
Wanti segera bergegas ke rumah sakit Amir Hamzah agar bisa membawa pulang Mardan bersama Mama dan Papa Mardan. Tapi ketika ia sampai di rumah sakit, ternyata hanya ada Mardan dan Mamanya saja yang berada di kamar pasien blok mawar nomor kosong satu itu.
"Om ga kesini tante?" Tanya Wanti kepada mama Mardan yang sedang beberes menyiapkan barang-barang untuk dibawa pulang.
"Enggak. Kebetulan Om hari ini ada dinas keluar kota. Pagi-pagi sekali Om tadi susah berangkat" Jawab Mama Mardan.
"Haiden dan yang lainnya sudah kamu beritahu kan, Mardan pulang hari ini Ti?" Tanya Mama Mardan kepada Wanti.
"Suherman dan Marwan sudah Wanti beritahu tan. Mereka lagi perjalanan kesini. Kalau Haiden dan Melani tadi ga angkat telpon Wanti. Kayanya mereka ada kelas hari ini tan. Tapi uda Wanti Chat WA mereka" Jawab Wanti.
"Baguslah. Yang penting mereka tahu, jangan sampai mereka kesini, Mardan sudah pulang kan" Kata Mama Mardan membalas jawaban Wanti.
Mardan hanya mendengarkan percakapan pacaran ya itu dengan Mamanya. Mardan tampak bahagia melihat keakraban Wanti dengan Mamanya.
Tiba-tiba terdengar suara orang berkata "Permisi saat pintu kamar terbuka perlahan. Ternyata Marwan dan Suherman sudah tiba di kamar pasien blok mawar nomor kosong satu itu.
"Uda masuk, ga usah lagak kayak tamu aja" Kata Mardan bercanda kepada Marwan dan Suherman dari tempat tidur nya.
Sembari melangkah masuk kedalam kamar, Suherman berkata "Kami kan memang tamu. Tapi tamu spesial".
Suherman dan Marwan mendekati Mardan lalu memberi salam khas persahabatan mereka secara bergantian. Setelah itu mereka berdua juga menyalami Mama Mardan sembari mencium tangannya.
"Om mana tante?" Tanya Marwan kepada Mama Mardan.
"Lagi ada dinas keluar kota Wan. Jam enam pagi tadi Om berangkat" Jawab Mama Mardan.
"Ohh..! Berapa lama tante" Tanya Marwan lagi
"Sekitar seminggu katanya Wan" Jawab Mama Mardan lagi.
"Jam berapa kita bisa gerak dari sini tan?" Tanya Suherman disela percakapan Mama Mardan dengan Marwan.
"Nunggu Dokter atau perawat kasih rincian biaya perawatan Mardan dulu. Setelah tante bayar biayanya ke administrasi nanti, kita bisa langsung gerak" Jawab Mama Mardan.
Baru saja Mama Mardan menjawab pertanyaan Marwan, tiba-tiba Mardan berkata "Ketua Panca Karya Sumut meninggal woi".
Semua orang menoleh menatap Mardan mendengar ucapan Mardan yang masih melihat layar Handphone nya. Mardan tampak sedang serius membaca berita Online di Handphone nya.
"Meninggal kenapa bro?" Tanya Marwan kepada Mardan.
__ADS_1
"Menurut berita ini, Boy meninggal karena di bunuh. Ada empat peluru bersarang di badannya, dan satu peluru di kepalanya. Tembus dari depan kebelakang" Kata Mardan menjawab pertanyaan Marwan.
"O mak, sadis" Sahut Suherman.
"Siapa pelakunya bro?" Tanya Suherman kepada Mardan.
"Dalam berita ini belum ketahuan siapa pembunuhnya" Jawab Mardan.
"Dimana kejadiannya?" Tanya Marwan setelah mendengar Mardan menjawab pertanyaan Suherman tadi.
"Di depan Diskotik Ten bro. Katanya saat keluar dari Diskotik dia langsung dihujani peluru oleh orang yang tidak dikenal" Kata Mardan menjawab pertanyaan Marwan.
"Beberapa orang saksi mata katanya tembakan itu keluar dari dalam mobil yang tidak memakai plat mobil. Usai menghujani peluru, mobil tersebut langsung kabur" Kata Mardan lagi.
"Kira-kira siapa yang membunuhnya ya?" Kata Wanti tiba-tiba sesat setelah Mardan menjelaskan isi berita yang dibacanya.
Usai Wanti berkata, tiba-tiba seorang perawat membuka pintu kamar sembari berkata "Permisi".
"Masuk saja sus" Kata Mama Mardan mempersilahkan perawat itu masuk.
Setelah masuk perawat itu berkata "Pak Mardan sudah bisa di bawa pulang kalau mau di bawa pulang ya bu. Terserah pihak ibu mau pulang kapan"
Mama Mardan Mengernyitkan dahinya mendengar ucapan perawat itu sembari bertanya "Rincian biaya perawatan anak saya mana sus?".
"Oh gitu. Terima kasih atas informasinya ya sus" Balas Mama Mardan dengan wajah gembira.
"Iya, sama-sama bu. Kalau begitu saya pamit ya bu" Kata perawat lalu keluar dari kamar.
Mama Mardan tampak gembira sekaligus tidak menyangka saat mendengar biaya perawatan Mardan selama di rawat di rumah sakit itu sudah di tangani oleh Haiden. Karena Biaya rumah sakit yang diperkirakan oleh kedua orang tua Mardan tidaklah sedikit.
"Baik sekali Haiden itu ya Dan" Kata Mama Mardan kepada Mardan.
Mardan tersenyum dan membalas ucapan ibunya itu "Haiden memang baik Ma. Sejak masih saat hidup sederhana hingga bergelimpangan harta seperti saat ini".
Mama Mardan hanya tersenyum mendengar ucapan anaknya dalam menilai sosok Haiden. Hati Mama Mardan menyepakati ucapan anaknya itu.
Saat suana hening, tiba-tiba Haiden menghubungi Mardan. Mardan langsung menekan tombol yes yang ada di layar Handphone setelah melihat Haiden yang menghubunginya.
"Ya, Hallo bro" Kata Mardan setelah mendengar kata Hallo dari Haiden yang terdengar dari Handphone nya.
__ADS_1
"Jam berapa rencana pulang bro?" Tanya Haiden yang berada di kantin kampus.
"Ini uda mau gerak bro. Kau di mana?" Jawab Mardan, kemudian balik bertanya kepada Haiden yang terdengar dari Handphone Haiden.
"Aku masih di kampus. Lagi di kantin nunggu Melani. Belum keluar dia dari kelasnya" Jawab Haiden.
"Kalau gitu kami langsung kerumah mu saja ya dari sini" Kata Haiden lagi.
"Oke" Balas Mardan singkat.
"Oh iya bro. Ngomong-ngomong terima kasih atas biaya perawatan ku ya" Kata Mardan lagi kepada Haiden.
"Hadeh. Ga usah dipikirin bro. Itu sudah kewajiban aku sebagai sahabat mu" Kata Haiden membalas ucapan terima kasih Mardan.
Mardan tertawa mendengar ucapan Haiden itu lalu bertanya "Jadi salah ni aku berterima kasih?".
"Salah lah. Simpan ucapan terima kasih kau untuk hal-hal yang sulit untuk kulakukan saat aku bisa melakukannya" Jawab Haiden.
"Siap salah tuan muda" Balas Mardan dengan ucapan canda.
Mendengar Mardan menyebutnya tuan muda Haiden tertawa lalu berkata "Ga lucu".
Mendengar balasan candanya dari Haiden, Mardan tertawa juga lalu berkata "Ga lucu kok ketawa kau?".
"Khilaf" Balas Haiden tetap bercanda.
"Ya udalah ya bro. Kami mau gerak ni" Kata Mardan kepada Haiden.
"Oke" Balas Haiden kemudian menutup telepon nya.
Setelah menutup pembicaraannya dengan Haiden, Mardan bersama Wanti, Suherman, Marwan dan Mamanya langsung keluar meninggalkan rumah sakit Amir Hamzah. Mardan dan Mamanya satu mobil dengan Wanita, sedangkan Suherman dan Marwan membawa mobilnya masing-masing berjalan menuju rumah Mardan.
Haiden masih menanti Melani keluar dari kelasnya. Setelah setengah jam menanti akhirnya Haiden melihat Melani yang sedang berjalan masuk kedalam kantin menghampiri nya.
"Wanti WA aku, katanya Mardan bisa pulang hari ini yank" Kata Wanti setelah duduk di samping Haiden.
"Iya, tadi aku telepon Mardan. Terakhir dia bilang mau gerak pulang. Mungkin mereka masih diperjalanan atau sudah sampai rumah Mardan saat ini" Balas Haiden.
"Kita langsung ke rumah Mardan yank?" Tanya Melani.
__ADS_1
"Kamu mu makan dulu atau mau langsung gerak aja?" Kata Haiden balik bertanya.
"Langsung ke rumah Mardan aja yok. Belum lapar aku yank" Jawab Melani.