SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
SEBAIK BAIKNYA PARTAI ADALAH YANG BERMANFAAT BAGI SELURUH RAKYAT


__ADS_3

"Tidak. Pelajar dan Mahasiswa tidak boleh terlibat dalam Politik Praktis" Kata Haiden menjawab pertanyaan Monang.


"Tapi seluruh Partai saat ini membentuk Satuan Pelajar dan Mahasiswa ketua. Dan membentuk Satuan Pelajar dan Mahasiswa itu sangat menguntungkan kepentingan Partai ketua" Kata Monang menanggapi jawaban Haiden.


Mendengar ucapan Monang, Haiden tersenyum sebelum membalas "Itu yang merusak generasi bangsa Indonesia. Mahasiswa tidak lagi berfungsi sebagai Agent Of Change".


"Kalau saya terpilih menjadi Wakil Presiden nanti, maka saya dan Presiden akan membuat undang-undang larangan Organisasi di luar Organisasi kemahasiswaan di kampus untuk memanfaatkan Mahasiswa dalam Organisasi Politik Praktis. Baik itu Organisasi Masyarakat ataupun Partai Politik" Lanjut kata Haiden.


Mendengar penjelasan Haiden barusan, Monang merasa terharu dan berkata "Beruntung Panca Karya bisa jatuh ke tangan ketua Haiden dari tangan Johan. Saya juga beruntung bisa terus bisa ikut dengan ketua Haiden".


Mendengar ucapan Monang kepadanya, Haiden tersenyum lalu berkata "Sebaik-baiknya Manusia adalah orang yang bermanfaat dalam hal-hal positif bagi banyak orang. Saya bukan diri saya lagi. Saya dan kalian saat ini menjadi kita dalam Panca Karya".


"Panca Karya harus bisa bermanfaat bagi seluruh bangsa Indonesia. Panca Karya ada demi kepentingan bangsa dan Negara Indonesia" Lanjut kata Haiden kepada Triman, Junaidi dan Monang.


"Siap ketua" Kata Triman, Junaidi dan Monang menanggapi ucapan Haiden nyaris bersamaan.


Di sela pembicaraan Haiden dengan Triman, Junaidi dan Monang, Handphone Haiden berdering tanda panggilan masuk dari Mardan. Haiden langsung mengangkat Handphone yang terletak diatas meja lalu berkata "Hallo bro" saat terhubung dengan Mardan.


"Iya Hallo bro. Di mana posisi?" Tanya Mardan terdengar di Handphone Haiden.


"Masih di kantor Admadja Grup bro. Apa cerita?" Jawab Haiden sembari bertanya balik pada Mardan melalui Handphone nya.


"Bisa ketemu entar malam bro?" Tanya Mardan kepada Haiden.


"Boleh bro. Sekalian aja kita ketemuan dengan mertuaku dan Arif entar malam ya" Jawab Haiden.


"Di mana dan jam berapa bro?" Tanya Mardan lagi menanggapi jawaban Haiden.


"Di Hotel Admaja Residance, jam delapan bro" Jawab Haiden.

__ADS_1


"Oke siap bro" Balas Mardan, terdengar di Handphone Haiden sebelum menutup pembicaraan.


Usai memberi perintah kepada Triman, Junaidi dan Monang untuk membentuk Organisasi kepemudaan sebagai sayap Partai Panca Karya, Haiden langsung bergegas ke Hotel Admadja Residance. Sebelum berangkat dari kantor Admadja Grup ke Hotel Admadja Residance, Haiden memerintahkan dua orang pengawalnya untuk mengantar Triman, Junaidi dan Monang ke Bandara Kualanamu.


Seperti biasa saat mobil Haiden baru saja terlihat keluar dari area kantor Admadja Grup, satu mobil pengawalnya langsung melaju mendahului mobil Haiden untuk mengawal di depan, dan satu pengawal melaju di belakang mobil Haiden.


Di perjalanan Haiden teringat untuk menghubungi A Cun. Beberapa hari yang lalu Haiden meminta A Cun untuk mencari perusahaan mobil yang bisa membuatkannya mobil anti peluru lengkap dengan persenjataannya.


Rencananya satu unit mobil tersebut akan digunakannya untuk sehari, dan satu unit lagi digunakan untuk Melani dan anak-anaknya bila keluar rumah tanpa dirinya. Keselamatan istri dan anak-anaknya sangat penting buat Haiden, sehingga dia tidak perduli dengan biaya yang akan di keluarkan nya untuk membuat mobil anti peluru lengkap dengan persenjataannya itu.


Setelah menerima permintaan Haiden untuk mencari perusahaan yang bisa membuatkan mobil anti peluru lengkap dengan persenjataannya, A Cun langsung berangkat ke Jepang. Sudah dua hari A Cun berada di Jepang, namun Haiden belum menerima kabar dari A Cun.


"Hallo Cun" Kata Haiden saat terhubung dengan Acun.


"Iya Hallo ketua" Balas A Cun, terdengar di Handphone Haiden.


'Ada dua perusahaan yang menyanggupi ketua. Tapi saya mau memastikan dulu kualitas mobil-mobil yang sudah mereka buat. Saya ga mau asal-asalan buat ketua" Jawab A Cun yang kebetulan sedang berada di salah satu perusahaan pembuat mobil di Jepang.


Haiden tersenyum karena merasa senang mendengar jawaban A Cun lalu berkata "Oh begitu. Oke, tapi tolong jangan terlalu lama ya Cun".


"Siap ketua" Balas Acun sebelum menutup pembicaraan dengan Haiden melalui Handphone nya.


Usai menutup pembicaraan dengan Haiden melalui Handphone nya, A Cun terlihat kembali melanjutkan pembicaraannya dengan pihak perusahaan pembuat mobil yang di datangi nya itu. A Cun tidak bisa menggunakan bahasa Jepang, jadi dia menggunakan bahasa inggris saat berbicara dengan pehak perusahaan pembuat mobil tersebut.


Tiba di Hotel Admadja Residance, Haiden pikir dia yang tiba terlebih dahulu dari Mardan, Arif dan mertuanya. Meskipun Mardan dan Arif belum tiba di Hotel Admadja Residance, ternyata papi Melani sudah beradi di Resto Admadja Residance terlihat sedang asyik melihat layar Handphone nya di temani secangkir kopi dan makanan ringan di mejanya.


"Loh papi sudah di sini rupanya" Kata Haiden menyapa mertuanya sembari duduk dihadapan papi Melani.


"Iya, tapi belum lama kok. Sekitar lima menitan lah papi duduk disini" Kata papi Melani membalas ucapan menantunya itu.

__ADS_1


"Haiden ga perhatiin pengawal yang mengawal papi tadi di bawah, makanya Haiden pikir papi belum tiba disini" Kata Haiden kepada Mertuanya.


Papi Melani tersenyum lalu berkata "Mungkin terlalu banyak yang kamu pikirkan saat berjalan masuk kesini, makanya kamu tidak memperhatikan sekitar mu".


Mendengar ucapan mertuanya itu, Haiden tersenyum sebelum berkata "Iya, tadi saat masuk Haiden memang sedang memikirkan anak papi".


Mendengar ucapan Haiden, Papi Melani mengernyit kan dahinya lalu bertanya "Emangnya kenapa Melani Den?".


"Melani saat ini selalu mual-mual Pi. Sepertinya Melani Hamil" Jawab Haiden sembari tersenyum.


Papi Melani terkejut mendengar ucapan Haiden, lalu bertanya "Hamil?".


"Iya Pi" Jawab Haiden lagi.


"Kok baru sekarang kamu kasih tahu Papi. Mami sudah kalian beri tahu?" Tanya Papi Melani lagi dengan perasaan kecewa.


Haiden tersenyum sebelum menjawab "Sebetulnya belum saatnya juga Haideb cerita kr Papi. Karena belum Positif".


"Semalam Melani mengeluh lemas dan mual-mual. Haiden curiga Hamil, jadi kami tes pakai Test Pack. Dan ternyata Positif" Lanjut kata Haiden menjelaskan kepada Mertuanya.


"Loh, kan sudah Positif di test pakai Test Pack" Kata Papi Melani menanggapi penjelasan Haiden.


"Iya, tapi belum di periksa Dokter. Haiden akan yakin Melani benar-benar hamil atau tidak setelah di periksa Dokter nanti".


Mendengar penjelasan Haiden, persaan kecewa Papi Melani memudar. Dia mulai memaklumi mengapa Haiden dan Melani tidak langsung mengabari kabar baik itu kepadanya dan kepada istrinya.


Di sela pembicaraan antara mertua dengan menantunya itu, tetlihat Arif sedang berjalan mendekati Haiden dengan mertuanya. Melihat kedatangan Arif, Haiden dan Mertuanya menghentikan pembicaraan mereka.


Sembari tersenyum Arif menjabat tangan Papi Melani terlebih dahulu sembari bertanya "Apa kabar Om?".

__ADS_1


__ADS_2