SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
MISTERI PENYERANGAN TERHADAP WANTI


__ADS_3

Ditengah perjalanan menuju rumah Haiden dan Melani, tiba-tiba mobil Wanti di hadang oleh mobil lain. Supir pribadi Wanti dengan sigap menghentikan laju mobilnya.


"Siapa itu Dil?" Tanya Wanti kepada supir pribadinya yang bernama Fadil itu, sembari melihat mobil yang menghadang mereka.


"Saya juga tidak tahu kak" Jawab Fadil.


Terlihat empat orang pemuda turun dari mobil yang menghadang mobil Wanti. Masing-masing dari keempat pemuda itu menggenggam pukulan Base Ball, berjalan kearah mobil Wanti.


"Mau ngapain mereka Dil?" Tanya Wanti yang terlihat mulai ketakutan.


"Kakak tenang di dalam ya, biar aku keluar" Kata Fadil tanpa menjawab pertanyaan Wanti, sembari keluar dari dalam mobil.


"Ada masalah apa Boss?" Tanya Fadil kepada keempat pemuda itu.


"Serahkan istri ketua Panca Karya itu kepada kami" Kata salah satu pemuda itu.


Fadil mengernyitkan dahinya sembari berkata "Apa?".


"Siapa kalian berani-beraninya meminta ku menyerahkan majikanku pada kalian?" Tanya Fadil lagi kepada keempat pemuda itu.


Di dalam mobil, setelah Fadil keluar dari dalam mobil, Wanti langsung menghubungi suaminya Mardan.


"Pa kami dihadang empat orang ga di kenal. Merka bawa pentungan semua" Kata Wanti saat terhubung dengan Mardan.


"Apa. Siapa yang berani menghadang kalian ma?" Tanya Mardan, terdengar di Handphone Wanti.


"Ga ada yang mama kenal Pa. Fadil juga ga kenal katanya" Jawab Wanti.


"Fadil mana?" Tanya Mardan yang berada di ruang kerjanya dalam gedung kantor Partai Panca Karya Sumatera Utara.


"Itu dia didepan mobil, lagi bicara dengan mereka Pa" Jawab Wanti, terdengar di Handphone Mardan.

__ADS_1


"Kalian di mana sekarang?" Tanya Mardan, terlihat mulai cemas.


"Di Ring Road Pa" Jawab Melani yang masih terlihat ketakutan.


Baru saja Wanti menjawab pertanyaan Mardan, tiba-tiba melani melihat Fadil tengah berkelahi dengan keempat pemuda itu.


"Aduh pa, Fadil berantem. Di keroyok dia itu" Kata Wanti spontan saat melihat Fadil berkelahi menghadapi keempat pemuda itu dari dalam mobil nya.


"Sharelok sekarang Ma" Kata Mardan menanggapi ucapan isterinya.


"Iya pa" Balas Wanti, sebelum menutup pembicaraan dengan Mardan melalui Handphone nya, dan langsung mengirim lokasinya saat ini ke Mardan lewat pesan WA.


Usai menutup pembicaraan dengan Wanti melalui Handphone nya, Mardan langsung menghubungi ketua Partai Panca Karya Setia Budi. Mardan meminta ketua Partai Panca Karya Setia budi itu segera ke lokasi dimana istri dan anak-anaknya berada.


Usai mengirim lokasi Wanti ke WA ketua Partai Panca Karya Setia Buni, Mardan pun langsung bergegas meninggalkan kantor Partai Panca Karya Sumatera Utara untuk menyelamatkan istri nya. Mardan terlihat buru-buru saat meninggalkan kantor Partainya, karena perasaan nya sangat cemas memikirkan keselamatan istri dan anak-anaknya.


Sementara itu, Fadil yang terpaksa harus berkelahi dengan keempat pemuda bersenjatakan benda tumpul itu akhirnya tumbang. Fadil tersungkur pingsan di tanah akibat pertarungan tak seimbang itu.


Saat keempat pemuda itu berusaha membuka paksa pintu mobil Wanti yang dalam keadaan terkunci itu, tiba-tiba mobil mini buss berwarna hitam berhenti mendadak tepat dibelakang mobil Wanti.


Delapan orang pemuda bertatto keluar dari dalam mobil tersebut, lengkap dengan senjata tajam ditangan mereka masing-masing. Salah seorang dari delapan orang pemuda bertatto itu adalah ketua Partai Panca Karya Setia Budi yang bernama Irwandi.


"Woiii...! Hentikan" Teriak Irwandi dengan sekeras nya.


Mendengar suara teriakan Irwandi yang cukup keras itu, keempat pemuda itu menghentikan aksi mereka untuk membuka paksa pintu mobil Wanti. Salah seorang dari keempat pemuda yang ingin menculik Wanti itu berkata "Wah wah wah, ada jongos-jongos Panca Karya ternyata".


Tanpa meladeni ejekan pemuda tersebut dengan kata-kata, Irwandi langsung menyerang keempat pemuda itu. Melihat ketua mereka bergerak menyerang keempat pemuda itu, tujuh anggota Irwandi pun ikut menyerang.


Tawuran empat orang melawan delapan orang pun tak terhindari. Suara pentungan yang berlaga dengan senjata tajam terdengar nyaring di telinga.


Meski empat orang melawan delapan orang, namun pertarungan terlihat seimbang. Keempat pemuda itu ternyata bukan orang sembarangan.

__ADS_1


Mereka berempat terlihat cukup mahir dalam ilmu bela diri. Sedangkan Irwandi dan anggota-anggotanya bertarung tanpa menggunakan jurus-jurus ilmu bela diri.


Meskipun tidak memiliki ilmu bela diri, tapi Irwandi tidak pernah kalah berkelahi ala jalanan satu lawan satu orang selama ini. Setelah bertarung beberapa menit, akhirnya Irwandi dan anggotanya berhasil melumpuhkan keempat pemuda itu.


Dengan beberapa luka besetan senjata tajam ditubuh, keempat pemuda itu di ikat dan dimasukkan kedalam mobil mini bus milik Irwandi. Mardan yang baru saja tiba di lokasi langsung menemui Wanti dan kedua anaknya di dalam mobil.


"Kalian tidak apa-apa kan ma?" Tanya Mardan sembari memeluk Wanti dan anak-anaknya.


"Enggak Pa" Jawab Wanti dengan perasaan lega.


Sembari melepas kan pelukannya, Mardan berkata "Syukurlah Ma".


"Ya sudah. Kalian tunggu dulu disini sebentar ya, biar papa bereskan dulu mereka. Nanti biar Papa yang antar kalian ke rumah Haiden" Kata Mardan kepada Wanti sebelum keluar dari dalam mobil.


Mardan langsung menghampiri Fadil yang masih tergeletak tak sadarkan di tanah. Dia memperhatikan luka-luka yang di alami Fadil, juga memeriksa denyut nadi Fadi.


Setelah itu Mardan menghampiri Irwandi lalu berkata "Bawa Fandi ke rumah sakit Amir Hamzah ya. Dan bawa mereka berempat ke perumahan khusus pengawal ketua Haiden. Nanti aku nyusul kesana" saat tiba di hadapan Irwandi.


"Siap ketua" Jawab Irwandi.


"O iya. Tolong suruh anggota mu antar mobil istri ku kerumah ku ya. " Kata Mardan lagi kepada Irwandi.


"Oh iya siap ketua. Biar si wawan saja nanti yang antar mobil kak Wanti ke rumah ketua" Balas Irwandi.


Usai memberi arahan kepada Irwandi, Mardan kembali ke mobil Wanti. Saat pintu mobil di bukanya, Mardan berkata "Yok, kita pindah ke mobil Papa".


Wanti langsung keluar dari dalam mobil lalu berjalan sambil menggendong anaknya ke mobil Mardan. Mardan berjalan dibelakang Wanti sambil menggendong anak sulungnya.


Setelah Mardan meninggalkan lokasi kejadian, barulah Irwandi bergerak membawa keempat pemuda tersebut ke perumahan khusus pengawal Haiden. Satu orang anggota nya yang bernama wawan di perintahkan nya untuk mengantar Fadil kerumah sakit sebelum mengantar mobil Wanti ke rumah Mardan.


Setelah mengantar Wanti dan anak-anaknya ke Rumah Haiden untuk bertemu dengan Melani, Fani dan Rina, Mardan langsung meninggal Wanti dan anak-anaknya di rumah kedua sahabat nya itu menuju perumahan khusus pengawal Haiden.

__ADS_1


Mardan terlihat sudah tidak sabar ingin mengetahui motiv mereka menyerang istri dan anak-anaknya diperjalanan tadi. Mardan yakin, keempat pemuda itu hanyalah orang-orang bayaran.


__ADS_2