
Setelah Jimmy dan Kurnia meninggalkan mereka berdua, Haiden berkata "Yang menyuruh keempat pengawal baru ku itu untuk menculik Wanti dan anak-anakmu benar-benar Oligarki".
Mardan mengernyitkan dahinya sebelum bertanya "Dari mana kau tahu bro?".
"Tadi saat di perjalanan kesini, Hacker yang ku suruh untuk meretas data Oligarki menghubungi aku. Aku sudah tahu siapa dalang atau pimpinan tertinggi Oligarki saat ini" Jawab Haiden.
"Lalu, apa kata Hacker itu mengenai percobaan untuk menculik istri dan anak-anak ku bro?" Tanya Mardan terlihat penasaran.
"Rencana penculikan Wanti dengan anak-anak mu itu hanya untuk menghitung kekuatan ku saja. Target utama mereka adalah aku" Kata Haiden menjawab pertanyaan Mardan.
"Ini tidak bisa dibiarkan bro" Kata Mardan kepada Haiden.
Haiden tersenyum sebelum membalas ucapan Mardan "Ya memang ga bisa dibiarkan lah bro. Saat ini mereka juga sedang merencanakan kudeta terhadap Presiden Purwanto".
"Panglima TNI juga terlibat dalam rencana ini" Kata Haiden menanggapi ucapan Mardan.
Mardan sangat terkejut mendengar Haiden mengatakan Panglima TNI terlibat dalam rencana kudeta terhadap Presiden Purwanto.
"Presiden Purwanto dan Kapolri Sulistyo sudah tahu hal ini bro?" Tanya Mardan kepada Haiden.
"Apa yang ku ketahui ini belum disampaikan ke Presiden dan Om Sulistyo. Tapi, kalau BIN setia terhadap Presiden harusnya Presiden Purwanto dan Om Sulistyo sudah mengetahui rencana kudeta ini" Jawab Haiden.
"Apa ga lebih baik kau beritahukan Presiden dan Kapolri sekarang juga bro?" Tanya Mardan lagi setelah mendengar jawaban Haiden.
"Berbahaya memberitahukan mereka lewat telepon bro. Aku takut Handphone mereka sudah di sadap" Jawab Haiden.
"Benar juga sih" Kata Mardan menanggapi jawaban Haiden.
"Lalu apa yang harus kita lakukan bro?" Tanya Mardan kepada Haiden.
"Aku akan menghubungi mereka berdua untuk mengundang mereka ke Medan. Saat mereka kesini, barulah ku beritahu secara langsung" Jawab Haiden.
__ADS_1
"Kau hubungi Suherman dan Marwan. Kita ketemu di rumahku besok malam" Pinta Haiden kepada Mardan.
"Apa yang mau kita bahas dengan Suherman dan Marwan bro?" Tanya Mardan menanggapi permintaan Haiden.
"Mereka berdua dan keluarga nya juga harus berhati-hati. Aku khawatir mereka juga akan dijadikan umpan untuk melumpuhkan aku" Jawab Haiden.
"Oke, aku WA mereka sekarang" Kata Mardan sembari mengambil Handphone nya yang terletak di meja.
Setelah mengirim pesan lewat WA kepada Suherman dan Marwan sesuai dengan permintaan Haiden tadi, Mardan bertanya pada Haiden "Sukses kau serap ilmu pak Narso kemarin?".
Haiden tersenyum sebelum menjawab "Belum. Ada dua kali pertemuan lagi untuk bisa menyerap semuanya bro".
"Kalau kau nanti benar-benar bisa melihat masa depan, tentu kau tidak perlu lagi menggunakan Hacker lah bro" Tanya Mardan kepada Haiden.
"Kita akan tetap butuh Hacker, untuk mengamankan semua data-data kita. Baik data perusahaan, maupun data-data Partai" Kata Haiden menanggapi ucapan Mardan.
Mardan terlihat senyum getir mendengar tanggapan Haiden sebelum berkata "Aku memang ga akan pernah bisa mengimbangi kecerdasan kau bro".
Haiden tersenyum mendengar ucapan Mardan lalu berkata "Kau ga boleh ngomong gitu bro. Kau harus selalu berusaha untuk bisa melampaui siapapun termasuk melampaui aku".
"Tapi nyata, kau semakin bertambah cerdas, sehingga, jangankan melampaui mu, mengimbangi mu saja aku tidak mampu" Kata Mardan menanggapi ucapan Haiden.
"Apakah kau tidak merasa kau bertambah cerdas dari sebelum nya?" Tanya Haiden menanggapi ucapan Mardan.
"Tidak" Jawab Mardan.
Mendengar jawaban Mardan barusan, Haiden tersenyum lalu berkata "Bagus. Jangan pernah merasa sudah cukup apa lagi bertambah cerdas, tapi belajar lah untuk selalu cerdas"
"Pesan aku buat kau, jangan pernah lebih rendah dan lebih tinggi dari siapapun. Belajar terus hingga kau tidak dapat dilampaui siapapun. Dan jangan pernah berusaha melampaui siapapun, sebab tanpa kau sadari nanti kau telah melampaui siapapun" Kata Haiden lagi memberi wejangan kepada sahabat sejatinya itu.
Mardan tersenyum mendengar semua ucapan Haiden buatnya itu, lalu berkata "Terima kasih bro. Aku paham apa maksudmu".
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih bro. Kita ini satu kesatuan. Sudah sewajarnya kita saling memberi dan saling menerima. Tanpa kau sadari, sebenarnya kau terkadang jadi murid ku tapi terkadang jadi guruku. Demikian pula sebaliknya, terkadang aku jadi gurumu tapi terkadang jadi murid mu" Balas Haiden.
Seketika Mata Mardan berkaca-kaca mendengar ucapan sahabat sejatinya itu, lalu berkata "Sungguh beruntung aku bisa mengenalmu, lalu menjadi temanmu, kemudian dapat menjadi sahabatmu hingga saat ini bro".
Mendengar ucapan Mardan dan melihat mimik wajah haru Mardan itu, Haiden tersenyum sebelum berkata "Aku juga beruntung bisa mengenalmu dan menjadi sahabatmu hingga saat ini. Demikian juga, betapa beruntung nya aku memiliki sahabat seperti istrimu, Suherman, Marwan dan Melani yang kini menjadi istriku".
"Ingat. Kalau tidak mengenal kalian, entah seperti apa aku jadinya di kampus kita dulu. Selalu di bully dan di hajar mahasiswa lain yang sok jagoan tanpa ada yang membela" Kata Haiden kepada Mardan sembari menepuk pundaknya.
Disela obrolan nya dengan Mardan, tiba-tiba Haiden teringat adik-adik Mahasiswa mereka yang tengah merancang Proyek pembuatan mobil melayang atau mobil tanpa roda. Haiden mempercayakan Mardan untuk membuat bengkel lengkap dengan peralatan yang mereka butuhkan.
"Di mana lokasinya mau kita buat bro?" Tanya Mardan kepada Haiden.
"Cari lahan yang tidak jauh dari kampus kita itu bro. Beli saja, lalu bangunkan di sana bengkelnya" Jawab Haiden.
"Ku dengar, Selain mobil, adik-adik kita itu mau buat kereta (motor) terbang juga ya bro?" Tanya Mardan lagi kepada Haiden sebelum meminum jusnya.
"Iya, kemarin mereka bilang seperti itu. Tapi ku bilang, fokuskan dulu dengan pembuatan mobilnya. Setelah jadi dengan sempurna baru buat kereta terbangnya" Jawab Haiden.
"Pas lah itu yang kau bilang bro. Satu saja belum jadi kok mau buat yang lain" Kata Mardan menanggapi jawaban Haiden sembari tersenyum.
"Untuk membuat bengkel, kau libatkan si A Cun. Dia lebih paham urusan otomotif dari pada kita" Kata Haiden kepada Mardan.
"Sebelum kau bilang barusan, aku juga sudah berpikir untuk melibatkan A Cun. Dia sudah berpengalaman soalnya" Kata Mardan menanggapi ucapan Haiden.
Haden tersenyum lalu membalas "Ya sudah. Artinya kita sepemikiran".
"Segera kau buat ARB nya, biar ku siap kan anggarannya" Kata Haiden lagi kepada Mardan.
"Siap tuan besar" Balas Mardan dengan candaan.
Haiden tertawa mendengar candaan Mardan lalu berkata "Kimbek mu lah".
__ADS_1
Mardan juga turut tertawa saat mendengar Haiden tertawa dan mendengar umpatan khas anak medan itu. Tawa lebar dua sahabat karib itu mengundang perhatian pelanggan resto lainnya, namun tidak membuat mereka merasa terganggu.
Sebab yang mereka lihat adalah dua tokoh pemuda yang saat ini menjadi idola sebagian besar Rakyat Indonesia. Tidak ada yang tidak mengenal sosok Mardan dan Haiden saat ini selain ODGJ dengan balita di Kota Medan khususnya.