SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
MENCARI JALAN TERBAIK


__ADS_3

Sore hari, Haiden bertemu lagi dengan Presiden Purwanto dan Kapolri Sulistyo di Hotel Admadja Residance. Haiden langsung mendatangi kamar Presiden Purwanto.


Di dalam kamarnya, Presiden Purwanto dan Kapolri sedang menanti kedatangan Haiden. Didepan pintu kamari Presiden Purwanto empat orang Paspampres terlihat sedang berjaga.


Empat orang Paspampres itu memberi hormat ketika melihat Haiden mendekati kamar Presiden Purwanto. Salah seorang dari mereka berkata "Silahkan masuk pak Haiden" sembari membayangkan pintu kamar.


Haiden tersenyum lalu berkata "Terima kasih" sembari berjalan masuk kedalam kamar Presiden Purwanto. Melihat kedatangan Haiden, Presiden Purwanto dan Kapolri Sulistyo bangkit dari duduknya di Sofa untuk menyambut Haiden.


Haiden menyalami dan berpelukan dengan Presiden terlebih dahulu sebelum menyalami dan berpelukan dengan Kapolri Sulistyo. Setelah bersalaman dan berpelukan dengan Presiden Purwanto dan Kapolri Sulistyo, Haiden duduk disebelah Presiden Purwanto, berhadapan dengan Kapolri Sulistyo.


"Ada yang mau saya sampaikan kepada pak Presiden dan Om" Kata Haiden kepada Presiden Purwanto dan Kapolri Sulistyo.


"Ada berita baru apa Den?" Tanya Presiden Purwanto kepada Haiden.


"Hacker saya siang tadi telepon saya, dia bilang Oligarki akan memanfaatkan Mahasiswa yang bisa di bayar untuk membuat aksi besar. Selain Mahasiswa, mereka juga memanfaatkan masyarakat sipil yang mau dibayar" Kata Haiden menjawab pertanyaan Presiden Purwanto


Kapolri terlihat mengernyitkan dahinya usai mendengar ucapan Haiden lalu bertanya "Apa yang mau mereka tuntut?".


"Mereka menuntut Presiden mengundurkan diri. Isu-isu yang membuat Presiden Purwanto wajib mundur sedang mereka rencanakan Om" Jawab Haiden.


"Ada bocoran dari Hackermu, kira-kira isu apa saja yang akan mereka mainkan Dengan?" Tanya Presiden Purwanto usai mendengar ucapan Haiden.


"Isu pencucian uang, Korupsi, Presiden Purwanto berniat menghidupkan lagi Ideologi Komunitas, dan lain-lain" Jawab Haiden.


"Oh iya. Mereka juga akan memanfaatkan tokoh Agama untuk menuding Lokalisasi yang kita bangun di setiap Provinsi sebagai tempat maksiat, dan itu bagian dari penistaan Agama" Kata Haiden melanjutkan penjelasannya.


Mendengar penjelasan Haiden, Presiden Purwanto mengangguk anggukkan kepalanya sebelum berkata "Ini tidak bisa dibiarkan".


"Ini kesalahan ku juga, tidak menghapus undang-undang penistaan Agama" Lanjut Presiden Purwanto.


"Kalau begitu bapak harus segera menghapus undang-undang penistaan Agama itu pak" Kata Kapolri Sulistyo menanggapi ucapan Presiden Purwanto.

__ADS_1


"Tidak bisa lagi saat ini Om. Kalau pun mau dihapus, nanti di Periode kedua Presiden Purwanto" Kata Haiden kepada Kapolri Sulistyo.


"Benar kata Haiden Tyo. Menghapus peraturan itu harus di sidangkan di DPR RI. Seluruh anggota DPR RI saat ini kemungkinan besar adalah orang-orang Oligarki" Kata Presiden Purwanto kepada Kapolri Sulistyo.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?" Tanya Kapolri Sulistyo.


"Kita lihat reaksi masyarakat atas aksi yang mereka buat nanti" Kata Haiden menjawab pertanyaan Kapolri Sulistyo.


Mendengar ucapan Haiden, Presiden Purwanto mengernyitkan dahinya lalu bertanya "Maksud kamu, kita biarkan mereka membuat aksi itu?


"Iya. Karena kita tidak akan dapat menghentikannya. Kita hanya bisa melawannya nanti" Jawab Haiden.


"Kalau masyarakat diluar mahasiswa dan masyarakat sipil itu mendukung Presiden Purwanto, Om khawatir akan terjadi Caos Den" Kata Kapolri Sulistyo menanggapi ucapan Haiden.


"Kalau memang sampai terjadi Caos, mungkin itu isyarat sudah saatnya terjadi Revolusi. Untuk menghapuskan penjajahan Oligarki terhadap bangsanya sendiri caranya cuma Revolusi Om" Kata Haiden membalas ucapan Kapolri Sulistyo.


"Tapi itu bisa memakan banyak korban jiwa Den" Kata Kapolri Sulistyo menanggapi ucapan Haiden.


Mendengar ucapan Haiden barusan, Kapolri Sulistyo dan Presiden Purwanto terlihat manggut manggut. Apa yang dikatakan Haiden ada benarnya, pikir Presiden Purwanto dan Kapolri Sulistyo.


"Pun demikian, kita harus tetap mencari jalan agar tidak terjadi Caos, tapi Revolusi tetap terjadi" Kata Haiden kepada Presiden Purwanto dan Kapolri Sulistyo.


"Jalan satu-satunya, kita harus menyerang Oligarki tanpa memandang Hukum. Kita habisi Pentolan-Pentolan Oligarki dengan cara Gangster" Kata Presiden Purwanto tiba-tiba.


Mendengar ucapan Presiden Purwanto barusan, Kapolri Sulistyo terlihat terkejut. Sementara Haiden tersenyum mendengar ucapan Presiden Purwanto.


"Ternyata kita sepemikiran pak Presiden" Kata Haiden kepada Presiden Purwanto.


"Jujur saya tidak menyangka Pak Presiden memiliki ide gila seperti itu. Tapi setelah saya kaji lagi, ide bapak itu jauh lebih baik dari pada kita mengorbankan nyawa masyarakat sipil" Kata Kapolri Sulistyo kepada Presiden Purwanto.


"Kalau begitu, kita harus membentuk pasukan khusus untuk menyerang dan menghabisi Oligarki" Kata Kapolri Sulistyo lagi.

__ADS_1


"Tepat Om. Tapi kita tidak perlu melibatkan aparatur Negara untuk misi kita ini" Kata Haiden menanggapi ucapan Kapolri Sulistyo.


"Apa rencanamu Den?" Tanya Presiden Purwanto kepada Haiden.


"Biar anggota Panca Karya dengan pengawal saya saja yang menjadi pasukan khusus itu pak Presiden" Jawab Haiden.


"Kamu yakin Den?" Tanya Kapolri Sulistyo kepada Haiden.


"Sangat yakin Om. Kalau kita libatkan aparatur Negara, belum tentu orang yang kita libatkan itu steril Om" Jawab Haiden.


"Iya, benar kata Haiden Tyo. Kita tidak akan tahu ketika orang yang kita libatkan ternyata terlibat di dalam lingkaran Oligarki, kalau kita ambil dari Kepolisian atau dari TNI untuk menjadi pasukan khusus ini" Kata Presiden Purwanto kepada Kapolri Sulistyo.


Mendapat ucapan Presiden Purwanto kepadanya, Kapolri Sulistyo mengangguk anggukkan kepala sebelum berkata "Masuk akal".


"Kalau begitu, kamu harus segera membentuk pasukan khusus itu secepat mungkin, sebelum aksi yang ingin mereka lakukan terlaksana Den" Kata Kapolri Sulistyo kepada Haiden.


"Iya, pasti Om. Tapi Haiden butuh senjata api, dan orang yang bisa mengajari pasukan khusus kita itu menembak Om" Kata Haiden kepada Kapolri Sulistyo.


"Soal senjata api itu mudah. Untuk yang mengajari mereka menembak biar Aryo saja" Kata Kapolri Sulistyo membalas ucapan Haiden.


"Kalau begitu, kasih Haiden waktu tiga hari untuk memilih orang-orang yang tepat. Setelah terkumpul, Haiden kabarin Om dan pak Presiden" Kata Haiden kepada Kapolri Sulistyo dan Presiden Purwanto.


Pukul tujuh malam, Haiden meninggalkan Hotel Admadja Residance menuju rumah pak Narso. Malam ini, hari kedua pak Narso menyalurkan ilmunya kepada Haiden agar Haiden mampu melihat kejadian di masa depan, serta kemampuan diatas rata-rata Manusia normal.


Sebelum tiba di rumah pak Narso, Haiden dan para pengawalnya berhenti di restoran untuk makan malam. Saat makan bersama para pengawalnya, Haiden menghubungi pak Narso lewat Handphone nya.


"Hallo pak" Kata Haiden saat terhubung dengan pak Narso.


"Iya Hallo nak Haiden" Jawab pak Narso, terdengar di Handphone Haiden.


"Bapak sudah makan? Kebetulan saya lagi makan di resto ni. Kalau bapak belum makan biar saya beli sekalian buat bapak" Kata Haiden.

__ADS_1


__ADS_2