SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
KEPERCAYAAN 6


__ADS_3

Haiden tampak senang mendengar jawaban Suherman dan Marwan. Sahabat-sahabatnya adalah orang-orang yang paling dipercaya di dunia ini.


"Kalau begitu, kalian berdua sudah bisa menyusun kepengurusan Tim Sukses untuk tingkat Nasional. Setelah terbentuk baru kalian bentuk Tim Sukses untuk tingkat Provinsi se_Indonesia" Kata Haiden kepada Marwan dan Suherman.


"Siap" Kata Suherman dan Marwan bersamaan membalas ucapan Haiden.


"Sebelum dilantik susunan kepengurusan Tim Sukses, kalian bertemu dulu dengan Presiden" Kata Haiden kepada Marwan dan Suherman.


Mendengar ucapan Haiden barusan, Marwan tersenyum lalu berkata "Ga nyangka ya, si culun bakal jadi calon Wakil Presiden".


Ucapan Marwan membuat Hiiden dan Suherman tertawa. Marwan sendiri juga ikut tertawa bersama kedua sahabatnya itu.


"Jangankan aku, aku sendiri juga ga nyangka akhirnya kita bisa sejauh ini. Tapi aku yakin, semua Presiden dan Wakil Presiden di Indonesia ini pasti juga tidak menyangka bisa menjadi seorang Presiden atau Wakil Presiden" Kata Haiden menanggapi ucapan Marwan, usai tertawa.


"Tapi sebenarnya aku sudah tahu kau bakal menjadi orang besar dari dulu, sewaktu kita masih kuliah Den" Kata Suherman kepada Haiden tiba-tiba.


Haiden tertawa mendengar ucapan Suherman, lalu berkata "Sejak kapan kau jadi peramal Man?".


Haiden menganggap ucapan Suherman itu hanya candaan saja. Marwan juga menganggap demikian.


"Gaya kali kau bro" Kata Marwan kepada Suherman.


"Aku ngomong serius" Kata Marwan dengan serius.


"Kau ingat kita dulu pernah ke Dukun untuk mencari Haiden sewaktu kita mengira Haiden di culik, padahal dia bertemu dengan kakeknya?" Kata Suherman bertanya kepada Marwan.


"Pak Narso maksud kau?" Balas Marwan balik bertanya kepada Suherman.


Mendengar dan melihat pembicaraan antara Marwan dengan Suherman, Haiden mengernyitkan dahinya sebelum bertanya "Ngapain kalian ke dukun?".


Suherman tersenyum menatap wajah Haiden lalu menjawab "Jadi begini bro. Waktu kau diduga tengah di culik, kami sangat cemas. Kami ga sabar nunggu kabar dari pihak kepolisian, jadi kami memutuskan untuk bertanya pada seorang dukun kenalan tanteku".

__ADS_1


Haiden tertawa mendengar penjelasan Suherman sebelum berkata "ada-ada saja kalian".


"Kok ga pernah cerita kalian sama aku?" Tanya Haiden kepada Suherman dan Marwan.


"Aku sih ga teringat lagi. Sejak kau muncul aku ga pernah mengingat soal dukun, makanya aku ga ada cerita sama kau Den" Jawab Marwan.


"Emang apa kata dukun itu sama kalian waktu aku kalian pikir diculik?" Tanya Haiden usai mendengar jawaban Marwan.


"Pak Narso mengatakan kau baik-baik saja. Kau bukan di culik, dan kami ga perlu melakukan apa-apa sampai kau kembali kepada kami" Jawab Suherman.


Haiden mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan Suherman, lalu berkata "Kok bisa tepat gitu yang dikatakan nya ya".


"Waktu itu kami yakin kau di culik, jadi kami ga percaya dengan dengan ucapan pak Narso. Bahkan Mardan sampai emosi dan marah-marah" Kata Suherman menanggapi ucapan Haiden.


"Lalu apa maksud kau, tadi bilang sebenarnya kau sudah tahu Haiden bakal jadi orang besar bro?" Tanya Marwan kepada Suherman.


"Beberapa hari setelah Haiden muncul, aku kembali ke rumah pak Narso karena aku pikir apa yang dikatakan pak Tarno benar. Dia benar-benar tidak di culik" Kata Suherman kepada Marwan sembari menunjuk Haiden.


"Aku mengucapkan terima kasih dan memberitahukan kepada pak Narso Haiden sudah kembali, sesuai dengan yang dikatakannya bahwa Haiden tidak di culik. Dalam obrolan kami pak Narso berkata, sahabat kalian itu akan menjadi orang besar seperti para raja-raja. Dia itu sang pemimpin" Jawab Suherman menjelaskan.


"Jadi kenapa kau ga pernah cerita sama kami?" Tanya Marwan lagi usai mendengar penjelasan Suherman.


"Kalian kan ga percaya dengan ucapan pak Narso sebelumnya, makanya aku pikir ga perlu memberi tahukan kalian. Bisa jadi apa yang dikatakan pak Narso soal penculikan Haiden itu kebetulan saja pikir kalian nanti" Jawab Suherman.


"Aku ingin bertemu pak Narso. Antar kan aku ke sana ya" Kata Haiden tiba-tiba di sela pembicaraan antara Suherman dengan Marwan.


Mendengar ucapan Haiden, spontan Suherman dan Marwan menatap Haiden bersamaan. Sembari mengernyitkan dahinya Marwan bertanya "Mau ngapain bro" kepada Haiden.


"Aku hanya ingin berkenalan dengan beliau" Jawab Haiden.


Sebenarnya Haiden baru saja dibisikkan "Temui Narso" oleh buyutnya yang telah mewariskan tangan besi kepadanya. Moyangnya yang hidup tanpa wujud sejak jaman kerajaan Majapahit hingga saat ini.

__ADS_1


Haiden memiliki garis keturunan dari cucu Raja Linggawarman. Linggawarman adalah raja terakhir kerajaan Tarumanagara.


Sosok misterius yang telah mewariskan tangan besi kepada Haiden itu adalah cucu dari Raja Linggawarman. Dia salah seorang dari putra Sobakancana, putri kedua Linggawarman.


Putra Sobakancana yang telah mewariskan tangan besi nya kepada Haiden itu bernama Linggasana. Dia sendiri yang telah menciptakan tangan besi tersebut dengan berbagai macam kekuatannya.


Setelah runtuhnya kerajaan Tarumanagara, Linggasana memilih untuk hidup megembara, hingga akhir dia menemukan seorang guru yang memiliki ilmu bela diri yang cukup tinggi. Selama dua tahun Linggasana hidup berdua dengan gurunya di hutan Rimba.


Setelah menyerap seluruh ilmu gurunya, Linggasana meninggal kan gurunya untuk kembali berkelana. Linggasana akhirnya terkenal sebagai kesatria tangan besi setelah ia mampu menciptakan tangan besi, yang membuat dia tidak terkalahkan dalam dunia persilatan.


Linggasan selalu menolong orang yang lemah, sehingga dia disukai banyak orang dan disegani oleh pendekar-pendekar lainnya. Setelah menikah dan memiliki empat orang anak, Linggasana tiba-tiba tidak berwujud hingga saat ini.


Linggasana tidak pernah mati. Lingga sana hidup abadi tanpa wujud hingga saat ini.


Hanya garis keturunannya yang bisa melihat sosoknya. Linggasana bisa saja terlihat oleh almarhum kakek dan ayah Haiden, tapi dia tidak pernah mau memperlihatkan sosoknya kepada almarhum kakek dan ayahnya karena menurut nya mereka tidak layak untuk melihatnya.


Haiden adalah keturunannya yang layak untuk melihatnya, dan layak menjadi pewaris tunggal dari tangan besi yang memiliki banyak kemampuan untuk menjaga dan membela diri. Bahkan dapat membela kebenaran dari orang-orang yang berwatak jahat.


Saat ini Linggasana selalu mendampingi cicitnya Haiden tanpa terlihat oleh siapapun. Dan Haiden juga sudah percaya bahwa saat ini dia di jaga oleh buyutnya sendiri.


Itu sebabnya, ketika Linggasana membisikkan dirinya untuk menemui pak Narso, Haiden langsung meminta kedua sahabatnya itu untuk mengantarkannya ke rumah pak Narso.


"Kapan kau mau ke sana?" Tanya Suherman kepada Haiden.


"Sekarang juga boleh, kalau kalian tidak ada kegiatan penting" Jawab Haiden.


"Aku bisa saja" Jawab Suherman.


"Aku juga" Jawab Marwan juga.


Haiden tersenyum lalu berkata "Ya sudah, kalau gitu aku siap-siap dulu ya" Kepada Marwan dan Suherman sembari bangkit dari duduknya dan berjalan masuk kedalam rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2