
Saat pesawat pribadi Haiden mendarat, Aryo sudah berada di bandara dengan beberapa orang anggota nya. Haiden langsung memeluk Irjen Aryo saat bertemu sembari bertanya "Apa kabar mas?".
"Baik" Jawab Irjen Aryo usai berpelukan dengan Haiden.
"Kabar kak Wanda dan anak kalian gimana mas?" Tanya Haiden lagi.
"Mereka baik juga. Bagaimana dengan Kamu, Melani dan anak-anakmu?" Jawab Irjen Aryo sembari bertanya balik.
"Kami semua juga baik mas" Jawab Haiden sembari tersenyum.
"Kalau begitu kita langsung gerak saja ya?" Kata Irjen Aryo bertanya kepada Haiden.
"Boleh mas" Jawab Haiden.
Sepanjang jalan menuju parkiran, Haiden tampak asyik mengobrol dengan Irjen Aryo. Mereka sudah lama tidak bertemu karena kesibukan Haiden yang begitu padat.
Irjen Aryo juga memiliki kesibukan yang lumayan padat sejak kenaikan pangkatnya. Irjen Aryo saat ini tengah di persiapkan untuk menjadi Kapolri menggantikan Kapolri Sulistyo kedepannya.
"Ngomong-ngomong ada agenda apa kok sampai dipanggil Presiden Den?" Tanya Irjen Aryo kepada Haiden sambil berjalan bersama Haiden, Mardan, dan beberapa anggota kepolisian bawahannya.
"Aku juga belum tahu mas. Presiden cuma bilang ada yang dibicarakan nya lewat telepon semalam" Jawab Haiden apa adanya.
"Urusan Lokalisasi se_Indonesia ga ada masalah kan?" Tanya Irjen Aryo lagi usai mendengar jawaban Haiden tadi.
"Ga ada mas. Lancar semua" Jawab Haiden sembari membuka pintu mobil yang dibawa Irjen Aryo untuk menjemput nya.
Haiden duduk dibelakang supir bersama Irjen Aryo dan Mardan. Sepanjang jalan mereka bertiga terus mengobrol, meskipun Mardan tidak banyak ikut berbicara karena tidak ada yang penting untuk dibahas.
Di Istana Negara, Presiden Purwanto terlihat sedang mengobrol dengan Kapolri Sulistyo diruang kerja Presiden. Berbagai macam permasalahan saat ini sedang mereka bahas.
__ADS_1
"Rencananya periode kedua saya ingin Haiden menjadi calon wakil saya. Bagaimana menurut kamu selaku pamannya Haiden tyo?" Tanya Presiden Purwanto.
Mendengar pertanyaan Presiden Purwanto barusan, Kapolres Sulistyo mengernyitkan dahinya sembari bertanya "Serius pak Presiden?".
Presiden Purwanto tersenyum lalu menjawab "Serius. Dan kalau saya terpilih lagi dengan Haiden, saya mau kamu jadi Menteri Pertahanan. Aryo jadi Kapolri menggantikan kamu".
"Jadi ini alasan pak Presiden memanggil Haiden ke istana?" Tanya Kapolri Sulistyo kepada Presiden Purwanto memastikan perkiraannya.
Presiden Purwanto kembali tersenyum mendengar pertanyaan Kapolri Sulistyo sebelum dia menjawab "Iya tepat sekali. Selain saya ingin tahu kesediaannya langsung, saya juga ingin bertukar pikiran dengan kalian, mencari solusi untuk menghadapi kendala yang akan kita hadapi untuk periode kedua saya nantinya".
"Sebagai pamannya, secara pribadi saya sangat senang dan semampu saya, pasti akan saya dukung Haiden, untuk menjadi wakil Presiden berikut nya. Tapi masalahnya, saat ini kan pak Presiden tidak ada kecocokan dengan Partai-partai yang mengusung Presiden di Pilpres yang lalu pak" Kata Kapolri Sulistyo menanggapi ucapan Presiden Purwanto.
"Itu sebabnya saya ingin bertukar pikiran dengan kalian. Saya tidak bisa berjuang sendiri untuk perubahan Indonesia yang lebih baik kedepannya" Balas Presiden Purwanto.
Beberapa saat kemudian Haiden, Mardan dan Aryo masuk keruang kerja Presiden. Haiden langsung disambut hangat oleh Presiden Purwanto dan Kapolri Sulistyo.
Sebelum duduk di sofa tamu yang ada di ruang kerja Presiden, Haiden sempat memperkenalkan Mardan ke pada Presiden Purwanto. Haiden tampak merasa bangga bisa bertemu langsung dengan Presiden Purwanto.
Haiden tersenyum sembari menjawab "Seperti yang pak Presiden lihat sendiri, saat ini saya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja".
"Bagaimana dengan kabar pak Presiden?" Kata Haiden lagi, balik bertanya pada Presiden Purwanto.
Presiden Purwanto tersenyum sebelum menjawab "Sama. Seperti yang kamu lihat, saya sehat dan baik-baik saja juga".
"Ini semau berkat om kami, Kapolri Sulistyo yang selalu menjaga keselamatan saya" Kata Presiden Purwanto lagi lalu tertawa.
Kapolri Sulistyo, Irjen Aryo, Mardan dan Haiden juga spontan ikut tertawa usai mendengar ucapan Presiden Purwanto. Tidak terlihat suasana ketegangan didalam ruang kerja Presiden saat ini.
Keakraban yang terjalin seperti keakraban sebuah keluarga kecil, bukan keakraban pura-pura dalam dunia Politik. Diman keakraban itu terjalin hanya pada saat ada kepentingan pribadi saja.
__ADS_1
Sebelum memulai obrolan serius, Presiden mengajak Haiden, Mardan, Kapolri Sulistyo dan Irjen Aryo ke ruang makan istana untuk makan siang. Walaupun sudah kesiangan sebenarnya.
Di sela makan bersama itu, mereka berlima tetap sambil mengobrol. Tapi hanya obrolan biasa saja, buka inti dari yang akan dibicarakan oleh Presiden Purwanto kepada Haiden.
Usai makan bersama, mereka berlima kembali ke ruang kerja Presiden untuk memulai pembicaraan penting dengan Haiden dan akan melibatkan Kapolri Sulistyo, Irjen Aryo dan juga Mardan nantinya. Saat mereka berlima tengah duduk di sofa tamu di ruang kerja Presiden itu, Presiden Purwanto memulai pembicaraan.
"Langsung saja ya Den. Saya meminta kamu kesini karena saya berniat mengajak kamu jadi pasangan saya di Pilpres yang akan datang" Kata Presiden Purwanto kepada Haiden.
Mendengar ucapan Presiden Purwanto barusan, dalam hati Mardan berkata "Tepat dugaan Gubernur A Cin bah...!".
Haiden tersenyum menanggapi ucapan Presiden Purwanto sebelum membalas dengan balik bertanya pada Presiden Purwanto "Kenapa pak Presiden mau memilih saya untuk jadi pendamping pak Presiden?".
Presiden Purwanto juga tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Haiden "Karena saya sudah mengenal kamu, dan saya nilai kamu layak menjadi regenerasi saya menjadi Presiden nantinya. Dimulai jadi Wakil Presiden dulu".
"Tapi, sebelum kamu menjawab mau atau tidak, saya akan beritahukan dulu kepada kamu bahwa kemungkinan besar kita tidak dapat dukungan dari partai-partai, karena selama saya menjabat jadi Presiden saya menolak untuk bekerja demi kepentingan partai-partai pengusung saya" Kata Presiden Purwanto lagi kepada Haiden.
Suasana hening sejenak usai mendengar kan penjelasan Presiden Purwanto. Presiden Purwanto dan yang lainnya menunggu tanggapan dari Haiden.
Haiden tampak sedang memikirkan sesuatu. Setelah beberapa saat diam, Haiden berkata "Sebenarnya mau tidak mau kita harus merubah peraturan Calon Presiden dan Wakil Presiden wajib diusung oleh Partai".
"Sudah selayaknya seorang itu Independen agar siapapun presiden yang terpilih dia bisa bekerja untuk kepentingan bangsa dan negaranya dengan benar, bukan demi kepentingan Partai" Kata Haiden lagi.
"Jadi maksud kamu, kita rubah peraturan syarat peraturan Calon Wakil Presiden dan Wakil Presiden boleh di usung Partai, boleh juga pakai jalur independen seperti Calon Bupati/Walikota dan Gubernur?" Balas Presiden Purwanto sembari balik bertanya pada Haiden.
Haiden tidak langsung menjawab pertanyaan Presiden Purwanto. Dia dia diam sejenak seperti memikirkan sesuatu sebelum berkata "Buka seperti itu maksud saya".
Bukan Hanya Presiden Purwanto saya yang terlihat mengernyitkan dahi usai mendengar jawaban Haiden barusan. Kapolri Sulistyo, Irjen Aryo dan Mardan juga terlihat mengernyitkan dahi mereka.
Jawaban Haiden barusan diluar dugaan mereka berempat. Presiden Purwanto, Kapolri Sulistyo, Irjen Aryo, serta Mardan menduga Haiden akan menjawab "iya".
__ADS_1
Tapi ternyata Haiden malah menjawab diluar dugaan mereka berempat. Haiden malah menjawab "Bukan seperti itu maksud saya".