
"Kau kenal dengan lawan dia balapan?" Tanya Haiden ke pada Fani.
"Kalau Joki balap lawan dia baru kulihat tadi. Tapi Tapi Boss Joki itu aku ada beberapa kali ketemu setiap kali Marwan balapan" Kata Fani menjawab pertanyaan Haiden.
"Yang mukulin si Marwan siapa?" Tanya Haiden lagi.
"Pihak lawan Marwan atas perintah Boss mereka itu" Jawab Fani.
Haiden diam sejenak sebelum kembali bertanya pada Fani "Selain pihak mereka, kalian cuma berdua di sana?".
"Tidak. Ada beberapa orang teman Marwan yang ikut patungan untuk taruhan juga ada disana. Mereka lari saat melihat Mardan di keroyok" jawab Fani lagi.
"Lalu siapa yang membawa Marwan kesini?" Tanya Haiden.
"Ambulance yang bawa kami kesini. Begitu mereka semua pergi meninggalkan Marwan yang sudah babak belur dan tak sadarkan diri, aku langsung telepon ambulance" Jawab Fani menjelaskan.
"Bisa kau tunjukan siapa Boss yang taruhan dengan Marwan itu?" Tanya Haiden lagi.
Fani membuka Handphone nya untuk menunjukkan Foto orang yang disebut Boss dari Joki lawan Marwan dalam balapan liar tadi. Setelah melihat foto tersebut, Haiden meminta Fani mengirim foto tersebut ke WA nya.
Fani langsung mengirim foto tersebut ke WA Haiden. Setelah menerima foto tersebut, Haiden langsung mengirim pesan WA beserta foto tersebut ke salah seorang pengawalnya WA Bimo.
Bimo saat ini sedang bertugas mengawal Hotel Admadja Residance. Haiden memerintahkan dia untuk segera mencari tahu keberadaan orang yang ada di dalam foto tersebut.
Setelah menerima perintah dari tuan mudanya itu, Bimo langsung menghubungi beberapa pengawal yang berada di perumahan khusus pengawal. Seorang pengawal menggantikan tugas Bimo di Hotel Admadja Residance, sedangkan yang lainnya ikut Bimo mencari tahu keberadaan orang di dalam foto yang dikirim Haiden tadi.
Mardan tiba di rumah sakit Amir Hamzah terlebih dahulu dari pada Suherman. Saat bertemu Haiden di ruang tunggu dia langsung meminta penjelasan tentang apa yang terjadi pada Marwan sebenarnya pada Fani dan Haiden.
Haiden mengulang cerita yang didapat nya dari Fani kepada Marwan. Belum usai Haiden menceritakan, Suherman tiba di ruang tunggu rumah sakit.
Haiden terpaksa mengulang cerita, namun hanya intinya saja sebelum melanjutkan kelanjutan ceritanya. Wajah Mardan dan Suherman kelihatan berubah saat mendengar kan cerita dari mulut Haiden.
Perasaan Medan dan Suherman sangat marah. Demikian pula dengan perasaan Haiden yang sangat marah saat ini.
__ADS_1
"Kita harus cari mereka semua" Kata Mardan usai mendengar kan semua cerita Haiden dari awal kejadian hingga Marwan terpaksa harus dirawat di rumah sakit Amir Hamzah.
"Benar" Sahut Suherman yang juga terlihat geram dengan tindakan pengeroyok Marwan.
"Aku sudah perintahkan pengawal untuk mencari keberadaan Boss mereka. Kita tunggu saja dulu kabar dari pengawal" Kata Haiden menanggapi ucapan Mardan dan Suherman.
"Ini akibat ga mau dengar cakap. Sudah dibilang jangan balapan liar lagi, di lakukan juga" Kata Haiden lagi.
"Iya benar yang kau bilang Den. Tapi sudah terjadi" Kata Suherman menanggapi ucapan Haiden.
"Ini pelajaran buat kita semua. Kalau di ingatkan yang benar-benar layak untuk dilakukan dan tidak dilakukan maka jangan di langgar" Kata Haiden lagi kepada Mardan dan Suherman.
"Iya kau benar Den. Kita ini sahabat yang wajib saling mengingatkan untuk kebaikan bersama. Satu bermasalah kita semua yang menanggungnya" Kata Marwan menanggapi ucapan Haiden.
"Saat ini kita hanya bisa mencari pelaku, dan fokus dengan kesembuhan Marwan. Setelah sembuh si Marwan baru kita kasih dia pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan nya lagi" Kata Marwan lagi.
Mendengar ucapan Mardan barusan, Suherman mengernyitkan dahi lalu berkata "Pelajaran seperti apa maksud kau Dan?".
"Ingatkan dia sekali lagi untuk melaksanakan kesepakatan bersama dalam setiap tindakan yang beresiko tinggi. Kalau dia tidak mau mendengarkan kita lagi, itu artinya dia keluar dari persahabatan kita" Kata Mardan menjawab pertanyaan Suherman.
"Aku sepakat kalau begitu" Kata Suherman.
"Astaga, Aku lupa menghubungi Papa dan Mama Marwan lagi" Kata Haiden baru teringat, dan langsung mengambil Handphone dari saku depan celananya.
"Hallo Om" Kata Haiden Kepada Papa Marwan saat mendengar Papa Marwan mengatakan Hallo yang terdengar di Handphone nya.
"Iya Den. Ada apa?" Tanya Papa Marwan yang terdengar di Handphone Haiden.
"Begini Om. Om dan Tante kerumah sakit Amir Hamzah ya" Jawab Haiden.
"Ada apa Den?" Balas Papa Marwan penasaran di rumahnya
"Om tenang jangan panik ya" Kata Haiden yang terdengar di Handphone Papa Marwan.
__ADS_1
"Oke, ada apa sebenarnya Den?" Desak Papa Marwan mulai gelisah.
"Marwan sekarang di rawat di rumah sakit. Untuk keterangan lebih lanjut, nanti Haiden ceritain di rumah sakit ya" Kata Haiden enggan menceritakan semuanya lewat telepon.
"Apa..? Kenapa Marwan Den?" Tanya Papa Marwan lagi.
Papa Marwan terlihat sangat Shock mendengar putra sulungnya di rawat di rumah sakit. Saat mendengar kabar itu dari Haiden, kakinya terasa lemas dan langsung terduduk di Sofa yang ada diruang tamu dalam rumahnya.
"Ga apa-apa Om. Om tenang ya. Yang penting Om sama Tante kesini aja dulu" Jawab Haiden mencoba untuk menenangkan Papa Marwan.
"Baiklah Den. Om ke sana sekarang sama Tante" Kata Papa Marwan membalas jawaban Haiden.
Setelah menutup pembicaraan dengan Papa Marwan lewat telepon barusan, Haiden langsung menghubungi Melani. Dia juga baru teringat bahwa dia belum mengabari Melani.
Mendengar kabar Marwan Koma karena dipukulin orang, Melani juga Shock. Tapi dia juga kesal pada Marwan ketika Haiden mengatakan bahwa orang yang telah mengeroyoknya adalah pihak lawannya dalam balapan liar.
"Keras kepala kali pun si Marwan ini. Kemarin katanya iya, sepakat dia ga balapan liar lagi, nyatanya balapan liar juga" Omel Melani yang terdengar di Handphone Haiden.
"Aku ke sana sekarang ya yank" Kata Melani kepada Haide di kamarnya.
"Ga usah yank. Besok saja kita sama-sama kesini. Uda tengah malam ini" Balas Haiden yang terdengar di Handphone Melani.
"Ya sudah kalau begitu" Kata Melani menurut.
Haiden tersenyum lalu berkata "Ya sudah kamu tidur saja. Besok pagi ada kelas kamu kan?".
"Iya yank" Jawab Melani sebelum menutup pembicaraannya dengan Haiden lewat teleponnya.
Haiden, Suherman, Mardan dan Fani masih terlihat cemas menanti kabar kondisi Marwan dari pihak rumah sakit di ruang tunggu. Fani masih saja terlihat menangis.
Beberapa saat kemudian, Handphone Haiden berbunyi tanda panggilan masuk. Dia langsung mengangkat Handphone nya setelah tahu panggilan tersebut dari pengawal nya Bimo.
"Iya Hallo Bim. Apa cerita?" Tanya Haiden kepada Bimo lewat Handphone nya.
__ADS_1
"Orang yang ada di foto itu bernama A Cun tuan muda. Dia pemilik bengkel Halilintar Jaya tuan muda" Jawab Bimo yang terdengar di Handphone Haiden.