
Kurnia sengaja tidak mau mengangkat telepon masuk dari Manager Angga sebab keputusan Partai Panca Karya sudah bulat. Kesempatan terakhir sudah di berikan kepada pihak PT. Naga Terbang Berjaya untuk menepati tanggung jawabnya kepada keluarga ABK mereka yang meninggal saat bekerja di dalam kapal milik PT. Naga Terbang Berjaya.
Keesokan harinya, Haiden menghubungi Presiden Purwanto untuk meminta pemerintah mencabut izin usaha PT. Naga Terbang Berjaya. Ketidakpatuhan PT. Naga Terbang Berjaya terhadap peraturan pemerintah sudah cukup alasan bagi pemerintah untuk mencabut izin usahanya.
"Hallo pak Presiden" Kata Haiden, saat tersambung dengan Presiden Purwanto.
"Iya Hallo Den. Apa kabar?" Balas Presiden Purwanto sembari menanyakan kabar Haiden, terdengar di Handphone Haiden.
"Saya Baik pak Presiden. Pak Presiden apa kabarnya? Balas Haiden sembari bertanya balik.
"Saya juga baik. Apa cerita ni?" Kata Presiden Purwanto sebelum bertanya lagi kepada Haiden.
"Begini pak. Ada dua hal yang mau saya sampaikan pak Presiden" Jawab Haiden.
Presiden yang berada di ruang kerjanya dalam istana Negara terlihat mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan Haiden sebelum kembali bertanya "Apa itu Den?".
"Yang pertama, Saya atas nama Partai Panca Karya meminta pemerintah mencabut izin usaha PT. Naga Terbang Berjaya karena perusahaan tersebut tidak mematuhi peraturan pemerintah" Jawab Haiden terdengar di Handphone Presiden Purwanto.
"Oh iya, saya baru saja membaca beritanya di Media Online tadi. Tolong kamu kirim kan gugatan resminya kepada saya, Biar segera saya bahas dengan kabinet saya" Kata Presiden Purwanto menanggapi permintaan Haiden.
"Siap pak" Balas Haiden yang berada di ruang kerjanya dalam gedung kantor Admadja Grup Sumatera Utara.
"Lalu Hal yang kedua apa Den?" Tanya Presiden Purwanto, terdengar di Handphone Haiden.
"Yang kedua akan saya sampaikan saat Presiden dan Dan Kapolri Sulistyo ke Medan. Jadi saya ingin mengundang pak Presiden dan Om Sulistyo ke Medan" Jawab Haiden.
__ADS_1
"Oh begitu. Kapan kamu ingin saya dan Om kamu ke Medan?" Tanya Presiden Purwanto menanggapi keinginan Haiden.
"Kapan senggang Waktu Presiden dan Om Sulistyo tentu nya pak Presiden. Lebih cepat lebih bagus pak Presiden" Jawab Haiden, terdengar di Handphone Presiden Purwanto.
"Baiklah, Nanti malam saya kabari kamu kapan saya dan Kapolri Sulistyo bisa berangkat ke Medan" Balas Presiden Purwanto.
"Siap pak Presiden" Kata Haiden membalas ucapan Presiden Purwanto sebelum menutup pembicaraan dengan Presiden Purwanto melalui Handphone nya.
Usai menutup pembicaraan dengan Presiden Purwanto, Haiden langsung bergegas meninggalkan Kantor Admadja Grup Sumatera Utara untuk menemui Mardan, Suherman dan Marwan di Kikombe Coffe.
Seperti biasa saat mobil Haiden terlihat keluar dari dari dalam kantor Admadja Grup, satu mobil pengawal langsung melaju mendahului mobil Haiden untuk mengawal Haiden di depan. Sedangkan satu mobil lagi mengikuti untuk mengawal di belakang.
Di tengah perjalanan tiba-tiba terlihat mobil mini bus berwarna silver mencoba untuk memepet mobil Haiden. Melihat mobil tuan besarnya hendak dipepet oleh mobil yang tidak di kenal, pengawal yang mengemudi mobil pengawal di belakang langsung menginjak pedal gas nya sampai habis untuk menerjang mobil tak di kenal tersebut.
Haiden terlihat menghentikan laju mobilnya, demikian pula dengan kedua mobil pengawal Haiden juga turut berhenti. Saat pengawal-pengawal Haiden keluar dari dalam mobilnya, tiba-tiba enam unit momil berwarna silver lainnya berhenti di tepi jalan tepat di depan mobil pengawal Haiden.
Puluhan orang terlihat dari mobil-mobil mini bus berwarna silver itu, termasuk dari dalam mobil yang menabrak tiang listrik. Mereka semua terlihat memegang senjata tajam ditangan masing-masing.
Melihat puluhan orang bersenjata tajam sedang berjalan mendekati mereka, para pengawal Haiden kembali masuk kedalam mobil untuk mengambil senjata dari dalam mobil. Saat Haiden keluar dalam mobil, saat itu pula dia berteriak "Stop" untuk menghentikan langkah pengawalnya yang terlihat melangkah hendak menghadapi puluhan orang tersebut.
Mendengar teriakan tuan besarnya itu, delapan pengawal Haiden itupun langsung menghentikan langkah mereka. Puluhan orang bersenjata tajam itu juga menghentikan langkah mereka saat melihat pengawal Haiden menghentikan langkahnya.
Haiden berjalan meninggalkan mobilnya dan berhenti di depan para pengawalnya lalu berkata "Siapa kalian, dan apa tujuan kalian mengganggu perjalanan ku?".
Bukannya menjawab pertanyaan Haiden, salah seorang dari puluhan orang bersenjata tajam itu malah bertanya balik "Kau yang bernama Haiden?".
__ADS_1
"Iya aku Haiden. Sekarang kutanya sekali lagi, siapa kalian dan apa tujuan kalian mengganggu perjalanan ku?".
"Serang" Kata salah seorang dari puluhan orang bersenjata tajam itu kepada teman-temannya tanpa menjawab pertanyaan Haiden.
Pertarungan antar puluhan orang dengan sembilan orang pun terjadi. Suara senjata tajam yang saling beradu pun seketika terdengar nyaring di telinga.
Para pengawal Haiden masing-masing terpaksa harus menghadapi lebih dari satu orang saat bertarung. Orang-orang yang berhadapan dengan Haiden sangat terkejut menyaksikan senjata mereka seperti sedang beradu dengan besi ketika senjaya mereka beradu dengan tangan Haiden.
"Ting..!" Suara yang terdengar saat senjata-senjata puluhan orang tersebut bersentuhan dengan kedua tangan Haiden.
Gerakan-Gerakan Haiden yang sangat cepat mampu melumpuhkan puluhan orang dari tiga puluhan orang yang sedang dihadapi Haiden dengan delapan pengawalnya. Para pengawal Haiden pun juga mampu melumpuhkan beberapa orang dari tiga puluhan orang tersebut.
Meskipun masing-masing pengawal Haiden mampu melumpuhkan beberapa orang yang menyerang mereka, namun kedelapan orang pengawal Haiden juga terluka terkena senjata tajam dalam pertarungan sengit itu. Haiden tidak terluka sedikitpun, sementara puluhan orang tersebut semua nya kini terkapar di tanah.
Ada yang merintih kesakitan di tanah, dan ada pula yang tergeletak tak sadarkan diri. Beberapa orang ada yang tertikam oleh senjata tajam milik pengawal Haiden, mungkin sudah tidak bernyawa lagi.
Haiden terlihat mendekati salah seorang yang masih terlihat dalam keadaan sadar namun menahan sakit sembari menutupi luka di perutnya. Saat dekat, Haiden menyuruh orang itu untuk duduk.
Karena ucapannya tidak dituruti, seketika rambut orang tersebut dijambak oleh Haiden, memaksanya untuk duduk. Dalam posisi duduk sembari menutupi luka diperutnya dan merintih kesakitan orang tersebut berkata "Ampun ketua".
"Sekarang jawab siapa kalian dan apa tujuan kalian menyerang aku, atau ku patahkan batang lehermu kalau kau tidak mau menjawab" Kata Haiden setelah melepas tangannya dari rambut orang tersebut.
Mendengar ancaman Haiden, tersebut berkata "Ampun ketua. Jangan bunuh saya" tetap tertunduk tanpa berani menatap wajah Haiden.
"Aku tidak perlu permintaan ampun kau. Kalau kau tidak menjawab juga, sekarang juga ku patahkan batang leher kau" Kata Haiden menanggapi ucapan orang yang ada dihadapannya, sembari mencekik lehernya
__ADS_1