SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
TANGAN BESI


__ADS_3

Haiden dan Melani berpamitan dengan Jenderal Sulistyo. Setelah keluar dari dalam gedung Hotel Admadja Residance, Haiden langsung mengantarkan Melani pulang ke rumah nya.


Mobil Haiden berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah Melani. Satpam segera membukakan pintu gerbang setelah melihat mobil Haiden sudah ada di depan pintu gerbang, dari monitor CCTV nya.


"Kamu ga masuk dulu yank?" Tanya Melani kepada Haiden.


"Ga usah lah ya yank. Sudah jam dua belas malam ini" Jawab Haiden.


"Ya udah. Kamu hati-hati dijalan ya" Kata Melani sembari mencium dahi Haiden.


Haiden juga mencium dahi Melani sebelum Melani keluar dari dalam mobilnya. Mobil Haiden melaju meninggalkan rumah Melani, setelah Melani masuk kedalam rumahnya.


Tujuan Haiden saat ini hanya satu, yaitu pulang ke rumah nya untuk beristirahat. Haiden tampak sangat kelelahan, namun dia tetap berusaha fokus menyetir mobilnya.


Aktivitas Haiden hari ini benar-benar menguras tenaganya. sehingga begitu merebahkan tubuhnya di tempat tidur nya, Haiden langsung terlelap.


Di dalam tidurnya Haiden bermimpi bertemu dengan ayahnya di tempat yang tidak dia kenal sama sekali. Dalam mimpinya itu ayahnya berkata "Jaga dirimu dan jaga kakek mu ya nak".


"Maaf kan ayah tidak bisa lagi mendampingi mu". Kata ayahnya lagi, kemudian perlahan menghilang.


Melihat tubuh ayahnya perlahan menghilang sedikit demi sedikit Haiden berteriak memanggil ayahnya berulang ulang sampai akhirnya Haiden terbangun dari tidur nya dan berkata "Ternyata aku bermimpi".


Haiden melihat jam tangannya, ternyata sudah jam setengah lima pagi. Haiden bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi, setelah membuka pakaiannya.


Usai membersihkan wajahnya dan menyikat giginya, Haiden keluar dari kamar mandi dan langsung menuju lemari pakaian.


Haiden hanya mengenakan kaus kutang dengan celana Boxer keluar dari kamarnya. Asisten rumah tangganya yang melihat Haiden keluar dari kamarnya menyapa "Sudah bangun tuan muda. Mau bibi buatkan sarapan tuan muda?"


Haiden tersenyum lalu menjawab "Nanti saja bi. Saya mau olah raga dulu sebentar".


"Baik tuan muda" Kata asisten rumah tangganya itu, kemudian pergi meninggalkan Haiden.

__ADS_1


Hidenpun berjalan kebelakang rumahnya. Haiden duduk sejenak di salah satu kursi yang berada di taman belakang rumahnya itu, kemungkinan berdiri membentuk kuda-kuda.


Haiden kembali melatih ilmu bela dirinya. Melompat, Salto, berbagai gerakan sulit tampak Haiden lakukan saat ini.


Saat sudah puluhan jurus dia gerakkan tanpa lawan tiba-tiba terbesit ide dalam benak Haiden untuk menciptakan jurus baru. Tapi dia belum menemukan ide kira-kira jurus seperti apa yang akan dia ciptakan.


Haiden menghentikan latihannya dan kembali duduk di kursi nya tadi, untuk memikirkan ide. Cukup lama Haiden berpikir, namun belum juga mendapatkan ide hingga tiba-tiba muncul sosok pria tua menerjang Haiden yang sedang fokus memikirkan ide.


Tubuh Haiden terjungkal kebelakang, namun segera bangkit dan berdiri tegak dihadapan pria tua berpakaian seperti seorang rahib. Rambut, kumis serta janggut pria tua itu sudah full dengan uban.


Haiden mengernyitkan dahinya lalu bertanya "Siapa kakek?".


Pria tua itu tertawa lalu berkata "Aku ini buyut dari kakeknya kakek kakek kakek kakek mu".


Sontak Haiden tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan pria tua itu. Melihat Haiden tertawa terpingkal-pingkal pingkal, pria tua itu tiba-tiba kedua tangannya menggenggam dua buah benda yang terbuat dari besi berbentuk tangan.


Bagaikan sulap, tangan yang terbuat besi itu tiba-tiba saja ada dikedua tangan pria tua itu. Seketika Haiden berhenti tertawa melihat keajaiban itu.


Melihat reaksi bingung Haiden itu, pria tua itu kembali tertawa dan kemudian menjawab "Sudah kakek bilang aku ini Buyut dari kakeknya kakek kakek kakek kakek mu. Artinya kau adalah keturunanku".


"Jangan tanya bagaimana buyutmu ini bisa masuk, karena tidak ada yang dapat mengahalangiku untuk kemanapun aku mau" Katanya pria tua itu lagi kepada Haiden.


Masih dalam perasaan penasaran Haiden beratnya "Lalu apa tujuan kakek menemui ku? Dan itu apa?".


Pria tua itu tersenyum lalu berkata "Aku si tangan besi. Sudah ratusan tahun aku menanti kelahiranmu Haiden".


"Buyut-buyut dan kakek-kakekmu, bahkan ayahmu tidak ada yang layak mewarisi tangan besi ini. Jiwa serta kekuatan alami ragamu yang membuat kau layak mewarisi tangan besi ini" Kata pria tua itu lagi dengan serius.


Baru saja Haiden ingin membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu tiba-tiba kedua tangan besi yang berada ditangan pria tua itu menghilang dan berpindah ke tangan Haiden. Haiden melihat tangan besi yang mengarungi tangannya dengan pandangan heran.


Perlahan tangan besi itu menghilang dari tangan Haiden. Dia menatapi tangannya sendiri yang sudah kembali normal tanpa adanya tangan besi itu dengan pandangan dan perasaan semakin heran.

__ADS_1


Melihat tingkah Haiden itu, pria tua itu tertawa dan kemudian berkata "Tangan besi itu sudah menyatu dengan tanganmu Haiden".


Haiden menatap wajah pria tua itu dan berkata "Menyatu?".


Pria tua itu tersenyum dan berkata "Iya. Tanganmu sekarang sekeras besi. Tidak dapat dilukai dengan senajata apapun".


Haiden mengernyitkan dahinya dan berkata "Tidak mungkin".


Pria tua itu kembali tertawa sebelum mengatakan "Bukan cuma itu. Kau jangan sembarangan memukul orang. Tulangnya bisa remuk" kepada Haiden dan kemudian kembali tertawa.


"Aku pergi dulu. Gunakan kekuatanmu untuk hal-hal yang benar" Kata Pria tua itu sebelum ia menghilang dari pandangan Haiden.


Haiden melihat ke sana kemari untuk mencari keberadaan pria tua yang mengaku buyutnya itu. Tapi dia benar-benar tidak dapat melihat wujudnya lagi.


Haiden kembali melihat kedua tangannya sendiri dan berkata "Ini bukan mimpi. Benarkah tanganku sekuat besi sekarang?".


Tanpa pikir panjang Haiden melangkah masuk kedalam rumah untuk mengambil pisau di dapur. Asisten rumah tangga yang sedang memasak heran Haiden mengambil pisau dapur yang sedang ia gunakan.


Asisten rumah tangga itu sempat bertanya pada Haiden "Untuk apa pisaunya tuan muda?".


"Saya pakai bentar ya" Jawab Haiden sembari berlalu meninggalkan asisten rumah tangga itu di dapur.


Haiden kembali ke taman di belakang rumah. Setelah duduk di kursinya tadi, Haiden menyayat nyayat tangan kirinya dengan pisau yang di genggam oleh tangan kanannya.


Mata Haiden melotot tak percaya menyaksikan tangan kirinya tidak terluka sedikit pun. Bahkan dia juga tidak merasakan sakit sedikit pun.


Haiden menyadarkan tubuhnya di sandaran kursinya, kemudian kembali melihat lihat kedua tangannya lagi setelah meletakkan pisau dapur nya tadi di meja. Dia mulai yakin bahwa kini dia benar-benar memiliki kekuatan tangan besi.


Meski demikian, kejadian yang di alaminya saat ini masih membuatnya bingung. Sebab, selama ini dia tidak pernah mempercayai cerita kejadian-kejadian aneh seperti yang barusan ia alami.


Kejadian seperti yang baru saja ia alami selama ini hanya dia lihat didalam film saja. Kalau sekedar cerita, Haiden tidak akan pernah percaya dengan sekedar cerita sebelum dia buktikan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2