar ucapan Haiden.


Mendengar ucapan Siti barusan, Haiden tersenyum lalu berkata "Jangan biasakan percaya dengan katanya. Ingat, tidak selalu yang kita dengar itu benar, dan tidak selalu yang kita lihat itu benar. Dengar, lihat dan timbang dengan akal sebelum memutuskan untuk menilai apa dan siapapun".


"Akal itu sangat penting untuk kita. Tanpa akal kita tidak akan mampu membedakan antara benar dan salah dengan benar. Di mana akal mu" Kata Haiden lagi kepada adik-adik se_Universitas nya itu sembari bertanya pada Tonny.


"Di otak bang" Jawab Tonny.


Setelah mendengar jawaban Tonny, Haiden bertanya pada Ridho "Di mana akal mu?".


"Di hati bang" Jawab Ridho.


Setelah mendengar jawaban Ridho, Haiden bertanya pada Irma "Di mana akal mu?".


"Di hati bang" Jawab Irma.


Setelah mendengar jawaban Irma, Haiden bertanya lagi kepada Siti "Di mana akal mu?".


"Di otak bang" Jawab Irma.


Dan terakhir Haiden juga bertanya dengan pertanyaan yang sama kepada Elman " Di mana akal mu?".


"Di otak bang" Jawab Elman.


Setelah bertanya dan mendengar jawaban dari semua junior-junior nya yang ada dihadapannya saat ini, Haiden kembali bertanya kepada mereka berlima "Kalian tahu apa itu akal?".

__ADS_1


__ADS_2