SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
TAWURAN MAUT


__ADS_3

Belasan pemuda bertatto mulai mencurigai gang sempit tanpa nama itu. Tiga orang dari mereka diperintahkan untuk masuk kedalam gang oleh orang yang sepertinya lebih berpengaruh dari pada yang lainnya.


Mereka tahu bahwa didalam gang sempit tanpa nama itu ada bangunan tua yang sudah lama tidak di huni. Namun belasan pemuda bertatto itu belum mengetahui dengan pasti apakah buruan mereka ada didalam bangunan tua itu.


Namun disaat ketiga pemuda bertatto yang diperintahkan temannya untuk memeriksa bangunan tua itu hendak mendekati pintu bangunan tua itu, empat mobil mini bus berwarna hitam tiba-tiba mendadak berhenti dari kecepatan tinggi. Suara ban yang terhenti dengan paksa sehabis melaju dengan kecepatan tinggi itu mengeluarkan suara yang cukup keras sehingga belasan pemuda bertatto itu kaget seketika.


Suara ban mobil yang mendadak dipaksa berhenti itu terdengar juga oleh ketiga pemuda bertatto yang akan memeriksa bangunan tua itu. Mendengar suara itu, langkah ketiga pemuda itu terhenti.


Bimo dan ketiga temannya juga mendengar suara ban mobil itu, namun mereka tidak bisa memastikan apakah suara keras itu berasal dari ban mobil teman mereka. Mereka berempat tetap dalam keadaan siaga menanti bantuan yang telah dijanjikan oleh Haiden.


Setelah mobil terhenti, dua puluh orang pengawal Haiden yang seluruh nya berbadan kekar itu langsung keluar dari dalam mobil mereka. Setiap orang memegang senjata tajam.


Melihat puluhan orang bersenjata tajam berjalan kearah mereka, Belasan pemuda bertatto itu pun mengeluarkan senjata tajam mereka yang tersembunyi didalam pakaian mereka.


Tawuran antar pemuda bertatto melawan pengawal Haiden pun tak terelakkan. Suara senjata tajam yang saling berlaga dalam tawuran itu terdengar oleh ketiga pemuda bertatto yang akan akan memeriksa bangunan tua, sehingga mereka berbalik arah kembali keluar untuk melihat gerangan apa yang tengah terjadi.


Saat keluar dari gang, ketiga pemuda bertatto itu melihat teman-temannya sedang bertarung dengan puluhan orang yang tidak mereka kenal. Melihat pemandangan yang cukup horor itu, ketiga pemuda bertatto itu mengeluarkan senjata mereka dan ikut dalam pesta pertaruhan nyawa itu.


Di dalam bangunan tua, Bimo bersama ketiga temannya samar-samar juga mendengar adanya suara ribut manusia dan suara senjata tajam yang saling beradu.


"Sepertinya teman-teman kita sudah datang Bim" Kata Irwan kepada Bimo.


"Seperti iya. Itu suara pertarungan kayanya" Kata Bimo membalas ucapan Irwan.

__ADS_1


"Ya sudah mending kita keluar untuk memastikan benar atau tidak itu teman kita" Kata Sakti menyela pembicaraan Irwan dengan Bimo.


Laurend mengintip keluar Jendela untuk memastikan ada orang atau tidak diluar bangunan tua itu. Setelah memastikan tidak ada orang disekitar halaman bangunan tua itu, mereka berempat keluar dari bangunan tua itu dan langsung keluar melalui gang sempit tanpa nama itu.


Setelah berada diluar dan memastikan bahwa yang sedang bertarung adalah belasan pemuda bertatto yang mengejar mereka dengan puluhan teman mereka, Bimo, Irwan, Sakti dan Laurendpun segera ikut bertarung bersama puluhan temannya melawan belasan pemuda bertatto yang tadi telah memburu mereka.


Bimo, Irwan, Sakti dan Laurend awalnya tidak memegang senjata. Namun mereka berempat berhasil merebut senjata tajam dari tangan lawan mereka masing-masing, dan selanjutnya mereka bertarung dengan senjata milik lawan mereka.


Masing-masing dari kedua belah pihak banyak yang mengalami luka bacokan dan tikaman. Di saat pertarungan sudah mulai tidak sengit lagi karena sudah banyak yang tergeletak di tanah tiba-tiba puluhan Polisi datang lengkap dengan senjatanya.


Salah seorang dari puluhan Polisi itu menembakkan senjata apinya keatas dan teriak "Jangan bergerak".


Mendengar suara tembakan dan teriakan dari salah seorang Polisi itu, peserta tawuran maut yang masih kuat untuk berlari pun akhirnya melarikan diri. Melihat banyak yang mencoba untuk melarikan diri beberapa orang dari puluhan Polisi itu tidak tinggal diam.


Dalam aksi kejar-kejaran antara polisi dengan peserta tawuran maut itu Lauren dan beberapa pengawal Haiden yang lainnya tertangkap oleh Polisi. Irwan, Bimo dan Sakti berhasil meloloskan diri.


Dari pihak pemuda bertatto.juga banyak yang tertangkap dan banyak juga yang berhasil meloloskan diri. Pihak pemuda bertatto juga lebih banyak yang mengalami luka bacok dan luka tikam dibandingkan pihak pengawal Haiden.


Diruang kerjanya Haiden sudah mendapatkan laporan prihal terjadi pertarungan antara puluhan pengawalnya dengan belasan pemuda bertatto dari Bimo yang kini sedang berada di suatu tempat bersama.beberapa temannya. Tempat tersebut tentu saja diketahui oleh Haiden, karena tempat tersebut juga milik nya.


Tempat tersebut adalah perumahan yang terletak di kabupaten Deli Serdang, salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten Delima Serdang ini bersebelahan dengan Kota Medan.


Perumahan tersebut dibuat oleh tuan besar khusus untuk tempat tinggal para pengawalnya yang berada di Kota Medan dan sekitarnya. Ada puluhan rumah yang dibangun diatas tanah yang terbilang luas itu.

__ADS_1


Setelah mendengar laporan dari Bimo, Haiden menghubungi kakeknya yang kini sedang berada di Hongkong. Haiden menceritakan segala apa yang tengah terjadi kepada kakeknya itu.


"Kamu hubungi Jenderal Sulistyo. Ceritakan semua yang terjadi, biar dia yang selesaikan" Kata tuan besar kepada cucu satu-satunya itu.


"Haiden ga ada nomor kontak Jenderal Sulistyo kek" Kata Haiden membalas ucapan kakeknya yang kini berada di kamar Hotel.


"Nanti kakek kirim nomornya" Kata tuan besar yang terdengar dari dalam Handphone Haiden.


Tuan besar sengaja menyuruh Haiden menghubungi langsung Jendral Sulistyo agar Haiden bisa segera mandiri. Usia tidak ada yang bisa menerka panjang atau pendek, termasuk menerka usia diri sendiri.


Haiden adalah satu-satunya pewaris kekayaan yang Dimiliki oleh tuan besar. Dia ingin menghembuskan nafas terakhir disaat Haiden sudah siap untuk mewarisi seluruh harta kekayaannya termasuk perusahaan raksasa nya yaitu Admadja Grup.


Setelah dikirimi nomor kontak Jenderal Sulistyo oleh kakeknya, Haiden langsung menghubungi Jenderal Sulistyo. Jenderal Sulistyo sebenarnya adalah anak angkat dari tuan besar.


Tuan besar yang telah membiayai pendidikan Jendral Sulistyo sejak mengenyam pendidikan ditingkatkan Sekolah Mengengah Umum hingga kuliah. Bahkan berkat bantuan tuan besar juga Jendral Sulistyo lulus dengan mudah menjadi seorang Polisi.


Jendral Sulistyo sudah mengetahui nama keponakan angmatnya itu, namun dia belum pernah bertemu secara langsung dengan Haiden. Sebab Jenderal Sulistyo bertugas di Jakarta saat ini.


"Hallo. Benar ini Jenderal Sulistyo?" Tanya Haiden kepada Jendral Sulistyo melalui Handphone nya.


"Iya benar" Jawab Jenderal Sulistyo yang berada disalah satu restoran terkenal di Jakarta bersama dua orang koleganya.


"Ini siapa?" Kata Jenderal Sulistyo balik bertanya pada Haiden.

__ADS_1


"Saya Haiden, cucu Purnomo Admadja" Jawab Haiden.


__ADS_2