SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
PARTAI PANCA KARYA


__ADS_3

Dua tahun kemudian Panca Karya sudah menjadi Partai. Partai Panca Karya satu-satunya Partai yang memiliki posko pengaduan masyarakat di setiap kecamatan se_Indonesia.


Semua persoalan masyarakat tetap ditangani oleh anggota dan pengurus Partai Panca Karya hinga tuntas, termasuk masalah hukum tanpa bayaran. Haiden tampak sering terjun langsung kelapangan.


Aksinya bukan hanya ia rekam untuk konten nya di Media Sosial saja. Para wartawan selalu memburunya demi kepentingan berita masing-masing media berita, baik media cetak, maupun media TV dan Media Online.


Meskipun belum terdaftar sebagai Partai peserta Pemilu yang akan datang, tapi Partai Panca Karya menjadi Partai yang sangat di kenal masyarakat saat ini. Setiap terjun kelapangan, Haiden selalu disambut meriah oleh masyarakat seperti seorang presiden yang di cintai rakyat nya.


Haiden juga sangat dekat dengan Presiden sekarang. Dia sering bertemu Presiden bukan hanya disaat waktu mereka sama-sama senggang, saja.


Haiden sering di ajak Presiden keliling Indonesia untuk bertemu warganya langsung. Presiden Purwanto juga sangat dicintai rakyat nya, sebab sejak dia terpilih banyak perubahan yang telah dilakukannya.


Purwanto bukan kader dari sebuah Partai tapi saat Pemilu dia diusung oleh beberapa Partai. Dia menolak untuk diatur oleh partai-partai pengusungnya usai dia terpilih.


Prinsipnya dia bekerja demi kepentingan rakyat bukan demi kepentingan Partai seperti yang dilakukan oleh Presiden sebelumnya. Itu yang membuat Haiden mau bersahabat dengan Presiden yang satu ini.


Suatu hari Haiden di minta Presiden Purwanto ke istana. Presiden Purwanto langsung menghubungi tanpa perantara ajudannya.


"Hallo Den. Kamu dimana?" Tanya Presiden Purwanto, terdengar di Handphone Haiden.


"Saya lagi di kantor Admadja Grup Sumatra Utara ni pak. Perintah pak Presiden" Jawab Haiden dengan sopan.


"Kapan kamu ada waktu ke istana Den?" Tanya Presiden Purwanto yang saat ini sedang berada di istana Negara.


"Ada yang mau saya bicarakan dengan kamu. Kalau bisa secepatnya kamu kesini" Kata Presiden Purwanto lagi sebelum Haiden menjawab.


"Besok pagi saya berangkat ke Istana Pak" Jawab Haiden yang saat ini sedang duduk di kursi di balik meja kerjanya.


"Baiklah. Sampai jumpa besok kalau begitu ya" Balas Presiden Purwanto, terdengar di Handphone Haiden.


"Siap Pak" Jawab Haiden sebelum menutup Handphone nya.


Setelah menutup pembicaraan dengan Presiden Purwanto melalui Handphone nya, Haiden langsung menghubungi Mardan. Mardan yang saat ini sedang berada di kantor Partai Panca Karya langsung mengangkat Handphone nya.


"Hallo bro" Kata Mardan saat terhubung dengan Haiden.

__ADS_1


"Aku besok pagi berangkat ke istana. Kau mau ikut ga?" Tanya Haiden, terdengar di Handphone Mardan.


"Ngapain Bro?" Kata Mardan bertanya balik.


"Presiden minta aku ke sana. Kau kan belum pernah bertemu langsung dengan beliau. Biar kenal dulu beliau dengan Ketua Partai Panca Karya Sumatera Utara.


Mardan tersenyum sebelum membalas "Oke kalau gitu. Aku langsung ke bandara atau ke rumahmu dulu besok pagi?".


"Ke rumah ku saja dulu. Kita berangkat bareng dari rumah ku" Jawab Haiden, terdengar di Handphone Mardan.


"Oke siap" Balas Mardan sebelum menutup Handphone nya.


Setelah menutup pembicaraan dengan Haiden melalui Handphone mya, Mardan menghubungi istrinya. Wanti yang sedang berada di rumah nya langsung mengangkat Handphone nya.


"Hallo yank" Kata Wanti setelah terhubung dengan Mardan.


"Iya Hallo yank. Besok aku berangkat me istana Negara sama Haiden. Tolong kamu siapkan pakaian aku ya" Kata Mardan, terdengar di Handphone Wanti.


"Buat berapa hari yank?" Tanya Wanti.


"Oh ya sudah entar aku siapkan. Pakai ransel aja kalau gitu ya, ga usah pakai koper? Balas Wanti sembari bertanya lagi, terdengar di Handphone Mardan.


Marwan tersenyum sebelum menjawab "Iyalah. Kan ga banyak".


"Oh iya. Edo ngapain yank?" Kata Mardan menanyai putranya kepada Wanti.


"Lagi Bobo yank" Jawab Wanti terdengar di Handphone Mardan.


"Oh, ya uda dululah kalau gitu ya yank. Aku mau ketemu Gubernur A Cin lagi" Kata Mardan, terdengar di Handphone Wanti.


"Oke yank" Balas Wanti sebelum menutup Handphone nya.


Di Kantor Admadja Grup Sumatra Utara, Haiden terlihat baru saja keluar dari dalam ruang kerjanya menuju ruang kerja Suherman yang kini menjabat sebagai Direktur Admadja Grup Sumatra Utara. Selain menjadi pengusaha, dan ketua Partai Panca Karya Kabupaten Deli Serdang, Suherman diberi kepercayaan untuk menjadi Direktur Admadja Grup Sumatera Utara.


Marwan diberi kepercayaan memimpin Tim Pengawas Admadja Grup. Tadinya Haiden berencana semua sahabat-sahabatnya ada dalam Tim tersebut, namun situasi dan kondisi tidak memungkinkan.

__ADS_1


Tim Pengawas Admadja tersebut tetap dibentuk secara resmi oleh Haiden. Ada beberapa karyawan didalam, dan Marwan yang menjadi kepalanya.


Tim tersebut tetap bagian dari perusahaan, yang memiliki tugas khusus untuk mengawasi, mengontrol kinerja seluruh perusahaan. Tim pengawas tersebut juga memiliki hak untuk memeriksa setiap karyawan yang dicurigai telah melanggar peraturan perusahaan.


Selain di percaya Haiden untuk menjadi kepala bagian pengawas Admadja Grup, Marwan kini memiliki usaha pribadi dan menjabat sebagai ketua Partai Panca Karya Kota Medan.


Suherman dan Marwan kini juga sudah Menikah. Dari perkawinan nya dengan Rina, Suherman kini memiliki dua anak perempuan, sedang Marwan memiliki satu anak laki-laki sama sperti Mardan.


Di ruang kerja Suherman sudah ada Marwan yang sama-sama menanti kedatangan Haiden. Sebelumnya Haiden memang sudah menghubungi Marwan.


Haiden meminta Marwan ke ruang Suherman. Ada hal yang ingin disampaikan nya kepada kedua sahabatnya itu.


"Apa yang mau kau bicarakan bro. Apa ada yang luput dari pengawasan ku?" Tanya Marwan saat Haiden sudah dihadapannya di ruang kerja Suherman.


Mendengar pertanyaan Marwan, Haiden tersenyum lalu menjawab "Tidak ada. Kerjamu sangat bagus kawan. Tapi kau harus ku berhenti kan dari jawabatan kepala bagian pengawas Admadja Grup".


Mendengar jawaban Haiden barusan, Marwan dan Suherman tampak terkejut. Mereka berdua bingung, kenapa Haiden mengatakan kerjaan Marwan sangat bagus tapi diberhentikan.


Sembari mengernyitkan dahinya, Suherman bertanya pada Haiden "Loh, kalau kerjaan Marwan bagus, kenapa pula kau berhenti kan dia bro?".


"Kalau sikap kau ga adil gini sama Marwan, aku keluar dari Admadja Grup. Kok jadi berubah gini kau bro" Omel Suherman tanpa menunggu jawaban Haiden.


Melihat dan mendengar Suherman mengomel, Haiden hanya tersenyum. Setelah melehat Suherman berhenti mengomel barulah Haiden menjawab "Belum selesai aku ngomong sudah kau potong pakai acara mengomel pula. Kau dengarkan dulu".


"Gini Wan. Lokalisasi di setiap Provinsi itu butuh diawasi juga. Aku mau buat Tim Pengawas khusus mengawasi lokalisasi se_Indonesia itu" Kata Haiden kepada Marwan.


"Jadi aku mau, kau pimpin Tim itu. Biar anak Om Sulistyo aja nanti yang jadi kepala bagian pengawas Admadja Grup. Gaji kau naik tentunya, karena tanggung jawab kau lebih besar" Kata Haiden melanjutkan penjelasannya kepada Marwan.


Mendengar penjelasan Haiden, wajah Marwan tampak berseri. Bukan karena gajinya bertambah tapi karena dia merasa di hargai dan dibutuhkan oleh sahabatnya itu.


Kalau soal uang, saat ini uangnya sudah berlebih berkat sahabatnya itu. Uang bukan segalanya bagi mereka saat ini.


"Siap laksanakan tuan muda" Kata Marwan kepada Haiden sembari tertawa tertawa kecil disela candaannya.


Haiden tersenyum sembari mengacungkan jari jempol nya kepada Marwan. Setelah itu Haiden menatap Suherman lalu berkata "Masih mau ngomel lagi kau?".

__ADS_1


Mendengar ucapan Haiden kepadanya, Suherman cengengesan karena malu. Sebelum Suherman berkata apa-apa, Haiden berkata lagi "Kau juga ku berhenti kan dari jabatan kau sebagai Direktur Admadja Grup Sumatera Utara".


__ADS_2