
Setelah meninggalkan kelasnya Haiden menanti Melani di kantin kampus. Melani belum selesai dengan kuliahnya.
Haiden duduk sediri menikmati makanan dan minumannya yang terhidang di atas meja. Agar tidak bengong Haiden memainkan Game yang ada di Handphone nya.
Saat sedang asyik memainkan Game nya tiba-tiba Winda bersama dua orang temannya mendekati Haiden dan berkata "Hai Haiden. Boleh kami gabung?".
Haiden menghentikan permainannya lalu menoleh menatap Winda dan kedua temannya. Winda dan kedua temannya tersenyum manis saat ditatap Haiden.
"Aku disini sedang menunggu pacarku. Dan aku memiliki kewajiban untuk menjaga perasaan pacarku" Kata Haiden kepada Winda dan kedua temannya dengan tegas.
"Kan Melani belum datang Den. Jadi ga ada salahnya dong kami gabung denganmu" Kata Winda membalas ucapan Haiden.
Haiden tersenyum remeh mendengar ucapan Winda lalu kembali berkata "Lebih baik kalian duduk di meja lain. Hargai dirimu sendiri sebelum aku mengeluarkan kata yang tidak enak di dengar untuk mengusir kalian".
Mendengar ucapan Haiden itu Wanda terlihat sangat jengkel dan merasa dipermalukan lagi didepan umum. Wajah dan matanya memerah.
"Awas kau Haiden. Kau akan merasakan resikonya nanti" Kata Winda kemudian membalikkan badannya dan berlalu meninggalkan kantin bersama kedua temannya.
Haiden tidak memperdulikan ucapan dan kepergian Winda bersama kedua temannya itu. Dia kembali membuka layar Handphone nya dan kemudian kembali bermain Game.
Beberapa saat kemudian tampak Melani sedang berjalan dari luar kantin menuju masuk kedalam untuk menemui Haiden. Melani langsung duduk disebelah Haiden dan bertanya " Main apaan sih yank. Asyik amat kelihatannya?".
"Main Game petualangan, dari pada bengong ga ada kerjaan nungguin kamu" Jawab Haiden sembari menghentikan permainannya.
Baru saja Haiden akan memasukkan Handphone nya kedalam saku celana depannya tiba-tiba Handphone Haiden berdering tanda panggilan masuk. Panggilan tersebut datang dari Wanti.
"Hallo ti" Kata Haiden kepada Wanti yang berada di Rumah Sakit Amir Hamzah.
"Iya Hallo Den. Mardan sudah siuman Den" Kata Wanti kepada Haidrn melalui Handphone nya.
"Syukurlah. Ya uda, aku dan Melani segera kesana" Kata Haiden kepada Melani lalu menutup telepon nya.
__ADS_1
Setelah melihat Haiden menutup telepon nya, Melani bertanya "Ada yannk" kepada Haiden.
"Mardan sudah siuman yank" Jawab Haiden dengan perasaan gembira.
Mendengar jawaban Haiden, Melani juga tampak gembira dan berkata "Syukurlah".
"Kamu mau makan dulu atau kita langsung ke Rumah Sakit aja yank?" Tanya Haiden kepada Melani.
"Makan dulu lah yank. Lapar aku" Jawab Melani sambil memegang perutnya.
Haiden langsung memanggil pelayan kantin setelah memastikan jawaban Melani. Salah seorang pelayan kantin datang menghampiri Haiden dan Melani.
"Pesan apa bang?" Tanya pelayan itu pada Haiden.
Haiden tidak menjawab pertanyaan pelayan itu. Dia bertanya pada Melani "Pesan apa kamu yank?"
Melani menatap pelayan itu lalu berkata "Saya pesan Nasi Goreng Ayam, sama Jus Apel ya".
"Baik. Itu aja kak?" kata pelayan itu sembari bertanya lagi.
Pelayanan itu langsung meninggal kan Haiden dan Melani setelah memastikan apa saja yang dipesan oleh mereka. Setelah sampai di dapur pelayan tersebut memberitahukan pesanan Melani kepada Koki kantin.
Sementara itu di ruang tunggu Rumah Sakit, Wanti, Suherman dan Marwan masih menanti kedatangan kedua orang tua Mardan. Mereka berharap orang tua Mardan bisa segera tiba di Rumah Sakit agar mereka bisa melihat langsung kondisi Mardan yang sudah siuman.
"Lama kali Papa Mama si Mardan datang ya. Sudah jam tiga sore loh ini. Kasihan juga si Mardan lama kali di dalam UGD" Kata Suherman kepada Marwan dan Wanti.
"Coba hubungi lagi mereka ti" Kata Marwan kepada Wanti.
Baru saja Wanti akan mengambil Handphone nya dari dalam tas kecilnya tiba-tiba ada suara wanita memanggil nama Wanti. Mendengar suaranya dipanggil, Wanita menoleh kearah suara itu berasal.
Ternyata itu suara Mamanya Mardan yang baru saja tiba di Rumah sakit bersama seorang pria yang tak lain adalah papanya Mardan. Mereka berdua melangkah mendekati Wanti, Marwan dan Suherman.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Mardan nak?" Tanya Mama Mardan kepada Wanti.
"Mardan sudah siuman tan. Tapi tadi kata suster dia akan dipindahkan kekamar pasien kalau tante dan om sudah datang. Kayanya lebih baik om dan tante menemui pihak rumah sakit tan". Jawab Wanti.
Mama Mardan langsung memeluk Wanti setelah mendengar penjelasan Wanti sembari berkata "Syukurlah".
Kemudian Mama Mardan melepas pelukannya dan berkata "Ya sudah, om dan tante menemui Dokter dulu ya" kepada Wanti.
Wanti menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan ucapan Mama Mardan. Kemudian Mama dan Papa Mardan pun langsung meninggal Melani bersama Suherman dan Marwan untuk menemui Dokter yang menangani Mardan.
Setelah menemui Dokter akhirnya Mardan di pindahkan dari ruang UGD ke kamar pasien. Di kamar pasien Mardan terpaksa tidur dengan posisi terbalik karena jahitan di luka tusukan yang berada di pinggang belakangnya belum memungkinkan dia untuk tidur terlentang.
Jangankan tidur terlentang, tidur menyampingpun Mardan belum diperbolehkan oleh Dokter yang menangani nya.
"Sabar ya sayank. Kamu pasti cepat sembuh" Kata Mama Mardan yang sedang duduk di kursi yang berada disebelah kiri tempat tidur Mardan bersama Papanya.
Mardan hanya menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan ucapan mamanya. Wanti, Suherman dan Marwan hanya melihat Mardan yang sedang ngobrol dengan kedua orang tuanya di Sofa yang ada dikamar pasien kelas VIP itu.
Haiden sudah tiba di Rumah Sakit bersama Melani. Mereka berdua langsung keruang tunggu.
Karena tidak melihat keberadaan Wanti, Suherman dan Marwan di ruang tunggu itu, Haiden langsung meninggal Handphone dari dalam saku celana depannya. Haiden mencoba untuk menghubungi Wanti.
"Hallo. Dimana kalian ti?" Tanya Haiden kepada Wanti yang berada di kamar pasien Mardan.
"Kami di kamar mawar kosong satu di lantai dua Den" Jawab Wanti kepada Haiden melalui telepon nya.
"Oke" Jawab Haden dan menutup telepon nya.
Setelah menutup telepon nya, Haiden bersama Melani langsung melangkah menuju Lift untuk naik kelantai dua Rumah Sakit itu. Haiden sudah tidak sabar ingin segera melihat kondisi sahabatnya yang kini terpaksa harus dirawat.
Dilantai dua setelah keluar dari dalam dalam Lift, Haiden dan Melani langsung melanjutkan langkah mereka untuk mencari kamar mawar kosong satu seperti yang dikatakan Wanti kepada Haiden.
__ADS_1
Saat mencari kamar mawar kosong satu, Haiden menyapa seorang perawat yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya untuk bertanya "Sus, kamar mawar kosong satu disebelah mana ya?".
Suster itu pun menjelaskan dimana letak kamar pasien Blok mawar nomor kosong satu itu berapa. Setelah merasa paham, Haiden berkata "Terima kasih ya Sus" kepada perawat itu.