
Gubernur A Cin tampak tersenyum kecut mendengar ucapan Mardan. A Cun juga terlihat gusar, karena dia bingung harus berpihak kepada siapa.
Di satu sisi A Cin adalah abang kandungnya dan di sisi lain Mardan adalah ketuanya di Partai Panca Karya sekaligus rekan bisnisnya dibawah naungan Haiden. A Cun hanya bisa diam menunggu apa tanggapan abangnya terhadap ucapan Mardan tadi.
"Tenang dulu ketua. Kan bisa kita bicarakan baik-baik" Kata Gubernur A Cin kepada Mardan.
"Apa lagi yang harus kita bicarakan pak gub. Saya tegaskan sekali lagi, saya menolak untuk berpasangan dengan anda di Pilgub yang akan datang kalau kita bekerja demi kepentingan Partai, bukan demi kepentingan bangsa dan Negara" Kata Mardan menanggapi ucapan Gubernur A Cin.
Gubernur A Cin tersenyum sebelum berkata "Begini ketua. Kalau kita tidak menerima Bargaining, maka tidak akan ada yang mau mengusung kita nanti ketua".
"Kita bisa ambil jalur independen bila tidak ada Partai yang mengusung kita. Harusnya Partai pengusung itu mendukung apa yang akan kita kerjakan demi kepentingan bangsa dan negara, bukan mengatur kita harus berbuat apa nantinya" Kata Mardan membalas ucapan Gubernur A Cin.
"Jalur Independen berat untuk menang ketua" Kata Gubernur A Cin menanggapi ucapan Mardan barusan.
Mardan tersenyum sebelum kembali membalas ucapan Gubernur A Cin "Sayangnya Partai Panca Karya belum terdaftar sebagai peserta Pemilu. Kalau sudah terdaftar saya yakin Partai Panca Karya akan menjadi Partai pemenang"
"Dengan jalur Independen kita tetap bisa menang dengan dukungan Partai Panca Karya saat ini. Anda bisa lihat sendiri, saat ini elektabilitas Partai Panca Karya melebihi Partai-Partai besar" Kata Mardan lagi dengan apa adanya kepada Gubernur A Cin.
Gubernur A Cin terlihat terdiam seakan sedang memikirkan sesuatu setelah mendengar ucapan Mardan. Dalam hatinya Gubernur A Cin berkata "Keras kepala juga ini anak".
"Baiklah, kalau ketua bersikeras saya akan pikir kan dulu lagi" Kata Gubernur A Cin kepada Mardan.
"Oke. Kalau begitu saya pamit pak Gub. Saya mau bawa jalan-jalan anak istri saya dulu, sebab besok pagi saya harus berangkat dengan Haiden ke istana Negara bertemu Presiden" Kata Mardan kepada Gubernur A Cin.
__ADS_1
"Wah, ada agenda apa ketua Mardan dan ketua Haiden bertemu Presiden ketua?" Tanya A Cun setelah mendengar ucapan Mardan kepada abangnya Gubernur A Cin.
"Aku juga belum tahu untuk hal apa Presiden ingin ketemu dengan Haiden. Aku di ajak Haiden untuk diperkenalkan dengan Haiden" Kata Mardan menjawab pertanyaan A Cun.
"Dekat kali ketua Haiden dengan Presiden kayanya ya ketua" Tanya Gubernur A Cin kepada Mardan.
Mardan dan tersenyum lalu menjawab "Ya Haiden semakin hari semakin dekat dengan Presiden sejak perkenalan mereka saat Haiden dan Irjen Aryo sukses membongkar sindikat perdagangan narkoba".
"Presiden kita saat ini juga tidak mau bekerja demi kepentingan Partai saya lihat, makanya beliau sering di serang Politisi dari berbagai Partai, mirip Presiden kita yang keempat" Kata A Cun usai mendengar ucapan Mardan.
"Gus Dur maksud Gub A Cin?" Tanya Mardan kepada Gubernur A Cin.
"Iya. Menurut sejarah yang saya pelajari dan saya pahami, Gus Dur itu tidak bisa di atur oleh partai-partai yang tergabung dalam Oligarki. Itu sebabnya dia dilengserkan dengan fitnah yang dibuat oleh Oligarki" Kata Gubernur A Cin menjawab pertanyaan Mardan.
"Berarti mungkin Presiden meminta bantuan ketua Haiden untuk mengawal beliau di dunia Politik. Melihat Partai Panca Karya semakin besar atas kepemimpinan ketua Haiden" Kata A Cun di sela pembicaraan antara Mardan dengan abangnya.
"Saya malah curiga, kelak ketua Haiden dilamar jadi calon wakil Presiden oleh Presiden Purwanto" Kata A Cin kepada Marah yang ada dihadapannya.
Mardan diam sejenak untuk berpikir sebelum berkata "Peluang itu bisa saja terjadi. Tapi masalahnya, Kalau memang selama ini Presiden Purwanto tidak menjalin hubungan baik dengan Partai pengusung nya, maka besar kemungkinan beliau tidak bisa lagi mencalonkan karena tidak ada partai yang mengusungnya".
"Meski saat ini nama Partai Panca Karya sangat besar, tapi Partai Panca Karya belum terdaftar menjadi Partai yang boleh mengusung calon Presiden dan Wakil Presiden secara resmi di KPU" Kata Mardan lagi.
"Nah itu kendalanya. Kalau mencalonkan diri sebagai Bupati, Walikota dan Gubernur bisa lewat jalur Independen. Calon Presiden tidak bisa ketua" Kata Gubernur A Cin kepada Mardan.
__ADS_1
"Bukan tidak bisa bang. Tapi belum bisa" Kata A Cun kepada Gubernur A Cin.
"Betul. Bukan tidak bisa, tapi belum bisa. Karena peraturan nya bisa di rubah" Kata Mardan menanggapi ucapan A Cun.
"Iya ketua. Presiden Purwanto harus merubah syarat pencalonan diri seseorang menjadi Presiden kalau dia ingin mencalonkan diri lagi di Periode keduanya." Kata A Cun.
"Ya mudah-mudahan nanti aku punya kesempatan untuk menyampaikan apa yang kita bahas barusan. Kita harus mempertahankan Presiden Purwanto agar Negara kita tidak kembali di jajah Oligarki. Aku pikir Haiden layak menjadi Regenerasi Presiden berikut nya setelah Presiden Purwanto nantinya" Kata Mardan dengan serius.
"Sepakat saya dengan apa yang ketua Mardan katakan tadi. Dan ketua Mardan layak menjadi regenerasi Gubernur Sumatera Utara setelah saya" Kata Gubernur A Cin sebelum tertawa.
Mardan dan A Cun juga turut tertawa usai mendengarkan ucapan Gubernur A Cin. Setelah itu Mardan pamit meninggalkan Gubernur A Cin dengan A Cun di resto itu.
Mardan langsung pulang ke rumah untuk mengajak anak dan istri nya jalan sebelum berangkat besok pagi ke istana Negara dengan Haiden. Ternyata Haiden juga melakukan hal yang sama.
Haiden mengajak Melani dan kedua anak kembarnya jalan-jalan ke salah satu Mall di kota Medan. Di Mall tersebut tanpa rencana Haiden bertemu dengan Arif dan istrinya.
Arif sudah dua tahun menikah, tapi belum dikaruniai seorang anak satu pun. Meski demikian Arif dan istrinya tetap menjalani bahtera rumah tangga dengan bahagia.
Haiden mengajak Arif dan istrinya untuk makan bersama dengan keluarga kecilnya di salah satu resto dalam Mall tersebut. Dengan senang hati Arif menuruti ajakan teman lamanya, sekaligus Boss besarnya di dunia bisnis itu.
"Sudah dua tahun kalian menikah belum punya anak. Maaf ni bro, kalian sudah periksa ke dokter?" Tanya Haiden kepada Arif dan istrinya Della yang di duduk di Hadapannya dan Melani.
"Belum bro. Biar ajalah, namanya belum dikasih rezeki sama Tuhan" Jawab Arif dengan santai.
__ADS_1
Haiden tertawa kecil sebelum membalas "Kau jangan bawa-bawa Tuhan, seolah-olah Tuhan yang mencegah kalian memiliki anak".
"Ku kasih tahu kau ya bro. Tuhan itu ga ikut campur dengan kehidupan kau. Kau jadi apa, kau punya apa, kau kenapa-kenapa, itu hasil dari apa yang kau lakukan" Kata Haiden lagi kepada Arif.