
"Sudah. Bapak sudah makan kok nak" Jawab pak Narso terdengar di Handphone Haiden.
"Oh, baiklah kalau begitu pak. Usai makan saya langsung kerumah bapak" Kata Haiden nenanggapi jawaban pak Narso.
"Baik. Bapak tunggu" Balas pak Narso sebelum menutup pembicaraan melalui Handphone nya.
Usai makan Haiden bersama para pengawalnya, Haidin bangkit dari duduknya diikuti oleh delapan orang pengawalnya. Haiden berhenti dikasur untuk membayar biaya makan mereka, sedangkan para pengawalnya keluar duluan dari gedung restoran tersebut.
Saat Haiden sudah masuk kedalam mobilnya, mobil pengawal yang mengawal di depan melaju terlebih dahulu. Melihat mobil pengawalnya sudah melaju, Haidenpun melakukan mobilnya, di ikuti mobil pengawal yang mengawal di belakang.
Di perjalanan, Haiden menghubungi salah seorang pengawalnya yang mengawal di depan. Haiden meminta pengawalnya untuk berhenti bila melihat toko roti. Haiden ingin membeli roti buat pak Narso.
Beberapa saat kemudian, mobil pengawal yang mengawal di depan perlahan menghentikan mobil mereka di depan toko roti. Haidenpun menghentikan mobilnya di belakang mobil pengawalnya.
Mobil pengawal Haiden yang mengawal dibelakang juga ikut berhenti dibelakang mobil Haiden. Saat salah seorang pengawalnya turun dari dalam mobil, Haiden juga terlihat turun dari dalam mobilnya.
"Sudah, kamu berjaga di luar saja. Biar saya yang ke dalam" Kata Haiden kepada pengawalnya itu.
"Siap tuan besar" Kata pengawal itu menuruti perintah Haiden.
Saat Haiden berjalan masuk ke dalam toko roti itu, dua orang pengawal keluar dari dalam mobil pengawal yang mengawal di belakang untuk menemani pengawal yang keluar sendirian tadi. Setelah beberapa menit, Haiden terlihat berjalan keluar dari dalam toko roti dengan bungkusan roti ditangannya.
"Ayo, kita jalan lagi" Kata Haiden kepada ketiga pengawalnya itu sembari tetap berjalan ke mobilnya.
Setelah semua masuk kedalam mobil masing-masing, mobil pengawal Haiden yang mengawal di depan terlihat melaju di ikuti mobil Haiden dan mobil pengawal yang mengawal di belakang. Baru saja melajukan mobilnya, tiba-tiba Handphone Haiden berdering tanda panggilan masuk.
Haiden segera mengangkat Handphone nya setelah mengetahui Melani yang tengah menghubungi nya. Sembari tetap fokus menyetir mobilnya Haiden berkata "Hallo Mi" saat terhubung dengan Melani.
__ADS_1
"Iya Hallo Pi. Papi masih di Hotel?" Tanya Melani, terdengar di Handphone Haiden.
"Enggak mi. Ini Papi di perjalanan menuju rumah pak Narso. Kenapa Mi?" Jawab Haiden sembari bertanya balik pada Melani.
"Oh ya uda. Mami baru mau nanya, Papi jadi ke rumah pak Narso ga. Ternyata sudah di jalan. Ya sudah kalau gitu. Hati-hati ya Pi" Kata Melani menanggapi penjelasan Haiden.
"Iya Mi" Balas Haiden sebelum menutup pembicaraan dengan istrinya tercinta melalui Handphone nya.
Setelah beberapa menit di perjalanan akhirnya Haiden dan para pengawalnya tiba di rumah pak Narso. Mendengar suara mesin mobil yang berasal dari depan rumahnya, pak Narso bangkit dari duduknya di sofa bambunya lalu berjalan kearah pintu rumahnya.
Setelah membuka pintu rumahnya, pak Narso melihat Haiden baru saja keluar dari dalam mobilnya, kemudian berjalan kearahnya. Haiden menyalami dan mencim tangan pak Narso di ikuti para pengawalnya juga menyalami dan mencium tangan pak Narso.
"Silahkan masuk" Kata pak Narso kepada Haiden dan para pengawalnya.
Di dalam rumah pak Narso, Haden dan para pengawalnya langsung duduk di sofa yang ada di ruang tamu pak Narso. Saat pak Narso juga duduk berhadapan dengan Haiden dan para pengawalnya, Haiden berkata "Ini saya bawa roti buat bapak" kepada pak Narso sembari menyerahkan bungkusan roti yang dibawanya.
"Repot apaan sih pak. Cuma roti juga" Balas Haiden sembari tersenyum.
Mendengar ucapan Haiden barusan pak Narso tersenyum sebelum berkata "Ya sudah, bapak tinggal kebelakang sebentar ya. Bapak buat kopi untuk kita dulu".
"Ga usah repot-repot pak" Kata Haiden kepada pak Narso.
"Ga repot kok nak Haiden. Kebetulan bapak juga belum ngopi" Balas pak Narso
sembari bangkit dari duduknya, lalu berjalan kebelakang rumahnya.
"Nanti empat orang berjaga di luar, dan empat orang tetap di dalam ya" Kata Haiden kepada para pengawalnya saat pak Narso sudah tak terlihat.
__ADS_1
"Siap tuan besar" Jawab para pengawalnya nyaris bersamaan.
Beberapa menit kemudian, pak Narso terlihat berjalan dari belakang rumahnya kearah ruang tamu dengan dua gelas kopi di kedua tangannya. Setelah meletakkan kedua gelas kopi itu diatas Meja, pak Narso teihat berbalik badan untuk kembali ke dapur, tapi Haiden langsung menghentikan nya.
"Bapak duduk saja di sini. Biar si Hendra, Fikar, Rudi, dan Sandi saja yang mengambil kopinya pak" Kata Haiden kepada pak Narso.
Mendengar nama mereka disebut oleh Haiden, empat orang pengawalnya yang bernama Hendra, Fikar, Rudi dan Sandi langsung bergegas ke dapur untuk mengambil delapan gelas kopi yang masih ada di dapur, dan membawanya ke ruang tamu.
Setelah menghabiskan kopinya, pak Narso berkata "Kita mulai sekarang saja ya nak Haiden"
"Boleh pak" Jawab Haiden.
Setelah itu, Haiden dan pak Narso bangkit dari duduknya lalu berjalan meninggalkan para pengawalnya di ruang tamu. Haiden dan pak Narso terlihat berjalan masuk kedalam salah satu kamar yang ada di dalam rumah pak Narso.
Setelah Haiden dan pak Narso tidak terlihat lagi, empat pengawal Haiden keluar rumah untuk berjaga diluar rumah pak Narso sesuai perintah Haiden. Sementara Haiden dan pak Narso yang sudah berada di dalam salah satu kamar pak Narso terlihat sedang bersiap-siap seperti akan melakukan ritual.
Haiden terlihat duduk bersila di tengah kamar itu tanpa baju sehingga terlihat seluruh tatto yang ada di badannya. Haiden hanya mengenakan sarung yang menutupi pinggangnya hingga dibawah lutut nya.
Pak Narso teihat duduk bersila di belakang Haiden. Matanya terpejam, mulutnya berkomat kamit seperti sedang melafalkan sesuatu.
Haiden juga terlihat menutup matanya, diam tak bergerak. Kedua tangannya menepak dikedua paha kakinya.
Perlahan pak Narso terlihat mengangkat kedua tangannya, kemudian meletakkan tangan kanan nya di atas kepala Haiden, dan melatakkan tangan kirinya di tengkuk Haiden.
Haiden merasakan tubuhnya dingin setelah beberapa detik tangan kanan pak Narso menempel diatas ke la nya, dan tangan kiri pak Narso menempel di tengkuknya. Saat pikirannya kosong, telinga Haiden mendengar pak Narso berkata "Sekarang buka mata nak Haiden perlahan".
Saat matanya terbuka, Haiden terlihat kebingungan karena saat ini dia berada diantara pohon-pohon besar seperti di tengah hutan rimba, bukan di dalam salah satu kamar pak Narso. Haiden melihat lihat disekelilingnya untuk mencari pak Narso.
__ADS_1
"Di mana aku?" Tanya Haiden dalam benaknya.