SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
PEMBALASAN UNTUK MARWAN 2


__ADS_3

Saat masuk kedalam mobil, Bimo baru menyadari bahwa Handphone nya tertinggal di dalam mobil. Melihat banyak panggilan tak terjawab dari Haiden, Bimo langsung menghubungi Haiden balik.


Sambil mencoba untuk menghubungi Haiden, Bimo menepuk bahu rekannya yang menyetir, dan berkata "Langsung jalan, ikuti mobil A Cun. Cepat..!"


Beberapa meter setelah mobil yang ditumpangi Bimo keluar dari area Diskotik X-Fire Handphone Bimo tersambung dengan Handphone Haiden.


"Hallo Bim. Kenapa ga kamu angkat-angkat telepon saya?" Kata Haiden yang masih berada di tuang tunggu rumah sakit bersama Aryo, Fani, Mardan, Suherman dan kedua orang tua Marwan yang baru saja tiba disana.


"Maaf tuan muda, Handphone saya tertinggal di mobil tadi saat saya ke dalam Diskotik. Ini sekarang kami sedang mengikuti A Cun di luar Diskotik" Kata Bimo menjelaskan.


"Ada keributan tadi di dalam Diskotik?" Tanya Haiden kepada Bimo.


"Tidak ada tuan muda. Kami dibantu manager Diskotik untuk memancing A Cun keluar dari dalam Diskotik. Tuan muda tenang saja, A Cun pasti kami bawa ke perumahan secepatnya tuan muda" Jawab Bimo.


"Bagus. Bawa dia dalam keadaan hidup" Kata Haidin.


"Siap tuan muda" Balas Bimo sebelum menutup Handphone nya.


Di perjalanan menuju Hotel Admadja Residance tiba-tiba A Cun di pepet oleh mobil mini bus berwarna hitam yang memaksanya untuk menepi. A Cun tidak menyadari bahwa sejak dia keluar dari area Diskotik X-Fire dia sudah di ikuti oleh lima mobil minibus yang membawa puluhan pria bertubuh kekar.


Wajah A Cun terlihat pucat ketika melihat puluhan orang keluar dari kelima mobil mini bus itu. A Cun berpikir dia akan di begal atau di rampok.


"Siapa mereka bang?" Tanya Nela kepada A Cun, berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"A.. a.. aku juga tidak tahu" Jawab A Cun terbata-bata sembari tetep melihat puluhan pria kekar itu mendekati mobilnya.


Salah seorang pria kekar mengetuk jendela mobil A Cun sembari berkata "Keluar kau A Cun".

__ADS_1


A Cun tidak berani menjawab apa-apa, juga tidak berani keluar. Nela juga terlihat sangat ketakutan, padahal dia hanya berpura-pura ketakutan.


Salah seorang pria kekar yang mengetuk jendela mobil A Cun itu kembali berkata "Kalau kau tidak mu keluar sekarang maka mobilmu akan kami bakar sekarang".


Mendengar ancaman dari pria kekar itu, perlahan A Cun membuka pintu mobilnya lalu keluar dari dalam mobilnya. Baru saja Acun berdiri dengan sempurna tiba-tiba sebuah tinju yang cukup keras mendarat ke wajah nya.


Setelah merasa sempoyongan akhirnya A Cun jatuh dan tergeletak di tanah. Ternyata Bimo yang telah melayangkan tinju ke wajah A Cun.


Melihat A Cun tergeletak tak sadarkan diri di tanah, Bimo memerintahkan rekan-rekannya untuk memasukkan A Acun kembali kedalam mobilnya. Salah seorang rekannya di perintahkan Bimo untuk membawa A Cun beserta mobilnya ke perumahan khusus pengawal Haiden dan Kakeknya.


Empat mobil pengawal Haiden dan mobil A Cun bergegas pergi ke perumahan khusus pengawal Haiden dan Kakeknya membawa A Cun. Satu mobil pengawal di pakai Bimo, rencananya untuk mengantar Nela kembali ke Diskotik.


Tapi saat Nela dan Bimo sudah berada di dalam mobil, sebelum mobil melaju Nela berkata "Antar kan Nela ke Kos Nela bisa bang?".


"Kamu ga balik ke Diskotik lagi?" Tanya Bimo kepada Nela.


"Oh iya nya. Ya sudah, biar aku antar kamu kalau gitu. Di mana Kos mu?" Tanya Bimo lagi.


"Di Setia Budi bang" Jawab Nela.


"Oke" Balas Bimo sebelum melajukan mobilnya.


Tiba di Kos Nela, Bimo memberikan uang dua juta kepada Nelayan sebagai tanda terima kasih Bimo kepada Nela, karena telah bersedia membantu.


Bela sangat senang menerima uang dari Bimo, sampai-sampai dia mencium pipi Bimo. Bimo terkejut namun merasa senang.


Diam-diam Bimo tertarik pada Nela sejak awal bertemu tadi di ruang management Diskotik X-Fire. Saat Bimo hendak pergi meninggalkannya, Nela memanggilnya "Bang Bimo..!".

__ADS_1


Bimo berbalik badan lalu berkata "Ya".


"Boleh minta nomor WA abang ga?" Tanya Nela kepada Bimo.


Bimo tersenyum lalu menjawab "Boleh. Catatlah".


Melani langsung mencatat nomor WA yang di ucapkan Bimo di daftar kontak dalam Handphone nya. Setelah menyimpannya di daftar kontak dalam Handphone nya Nela mengucapkan terima kasih.


Setelah itu Bimo langsung meninggal kan kos Nela menuju perumahan khusus pengawal Haiden dan Kakeknya. Sebelum tiba di perumahan khusus pengawal, Bimo sudah menghubungi Haiden untuk memberi laporan bahwa A Cun sudah berada di perumahan khusus pengawal.


Mendengar berita A Cun sudah berada di perumahan khusus pengawal dari Bimo barusan, Haiden langsung mengajak Aryo bergegas ke perumahan khusus pengawal. Mardan dan Suherman ingin ikut serta ke perumahan khusus pengawal tapi di cegah oleh Haiden.


"Kalian berdua tetap di sini. Tungguin Marwan, dan kalau ada apa-apa segera hubungi aku" Kata Haiden kepada Marwan dan Suherman.


Sebelum bergegas meninggalkan rumah sakit, Haiden dan Aryo pamit kepada kedua orang tua Marwan dan juga kepada Fani. Haiden dan Aryo tampak berjalan terburu-buru sejak keluar dari ruang tunggu rumah sakit hingga ke mobil Haiden.


Mobil Haiden tampak melaju perlahan keluar dari area rumah sakit Amir Hamzah. Begitu melihat mobil Haiden keluar dari area rumah sakit, salah satu mobil pengawal Haiden langsung melaju dengan cepat untuk mendahului mobil Haiden untuk mengawal di depan, dan satu mobil pengawal lagi tetap mengawal di belakang mobil Haiden.


Sejak awal keluar dari rumah sakit Haiden membawa mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, sehingga pengawal yang membawa mobil di depan mobil Haiden memahami bahwa tuan muda mereka sedang terburu-buru. Pengawal yang membawa mobil di depan mobil Haiden pun mengemudi kan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi juga.


Tiba di perumahan khusus pengawal, Haiden langsung ke Aula yang berada di perumahan khusus pengawal itu. Di dalam Aula terlihat A Cun yang sedang terduduk di kursi tanpa meja.


Wajahnya tertunduk, kakinya di ikat, dan tangannya juga di ikat di belakang tubuhnya. Seperti nya A Cun dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Haiden yang sudah berdiri di hadapan A Cun bersama Aryo, memerintahkan salah seorang pengawal mengambil seember air. Dengan sigap pengawal itu bergerak ke kamar mandi yang berada di dalam Aula itu untuk mengambil seember air.


Saat pengawal itu tiba membawa seember air, Haiden menyuruh pengawal tersebut untuk mengguyur A Cun dengan seluruh air yang ada di dalam ember itu. Dengan sekali tuang, seluruh air yang berada dalam ember itu membasahi sekujur tubuh A Cun.

__ADS_1


Seketika A Cun tersadar dari pingsan nya, lalu mendongakkan wajahnya menatap Haiden dengan Aryo. Hidung A Cun masih mengeluarkan darah akibat pukulan Bimo saat dia di cegat Bimo bersama puluhan pengawal Haiden di tengan perjalanan A Cun menuju Hotel Admadja Residance.


__ADS_2