SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
TUAN MUDA KITA SEPERTI SUPERMAN


__ADS_3

"Apa yang kau lihat tadi rupanya To?" Tanya teman sesama pengawal yang mengintip Haiden saat berlatih tadi.


"Pohon mangga yang di taman belakang tumbang Wan" Jawab Anto pengawal yang mengintip Haiden.


"Kok bisa To?" Tanya Irwan, teman sesama pengawal Haiden yang mengintip Haiden.


"Di pukul tuan muda Haiden" Jawab Anto.


Mendengar jawaban jawaban Anto, Irwan dan kedua satpam yang ada di pos satpam itu tertawa terbahak-bahak. Sementara Anto tampak kesal karena cerita nya tidak di percaya, dan malah di tertawa kan.


"Mimpi kau ya?" Kata Irwan usai berhenti tertawa.


"Kalau kau ga percaya, kau lihat aja sana sendiri" Kata Anto membalas ucapan tak percaya Irwan.


Irwan bangkit dari duduknya berniat ke taman belakang rumah untuk membuktikan ucapan Anto. Dua orang satpam yang ada di pos satpam itu mengikuti langkah Irwan.


Saat Irwan dan kedua satpam rumah Haiden ke taman belakang rumah, Haiden sudah tidak ada di sana. Dia sudah berada di kamar mandi dalam kamarnya.


Irwan dan kedua satpam itu memperhatikan pohon mangga yang sudah tumbang, sesuai dengan yang di katakan Anto tadi. Tidak ada tanda-tanda di tebang, atau tersambar petir pikir mereka bertiga saat memperhatikan pohon mangga tumbang itu dengan teliti.


"Ga ada tanda-tanda bekas di tebang bang. Kalau tersambar petir, setidaknya ada bekas gosong gitu bang" Kata salah seorang satpam yang bernama Eko kepada Irwan.


Irwan menghisap rokok yang ada ditangan kanannya, kemudian menghembuskan asapnya sebelum membalas ucapan Eko "Apa betul pohon mangga ini tumbang karena di pukul tuan Haiden?".


"Kalau betul, sekuat apa tuan muda Haiden itu sebenarnya?" Kata satpam satunya lagi yang bernama Arman.


"Aku rasa memang benar yang dikatakan Anto" Kata Irwan.


"Kok bisa yakin abang?" Tanya Eko kepada Anto.


"Sebab aku dengar, Almarhum Ketua Umum Panca Karya Johan itu mati karena pukulan tuan muda, tanpa pakai senjata. Saat mereka bertarung, Almarhum Johan sempat menyebut pukulan tuan muda itu namanya tangan besi" Jawab Irwan.

__ADS_1


"Dari mana kau tahu cerita itu To?" Tanya Arman menanggapi ucapan Irwan barusan.


"Bimo yang cerita kemarin" Jawab Irwan.


"Kalau benar, sudah seperti Superman lah tuan muda kita itu" Kata Eko disela pembicaraan Irwan dengan Arman.


Haiden tidak menyadari kalau dia saat ini menjadi pembicaraan pengawal dan satpam yang bertugas hari ini. Dia juga tidak sadar ada Anto yang mengintip nya tadi saat dia melatih kemampuan ilmu bela dirinya.


Usai mandi dan berpakaian, seperti biasa dia langsung ke ruang makan untuk sarapan sebelum keluar rumah. Usai sarapan Haiden langsung berangkat dari rumah menjemput kekasihnya Melani.


Kedua pengawal dan kedua satpamnya sudah berada di pos satpam saat Mobil Haiden keluar dari pekarangan rumahnya. seperti biasa juga, haiden menghidupkan klakson mobilnya untuk menyapa pengawal dan satpam yang bertugas menjaga keamanan di rumahnya.


Melani juga sudah mandi, berpakaian dan berdandan. Saat Haiden di perjalanan menuju rumahnya, Melani sedang sarapan dengan kedua orang tuanya di ruang makan.


"Papi jadi ke kantor Haiden nanti?" Tanya Melani sembil menyantap sarapannya.


"Jadi dong" Jawab Papi Melani.


"Papi mau buat lokalisasi perjudian, kayak di Macau" Jawab papi Mepani.


Melani mengernyitkan dahinya lalu kembali bertanya "Emang boleh pi?".


Papi Melani tersenyum lalu menjawab "Dulu memang ga boleh. Presiden kita yang sekarang membuat peraturan baru. Boleh membuat lokalisasi judi dan prostitusi. Di luar lokalisasi judi dan prostitusi tetap ilegal".


"Hukuman yang melakukan praktik judi dan prostitusi diluar lokalisasi cukup berat. Selain Hukuman penjara, hartanya juga bisa di sita" Kata Papi Melani lagi menjelaskan.


"Terobosan baru kali ini Pi" Kata Melani menanggapi penjelasan Papinya.


Papi Melani tersenyum lalu berkata "Presiden kita yang sekarang cukup cerdas Papi nilai. Dia tidak mau ketinggalan dengan negara maju lainnya. Arab Saudi saja sudah lama berubah".


"Sejak tahun 2022 Arab Saudi Revolusi habis-habisan hingga saat ini. Sejak 2022 Arab Saudi memiliki kelap malam, wanita boleh pakai bikini di pantai, mencabut aturan wanita pakai jilbab, dan di tahun berikutnya Arab Saudi membangun lokalisasi seperti yang mau papa buat ini" Sambung Papi Melani lagi.

__ADS_1


"Iya Mel juga tahu Pi, kalau soal perubahan Arab Saudi" Kata Melani.


"Tapi apa keuntungannya buat Negara kita Pi?" Tanya Melani.


Papi Melani kembali tersenyum lalu menjawab "Kalau di setiap Provinsi ada lokalisasi seperti yang mau Papi buat, makan keuntungan besar akan di dapatkan oleh Negara. Lokalisasi yang akan papi buat pasti akan di penuhi oleh Warga Negara Asing yang mau menghamburkan uang".


"Pemasukan Negara akan meningkat tajam. Pengangguran juga akan berkurang, sebab disana akan membutuhkan banyak pekerja nantinya. Kita manfaatkan SDM kita". Kata Papi Melani lagi.


Di sela obrolan santai Melani dengan Papinya di meja makan itu, tiba-tiba Bel rumah berbunyi. Salah seorang asisten rumah tangga Melani berjalan cepat ke depan untuk membukakan pintu.


Melani dan kedua orang tuanya sudah menduga bahwa yang memencet Bel rumah mereka adalah Haiden yang akan menjemput Melani. Saat pintu sudah di bukan asisten rumah tangga Melani, Haiden yang berdiri di depan pintu rumah langsung di persilahkan masuk oleh asisten rumah tangga itu.


Di dalam rumah Melani, Haiden langsung duduk di Sofa yang ada di ruang tamu. Asisten rumah tangga yang membukakan pintu tadi melaporkan kepada Melani bahwa Haiden sudah ada di ruang tamu.


Melani dan kedua orang tuanya langsung bangkit dari duduk masing-masing, meninggal kan ruang makan untuk menemui Haiden di ruang tamu.


"Berang sekarang kita yank?" Kata Melani saat tiba di ruang tamu.


"Ayok. Biar ga terlambat kamu" Kata Haiden sembari bangkit dari duduknya.


"Nanti jadi ke kantor Om?" Tanya Haiden kepada Papi Melani saat berdiri dihadapan Melani dengan kedua orang tuanya.


"Jadi dong" Jawab Papi Melani sembari tersenyum.


"Oh ya uda. Kalu gitu kami pamit dulu ya Om, Tante" Kata Haiden sebelum menyalami dan mencium tangan kedua orang tua Melani secara bergantian.


"Iya, Hati-hati dijalan" Kata Mami Melani saat di salami Haiden.


Setelah Haiden, Melanipun menyalami dan mencium tangan kedua orang tuanya, lalu berkata "Kami berangkat dulu ya Mi, Pi".


"Iya" Kata Papi Melani sembari tersenyum.

__ADS_1


Papi dan Mami Melani mengantar Haiden dan Melani sampai teras rumah mereka. Keberangkatan Haiden dengan Melani ke kampus mereka, di iringi lambaian tangan Papi dan Mami Melani saat mobil Haiden keluar dari pekarangan rumah Nelani.


__ADS_2