SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
NASEHAT SAHABAT UNTUK SAHABAT


__ADS_3

Di kantin, Melani tampak sedang asyik ngobrol dengan Wanti, Suherman dan Marwan. Marwan mengatakan ada orang yang menantang nya balapan liar dengan taruhan yang cukup besar.


Marwan ingin meminta Haiden menjadi Sponsor nya dalam balapan liar itu. Makanya dia meminta pendapat dulu dari Suherman, Wanti dan Melani sebelum mengatakannya langsung kepada Haiden.


"Kira-kira Haiden mau ga ya jadi Sponsor ku" Kata Marwan kepada ketiga sahabatnya itu.


"Untuk apalah kau balapan liar lagi Wan. Selain melanggar Hukum, nyawamu juga jadi taruhannya. bukan hanya uang saja taruhannya". Sahut Melani.


"Tapi balapan sudah menjadi hobby ku Mel" Kata Marwan membalas ucapan Melani.


"Kalau hobby mu itu kau salurkan dengan benar ga apa-apa. Aku yakin Haiden pun akan dukung" Balas Melani lagi.


"Ada benarnya yang dibilang Melani Wan. Kenapa kau ga ikut balapan Profesional saja. Yang resmi" Kata Wanti menyela pembicaraan antara Melani dengan Marwan.


"Aku sepakat dengan apa yang dikatakan Melani dan Wanti Man. Tapi itu pun kembali ke kau. Kalau kau mau balapan liar, dan mau minta Haiden jadi sponsor kau, ya silahkan kau tanya langsung dengan Haiden nanti".


Selang beberapa saat, tampak Haiden dan Mardan berjalan menuju kantin dari kelas mereka. Di dalam kantin Mardan langsung duduk di sebelah Wanti, dan Haiden langsung duduk di sebelah Melani.


Setelah duduk Haiden langsung memanggil salah seorang pelayan kantin. Pelayan kantin yang di panggil Haiden itu pun segera datang menghampiri Haiden.


"Pesan apa bang?" Tanya pelayan kantin itu kenapa Haiden.


"Aku pesan Nasi Goreng ayam ya. Sama Jus Naga dingin" Jawab Haiden.


"Kau pesan ada mau pesan lagi ga?" Tanya Haiden kepada sahabat-sahabat nya.


"Aku Pesan Mie Instan goreng, pakai telur mata sapi setengah matang sama jus terong benda ya" Kata Mardan sambil menatap pelayan kantin.


"Kamu yank?" Tanya Haiden kepada Melani.


"Kau masih kenyang yank. Jus Apel ku juga masih ada ni" Jawab Melani sembari menunjukkan jus apel yang ada di gelas nya.

__ADS_1


"Kau ti, Man, Wan. Mau pesan lagi ga" Tanya Haiden kepada Suherman, Marwan dan Wanti yang ada disebelah Mardan.


"Aku juga masih kenyang. Minuman ku juga masih ada" Jawab Wanti.


"Aku jus pokat lah satu" Kata Suherman kepada pelayan kantin itu.


"Aku ga lagi. Masih kenyang juga bro" Kata Marwan kepada Haiden.


"Ya uda, itu aja kak" Kata Haiden kepada pelayan kantin itu.


Setelah mencatat semua pesanan Haiden dengan sahabat-sahabat nya di buku pesanan yang ada ditangannya, pelayan kantin itu langsung beranjak pergi ke dapur untuk memberikan pesanan yang dicatatnya tadi kepada koki kantin.


"Kau tadi WA aku, kau bilang ada yang mau kau omongin. Mau ngomong apa bro?" Tanya Haiden kepada Marwan yang ada dihadapan nya bersama Suherman.


Marwan tampak cengengesan sebelum menjawab "Gini bro. Aku di tantang balapan".


"Taruhannya cukup besar bro. Jadi aku mau kau jadi Sponsor ku" Kata Marwan lagi kepada Haiden.


Haiden tersenyum lalu berkata "Balapan liar lagi? Kau ga kapok ditangkap Polisi? Kau kan sudah dapat peringatan, dan kalau kau ketangkap lagi kau pasti di penjara".


Mendengar ucapan Haiden Melani, Wanti, Suherman dan Marwan spontan menatap Haiden. Mardan juga ikut menatap Haiden, tapi dia Menatap Haiden bukan karena sepemikiran dengan Melani, Wanti, Suherman dan Marwan.


Haiden tampak tampak bingung ketika melihat Melani dan keempat sahabat nya itu spontan menatap wajahnya.


"Kenapa" Tanya Haiden kepada Melani dan keempat sahabatnya nya itu.


"Yang kau bilang barusan, nyaris sama dengan yang di katakan Melani tadi kepada Suherman, sebelum kau datang. Benar-benar sehati kalian ya" Sahut Suherman menanggapi ucapan Haiden.


Haiden tersenyum lalu menatap Melani "Bener yank?"


Melani tersenyum sembari mengangguk, lalu berkata "Bener yank. Tadi aku juga bilang gitu. Aku juga bilang".

__ADS_1


Haiden hanya tersenyum menanggapi ucapan Melani barusan, lalu kembali berkata pada pada Suherman "Lebih baik kau Fokus untuk tamat tahun Depan. Banyak kerjaan yang menanti kalian".


Marwan menganggukkan kepalanya. Dalam benaknya dia berpikir, ada benarnya yang di katakan Melani dan Haiden.


"Baiklah, aku paham. Terima kasih atas saran kalian semua" Kata Suherman sembari tersenyum.


Haiden tersenyum lalu berkata "Gitu dong. Itu bru sahabat aku namanya".


Disela obrolan mereka berenam, pelayan kantin tiba di meja mereka membawa pesanan yang dipesan Haiden tadi. Setelah semua makanan dan minuman yang di pesan Haiden tadi diletakkannya di meja, pelayan kantin itu langsung bergegas meninggalkan Haiden dengan Melani dan sahabat-sahabat.


Sambil makan nasi goreng yang di pesan tadi, Haiden berkata "Besok kalian semua ke kantor Admadja Grup ya".


"Ngapain yank?" Tanya Melani.


"Kerjaan ku banyak sekali yank. Sudah saatnya kalian bantu aku. Itu pun kalau kalian mau" Kata Haiden.


"Kok gitu ngomong kau bro" Kata Mardan menanggapi ucapan Haiden barusan.


"Kan sudah kami bilang. Kami akan selalu siap membantu kau" Kata Mardan lagi.


"Iya ni Haiden. Entah apa-apa aja ngomong nya. Kayak ngomong sama orang lain aja" Kata Wanti menambahi ucapan kekasihnya.


Melihat dan mendengar respon Mardan dan Wanti, Haiden tertawa lalu berkata "Aku kan cuma bercanda".


"Kalau serius terus kita ngobrol, bakal cepat tua kita nanti. Duluan tua wajah dari pada umur, kan ga enak" Kata Haiden lagi dan kembali tertawa.


Mendengar ucapan dan tawa Haiden itu, Melani dan keempat sahabatnya pun spontan ikut tertawa. Mahasiswa lainnya yang ada di kantin itu tampak iri sekaligus kagum melihat keakraban Haiden dengan kekasih dan sahabat-sahabatnya.


Boleh dibilang tidak ada persahabatan seperti yang di miliki oleh Haiden bersama Melani dan keempat sahabatnya itu di Universitas mereka itu. Persahabatan yang sesungguhnya itu ada di Haiden, Melani, Wanti, Mardan, Suherman dan Marwan.


Mereka saling membantu di masa sulit, dan saling berbagi kebahagiaan di saat senang. Bukan ada di saat senang saja, dan meninggalkan atau ditinggalkan ketika dalam kesulitan.

__ADS_1


Persahabatan itu bukan pengakuan, tapi pembuktian. Sahabat itu bukan orang yang mengaku sahabat kepada seseorang, tapi perlakuan nya yang bisa dinilai apakah dia seorang sahabat atau bukan.


Haiden, Melani, Mardan, Wanti, Suherman dan Marwan telah memperlihatkan persahabatan yang sesungguhnya kepada seluruh mahasiswa yang ada di Universitas mereka. Dan sampai detik ini belum ada yang mampu menjalin persahabatan yang sesungguhnya seperti persahabatan Haiden dengan Melani dan keempat sahabat nya itu.


__ADS_2