
Ketika Marwan mengaum bagaikan singa jantan yang marah, di saat itu pula cahaya yang menyelimuti tubuhnya terlihat membentuk sosok seperti seekor Kuda berkepala Singa. Setelah beberapa saat melayang di udara, tubuh Marwan perlahan turun ketanah.
Saat kakinya menapak tanah, perlahan cahaya yang menyelimuti tubuhnya menghilang. Marwan belum menyadari di punggung nya kini terdapat Tatto bergambar Kuda berkepala Singa, seperti sedang mengaum.
Seperti ada yang menggerakkan tubuhnya, Marwan duduk bersila. Matanya terpejam, dan kedua telapak tangannya di satukan kembali di atas kepala seperti saat awal di perintahkan pak Narso.
"Buka matamu perlahan nak Marwan" Kata pak Narso terdengar di telinga Marwan.
Marwan pun segera membuka kedua matanya perlahan lahan. Saat membuka mata, perasaan Marwan begitu lega karena dia melihat disekelilingnya bukan lagi di Hutan rimba, tapi berada di taman belakang rumah Haiden.
"Apakah saya baru saja bermimpi pak?" Tanya Marwan kepada pak Narso yang sedang duduk bersila di hadapannya.
"Nak Marwan bukan baru saja bermimpi, tapi baru kembali dari Dimensi Bunian" Jawab pak Narso sembari tersenyum.
Mendengar jawaban pak Narso, Marwan mengernyitkan dahinya lalu kembali bertanya "Maksud bapak, Kuda berkepala Singa yang saya hadapi itu benar-benar nyata di Dimensi Bunian?".
"Benar. Kuda berkepala Singa itu Hewan Bunian dan Kuda berkepala Singa itu sudah bersatu dengan nak Marwan" Jawab pak Narso.
"Menyatu bagaimana maksudnya pak?" Tanya Marwan lagi, karena dia benar-benar merasa belum memahami apa yang telah terjadi sebenarnya.
"Kekuatan dari Kuda berkepala Singa itu kini ada pada nak Marwan. Nak Marwan memiliki kemampuan berlari secepat kuda, memiliki kekuatan serta nyali sebesar Singa sekarang" Jawab pak Narso.
Marwan melihat Mardan dan Suherman masih duduk bersila dengan telapak tangan masing-masing masih menyatu di atas kepala. Mereka berdua masih tampak tenang seperti orang yang sedang bersemedi.
"Apakah Mardan dan Suherman masih di Dimensi Bunian pak" Tanya Marwan kepada pak Narso.
__ADS_1
Pak Narso tersenyum sebelum menjawab "Iya, mereka berdua masih berproses menyatukan kekuatan Hewan Bunian sesuai karakter mereka ke jiwa dengan diri mereka masing-masing".
Di Dimensi Bunian, Mardan tampak mulai menguasai keadaan. Dia berhasil membekap leher beruang raksasa yang di hadapinya saat ini dari belakang.
Sebelumnya Beruang raksasa itu mampu merobek-robek baju Mardan hingga terlepas dari tubuhnya. Beberapa luka terlihat di tubuhnya yang dihiasi dengan Tatto.
Mardan mengeluarkan seluruh tenaga nya untuk mencekik leher Beruang Raksasa itu dengan tangan kanannya. Beruang raksasa itu meraung keras sebelum terlihat perlahan berubah menjadi segumpal cahaya berwarna merah keemasan.
Mardan terlihat sangat terkejut menyaksikan beruang yang sedang dibekap nya tiba-tiba berubah menjadi gumpalan cahaya. Marwan terus memperhatikan gumpalan cahaya itu terbang kesana kemari tak tentu arah.
Mata Mardan terbelalak menyadari gumpalan cahaya itu mendadak meluncur kearahnya. Dia tidak sempat menghindari serangan cahaya Beruang raksasa itu, sehingga cahaya itu sukses mendarat tepat di dadanya.
Tubuh Mardan terpental beberapa meter lalu melayang di udara. Gumpalan cahaya berwarna merah keemasan itu perlahan menyebar menyelimuti sekujur tubuhnya.
Mardan merasa ada kekuatan besar yang sedang masuk melalui pori-pori di kulitnya. Tubuhnya bergetar hebat sebelum meraung keras seperti seorang Beruang jantan yang tengah memperlihatkan bahwa dirinya yang terkuat di Dunia.
Simpanse yang kini tengah di hadapi oleh Suherman memiliki bulu berwarna merah. Simpanse ini juga memiliki kemampuan bertarung seperti Manusia.
Simpanse itu menggunakan kuda-kuda dan jurus saat bertarung dengan Suherman, persis layaknya Manusia yang memiliki teknik ilmu bela diri. Kekuatan nya jelas jauh di atas rata-rata Simpanse dan Manusia pada umumnya.
Cukup banyak luka-luka yang di alami Suherman akibat serangan-serangan Simpanse itu. Namun, tanpa disadarinya, Simpanse tersebut membuat gerakan-gerakan Suherman bertambah gesit.
Meskipun Simpanse tersebut lebih tangguh dan lebih kuat dari dirinya tapi Suherman tidak mau menyerah. Dia tetap berusaha bertahan saat di serang, dan tetap menyerang balik di kala ada kesempatan.
"Aku rasa sudah cukup" Kata Simpanse itu tiba-tiba kepada Suherman.
__ADS_1
Mendengar Simpanse itu berbicara padanya, mata Suherman terbelalak lalu berkata "Apa...? Kau bisa bicara?".
Simpanse tersebut tidak menjawab pertanyaan Suharman. Dia hanya terlihat diam hingga tubuh nya perlahan berubah menjadi gumpalan cahaya berwarna kelabu keemasan.
Gumpalan cahaya berwarna kelabu keemasan itu terbang kesana kemari tak tentu arah. Mata Suherman tek berkedip memperhatikan setiap gerakan cahaya itu.
Beberapa saat kemudian, cahaya berwarna kelabu keemasan itu berhenti di udara lalu melesat menyerang tubuh Suherman dengan kecepatan yang luar biasa. Suherman pun tak sempat untuk menghindari serangan cahaya berwarna kelabu keemasan itu.
Tubuh Suherman terpental beberapa meter tatkala cahaya itu menerjang tubuhnya. Tubuh Suherman melayang di udara, dan cahaya berwarna kelabu keemasan itu menyebar ke sekujur tubuhnya.
Perlahan muncul gambar seekor Simpanse di punggung Suherman. Garis digambar tersebut memancarkan sinar yang cukup terang.
Suherman merasakan ada kekuatan yang sangat besar sedang menjalar masuk kedalam tubuh nya. Urat-urat dibunuhnya terlihat menonjol dan bergerak-gerak seakan akan ada sesuatu yang mengalir di dalam urat nya bersama aliran darah nya.
Tiba-tiba Suherman memukul mukul dadanya sendiri sembari mengeluarkan suara yang keras dari mulut nya seperti Gorila jantan yang memperlihatkan kekuatan nya kepada lawannya. Semakin besar suara teriakan Suherman, cahaya yang menyelimuti tubuhnya pun terlihat semakin bersinar.
Setelah beberapa menit melayang di udara, tubuh Suherman terlihat perlahan turun ketanah. Cahaya berwarna kelabu keemasan yang menyelimuti tubuh nya itu pun perlahan sirna.
Seperti ada yang menuntunnya, dengan mata terpejam Suherman duduk bersila. Kemudian kedua telapak tangannya disatukan di atas kepalanya.
"Buka matamu perlahan nak Suherman" Terdengar suara pak Narso di telinga Suherman.
Suherman pun perlahan membuka matanya. Orang yang pertama kali dilihat nya setelah membuka matanya adalah pak Narso yang kini sedang duduk bersila tepat di hadapannya.
Setelah itu dia tersenyum melihat Mardan dan Suherman yang sedang melihat dirinya baru saja kembali dari Dimensi Bunian. Kemudian Suherman memeriksa keadaan tubuh dan kedua tangannya.
__ADS_1
Suherman melihat tidak ada lagi luka-luka di kedua tangannya, dan juga tidak melihat ada luka luka di tubuhnya lagi akibat serangan dari Simpanse di Dimensi Bunian tadi. Karenanya Suherman berpikir dia baru saja terbangun dari dalam mimpi .
"Apakah saya baru saja bermimpi pak?" Tanya Suherman kepada pak Narso.