
Haiden tidak menyangka saat dia dan Morlan masuk kedalam kamar, ternyata kamar Morlan sudah dihias dengan saat ini. Kamar tersebut begitu harum semerbak.
Morlan duduk berdampingan dengan Haiden di tempat tidur yang terlihat sangat indah. Tempat tidur tersebut terbuat dari kayu jati berukiran khas batak.
Haiden menatap wajah cantik Morlan yang tertunduk seperti malu untuk menatap wajah Haiden. Morlan memang tidak kalah cantik dari Melani.
Tubuhnya tinggi semampai, kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, ditambah matanya yang besar membuat Morlan bagaikan bidadari yang turun dari kayangan. Haiden menyentuh dagu Morlan untuk mengangkat kepalanya.
Perlahan kepala Morlan terangkat hingga mereka berdua saling bertatapan. Morlan tersipu malu tatkala menatap wajah tampan Haiden.
Entah mengapa, perasaan cinta Haiden tumbuh begitu cepat kepada Morlan. Demikian pula dengan Morlan yang terlihat begitu bahagia di nikahi oleh Haiden.
Perlahan bibir Haiden mendekati bibir mungil Morlan yang begitu mempesona. Sembari mencumbuai bibir indah Morlan, Haiden memeluk erat tubuh indah Morlan.
Morlan pun menyambut pelukan Haiden dengan penuh kehangatan. Tubuh kedua pengantin baru itu perlahan menjatuhkan diri ketempat tidur yang terlihat begitu indah.
Malam pertama yang begitu indah kini kembali dirasakan Haiden. Sementara Morlan, baru pertama kali merasakan pernikahan, meskipun usianya sudah hampir seratus tahun.
Morlan tidak pernah merasakan jatuh cinta selama ini terhadap siapa pun. Tidak ada satu pria binian pun yang mampu membuatnya jatuh cinta.
Morlan adalah gadis campuran antar Manusia kasat mata dengan Manusia Bunian. Delapan puluh tahun yang lalu, ibu Morlan tanpa sengaja masuk kedalam dimensi Bunia.
Saat bertemu dengan ayahnya Toga, ibu Morlan langsung jatuh cinta dan akhirnya menikah dengan ayahnya. Seratus sepuluh tahun yang lalu, ibu Morlan meninggal Dunia sebagai Manusia kasat mata.
Ketika Toga mengatakan kepada Morlan bahwa dia akan di nikah kan dengan seorang pria Manusia kasat mata, morlan langsung melihat sosok Haiden melalui kekuatan batinnya. Morlan langsung jatuh hati kepada sosok Haiden, dan mengatakan bahwa dia bersedia dinikahkan dengan Haiden.
Itu sebabnya di malam pertama ini, Morlan tidak merasa canggung bercinta dengan Haiden. Bahkan perasaannya begitu sangat bahagia.
Haiden tidak menyadari ketika burungnya masuk ke sarang burung Morlan, saat itu pula kekuatan yang begitu besar masuk kedalam. tubuhnya dan menyatu bersama jiwanya. Tubuh Haiden bersinar bagaikan lampu yang baru saja dinyalakan.
******* nafas panjang keduanya mengakhiri pertarungan cinta dua insan beda dimensi itu. Haiden dan Morlan mencapai ******* bersamaan.
__ADS_1
Haiden mengecup dahi Morlan sebelum menutup matanya dan tertidur sejenak. Dalam tidurnya tiba-tiba suara pak Narso terdengar di telinga Haiden.
"Buka matamu perlahan nak Haiden" Kata pak Narso.
Perlahan Haiden pun membuka matanya. Saat matanya terbuka, Haiden menatap wajah pak Narso yang ada di hadapannya.
Telapak tangan kanan Haiden masih menyatu dengan telapak tangan kiri pak Narso, dan telapak tangan kirinya masih menyatu dengan telapak tangan kanan pak Narso, persis sebelum Haiden berada di dimensi Manusia Bunian.
"Apakah saya baru saja bermimpi pak?" Tanya Haiden kepada pak Narso saat sudah memisahkan telapak tangan mereka masing-masing.
Mendengar pertanyaan Haiden kepada nya, pak Narso tersenyum sebelum dia menjawab "Sama seperti tempo hari, apa yang baru saja nak Haiden jalani itu bukan mimpi".
"Jadi saya benar-benar telah menikah dengan gadis Bunian?" Tanya Haiden.
"Benar. Dan sekarang nak Haiden bukan lagi Manusia biasa" Jawab pak Narso sembari tersenyum.
Mendengar jawaban pak Narso, Haiden mengernyitkan dahinya lalu kembali bertanya "Apakah saya sekarang menjadi Manusia Bunian juga?".
"Kekuatan nak Haiden juga jauh di atas rata-rata Manusia. Nak Haiden akan menyadari nya sendiri nantinya" Lanjut kata pak Narso kepada Haiden.
"Artinya, disaat istri dan anak-anak saya menua, saya akan tetap seperti ini?" Tanya Haiden setelah mendengar penjelasan pak Narso.
"Demikian lah yang akan terjadi kepada istri dan anak-anak nak Haiden yang ada di dimensi kasat mata ini. Tapi tidak demikian dengan istri dan anak-anak nak Haiden yang ada di dimensi Bunian" Jawab pak Narso.
"Bagaimana dengan istri dan anak-anak saya di dimensi Bunia rupanya pak?" Tanya Haiden penasaran.
"Istri nak Haiden di dimensi Bunian juga hidup abadi, tidak menua" Jawab pak Narso.
"Berarti anak-anak di dimensi Bunian akan bayi terus dong" Kata Haiden menanggapi jawaban pak Narso.
Mendengar ucapan Haiden, pak Narso tersenyum sebelum berkata "Anak laki-laki nak Haiden akan tumbuh seperti manusia di dimensi kasat mata hingga seusia nak Haiden saat ini. Dan anak perempuan nak Haiden mengikuti usia keabadian ibunya".
__ADS_1
Haiden mulai memahami apa yang tengah terjadi pada kehidupan nya. Kalau tidak dialaminya sendiri, semua yang terjadi ini sungguh tidak masuk akal, pikir Haiden.
Saat Haiden mendengar ayam jantan berkokok, Haiden langsung melihat jam tangannya, dan ternyata sudah pukul enam pagi. Haiden dan para pengawal nya pun langsung berpamitan kepada pak Narso, sebelum mereka meninggalkan rumah pak Narso.
Tiba dirumahnya, Melani menyambut Haiden dengan hangat. Sepeti biasa saat Haiden kembali ke rumah, kecupan dan pelukan hangat diberikan Melani kepada Haiden.
Haiden merasa sangat bersalah saat berpelukan dengan Melani. Meskipun Melani tidak akan pernah tahu kalau dia sudah menikah lagi dengan Manusia Bunian, tapi batinnya tetap merasa bersalah karena telah mengkhianati istri yang sangat mencintai nya.
Sebelumnya Haiden merasa bersalah atas kematian kedua mertuanya. Haiden merasa dialah penyebab mertuanya di bunuh oleh Oligarki.
Selepas berpelukan, Haiden merangkul melani berjalan bersama masuk kedalam kamar mereka. Haiden merasa letih, dan harus segera beristirahat.
Di dalam kamar, Haiden langsung rebahan di atas tempat tidur. Melani duduk ditepi tempat tidur, tepat disebelah Haiden.
Melani menatap wajah Haiden sembari bertanya "Sudah selesai urusan dengan pak Narso Pi?"
"Sudah Mi" Jawab Haiden.
"Apa yang papi rasakan sekarang, setelah menyerap semua kekuatan pak Narso pi?" Tanya Melani lagi kepada Haiden.
Haiden tersenyum sebelum menjawab "Papi belum mencoba kekuatan papi yang baru bertambah. Tapi papi energi papi bertambah drastis Mi".
"Oh iya. Si kembar mana Mi?" Tanya Haiden.
"Masih di kamar. Kenapa pi" Jawab Melani sembari bertanya balik.
"Ga apa-apa. Si temani papi istirahat" Jawab Haiden sembari menarik tubuh Melani, mengajak melani rebahan bersama.
Haiden tertidur sembari memeluk Melani dari belakang. Tak lama kemudian Melanipun ikut tertidur dalam pelukan Haiden.
Jam dinding di kamar Haiden menunjukkan pukul tiga sore. Haiden terlihat mulai terbangun dari tidur nya.
__ADS_1