
A Cun tidak mengenali Aryo sama sekali, tapi dia mengenali Haiden meskipun baru pertama kali ini dia bertemu langsung dengan Haiden. A Cun tahu Haiden adalah seorang pewaris tunggal perusahaan raksasa Admadja Grup, juga menjabat sebagai Ketua Umum Gangster Panca Karya saat ini.
Tubuh A Cun gemetaran ketika melihat Haiden ada di hadapan nya, sembari berkata "Ketua Haiden".
"Ada masalah apa sehingga saya diperlakukan seperti ini ketua Haiden?" Tanya A Cun kepada Haiden.
"Kau ingat telah melakukan apa sebelum kau ke Diskotik?" Balas Haiden bertanya balik kepada A Cun.
"Saya tidak ada melakukan apa-apa ketua. Mana berani saya mengusik ketua" Jawab A Cun dengan wajah yang sangat ketakutan.
Haiden tersenyum lalu berkata "Hidungmu yang terluka, otakmu yang bermasalah, sehingga kau langsung lupa dengan apa yang kau lakukan terhadap Marwan".
Mata A Cun mendelik ketika mendengar Haiden menyebut nama Marwan. Ketakutan semakin menjadi jadi menghantui perasaannya.
"A.. a.. apa hubungan ketua dengan Marwan?" Tanya A Cun kepada Haiden terbata-bata.
"Dia salah seorang sabar ku. Melukai nya itu sama saja melukai ku" Jawab Haiden sebelum tangan kanannya menampar pipi kiri A Caun.
A Cun berteriak kesakitan setelah menerima tamparan dari tangan Haiden. Pipi A Cun langsung terlihat bengkak seperti orang yang sedang sakit gigi.
"A.. a.. ampun ketua. Saya tidak tahu kalau Marwan sahabat ketua" Kata A Cun terbata-bata sembari menangis.
A Cun merasakan sakit yang luar biasa akibat tamparan Haiden barusan. Rasa sakit di hidung nya tidak ada apa-apa nya dibandingkan rasa sakit akibat di tampar Haiden.
Pipinya bagaikan di pukul oleh sebatang besi saat di tampar Haiden. Sakit nya membuat A Cun tidak dapat menahan dia untuk menangis.
"Sekarang Marwan ada di rumah sakit dalam keadaan koma. Apa tanggung jawab mu? Tanya Haiden kepada Acun.
"Ampun ketua. Saya akan membiayai semua biaya perobatan Marwan ketua" Jawab A Cun sembari tetap merintih kesakitan dan menangis.
"Cuma itu?" Tanya Haiden lagi.
__ADS_1
Aryo dan puluhan pengawal Haiden hanya memperhatikan Haiden berbicara dengan A Cun yang bersikap seperti seorang pecundang dihadapan Haiden. Seluruh pengawal Haiden yang di dalam Aula itu terkejut melihat pipi A Cun langsung bengkak usai di tampar oleh Haiden.
"Ketua mau saya melakukan apa lagi?" Tanya A Cun balik ke Haiden.
Tiba-tiba Haiden melayangkan tangan kirinya ke pipi kanan A Cun. Seketika A Cun berteriak "Ampun ketua".
Kini kedua pipi A Cun bengkak. Bahkan ada beberapa giginya yang patah, keluar dari mulutnya.
Tangisan A Cun terdengar memilukan. Tapi Haiden tidak memperlihatkan ada rasa kasihan terhadap A Cun.
Wajah Haiden terlihat memerah karena marah. Dengan suara berat Haiden kembali bertanya "Kau pura-pura lupa atau memang lupa beneran?".
"Dalam balapan liar tadi siapa yang menang, dan siapa yang memegang uang itu?" Tanya Haiden lagi kepada A Cun.
"Si.. si.. siap ketua. Akan saya serahkan semua uang kemenangan Marwan" Jawab A Cun terbata-bata.
Dengan wajah datar Haiden berkata "Bagus. Kau transfer uang lima ratus juta itu sekarang ke rekening bank ku"
"Siap ketua. Akan saya transfer sekarang juga uang lima ratus juta itu ketua" Balas A Cun dengan perasaan yang sangat ketakutan.
Sembari menatap wajah Haiden "Saya juga akan tanggung semua biaya perobatan Marwan, tapi saya mohon jangan bunuh saya ketua".
Mendengar ucapan A Cun, Haiden tersenyum dingin lalu berkata "Kau akan tetap hidup kalau marwan selama Marwan hidup".
A Cun tidak berani membalas ucapan Haiden lagi. Dia takut salah bicara yang akan membuat nya lebih teraniaya lagi.
Haiden memerintahkan salah seorang pengawal nya untuk membuka ikatan A Cun. Setelah ikannya terbuka, Haiden memerintahkan Bimo menyerahkan kembali Handphone milik A Cun yang tadi diambil Haiden dari saku celana depan A Cun, kemudian diserahkan ke pada Bimo saat A Cun masih dalam keadaan pingsan.
"Sekarang kau kirim uang lima ratus juta itu ke rekening bank ku" Kata Haiden ke pada A Cun.
A Cun langsung membuka aplikasi m banking dalam Handphone sebelum meminta nomor rekening bank Haiden. A Cun mencatat nomor rekening bank yang disebut Haiden, lalu mengirim uang sebesar lima ratus juta dari rekening banknya ke rekening bank Haiden.
__ADS_1
Usai mentransfer uang lima ratus juta ke rekening bank Haiden, A Cun dibiarkan keluar dari Aula dan pergi meninggalkan perumahan khusus pengawal Haiden dan kakeknya itu dengan mobilnya. Setelah kepergian A Cun, Haiden dan Aryo pun meninggalkan perubahan khusus pengawal nya itu.
Tapi Haiden dan Aryo tidak lagi kembali ke rumah sakit. Mereka berdua langsung pulang ke rumah Haiden untuk beristirahat.
Haiden dan Aryo tiba di rumah tepat pukul enam pagi. Sebelum tidur Haiden menghubungi Mardan yang masih berada di rumah sakit untuk mengetahui keadaan Marwan saat ini dan memberitahukan bahwa dia tidak kembali ke rumah sakit untuk beristirahat.
Mardan mengatakan Marwan masih dalam keadaan koma. Jadi Marwan masih di ruang UGD.
Usai berbicara dengan Haiden lewat Handphone nya, Mardan dan Suherman pamit kepada kedua orang tua Marwan untuk pulang. Mardan juga harus beristirahat, sebab siang nanti dia dan Haiden ada kelas.
Suherman juga harus pulang karena pagi ini dia ada kelas. Fani tetap ingin di rumah sakit menunggu Marwan siuman bersama kedua orang tua Marwan.
Saat bangun pagi, Melani membaca pesan WA dari Haiden. Haiden mengatakan dia tidak bisa menjemput dan mengantarnya ke kampus.
Haiden memerintahkan pengawal Melani untuk mengantar Melani ke kampusnya. Usai sarapan pagi dengan kedua orang tuanya, Malani berangkat ke kampus diantar dengan mobil pengawal yang biasa mengawal dirinya.
Melani meminta pengawalnya menghentikan mobilnya di depan kampus saja. Tidak perlu sampai ke dalam kampus.
Para pengawal yang ditugaskan Haiden untuk mengawal Melani selama dua puluh empat jam setiap hari itu tetap siaga di luar kampus. Melani langsung masuk kedalam kampus berjalan menuju kelasnya.
Pukul sembilan pagi, Seorang perawat menghampiri Fani dan kedua orang tuanya di ruang tunggu rumah sakit. Perawat itu memberi tahukan bahwa Marwan sudah siuman.
Mendengar kabar Marwan sudah siuman, Fani dan kedua orang tua Marwan merasa sangat gembira. Disela perasaan gembira Fani dengan kedua orang tua Marwan, perawat itu bertanya Marwan mau ditempat kamar kelas berapa.
"Kelas Dua saja sus" Kata Papa Marwan menjawab pertanyaan suster itu.
"Enggak Sus. Tempatkan Marwan di kamar VIP ya" Kata Fani menyela ucapan Papa Marwan.
"Tadi kata Haiden, kalau Marwan sudah bisa dipindahkan ke kamar pasien, tempatkan dia di ruang VIP om" Kata Fani kepada Papa Marwan.
"Oh.., Ya sudah kalau begitu" Kata Papa Marwan menanggapi ucapan Fani.
__ADS_1
Setelah mendapatkan jawaban pasti dari keluarga Marwan, Suster tersebut langsung meninggalkan Fani dengan kedua orang tua Marwan untuk menyiapkan kamar VIP buat Marwan.