SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
KEKUASAAN MENGATUR SEGALANYA


__ADS_3

"Haiden? Akhirnya kamu menghubungi om juga keponakan ku" Kata Jenderal Sulistyo kepada Haiden dari Handphone nya.


Mendengar Jenderal Sulistyo mengakui dirinya sebagai keponakan Jenderal Silistyo, Haiden mengernyitkan dahinya dan bertanya "Keponakan?" kepada Jenderal Sulistyo.


Jenderal Sulistyo tertawa mendengar ucapan heran Haiden yang terdengar di Handphone Jenderal Sulistyo yang diletakkan di telinganya. Kemudian Jenderal Sulistyo bertanya "Kakek mu belum cerita kalau saya ini adalah anak angkatnya?" pada Haiden.


"Belum Jenderal. Kekek belum ada cerita kalau kakek memiliki anak angkat" Jawab Haiden dengan jujur.


"Jangan panggil saya Jenderal. Panggil saya Om" pinta sang Jenderal yang ternyata dia adalah adik angkat dari almarhum ayahnya.


"Siap Om" Jawab Haiden sembari tersenyum.


"Lantas, ada apa kamu menghubungi Om Haiden?" Tanya Jendral Sulistyo kepada Haiden lewat Handphone nya.


Haiden menceritakan masalah yang telah dan tengah dihadapinya saat ini kepada Jenderal Sulistyo melalui Handphone nya. Jenderal Sulistyo yang masih berada di restoran bersama koleganya tampak serius mendengarkan cerita Haiden yang terdengar dari Handphone nya.


Setelah mendengar cerita masalah yang tengah telah dan tengah dihadapi Haiden, Jenderal Sulistyo berkata "Kamu tenang saja. Biar Om yang urus semua".


"Pengawal-pengawal kamu yang ditahan juga akan segera di lepas" Kata Jenderal Sulistyo lagi kepada Haiden dengan sangat meyakinkan.


"Siap Om. Terima kasih" kata Haiden membalas ucapan Jenderal Sulistyo, lalu menutup teleponnya setelah Jendral Sulistyo terlebih dahulu memutus hubungan teleponnya.


Setelah itu Haiden bergegas meninggalkan ruangan kerjanya. Saat Haiden keluar dari gedung kantor cabang Admadja Grup Sumatera Utara hari sudah mulai gelap.


Mobil Haiden terlihat melaju dengan lamban keluar dari pekarangan kantornya itu. Saat melewati pos satpam Haiden membunyikan klakson mobilnya untuk menyapa tiga orang satpam yang berada di posnya.


Ketiga satpam itu langsung berdiri dan sedikit membungkuk tanda menghormati Haiden saat mendengar klakson yang berasal dari mobil Haiden. Setelah Haiden melewati pos, ketiga satpam tersebut baru kembali duduk ditempat nya masing-masing.


Di perjalanan Haiden mengeluarkan Handphone dari saku celana depannya lalu menghubungi Bimo yang berada di perumahan Khusus Pengawal kakek dan dirinya.


"Hallo Bim. Kalian yang terlibat perkelahian tadi jangan ada yang kemana-mana dulu ya. Nanti kalau sudah aman saya kabarin" Perintah Haiden kepada Bimo setelah Handphone nya terhubung dengan Bimo.


"Siap tuan muda" Jawab Bimo yang terdengar dari Handphone Haiden.

__ADS_1


Setelah memutus hubungan teleponnya dengan Bimo, Haiden langsung menghubungi Melani. Melani masih berada di rumah sakit bersama Suherman, Marwan dan Wanti menjaga Mardan.


"Hallo yank. Kamu masih di rumah sakit?" Kata Haiden setelah telepon nya tersambung dengan Melani.


"Iya yank, masih" Jawab Melani yang terdengar dari Handphone Haiden.


"Siapa saja di sana?" Tanya Haiden kepada Melani.


"Ada Merwan, ada Suherman, dan ada Wanti. Papa Mama Mardan juga ada" Jawab Melani.


"Kalian sudah pada makan belum?" Tanya Haiden lagi.


"Makan malam belum lah yank" Jawab Melani dengan nada sedikit manja.


"Ya uda, kamu kirim pesanan kalian lewat WA ya" Kata Haiden kepada Melani kemudian menutup teleponnya.


Beberapa saat kemudian Handphone Haiden berdering tanda masuk pesan WA. Pesan WA itu dari Melani yang mengirim pesanan makanan mereka yang berada di rumah sakit menjaga Mardan.


Pesanan makanan yang dikirim Melani ke WA Haiden itu dikirim lagi ke WA salah satu pengawalnya yang berada dalam mobil dibelakang mobil Haiden. Haiden menambahkan kata dalam WA nya itu "Tolong kamu belikan semua pesanan ini setelah mobil saya masuk ke rumah sakit".


Mobil yang mengawal Haiden dari depan tadi pun berputar arah untuk membeli makanan sesuai perintah tuan muda mereka. Sedangkan Haiden langsung turun dari mobilnya setelah mobilnya terparkir di parkiran rumah sakit.


Mobil pengawal Haiden yang tadi berada di depan Haiden terparkir di luar depan rumah sakit. Empat pria kekar ada didalam mobil tersebut.


Haiden yang sudah berada di depan pintu kamar blok mawar nomor kosong satu langsung masuk setelah membuka pintu tersebut. Di dalam kamar Haiden langsung menyalami dengan mencium tangan kedua orang tua Mardan. Setelah itu Haiden menyapa melani dengan mengusap rambut Melani.


"Gimana keadaanmu bro?" Tanya Haiden kepada Mardan sambil berjalan mendekati Mardan yang sedang duduk ditempat tidur nya.


"Tambah sehat aku begitu kau datang bro" Jawab mardan bercanda kepada Haiden.


"Maca cih" Kata Haiden membalas candaan Mardan lalu tertawa.


Mardan juga tertawa mendengar jawaban canda Haiden itu. Lalu Haiden duduk dipinggir tempat tidur Mardan.

__ADS_1


Haiden menatap wajah Mardan dan berkata "Kau harus cepat sembuh. Ada banyak kerjaan ku yang memerlukan bantuan kalian, termasuk kau Dan".


Mardan membesarkan matanya lalu berkata "Yang kau pikir aku suka lama-lama sakit" membalas ucapan Haiden dengan canda.


Mereka semua yang ada dalam kamar itu seketika tertawa mendengar ucapan Mardan termasuk dirinya sendiri.


Saat mereka semua tertawa tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar kamar. Mereka semua pun terdiam setelah mendengar suara ketukan pintu itu.


"Permisi" Kata orang yang mengetuk pintu.


"Siapa?" Tanya Wanita yang sedang duduk di sebelah Mama Mardan.


"Dokter" Jawab orang yang yang telah mengetuk pintu tadi.


Wanti berdiri dari duduknya kemudian berjalan untuk membuka pintu kamar. Setelah pintu terbuka tampak seorang wanita cantik berpakaian Khas Dokter.


Dokter yang berparas cantik itu langsung masuk bersama seorang perawat setelah di persilahkan masuk oleh Wanti. Haiden berdiri dari duduknya ditempat di tempat tidur Mardan karena dia tahu Dokter dan perawat itu akan memeriksa Mardan.


"Bagaimana lukanya pak Mardan. masih sakit?" Tanya Dokter cantik itu kepada Mardan.


"Sudah banyak berkurang Dok. Paling sesekali mau teras sakit kalau bergerak. Kalau diam aja kayak gini ga sakit" Jawab Mardan dengan jujur.


"Syukurlah. Sesuai dengan permintaan pak tuan muda Haiden, kami memasukkan obt khusus kedalam infus pak Mardan, agar luka pak Mardan lebih cepat kering dan rasa sakitnya lebih cepat berkurang" Kata Dokter itu kepada Mardan.


Mardan hanya mengangguk anggukan kepalanya saja mendengar kan Dekter itu bicara padanya.


"Sekarang saya mau mengecek tensi darah pak Mardan ya" Kata Dokter cantik itu lagi kepada Mardan.


"Silahkan Dok" Jawab Mardan sembari membaringkan tubuhnya.


Melihat Mardan sudah berbaring, Dokter cantik itu memerintahkan perawat yang ada disebelahnya untuk memasang kan alat pengukur tensi darah ke tangan Mardan.


Setelah di cek, Dokter cantik itu berkata "Sudah normal kok" sambil tersenyum.

__ADS_1


Mardan juga tersenyum merasa senang karena mendengar tensi darahnya sudah normal. Haiden juga terlihat senang mendengarnya.


__ADS_2