SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
PENTINGNYA BERAKAL


__ADS_3

"Bukankah akal itu sama dengan pikiran bang?" Tanya Ridho kepada Haiden.


"Bukan. Akal itu lebih dari pikiran" Jawab Haiden.


"Lantas apa itu akal, dan dimana akal itu bang?" Tanya Irma kepada Haiden.


Mendengar pertanyaan Irma, Haiden tersenyum lalu menjawab "Akal adalah sinergi atau kolaborasi antara kerja otak dengan kerja hati di dalam jiwa manusia saat berpikir".


"Berarti akal itu ada bila kita ciptakan melalui proses penyatuan antara kerja otak dengan kerja hati di dalam jiwa kita. Begitu bang?" Tanya Tonny kepada Haiden.


Haiden tersenyum lalu menjawab "Tepat".


"Umumnya Hewan juga mampu berpikir dengan otaknya, dan memiliki perasaan didalam hatinya sama seperti Manusia. Betul tidak?" Kata Haiden sembari bertanya pada kelima juniornya itu.


"Betul bang" Jawab kelima junior Haiden itu secara serentak.


"Kalau begitu, apakah Hewan bisa berakal?" Tanya Haiden lagi kepada kelima juniornya itu.


Ridho, Tonny, Irma, Elman dan Siti terdiam tak mampu menjawab pertanyaan Haiden. Sedangkan Haiden terlihat sedang menanti jawaban junior-junior nya itu.


Setelah beberapa menit menanti, Haiden berkata "Meskipun sama-sama memiliki otak dan hati, tapi sampai kapanpun Hewan tidak akan pernah bisa memiliki akal didalam jiwanya".


"Kenapa bisa begitu bang?" Tanya Siti.


Haiden tersenyum lalu menjawab "Karena Hewan tidak diberi kemampuan untuk berakal oleh sang maha pencipta".


"Hewan tidak diberi kemampuan mensinergikan antara kerja otak dengan kerja hatinya saat berpikir untuk menciptakan akal didalam jiwanya. Itu sebabnya Hewan tidak mampu membedakan antara benar dan salah dengan benar".

__ADS_1


"Loh, bukankah Hewan yang dilatih oleh manusia mampu mengerjakan perintah pelatihnya dengan benar bang?" Tanya Elman setelah mendengar ucapan Haiden.


Mendengar pertanyaan Elman barusan, Haiden tersenyum sebelum menjawab "Hewan hanya mampu mengerjakan tugasnya dengan benar. Tapi Hewan tidak mempu memahami apakah yang dilakukannya itu adalah perbuatan yang benar".


"Seekor Hewan yang dipelihara dan dilatih oleh tuannya, seperti kalian memelihara anjing misalnya. Anjing kalian itu akan melakukan semua perintah kalian tanpa berpikir itu perbuatan salah atau benar. Mencuri pun akan dia lakukan dengan benar sesuai perintah kalian. Paham maksudnya?" Kata Haiden lagi sembari bertanya kepada junior-juniornya yang masih ada di hadapan Haiden saat ini.


"Paham saya saya bang. Ketik Manusia diperintahkan orang lain, Manusia itu mampu berpikir sebelum menuruti perintah tersebut, apakah perintahnya itu perbuatan yang salah atau benar. Sedangkan Hewan tidak mampu karena Hewan tidak memiliki kemampuan untuk berakal. Gitu kan bang?" Kata Tonny menjelaskan apa yang dipahami dari apa yang dijelaskan Haiden kepadanya dan kepada temannya sebelum bertanya kepada Haiden.


"Cerdas" Balas Haiden sembari mengacungkan kedua ibu jarinya kehadapan Tonny.


"Itu sebabnya, Manusia yang tidak mampu menciptakan akal di dalam jiwanya, dia akan memiliki jiwa seperti Hewan. Dia akan melakukan apapun perintah orang yang dianggapnya lebih dari dirinya tanpa berpikir benar dan salah dengan benar terlebih dahulu" Kata Haiden lagi kepada junior-junior nya.


"Kami benar-benar beruntung bisa bertemu abang. Bukan hanya pengetahuan kami saja yang bertambah bang. Kesadaran kamu pun terbuka" Kata Ridho setelah mendengar penjelasan Haiden.


Haiden tersenyum sebelum membalas "Sudah selayaknya abang berbagi ilmu dengan kalian. Selain kalian adalah junior-junior abang, kalian adalah generasi bangsa Indonesia".


"Ingat, untuk menjadi bangsa yang cerdas kalian harus mampu berpikir dengan akal kalian sebelum melakukan apapun. Nanti abang kasi kalian buku filsafat, agar kalian mampu mengkaji segala hal sebelum menilai sesuatu" Kata Haiden lagi.


"Ini terakhir pesan abang kepada kepada kalian. Bukan mau mengusir ya, abang harus keluar, ada urusan lagi" Kata Haiden.


"Siap bang" Balas Ridho.


Haiden tersenyum lalu berkata "Sejatinya penujuk jalan hidup kita selama hidup di dunia itu adalah akal kita. Sejatinya pemimpin masing-masing diri kita adalah Jiwa kita sendiri".


"Ketika kita tidak mampu menciptakan akal didalam jiwa kita, kita tidak akan mampu memimpin diri kita dengan benar. Maka kita tidak akan mampu mempu memimpin orang lain".


"Maksudnya bang?" Tanya Irma setelah mendengar ucapan Haiden.

__ADS_1


Haiden kembali tersenyum sebelum menjawab "Orang yang tidak berakal tidak akan mampu memimpin dirinya sendiri untuk melakukan hal-hal benar. Memimpin dirinya sendiri saja tidak mampu, apa lagi memimpin banyak orang".


"Ridho tidak akan mampu menjadi suami dan ayah yang benar kalau dia tidak mampu menciptakan akal di dalam jiwanya. Kamu juga tidak mampu menjadi seorang pemimpin disebuah perusahaan dengan benar, kalau kamu tidak mampu berakal" Kata Haiden lagi kepada Irma.


"Paham?" Tanya Haiden kepada junior-junior nya yang masih ada dihadapannya saat ini.


"Paham bang" Jawab Ridho, Elman, Tonny, Irma, dan Siti bersamaan.


"Oke, sebelum kita bubar kirim nomor rekening Bank kalian ke WA abang sekarang" Kata Haiden kepada junior-junior nya.


"Untuk apa bang?" Tanya Tonny spontan saat mendengar permintaan Haiden.


Haiden tersenyum sebelum menjawab "Kirim saja, ga usah banyak tanya".


"Kalian bertiga kalau belum ada nomor WA saya, minta pada Ridho dan Tonny" Kata Haiden kepada Irma, Elman dan Siti.


Sebelum mengirim nomor rekening Banknya, Ridho memberikan nomor WA Haiden kepada Elman. Tonny memberikan nomor WA Haiden kepada Irma dan Siti.


Setelah diberi nomor rekening Bank dari junior-junior nya itu, Haiden langsung mentransfer uang sepuluh juta rupiah ke rekening Bank Tonny, Elman, Ridho, Irma dan Siti. Kemudian mengirim bukti transfer ke WA mereka masing-masing.


"Terima kasih banyak ya bang" Kata Ridho mengucapkan rasa terima kasih nya kepada Haiden, setelah melihat bukti transfer ke rekening Banknya.


Tonny, Elman, Irma dan Siti juga melakukan hal yang sama, mengucapkan terima kasih kepada Haiden dengan perasaan gembira. Mereka tidak menyangka akan mendapat rezeki nomplok dari Haiden.


Bagi Haiden uang segitu tidak ada artinya, tapi bagi kelima juniornya itu, uang sepuluh juta sangatlah banyak. Namanya juga masih mahasiswa.


"Hari ini benar-benar hari keberuntungan kami bisa bertemu dengan abang. Mendapat harapan untuk meneruskan proyek kami, mendapatkan banyak ilmu, dan sekarang kami mendapatkan uang banyak pula lagi dari abang" Kata Elman kepada Haiden.

__ADS_1


Haiden kembali tersenyum sebelum membalas "Ini pelajaran juga buat kalian. Dan harus kalian ingat bahwa berbagi hal-hal yang bermanfaat itu sangat penting".


"Ingatlah, apa yang kalian tanam itu yang akan kalian tuai kelak. Kalau kalian suka menanam yang bermanfaat positif maka kelak kalian akan menuai hal-hal yang bermanfaat positif buat kalian. Demikian pula sebaliknya, kalau kalian suka menanam yang bermanfaat negatif, maka itu pula yang akan kalian tuai kelak" Kata Haiden lagi sebagai penutup obrolannya dengan junior-junior nya.


__ADS_2