SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
LEDAKAN MAUT 3


__ADS_3

Mendengar papi dan mami nya positif meninggal dunia akibat ledakan Bom waktu tersebut Melani langsung jatuh pingsan di mobilnya. Haiden meminta Irjen Aryo membawa pulang Melani dan anak-anaknya, sedangkan dia akan ke rumah sakit Amir Hamzah bersama Mardan.


Wanti ikut ke rumah Haiden untuk menemani Melani yang masih tidak sadarkan diri saat Irjen Aryo bersama Wanda membawa pulang Melani dan anak-anak mereka. Dua mobil pengawal yang di panggil Haiden sebelumnya, mengawal mobil yang dibawa Irjen Aryo dari lokasi kejadian hingga ke rumah Haiden dan Melani.


Saat mobil ambulance yang membawa jenazah papi dan mami Melani bergerak menuju rumah sakit Amir Hamzah, Haiden bersama Mardan mengikuti mobil ambulance tersebut, di kawal dua mobil pengawalnya.


Di dalam mobil, Wanti terlihat sangat iba melihat Melani yang masih tidak sadarkan diri. Dia juga merasa sangat sedih atas meninggalnya papi dan mami Melani dengan kondisi yang cukup tragis.


Pagi harinya Jenazah papi dan mami Melani sudah tiba di rumah Haiden dan Melani. Hingga tiba waktunya jenazah papi dan mami Melani, rumah Haiden terlihat ramai oleh orang-orang yang datang melayat.


Ratusan papan bunga ucapan turut berduka terpampang di sekitaran rumah Haiden dari orang-orang yang mengenal Haiden, juga yang mengenal papi dan mami Melani. papan bunga ucapan turut berduka dari Walikota Medan, Gubernur Sumatera Utara dan Presiden RI juga terpampang lebar di depan rumah Haiden.


Presiden Purwanto ingin berangkat ke Medan, namun di cegah oleh Haiden. Haiden menduga yang telah membunuh papi dan mami Melani adalah Oligarki.


Haiden tidak mau Presiden Purwanto menjadi korban selanjutnya saat di perjalanan dari ibu kota Negara ke Medan. Bom yang di gunakan untuk membunuh mertua Haiden bisa saja digunakan juga untuk membunuh Presiden Purwanto.


Bom tersebut bisa diletakkan di Mobil ataupun didalam pesawat yang akan di tumpangi Presiden Purwanto nantinya. Alasan Haiden mencegah Presiden Purwanto ke Medan untuk melayat cukup masuk akal, bukan karena paranoid.


Itu sebabnya Presiden Purwanto rela membatalkan niatnya untuk melayat mertua Haiden di Medan. Tapi Presiden meminta Kapolri Sulistyo berangkat ke Medan untuk mewakili dirinya.


"Tanpa bapak minta pun saya pasti ke Medan pak Presiden. Sebab yang meninggal itu besan saya juga" Kata Kapolri Sulistyo diruang kerja Presiden.


Presiden Purwanto tersenyum sebelum membalas "Oh iya, kamu kan Om nya Haiden ya. Lupa saya".

__ADS_1


Pagi itu juga Kapolri Sulistyo berangkat dari ibu kota Negara ke Medan untuk melayat. Sebelum waktunya jenazah di semayamkan, Kapolri Sulistyo sudah tiba di rumah Haiden.


Cukup ramai orang yang ikut mengantar jenazah papi dan mami Melani ke TPU. Walikota Medan dan Gubernur A Cin juga terlihat ikut mengantar dengan mobil dinasnya masing-masing.


Melani terlihat masih sedih dalam pelukan Haiden sepanjang jalan didalam mobil mereka. Demikian pula dengan wanda yang terlihat masih bersedih dalam pelukan Irjen Aryo.


Kedua orang tua Wanda masih dalam perjalanan ke Medan. Jadi mereka tidak sempat ikut mengantar Jenazah papi dan mami Melani.


Suherman, Rina, Marwan, Fani, turut mengantar Jenazah, menumpangi mobil Mardan dan Wanti. Mobil Suherman dan Marwan di tinggal di depan rumah Haiden yang penuh dengan kendaraan parkir dan papan bunga.


"Seperti senasib saja ya orang tua Melani dengan orang tua Haiden" Kata Marwan yang duduk di belakang Mardan bersama Fani.


"Maksudmu bro?" Tanya Mardan sembari tetap fokus menyetir mobilnya.


"Dulu ayah dan ibu Haiden meninggal karena kecelakaan maut, di tabrak truk. Sekarang papi dan mami melani meninggal karena ledakan Bom maut" Jawab Marwan.


"Maksudku senasib itu, papi dan mami melani itu sehidup semati sama seperti ayah dan ibu Haiden bro" Kata Marwan menjelaskan maksudnya.


"Kalau sama-sama sehidup semati, aku sepakat" Kata Wanti yang duduk di jok depan, di sebelah Mardan yang terlihat tetap fokus menyetir mobilnya.


Di lain mobil lain terlihat sedang berbicara dengan polisi yang bertugas untuk menyelidiki kasus pengeboman di rumah papi dan mami Melani.


"Jadi belum ditemukan asisten rumah tangga almarhum dan almarhumah yang katanya keluar rumah beberapa menit sebelum kejadian itu?" Tanya Kapolri Sulistyo kepada Polisi tersebut.

__ADS_1


"Belum Jendral. Petugas sudah mencari di kampung asal asisten rumah tangga tersebut, tapi kata keluarganya dan penduduk di sana asisten rumah tangga tersebut sudah lebih dari setahun tidak pernah pulang kampung Jenderal" Jawab polisi tersebut.


Kapolri Sulistyo mengangguk anggukkan kepalanya sebelum berkata "Memang agak sulit mencari jejaknya diluar kampung halamannya. Sebab asisten rumah tangga lainnya semua tewas".


"Sesama asisten rumah tangga tentu lebih banyak saling mengetahui kehidupan pribadi temannya di bandingkan penjaga keamanan di rumah almarhum dan almarhumah" Lanjut kata Kapolri Sulistyo kepada polisi tersebut.


"Benar Jenderal. Harapan kita ada korban hidup yang mengetahui nomor Handphone asisten rumah tangga itu, agar bisa kita lacak melalui nomor Handphone Jenderal".


"Satpam yang hidup itu tidak tahu?" Tanya Kapolri Sulistyo setelah mendengar ucapan polisi tersebut.


"Kita belum sempat bertanya banyak kepada Satpam itu Jenderal. Usai memberitahukan bahwa ada asisten rumah tangga almarhum dan almarhumah yang keluar rumah sebelum kejadian itu terjadi, dan memberitahukan nama serta dimana keluarganya, Satpam tersebut kembali tak sadarkan diri" Jawab polisi yang bertugas memimpin pengusutan kasus pemboman itu.


"Pengawal Haiden yang hidup, belum ada yang siuman?" Tanya Kapolri Sulistyo lagi.


"Belum Jenderal. Semua pengawal ketua Haiden yang hidup masih dalam keadaan koma" Kata polisi tersebut menjawab pertanyaan Kapolri Sulistyo.


"Foto asisten rumah tangga itu ada?" Tanya Kapolri Sulistyo kepada polisi tersebut.


"Ada Jenderal. Anggota kita sempat meminta foto asisten rumah tangga itu dari keluarga nya. Kita sudah sebarkan sebagian DPO" Jawab polisi tersebut.


"Bagus" Kata Kapolri Sulistyo menanggapi ucapan polisi tersebut sebelum keluar dari mobilnya karena sudah tiba di tempat pemakaman umum.


Tangis Melani dan Wanda pecah saat Jenazah papi dan mami Melani di masukkan kedalam liang lahat. Haiden dan Aryo juga terlihat meneteskan air mata sembari memeluk istri mereka masing-masing.

__ADS_1


Semua mata yang ikut mengantar jenazah papi dan mami Melani ke tempat pemakaman umum itu menatap harus melihat Melani yang masih menangis saat tanah mulai menutupi Jenazah kedua orang tuanya yang di semayamkan secara bersama dan berdampingan.


"Haiden janji akan mencari dan menghukum pembunuh papi dan mami" Kata Haiden dalam hatinya sembari menatap tumpukan tanah yang sudah menutupi Jenazah kedua mertuanya itu.


__ADS_2